Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Ke kampung


__ADS_3

Ainaya membalas pesan dari Ajeng yang sudah berada di depan apartemen. Ia mengatakan akan segera pulang untuk menemuinya. 


Buru-buru menghampiri mobil Adam yang masih terparkir rapi di antara mobil mewah lainnya. Tidak ingin membuang waktu yang hanya akan membuat hatinya kesal. 


''Maaf, Mas. Aku ada perlu sebentar, kamu pergi ke kantor saja, nanti aku bisa pulang sendiri,'' ucap Ainaya meyakinkan. 


''Aku anterin gak papa.'' Adam membuka pintu mobil bagian depan mempersilahkan Ainaya masuk. 


Bagaimana ini, gak mungkin aku pulang dengan mas Adam, pasti dia akan curiga saat melihat Ajeng. 


Ainaya menutup pintu mobilnya lagi dan berbicara lebih serius. 


''Gak bisa, Mas. Sebentar lagi teman ku datang, dia sudah ada di perjalanan. Lagipula aku gak mau kamu terlambat gara-gara menemaniku.'' Ainaya terus mencari alasan. Berharap lelaki itu mau meninggalkannya. 


Adam mengetuk-ngetuk dagunya. Matanya tak teralihkan dari bibir ranum wanita itu. Pagi ini ia memang ada rapat penting, namun tak tega meninggalkan Ainaya sendiri di tempat itu. 


''Ayolah, Mas! Nanti kalau sudah sampai apartemen pasti aku telpon kamu,'' bujuk Ainaya panjang lebar. 


Memang terkesan mendorong dan menekan membuat Adam tertawa kecil. Sebab, wajah Ainaya semakin lucu dan menggemaskan.


''Baiklah, hati-hati di jalan.'' Adam setuju dan kembali melajukan mobilnya meninggalkan Ainaya di halaman kantor milik Haris. 


Semoga mas Adam gak curiga. 


Ainaya berjalan ke arah jalan raya setelah mobil milik Adam menghilang di ujung jalan. Ia bergegas mencari ojek supaya cepat sampai ke tempat tujuan.


Andik yang baru saja keluar menatap Ainaya memakai helm. Lalu memberitahu Haris melalui pesan. 


Tidak ada tanggapan. Namun, Haris membaca pesan darinya. 


''Cepat sedikit ya, Pak," pinta Ainaya pada kang ojek yang sudah menyalakan mesin.


Lelaki yang berseragam jaket hijau khas itupun mengangguk dan  segera melajukan motornya membelah jalanan yang dipenuhi dengan kendaraan lainnya. 


Semoga ini jalan yang terbaik untuk aku dan semua orang. Mama, papa, dibalik kebahagiaan kalian ada aku yang bertaruh nyawa melahirkan Bilal, semoga suatu saat nanti kebenaran akan terbongkar. Kalian akan tahu apa yang sebenernya disembunyikan mbak Jihan.

__ADS_1


Hampir tiga puluh menit Ainaya sudah tiba di depan apartemen. Ia langsung berlari mendekati Ajeng setelah membayar ojek. 


''Maaf ya, Jeng. Aku terlambat,'' ucap Ainaya merasa bersalah. 


''Gak papa, hari ini aku sudah ambil cuti karena mau mengantarkan mu, sekalian mau bertemu abangku,'' ucap Ajeng mengikuti Ainaya masuk. 


''Nay...'' Ajeng menarik tangan Ainaya dari belakang membuat sang sahabat menoleh dan tersenyum. 


''Kamu yakin akan meninggalkan anakmu? Bukankah kamu sangat menyayangi dia, kenapa tidak meminta keadilan dari Haris. Dia yang sudah menghancurkan hidupmu.'' Ajeng ikut prihatin dan berharap sahabatnya itu mendapatkan jalan yang terbaik. 


Ainaya memejamkan mata, ia pun ingin seperti itu, namun apa daya  situasinya memang cukup rumit dan tak semudah yang dipikirkan.  


''Belum saatnya, Jeng. Suatu saat nanti kamu pasti akan tahu.'' Ainaya mengetik kode kemudian membuka pintu. Ia langsung ke kamar. Mengambil selembar kertas dan pulpen. 


Maafkan aku mas Adam. Mungkin kehadiran ku hanya bisa merepotkan kamu. Semoga kamu mendapatkan wanita yang jauh lebih baik daripada aku. 


Ainaya hanya membalut kaosnya dengan jaket. Lalu memakai sedikit make up untuk menyamarkan wajahnya yang sedikit pucat. Menarik koper dan membawanya keluar. Kembali menghampiri Ajeng yang duduk di ruang tamu. 


''Sudah siap, Nay?'' tanya Ajeng memastikan. 


Ainaya dan Ajeng sengaja naik travel supaya langsung bisa ke tempat tujuan yang terlalu pelosok dan sulit dijangkau kendaraan umum. Selain itu juga menghemat biaya dan waktu.


"Tapi rumah Bu Dhe ini sedikit sepi, Nay. Kebanyakan mereka menjadi petani. Apa kamu bisa hidup di sana?" tanya Ajeng memastikan. 


Ainaya mengangguk cepat. Dimanapun ia akan berusaha untuk bertahan demi kehidupannya nanti. 


Mobil melesat dengan kecepatan tinggi. Sesekali Ainaya memejamkan mata, melupakan apa yang menimpa saat ini. Berharap saat membukanya lagi nanti akan kembali dengan hati yang baru tanpa seorang Haris. 


"Tidur saja, Nay. Nanti kalau sudah sampai aku bangunin." Ajeng menepuk lengan Ainaya dengan lembut sambil mengarahkan pak sopir yang sibuk dengan setirnya. 


Hampir delapan jam mobil yang ditumpangi Ajeng dan Ainaya sudah masuk di tugu perdesaan. Angin sepoi-sepoi dari arah persawahan berhembus masuk ke dalam mobil melalui sela-sela kaca. Seolah menyambut kedatangan dua wanita cantik yang nampak dengan guratan lelah. 


"Ini kampung Sukarela, tempat tinggal Bu Dhe dan abang. Nanti kamu akan menjadi warga sini," tutur Ajeng. 


Ainaya tersenyum. Menikmati indahnya pemandangan kampung yang masih asri dan alami. Sepanjang tepi jalan dipenuhi pohon yang berdiri kokoh memberikan keindahan tersendiri. 

__ADS_1


"Lurus terus, Pak! Lalu belok kiri berhenti di depan rumah Joglo," ucap Ajeng saat mobil sudah memasuki jalan sempit. 


"Baik, Nona," jawab sopir memelankan laju mobilnya. 


"Nah, ini rumahnya Bu Dhe." Ajeng menunjuk rumah yang ada di kiri jalan. 


Rumah berbentuk Joglo dengan ukir-ukiran khas Jepara itu nampak paling mewah di antara rumah lainnya. Ada beberapa bunga dalam pot yang berjejer rapi di depan teras. Juga tanaman buah naga merambat mempercantik pagar yang terbuat dari bambu. Tidak diragukan lagi, bahwa kerabat Ajeng adalah orang tersohor di kampungnya. 


Ajeng turun lebih dulu diikuti Ainaya. Mereka sibuk menurunkan barang bawaannya dibantu pak sopir. 


"Makasih ya, Pak. Semoga selamat sampai tujuan," ucap Ainaya sembari membayar kekurangan ongkosnya.


Nampak seorang pria gagah keluar sambil tersenyum saat Ajeng melambaikan tangan. 


"Mas Didit." Ajeng berlari kecil menghampirinya. Tak lupa bersalaman dan mencium punggung tangannya dengan takjim. 


"Mas pikir kamu lupa dengan rumah," cetus lelaki yang dipanggil Didit. 


Ya, Didit adalah saudara kandung Ajeng yang sengaja tinggal di kampung untuk mengurus sawah dan perkebunan milik orang tuanya yang sudah tiada. Namuan, saat merasa kesepian ia tinggal di rumah bibinya. 


"Mana mungkin aku lupa dengan saudaraku yang paling tampan ini." Memeluk Didit dengan erat hingga membuat keduanya lupa dengan Ainaya. 


"Eh, temen kamu kenapa gak di ajak ke sini?" ucap Didit lirih.


Ajeng menoleh ke arah Ainaya dan memanggilnya, dan itu membuat sang empu tersipu. 


"Kenalkan, Mas. Ini Ainaya temenku, dia akan tinggal di sini untuk sementara," terang Ajeng. 


Didit tersenyum dan mengangguk membalas sapaan Ainaya dengan sopan. 


"Gak merepotkan kan, Mas?" tanya Ainaya memastikan. 


Didit kembali tesneyum renyah. 


"Gak kok, asalkan kamu betah. Sudah pasti kampung dan kota itu berbeda, contohnya Ajeng yang memilih pergi dan meninggalkan kampungnya kelahirannya."

__ADS_1


Semua bergelak tawa kecuali Ajeng yang nampak cemberut.  


__ADS_2