
Ainaya berbaring di atas pembaringan. Menatap langit-langit kamarnya yang nampak lapuk. Membayangkan indahnya kota Bali yang begitu memukau. Berandai-andai saat ini berdiri di atas pasir putih yang menjadi idaman setiap insan. Menikmati matahari terbenam di ufuk barat bersama orang terkasih. Pasti sangat menyenangkan.
Tersenyum sendiri sambil menggenggam ponselnya. Dengan begitu keinginannya sudah sedikit terobati.
Semoga suatu saat mas Haris mau mengajakku ke Bali.
Ainaya bukan berharap sebuah cinta datang, namun kepedulian Haris sebagai suaminya yang patut di pertanyakan.
Malam semakin larut, namun Ainaya belum bisa memejamkan matanya. Jiwanya seakan terusik oleh sesuatu yang tidak dimengerti.
Memiringkan tubuhnya ke kiri dan kanan bergantian. Gelisah melanda membuat Ainaya terbangun lagi.
Teringat pada Haris saat bergandengan tangan dengan Jihan.
Sepertinya mas Harris sangat mencintai istri pertamanya, tapi kenapa dia menduakan dia. Jika anak menjadi masalah, kenapa tidak mengadopsi saja. Kenapa harus menikah denganku. Ada-ada saja.
Kembali meringkuk memeluk guling. Mengusir kecemasan yang melanda. Memejamkan mata berusaha melupakan apa yang ia lihat tadi siang.
Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Ainaya membuka mata saat tubuhnya terasa menggigil. Ia menarik selimut tebal dan menutup sekujur tubuhnya.
"Apa ini efek vitamin yang aku minum?" terka nya.
Meraih ponsel yang ada di meja. Mencari kontak Haris. Kali ini ia tak sanggup jika harus melakukan apapun sendiri tanpa bantuan orang lain.
"Apa jam segini mas Haris sudah bangun?" tanya pada diri sendiri. Ragu untuk menelpon, Akhirnya Ainaya mengurungkan niatnya. Meletakkan lagi benda pipih di tempat semula. Takut Haris marah seperti kemarin.
Hingga mentari terbit, rasa dingin itu semakin merasuk menusuk ke tulang. Ainaya tak bisa tinggal diam, ia takut terjadi sesuatu dengan bayi yang dikandungnya. Jangankan untuk makan, bergerak pun tak mampu. Wajahnya pucat seolah tidak semangat untuk beraktivitas.
"Apa aku telpon Ajeng saja. Tapi kasihan dia, pasti hari ini kerja."
Tidak ada pilihan lain. Ainaya mengumpulkan tenaga. Berjalan tertatih-tatih menuju meja makan. Menuang air putih dalam gelas dan meneguknya.
Mengingat-ingat, ternyata selama seminggu ia jarang mengkonsumsi makanan yang bergizi, bahkan sering kali mengabaikan ucapan dokter karena perutnya yang selalu mual saat menerima asupan.
"Walaupun mas Haris tidak peduli padaku, seharusnya dia peduli pada anaknya," gerutu Ainaya mengelus perutnya.
Sudah hampir tiga jam duduk merenungi nasib. Rasa sakit di sekujur tubuhnya pun masih melekat. Terpaksa Ainaya izin lagi tidak masuk kerja. Jika dipaksakan takut terjadi hal yang buruk pada janinnya.
__ADS_1
Meski itu mendapat tanggapan baik dari bos, ia merasa sungkan dengan karyawan lain.
Ainaya bersiap. Memakai dress selutut dengan rambut terurai panjang. Perutnya yang sudah mulai membuncit menambah kecantikan wanita itu.
Tidak ada senyum yang mengembang. Bukan karena tak bahagia dengan kehadiran anaknya, namun Ainaya seakan tak bisa menatap masa depan cerah mengingat posisinya hanyalah istri kedua.
"Apa nasib istri kedua akan berakhir tragis. Lalu siapa cinta sejatiku?" Mulai bertanya-tanya dengan nasibnya nanti.
Menyambar tas dan keluar dari rumah tanpa menghubungi Haris. Percuma, pasti pria itu tidak akan menggubrisnya dan lebih baik pergi sendiri.
Sambil menahan rasa sakit, Ainaya menyusuri setiap lorong menuju ruangan dokter kandungan. Sesekali menyapa suster yang melintas. Dalam hati terus berdoa bahwa ia hanya sakit biasa.
Bug
Ainaya meringis saat ada benda keras membentur kepalanya dari arah tikungan. Ia mengusap keningnya yang terasa ngilu.
"Maaf." Suara seorang wanita membuat Ainaya mendongak. Menatap wajah wanita yang nampak menyesal karena sudah menabraknya.
"Tadi Tante gak lihat," imbuhnya seraya menangkup kedua tangannya.
Seorang pria paruh baya mendekat dan memberikan beberapa lampiran kertas pada wanita tersebut. Kemudian mereka saling menatap Ainaya yang masih meringis.
"Ada apa, Ma?" tanya pria itu. Menatap wanita yang ada di depannya dan Ainaya bergantian.
Wanita itu memasukkan kertasnya ke dalam tas. "Ini lo, Pa. Tadi mama gak sengaja menabrak dia." Menunjuk Ainaya.
Pria itu manggut-manggut meminta maaf pada Ainaya atas kecerobohan istrinya. Mengulurkan tangan ke depan. "Kenalkan, namaku Indrawan. Ini istri ku namanya Ida."
Nama yang tak asing di telinga Ainaya, namun ia lupa seseorang yang juga memiliki nama tersebut.
Ainaya menerima uluran tangan Indrawan dan menciumnya. Memperkenalkan namanya pada mereka.
"Nama yang cantik," sahut Ida ramah. Mengelus perut Ainaya yang mulai membuncit.
"Kamu hamil?" tanya nya kemudian.
Ainaya tersentuh, "Iya, Bu. Saya hamil. Kedatangan saya ke sini mau periksa," ujar Ainaya menjelaskan.
__ADS_1
"Wah, sama dong. Menantuku juga hamil." Menggiring Ainaya ke kursi.
Indrawan mengangkat kedua bahu tak mengerti. Kebiasaan jika istrinya sudah akrab dengan seseorang pasti lupa segalanya, termasuk dirinya.
"Sebentar lagi aku juga akan mendapatkan cucu," imbuhnya.
Menceritakan perjalanan hidup anak dan menantunya yang sudah sekian lama tak diberikan anak. Memberikan semangat pada Ainaya dan juga memberikan motivasi-motivasi pada wanita yang berstatus calon ibu tersebut.
Ainaya terharu, tak menyangka bertemu dengan seseorang yang mau peduli padanya. Terlebih, Ida adalah orang yang baru dikenal beberapa menit lalu. Namun, sudah memberikan kenyamanan.
"Pasti mereka bahagia memiliki orang tua seperti, Tante?" tanya Ainaya di tengah percakapannya.
"Mereka sangat bahagia, lain kali aku akan mengenalkannya padamu," ucap Ida antusias.
Indrawan hanya menjadi pendengar setia. Bersandar di dinding layaknya bodyguard yang berjaga.
"Haris kirim pesan, Ma. Katanya Jihan minta mangga muda," ucap Indrawan seraya menatap layar ponsel yang beberapa saat berdering.
Berbeda dengan Ida yang tersenyum renyah, Ainaya jutsu bertanya-tanya dengan sosok yang memiliki nama seperti suaminya itu.
"Nanti kita mampir ke supermarket, Pa. Kasihan Jihan pasti dia lagi ngidam."
Gak mungkin yang dimaksud mereka adalah mas Haris? Bukankah istrinya tidak bisa mengandung?
Ainaya semakin bingung. Ia butuh penjelasan dengan apa yang baru saja didengar.
"Anak ibu namanya Haris?" tanya Ainaya menyelidik. Dalam hati berharap orang yang dimaksud Ida bukan suaminya .
"Iya, Nak. Anak tante namanya Haris Mahendra dan menantu tante bernama Jihan," tuturnya dengan jelas.
Sekujur tubuh Ainaya membeku dengan pernyataan itu. Ia tidak tahu apa maksud dari ini semua yang pasti keadaan sudah mempermainkannya dengan dua ungkapan yang berbeda.
"Kalau begitu tante permisi." Mencium kedua pipi Ainaya bergantian.
Ainaya hanya bisa mengangguk melepas mereka berdua pergi.
Aku harus bertanya pada mas Haris, apa maksudnya. Dia bilang padaku bahwa istrinya tidak bisa hamil, tapi kenapa kedua orang tuanya mengatakan menantunya hamil. Siapa yang benar?
__ADS_1