Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Membuang keraguan


__ADS_3

Haris tak menjawab, ia hanya bisa tersenyum saat kebohongannya sudah terbongkar oleh Ainaya. Tidak mungkin mengelak dan mencari alasan lain, itu hanya akan memperumit masalah saja.


Mungkin saja ini memang celah baginya dan Ainaya untuk membuka lagi hubungan yang sempat memburuk. Saling melebarkan hati dan menempatkan cinta yang seharusnya. Membidik pada sasaran yang tepat dan bersemayam di sana. Entah sampai kapan akan berhasil, Haris akan mencobanya.


Ainaya mendongak menatap manik mata Haris yang masih berjongkok di belakangnya.


''Seharusnya kamu bilang dari tadi, kan aku bisa obati.'' Berdiri dan menggandeng tangan Haris.


Keduanya menyusuri tangga dengan tangan yang saling bertautan bagaikan pasangan romantis. Semakin erat tangan itu digenggam, semakin kuat cinta yang tumbuh. Menyatukan hati yang sudah lama terbelah.


''Mau di meja makan apa di ruang tengah?'' tanya Ainaya menghentikan langkahnya di dekat kamar Bilal.


''Di ruang tengah saja, gak enak sama mama dan papa, kelihatan banget anaknya manja,'' canda Haris yang membuat Ainaya terkekeh.


''Memang manja.'' Ainaya mengambil kotak obat yang ada di laci dan membawanya ke ruang tengah dimana Haris duduk.


Ia membuka dan mencari salep silver sulfadiazine. Itu adalah salep untuk mengobati luka akibat terkena air panas juga luka bakar dan sejenisnya. Membukanya dan mengoles di area luka dengan pelan.


''Lain kali kalau ada luka jangan disembunyikan, takut infeksi,'' ucap Ainaya tanpa menatap.


''Aku ingin seperti kamu yang bisa menyembunyikan luka dari semua orang,'' ucap Haris dengan mata yang mulai memanas, sekali kedip saja air matanya pasti akan tumpah mengingat luka yang ditorehkan sejak menikah.


Ainaya tak menanggapi dan sibuk mengoles salepnya. Ia tahu ke mana arah pembicaraan itu, sedangkan ia malas membuka luka lama yang memang masih menganga lebar.


''Setelah ini mau makan di ruang makan apa di sini?'' tanya Ainaya mengalihkan pembicaraan.


''Di sini sama kamu,'' jawa Haris cepat.

__ADS_1


''Baiklah, aku akan ambilkan.''


Ainaya menutup salep dan meletakkan di tempatnya lagi. Lantas, ia ke belakang. Mengambil beberapa menu makanan dan membawanya ke ruang tengah. Beruntung bu Ida dan pak Indrawan tak banyak tanya. Sepertinya mereka memang sudah mendukung penuh bersatunya anak dan menantunya tersebut.


''Mama ke kamar dulu ya,'' pamit Bu Ida sambil mengedipkan satu matanya ke arah Haris. Meng kode untuk menggunakan waktu kebersamaannya sebaik mungkin.


Aianya mengangguk dan melambaikan tangannya ke arah sang mertua yang masih sangat romantis.


''Aku suapin apa makan sendiri?'' Ainaya mencoba bersahabat dengan hatinya yang terus menolak berada di dekat Haris. Ia tak mau terlihat angkuh, sementara suaminya itu nampak menyesali perbuatannya.


''Sepertinya lebih enak di supain.'' Haris pun mencoba mulai pendekatan. Meski hanya dua puluh persen kemungkinan berhasil, setidaknya sudah berusaha.


Ainaya duduk dan mulai menyuapi Haris. Sesekali bercakap membahas Bilal yang seharian ini nyaris tak terbangun. Bahkan Ainaya rindu dengan bola matanya yang bening seperti tadi ketika menyambut kedatangannya.


''Biarin saja, Nanti kalau dia melek tengah malam malah nyusahin kamu.'' Haris membuka ponselnya yang berdering. Menatap Ainaya sekilas lalu kembali ke layar tv yang baru saja di nyalakan.


''Sudah, tadi dengan papa dan mama.'' Ainaya ikut menatap ke arah televisi.


Entah sebuah kebetulan atau sengaja, Haris menonton drama China kesukaan Ainaya. Film yang selalu membuat hatinya mendayu-dayu saat adegan berciuman. Namun, ia merasa berbeda karena kali ini harus menonton bersama orang lain.


Saking fokusnya, Ainaya lupa dan meletakkan sendoknya lagi yang sudah dipenuhi makanan.


''Sepertinya kita harus mulai dari awal seperti mereka. Perkenalan, pendekatan, saling memahami satu sama lain, dan akhirnya pacaran. Tapi dengan versi yang berbeda,'' ucap Haris yang mulai terhanyut dalam suasana.


''Kenapa harus begitu. Aku belum yakin dengan hatiku. Sebaiknya kamu pikirkan lagi, aku gak mau nantinya ada penyesalan.'' Ainaya kembali menyuapkan sendok di depan mulut Haris lalu tersenyum tipis.


Haris kembali menurunkan tangan Ainaya dan menggenggamnya. Netra keduanya kembali bertemu di bawah pencahayaan yang begitu terang. Jemari yang terasa dingin itu ia letakkan di dada bidangnya. Seakan memerintahkan untuk merasakan detak jantungnya yang berirama lebih cepat.

__ADS_1


''Mungkin kamu menganggap aku egois dan memikirkan kebahagiaanku sendiri. Tapi ingatlah, ada Bilal. Dia butuh kamu di sampingnya. Kalau kamu memang tidak ingin melihatku. Aku akan pergi dari sini dan tinggal di apartemen, hemmm?" Menangkup kedua pipi Ainaya dan sedikit menekannya.


Untuk pertama kalinya ia menikmati wajah cantik sang istri dari dekat dan sama-sama sadar. Begitu cantik dan menyejukkan mata nya yang kian mengantuk. Seolah ingin terus menatapnya sepanjang waktu.


Lagi-lagi Ainaya menitihkan air mata. Bingung harus menjawab apa. Di satu sisi ingin hidupnya damai dan menerima Haris, namun jika teringat malam-malam yang menyakitkan itu hatinya terasa tersayat dan perih. Sungguh, ia tak bisa membayangkan jika itu terulang lagi ke depannya.


"Ak– aku __"


Ainaya langsung berhamburan memeluk Haris dan kembali terisak di pelukan pria itu. Membuang rasa takut dan ragu. Menatap ke depan seperti wejangan dari bu De.


Haris bernapas dengan lega. Ia membalas pelukan sang istri dan mencium pucuk kepalanya dengan lembut. Itu adalah momen yang ia tunggu, di mana Ainaya membuka pintu hati untuknya.


''Selama menjadi suamimu, aku memang belum pernah menjalankan kewajibanku dengan baik. Karena aku pikir setelah anak yang kamu kandung lahir, kita akan berpisah. Tapi aku salah, aku bahkan tidak rela kamu berada di dekat laki-laki lain. Aku cemburu melihat kamu dengan Adam.''


Ainaya terdiam. Ia masih tenggelam dalam tangisannya sembari mendengar kalimat yang meluncur dari bibir Haris. Tidak ada lagi yang perlu ia ucapkan, karena suaminya itu pasti tahu kesakitan yang ia rasakan saat menjadi istri tak dianggap.


''Apa aku boleh meminta sesuatu?'' tanya Ainaya melepas pelukannya.


''Apa itu?'' tanya Haris harap-harap cemas. Ia takut permintaan Ainaya kali ini sulit dikabulkan.


Ainaya menundukkan pandangannya. Mungkin ini akan menjadi permintaan yang memalukan, namun itu harus diungkapkan supaya tidak lagi menjanggal dalam hati.


''Jika mas Haris meminta hak, aku mohon mintalah secara baik-baik. Aku gak mau ada pemaksaan seperti yang Mas lakukan sebelumnya.''


Sungguh, permintaan itu menusuk dada Haris hingga tembus ke jantung. Merobek seluruh organ tubuhnya dan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa. Ternyata perlakuannya yang tak manusiawi itu terpahat di benak sang istri. Ia kembali mencium kening Ainaya dengan lembut dan mengucapkan kata maaf untuk yang kesekian kali.


''Lihat mereka, Pa. Ternyata Bilal menjadi pemersatu keluarga kita ya.'' Bu Ida dan pak Indrawan yang dari tadi berdiri di samping kamar Bilal ikut terharu dan menitihkan air mata.

__ADS_1


''Semoga mereka bahagia seperti kita.'' Merangkul pundak bu Ida dan menaik turunkan alisnya dengan cepat, menggoda.


__ADS_2