
''Jihan,'' pekik Haris geram.
Ainaya mengambil ponsel dari tangan Andik. Menatap gambar seseorang yang mereka duga sebagai pelaku utama. Kemudian tubuhnya ambruk. Memorinya kembali berputar, mengingat kertas yang dilempar ke arahnya pagi itu.
''Kamu kenapa, Sayang?'' Haris merangkul tubuh sang istri dari belakang. Memberinya segelas air putih dan membantu meminumkannya.
''Dia pernah mengancamku, Mas,'' ucap Ainaya dengan bibir bergetar.
''Mengancam bagaimana?'' pekik Haris semakin tak percaya.
Ainaya menceritakan apa yang terjadi pagi itu. Ia juga menunjukkan kertas yang sempat dibaca. Sebenarnya ingin tutup mulut dan tidak memperpanjang masalah, namun seperti nya Haris juga harus tahu untuk menguatkan bukti.
Haris membacanya hingga usai lalu meremas nya berbentuk kepalan.
''Selama ini kamu yang memulai semuanya, tapi kenapa kamu terus mengganggu keluargaku.''
Haris tak terima. Ia sudah kehabisan kata maaf dan belas kasih yakin akan membawa kasus ini ke jalur hukum. Tidak ada tempat yang lebih pantas untuk orang jahat, kecuali penjara seumur hidup.
''Kamu di rumah saja, aku akan pergi sebentar,'' pamit Haris menangkup kedua pipi Ainaya. Menyatukan keningnya dengan wanita itu. Menyapu wajahnya yang sangat cantik dan polos.
''Cepat pulang, selalu telepon aku. Aku takut dia akan mencelakaimu seperti yang dilakukan padaku,'' ucap Ainaya cemas.
Haris tersenyum, mengecup hidung yang mancung itu berulang kali yang membuat Andik harus memalingkan pandangannya ke arah lain.
''Aku akan segera pulang.'' Melepaskan pelukannya. Meraih jaket yang ada di sandaran sofa lalu pergi.
Menghubungi beberapa orang untuk ikut mencari. Menutup bandara dan juga beberapa akses keluar masuk kota dengan berbagai alasan. Menyuruh Andik untuk bergerak cepat menuju rumah sang pelaku.
''Saya yakin dia sudah tidak menempati rumah pemberian Tuan,'' ucap Andik yakin.
''Dia tidak memiliki harta apapun selain rumah dariku. Selama ini uang hasil kerjanya habis untuk bersenang-senang. Walaupun tidak ada di sana, dia hanya bisa menyewa rumah sederhana,'' ejek Haris sembari menatap ke arah luar jendela.
__ADS_1
''Dulu Tuan memberikan uang bulanan untuk bu Jihan sangat banyak, sekarang untuk Nona Ainaya berapa?''
Seketika Haris menoleh, menatap Andik dengan tatapan tajam. Pertanyaan macam apa itu? Sungguh tidak AestheticĀ sedikitpun.
''Maaf kalau saya lancang, hanya penasaran saja.'' Tanpa rasa takut Andik melanjutkan ucapannya.
Pandangannya lurus ke depan,. Pura-pura tidak melihat wajah sang majikan yang sudah siap menerkamnya.
''Ainaya tidak pernah mendapatkan uang bulanan. Tapi semua uang bayaran ku untuk dia, sedikitpun aku tidak menyisihkan.''
Andik geleng-geleng kepala lalu mengangkat satu jempolnya, kagum sekaligus bangga.
Tanpa disadari, mobil berhenti di depan rumah mewah milik Jihan. Rumah yang penuh dengan kenangan indah, juga kenangan pahit. Lima tahun tinggal di rumah itu membuatnya menerima banyak pelajaran hidup yang berharga, di antara nya harus menilai seseorang dari hati, bukan wajah atau penampilan.
Haris bergegas turun dan membuka gerbang yang ternyata tidak dikunci. Matanya menyapu sekeliling rumah yang ditumbuhi rumput liar juga rontokan daun kering. Sepi, tidak ada siapapun di sana. Sepertinya rumah itu sudah lama tidak dihuni.
''Sepertinya bu Jihan memang sudah tidak tinggal di sini, Tuan.'' Andik mencoba membuka pintu utama.
Tidak ada yang berbeda, semua masih sama seperti sebelum Haris memutuskan untuk pergi dari tempat itu.
Haris bergegas keluar. Tak ingin berlama-lama di tempat yang membuat hatinya sakit. Bukan karena Jihan, melainkan teringat dengan sikap kejamnya pada Ainaya.
''Kita langsung ke tempat kerjanya, mungkin saja ada yang tahu dia di sana,'' ujarnya tenang.
Seperti perintah sang tuan, Andik kembali melajukan mobilnya menuju sebuah perusahaan fashion tempat Jihan bekerja. Meski hasilnya hanya tiga puluh persen bisa bertemu wanita itu, ia berharap mendapat informasi dari sana.
Kali ini Haris menyuruh Andik untuk turun sendirian, sedangkan ia menunggu di mobil. Enggan bertemu dengan orang-orang yang sebagian besar mengenalnya sebagai suami dari wanita licik itu.
Setelah Andik menghilang di balik pintu utama, Haris menangkap seorang wanita yang berpenampilan tertutup keluar dari mobil. Dari postur tubuhnya yang sangat familiar membuat Haris secepatnya turun dan menghampirinya. Menarik tangan wanita itu dari arah belakang.
''Mau ke mana kamu?'' Haris mendorongnya ke belakang hingga punggung wanita itu terhempas ke mobil.
__ADS_1
''Mas Haris,'' ucapnya takut. Kerudung yang tadi digunakan untuk menutup kepala dan wajah gugur ke lantai akibat tangan Haris yang menariknya dengan kasar.
''Sekarang kamu tidak akan bisa lepas dariku.'' Haris menarik tangan wanita itu dan membawanya ke mobil.
''Tidak, aku gak akan ikut dengan kamu. Lepaskan!" Memukul tangan Haris yang terus mencengkram pergelangan tangannya, berharap lelaki itu melepaskan.
Namun, rasa sakit hati yang membalut Haris sedikitpun tak memperdulikan wanita itu, ia terus menariknya dan memasukkan ke mobil, sedangkan Jihan tak bisa berbuat apa-apa. Teriak pun percuma, pasti orang-orang akan berkerumun dan menanyakan apa yang terjadi, sedangkan ia sudah jelas-jelas bersalah.
Tak lama kemudian, Andik keluar dan langsung masuk ke mobil. Betapa terkejutnya melihat sosok yang dicari ada di dalam.
''Bu Jihan sudah ada di sini?'' tanya Andik bingung.
''Cepat jalan!'' suruh Haris datar. Sedikitpun tak memberi celah pada wanita itu untuk bergerak.
''Mas, aku minta maaf, bukan maksudku untuk __"
''Diam!" sergah Haris dengan suara lantang.
Jihan memejamkan mata. Menjadi istri lelaki itu selama lima tahun membuatnya paham bagaimana wataknya. Jika dalam keadaan marah, sudah pasti lelaki itu tidak akan mendengarkan apapun di sekitarnya. Seperti saat ini.
Andik menatap Haris dan Jihan dari pantulan spion yang menggantung. "Kita bawa dia ke mana, Tuan?" tanya nya serius.
"Ke peternakan buaya," jawab Haris singkat.
Andik menelan saliva dengan susah payah. Membayangkan banyaknya hewan reptil yang menganga dan siap menerkam wanita cantik itu. Pasti akan menjadi pemandangan yang luar biasa mengerikan.
''Jangan, Mas! Aku mohon, apapun yang kamu inginkan akan aku lakukan. Tapi jangan bawa aku ke sana,'' rengek Jihan mengiba.
Tidak ada tanggapan. Haris memilih untuk memejamkan mata. Mencari keputusan yang tepat untuk Jihan yang saat ini sudah berada di genggamannya.
Tidak mungkin ia membawanya ke kantor polisi, pasti akan menghancurkan masa depannya, namun juga tak adil jika dibebaskan begitu saja. Sedangkan, beberapa pelaku yang terlibat sudah mendekam di sana.
__ADS_1
Isakan tangis Jihan membuat Haris kembali membuka mata. Dari relung hati terdalam ia kasihan. Akan tetapi, Ainaya juga harus mendapat keadilan karena hampir kehilangan nyawa.
''Maaf, kali ini aku akan tetap membawamu ke tempat yang tepat. Semoga kamu secepatnya sadar," terang Haris yakin.