
Haris menatap penampilannya dari pantulan cermin sembari merapikan dasinya. Untuk pertama kali ia harus menyiapkan baju kantornya sendiri, namun itu tak lagi membuatnya kesusahan, karena beberapa hari terakhir ia pun memang sengaja melakukannya sendiri tanpa bantuan Jihan. Mungkin saat ini dan kedepannya akan lebih terbiasa lagi. Menghela napas dengan berat mengingat masalah yang menimpa, akan tetapi juga tak bisa meninggalkan pekerjaannya di kantor.
''Aku harus secepatnya menemukan Ainaya.'' Haris meraih ponsel lalu keluar. Ia menghampiri bu Ida yang sibuk menimang Bilal di ruang tengah.
''Morning anak papa,'' sapa nya mencium kedua pipi sang putra bergantian.
Bu Ida tersenyum melihat wajah Haris yang lumayan ceria. Tidak seperti semalam yang tampak suram dan penuh dengan air mata. Sebagai seorang ibu, ia tak sanggup melihat keadaan putra satu-satunya.
''Kamu yakin mau berangkat ke kantor?'' tanya Bu Ida memastikan.
Haris tersenyum dan mengangguk. Tangannya mengusap lembut pipi Bilal. Hanya bayi itu harapan satu-satunya untuk tetap semangat menjalankan aktivitas.
''Doakan saja, Ma. Semoga secepatnya aku bisa menemukan Ainaya. Dia berhak bersatu lagi dengan Bilal.''
''Tapi bagaimana jika dia tidak mau kembali padamu? Apa kamu akan tetap memberikan Bilal padanya?'' tanya Bu Ida menyelidik.
Haris terdiam. Dalam pikirannya tidak ada kata penolakan atau perpisahan, namun ia dan Ainaya akan bersatu tetap dalam sebuah ikatan pernikahan.
''Aku pergi dulu, dan aku janji dia akan tetap menjadi menantu mama, istriku,'' ucapnya kemudian.
Terdengar sangat egois, namun itulah Haris yang harus mendapatkan apa yang ia mau. Hatinya yang begitu keras tak bisa mengalah, bahkan akan melakukan apapun untuk memperjuangkannya.
''Tapi jangan sampai kamu salah langkah, bawa dia dengan cara yang baik,'' tutur bu Ida dengan lembut.
Andik membukakan pintu, kemudian ia duduk di depan kemudi. Melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
''Ainaya pergi,'' ucap Haris setelah mobil meninggalkan halaman.
Andik menatap sang bos dari pantulan spion yang menggantung.
''Saya tahu dari tuan Indrawan. Semalam beliau menghubungi saya dan menyuruh untuk membantunya, tapi sepertinya kali ini nona Ainaya ke luar kota,'' ucap Andik yakin.
''Dari mana kamu tahu?'' Haris mengubah posisi duduknya.
Belum sempat menjawab, tiba-tiba sebuah mobil dari arah berlawanan oleng dan menabrak pembatas jalanan, terpaksa Andik menghentikan laju mobilnya dan turun.
__ADS_1
Namun, ia kembali masuk saat beberapa orang mulai berlari mengerumuni mobil itu.
''Siapa yang kecelakaan?'' tanya Haris antusias.
Andik mengangkat kedua bahu tanda tidak tahu. ''Tapi Sepertinya seorang perempuan.'' Membuka kaca mobil. Benar, ia menangkap seorang wanita keluar dari sana.
Sepertinya aku pernah melihat dia, tapi di mana?
Sejenak, Andik mengingat-ingat gerangan yang menjadi pusat perhatian semua orang. Kemudian kembali fokus dengan setirnya.
Ah, mungkin aku salah lihat.
Suasana kantor sudah sangat ramai. Seluruh karyawan memulai aktivitas masing-masing. Haris masuk diikuti Andik dari belakang. Mereka pun langsung ke ruangan masing-masing.
''Nanti siang aku akan pulang, sepertinya kemarin aku lupa bawa susunya Bilal,'' ucap Haris sebelum masuk.
Andik mengangguk, kapanpun dibutuhkan ia siap untuk melayani sang bos.
Hampir saja melepas jas, Andik kembali teringat dengan wanita yang tadi kecelakaan.
Andik kembali mengambil ponselnya dan membuka video dari cctv di apartemen. Ya, kini ia yakin bahwa wanita yang ada di video itu sama persis dengan wanita tadi.
Andik segera menghubungi seseorang. Meminta mereka untuk mencari jati diri gadis saat ini yang menjadi incaran nya.
''Pokoknya kamu cari tahu siapa namanya dan dia kerja dimana sekaligus rumahnya, setelah itu kasih datanya padaku, karena aku yang akan turun tangan sendiri,'' ucap Andik pada seseorang yang ada di balik telepon.
Hampir satu jam Haris duduk di kursi kebesarannya. Ia hanya melamun sambil menatap foto Ainaya dan Bilal. Hanya mereka berdua yang mampu mengalihkan dunianya saat ini.
Hingga pintu terbuka membuyarkan lamunannya. Ternyata pak Indrawan yang datang.
''Masih mikirin Ainaya?'' sindir pak Indrawan sembari meletakkan berkas-berkas di atas meja kerja Haris.
''Iya, Pa. Aku bingung mau mencari dia di mana lagi, sepertinya dia memang sengaja sembunyi dariku.''
Haris membuka map dan memeriksanya dengan teliti. Meski pikirannya berkelana, namun ia tetap berusaha profesional dengan pekerjaan.
__ADS_1
''Apa kamu sudah mencoba menanyakan pada teman-temannya, mungkin saja mereka tahu,'' saran Pak Indrawan.
Haris mendongakkan wajahnya yang sibuk membaca tulisan. Kemudian mengambil ponselnya.
''Kamu cari tahu dimana dulu Ainaya bekerja dan juga orang-orang yang dekat dengan dia,'' ucap pak Indrawan serius. Lalau memutus sambungannya lagi.
Bertepatan saat pak Indrawan berdiri, pintu dibuka dari arah luar. Kali ini Jihan yang datang dengan segala penyesalannya.
''Mau apa kamu ke sini?'' Haris ikut berdiri mendekati Jihan yang mematung di belakang pintu.
Sebagai orang tua, Pak Indrawan pun tetap di tempat itu. Hatinya waswas melihat mata Haris yang menyala penuh amarah.
''Aku mau minta maaf, Mas.'' Jihan mendekati Haris dan mencoba memeluknya, namun pria itu malah menghindar. Seolah tak sudi lagi bersentuhan dengan istrinya.
''Setelah ketahuan kamu baru minta maaf. Seandainya kebusukan mu itu tidak terbongkar, apa kamu juga masih mau minta maaf padaku?Atau justru akan menyembunyikan selamanya.'' Haris menunjuk wajah Jihan dengan hati telunjuknya.
Hatinya begitu perih mengingat kebohongan Jihan. Seakan ia tak dihargai sedikitpun. Padahal, banyak pengorbanan Haris termasuk membelanya mati-matian saat dipojokkan oleh sang mama. Akan tetapi, sekarang sudah saatnya ia bangkit dan membuka mata. Melihat mana yang benar benar, tulus dan mana yang hanya menjadikannya pajangan semata.
Pak Indrawan masih membisu mencerna setiap kalimat yang dilontarkan anak dan menantunya.
Jihan berdiri di depan Haris, mungkin dengan cara itu akan membuat pria itu memaafkan dan kembali lagi.
''Aku minta maaf, tapi aku janji akan merawat Bilal seperti anak kandungmu sendiri,'' ucap Jihan mengiba.
Haris menyunggingkan bibirnya. Maju satu langkah lebih mendekat.
''Tapi sayang, semua sudah terlambat karena aku akan menyerahkan Bilal pada ibu kandungnya, dia yang lebih berhak, bukan kamu,'' tolak Haris menegaskan.
''Sekarang pergilah sebelum aku meminta penjaga untuk mengusir mu,'' ancam Haris. Ia sudah muak berurusan dengan wanita itu, meski cinta di hatinya belum hilang sepenuhnya, namun tetap berusaha untuk segera memusnahkannya.
Jihan berdiri dan menghampiri pak Indrawan.
''Aku memang bersalah, Pa. Tapi aku mohon beri aku kesempatan untuk menjadi menantu papa,'' pinta Jihan memohon.
Pak Indrawan tersenyum tipis.
__ADS_1
''Maaf Ji, ini masalah rumah tangga kamu dan Haris, jadi papa gak mau ikut campur. Semoga kalian menemukan jalan yang terbaik.'' Ia memilih pergi dan memberi ruang pada Haris dan Jihan untuk berbicara.