Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Galau


__ADS_3

Ainaya duduk di tepi ranjang. Membayangkan wajah mungil Bilal saat tersenyum. Pasti lucu dan menggemaskan. Kehadirannya memang dengan jalan yang kurang tepat, namun sangat berarti dalam hidupnya. 


''Seandainya mas Haris mengakui ku sebagai istrinya, pasti aku adalah perempuan yang paling bahagia di dunia ini,'' lirih nya. Mengusap gambar sang sebuah hati dari layar ponsel. 


''Sayang sekali aku harus berpisah dari anak dan suamiku.'' 


Wajah Ainaya mendadak redup. Bagaimana bisa ia menyebut Haris sebagai suami, sedangkan mereka saat ini sudah hidup masing-masing. Meskipun belum ada kata cerai, Ainaya sudah memutuskan pergi dari rumah pria tersebut. Yakin bisa mendapatkan kebahagiaan.


''Dia bukan suamiku lagi. Aku harus bisa melupakan mas Haris.'' 


Ainaya meletakkan ponselnya. Ia keluar dari kamar. Membuka lemari pendingin. 


Tidak ada apapun di sana kecuali air minum. 


''Apa aku beli saja.'' Ainaya kembali duduk di tempat semula. Baru saja mengambil ponsel, ketukan pintu membuat nya terkejut. 


''Sudah hampir jam tujuh malam, siapa yang datang?'' 


Ainaya keluar. Melangkah ragu ke arah pintu. 


Ia membuka selebar tubuhnya. Menatap seorang pria yang berdiri di depan ruangan. 


''Permisi, Mbak. Saya mengantarkan makanan atas nama Mbak Ainaya,'' ucapnya kembali sembari melihat nama dan alamat yang tertera. 


''Iya, saya sendiri. Dari siapa ya, Pak?'' tanya Ainaya balik. 


''Dari pak Adam,'' jawabnya. 


Ainaya menerima makanan itu lalu membawanya masuk dan kembali mengunci pintu. Ia menghubungi Adam untuk memastikan sebelum membukanya. 


''Seharusnya kamu gak usah repot-repot, Mas. Aku bisa beli sendiri,'' ucap Aianya dari sambungan telepon. 


''Gak papa, maaf aku gak bisa menemani mu makan malam. Ada pekerjaan penting dengan om Gunawan,'' ucap Adam dari seberang sana. 


Terdengar suara gemuruh, dipastikan saat ini pria itu berada di tengah banyak orang. 


''Aku yang minta maaf sudah merepotkan.''


Ainaya memutus sambungannya, takut mengganggu Adam yang nampak sibuk. 


Ainaya membuka makanan pemberian Adam lalu menyantap nya seorang diri. 

__ADS_1


Jam sudah menunjukkan pukul satu pagi, namun Bilal belum juga memejamkan mata. 


''Apa kamu sengaja mengajak papa begadang, Nak? Kalau memang itu yang kamu mau papa siap.'' Haris berbaring di samping Bilal. Bibirnya terus komat-kamit bercerita dan bernyanyi bergantian. Berharap sang buah hati secepatnya terlelap. 


Apakah ini yang dilakukan Ainaya setiap malam, atau hanya kali ini?  


Haris menyeruput secangkir kopi yang sudah menghangat. Mencoba untuk tetap membuka matanya yang terasa berat. 


Hampir tiga puluh menit, akhir nya Bilal terlelap juga. Haris ikut terlelap mengingat besok pekerjaannya menumpuk.


Pagi menjelang 


Baru semalaman Ainaya pergi dari rumah namun rasa rindu itu mulai terasa menusuk. Meskipun berulang kali menyangkal, hati tak bisa berbohong. Bahkan semakin dipaksa akan semakin sakit dan nyeri. 


Aku tak tahu apa yang aku rasakan saat ini, tapi aku harap kamu kembali, Nay. 


Haris menghubungi seseorang untuk kembali bekerja di rumahnya. Ia tak sanggup jika harus mengurus putranya seorang diri dan mungkin dengan begitu akan sedikit meringankan bebannya. 


''Bilal belum bangun, Mas?'' tanya Jihan yang baru masuk. 


Haris menggeleng tanpa suara. Menatap penampilan Jihan yang sudah rapi dan cantik. 


''Kelihatannya kamu capek banget.'' Jihan mendekati Haris dan mulai bergelayut manja. 


''Maaf, Ji. Aku harus ke kantor.'' Mendorong pelan tubuh Jihan. Seolah enggan untuk bercinta. Padahal, semenjak Bilal lahir mereka hanya melakukannya sekali itupun bagi Haris terasa hambar. 


''Kamu jaga Bilal, nanti ada pembantu yang akan bekerja di rumah ini.'' Haris berjalan menuju pintu. 


Belum sempat tangannya menyentuh knop, sebuah tangan melingkar di perutnya dari arah belakang. 


''Tapi aku mau, kita sudah lama lo gak melakukannya.'' Jihan mengecup punggung Haris dengan lembut. Kemudian beralih di depannya. Menyentuh bagian sensitif berharap mendapatkan respon. 


''Tapi ini sudah siang, Ji. Dan aku takut terlambat.'' Menurunkankan tangan Jihan yang mengalung dilehernya. 


''Baiklah, tapi kamu harus janji malam ini kita akan melakukannya,'' pinta Jihan penuh harap. 


Haris mengangguk pelan. Sebagai suami, ia tak angin membuat istrinya kecewa. Apalagi yang diminta Jihan adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukannya. 


Haris mengguyur sekujur tubuhnya di bawah guyuran air shower. Tak mengerti dengan dirinya sendiri yang saat ini kebingungan. Pikirannya kalut dan buntu.


Jika kepergianmu yang membuatku galau seperti ini, maka aku akan membawamu kembali. 

__ADS_1


Haris langsung berangkat tanpa sarapan. Menghubungi Andik untuk meminta jadwal temu dengan Adam. 


''Pak Adam bisanya pagi ini, Tuan. Katanya nanti siang ada acara makan dengan temannya,'' ucap Andik menjelaskan. 


Apa temannya itu Ainaya?


''Baiklah, tanya sama dia di mana aku harus menemuinya.''


Haris merapikan penampilannya. Menunggu jawaban dari Andik yang sibuk bicara dengan Adam lewat ponsel.


''Di restoran dekat hotel, Tuan.'' Andik memasukkan ponselnya ke saku celana lalu mengikuti langkah Haris dari belakang.


''Selamat pagi, Tuan,'' sapa Adam mengulurkan tangannya. 


''Pagi.'' Haris menerima uluran tangan sang klien. Ia duduk di depan pria itu. 


''Apa masih ada yang perlu dibicarakan? Saya rasa semua sudah cukup dan proyek sudah dijalankan,'' ucap Adam yang menjurus pada pekerjaan. 


''Ini bukan masalah bisnis, tapi Ainaya.'' Menatap Adam yang nampak tersenyum renyah. 


''Ainaya, bukannya kamu dan dia sudah berpisah?'' tanya Adam menyelidik. 


Sebenarnya itu bukan urusannya, namun ia menganggap perseteruan antara pasangan suami istri itu sedikit menarik. 


''Apakah Ainaya yang mengatakan seperti itu?'' tanya Haris balik. 


Dulu Haris memang pernah merencanakan, namun saat ini belum ada niat untuk menceraikan sang istri. Terlebih hatinya mulai merasa nyaman saat berada di dekat nya.


''Tidak, tapi jika seorang suami dan istri tidak tinggal serumah dan tidak berhubungan baik. Bukankah lebih baik bercerai?'' tantang Adam. ''Dan sepertinya Ainaya juga nyaman  tinggal sendiri. Dia bisa tersenyum dan tertawa. Berbeda sekali saat saya bertemu pertama kali. Dia menangis dan tenggelam dalam kesedihan karena tidak dianggap oleh suaminya.''


Itu bukan sebuah sindiran, namun kenyataan yang pernah terjadi. 


Haris terdiam mencerna setiap kata yang meluncur dari bibir Adam. 


''Kamu tidak tahu apa-apa tentang hubunganku dan Ainaya. Sekarang katakan di mana dia?'' tanya Haris serius. 


Adam menghela napas panjang. Menatap Haris dengan tatapan santai. 


''Untuk apa kamu tahu tempat tinggal Ainaya kalau hanya akan menyakitinya. Maaf, Tuan. Saya memang sudah lama ingin membawa pergi istri mu, tapi itu semua kebaikan dia. Saya tahu dia tidak bahagia menjadi istri kedua.''


Haris menundukkan kepalanya. 

__ADS_1


Ternyata Ainaya sudah cerita pada Adam kalau dia hanya istri kedua ku. 


__ADS_2