Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Curiga


__ADS_3

Haris keluar dari kamar setelah Jihan tertidur. Ia masih teringat lelahnya Ainaya saat membersihkan lemari nya tadi.


''Apa Ainaya sudah tidur atau dia masih bermain dengan Bilal?'' Menyusuri anak tangga dengan pelan, takut mengganggu penghuni rumah yang mungkin sudah tertidur. 


Dugaan Haris salah, ia yang mengira Ainaya sudah terlelap ternyata masih duduk di ruang tengah. Langsung ke belakang membuat teh hangat sebelum mendekati sang istri.


''Hai, kamu kenapa?'' Haris menepuk punggung tangan Ainaya yang nampak melamun. 


Ainaya menggeleng cepat. Masih terngiang-ngiang di otaknya lampiran putih yang ditemukannya di kamar sang suami. 


Apa sebaiknya aku tanya mas Haris saja, tapi bagaimana kalau memang dia gak tau, itu hanya akan menambah masalah dengan hubungannya. Dan aku gak mau menjadi perempuan perusak rumah tangga orang. 


''Diminum teh nya.'' Haris memberikan secangkir teh hangat untuk Ainaya. 


Ia sengaja mendekati wanita itu untuk memastikan keadaannya. 


''Maaf, Tuan. Kalau ini sangat lancang jangan dijawab. Memangnya bu Jihan itu gak bisa hamil karena apa?'' tanya Ainaya penasaran. 


Haris menekan remot tv. Menyandarkan punggungnya ke belakang. 


''Kandungannya lemah, dan kata dokter memang kemungkinannya sangat kecil untuk hamil,'' jawab Haris seperti ucapan dokter kala itu. 


''Apa Tuan sudah mencoba untuk berkomunikasi dengan para ahli untuk hal ini?''


Haris menggeleng karena Jihan mengatakan enggan ke rumah sakit. 


Itu artinya mas Haris memang gak tahu tentang kb itu. Tapi kenapa alasan bu Jihan gak mau hamil. Apa ini ada hubungannya dengan kecantikan atau yang lain. 


Ainaya bertanya-tanya alasan Jihan yang sudah jelas tak mau mengandung anak dari suaminya. 


''Sudah hampir jam dua belas. Kenapa kamu gak tidur? Bilal sudah nyenyak, kan?'' Haris menatap pintu kamar Bilal yang sedikit terbuka.  


''Saya belum ngantuk, Tuan.'' 


Setiap mendengar panggilan itu mata Haris meremang. Ia ingin sekali menarik peringatan yang pernah meluncur namun seolah waktunya belum tepat. 


''Apa kamu nyaman memanggilku Tuan?'' tanya Haris basa-basi. 


Ainaya menyeruput teh nya lalu tersenyum. 


''Nyaman,'' jawab Ainaya singkat. Melirik Haris yang menggeser duduknya lebih mendekat. 


''Oh iya, saya lupa bilang. Besok pagi saya harus pulang, dan mungkin akan ke sini seminggu lagi,'' ujar Ainaya menjelaskan. 

__ADS_1


''Baiklah, aku akan bangun lebih awal untuk mengantarmu,'' ucap Haris antusias. 


Secepatnya Ainaya menggeleng.


''Gak usah. Mas Adam yang akan menjemput saya, jadi Tuan gak perlu repot-repot,'' tolak Ainaya tanpa ragu. 


Meninggalkan Haris lalu masuk ke kanar Bilal. 


Seandainya mas Haris tahu tentang surat itu pasti dia sangat kacau.


Ainaya duduk di tepi ranjang. Mengusap pipi Bilal yang semakin berisi. 


''Mama memang bukan perempuan yang diinginkan papa mu, Nak. Tapi mama yakin papa akan menyayangimu sepenuh hati. Kamu akan menjadi anak kesayangan papa.'' Mengecup kening Bilal lalu berbaring di sampingnya. 


Haris pun ke kamar setelah memastikan Ainaya benar-benar terlelap. 


Haris membuka mata saat mendengar alarm berbunyi. Ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan memakai baju yang rapi. 


Tanpa membangunkan Jihan ia keluar dari kamar. 


''Semoga Adam belum menjemput Ainaya.'' Memakai sepatu dengan buru-buru. Mengetuk pintu kamar Bilal yang tertutup rapat. 


Ceklek 


''Ada apa, Tuan?'' tanya Ainaya dengan suara khas bangun tidur. 


''Aku--aku mau bertemu Bilal,'' jawab Haris berbohong. Tidak mungkin ia mengatakan yang sejujurnya, sementara Ainaya masih belum siap. 


''O...'' Ainaya membuka pintu nya lebar-lebar mempersilakan Haris untuk masuk ke dalam. 


''Maaf, saya baru bangun. Mungkin karena tidurnya kemalaman.'' Ainaya mengikat rambutnya dengan asal. Merapikan selimut yang berantakan.


''Gak papa, mungkin aku yang terlalu pagi.'' Haris terus mengamati setiap pergerakan sang istri.


''Anak papa ganteng sekali,'' puji Haris dari hati. 


Meskipun awalnya tak mengharapkan bayi dari rahim Ainaya, faktanya Haris mulai merasa nyaman dengan keberadaan mereka, bahkan ingin selalu bersama setiap waktu. 


''Apa tadi malam Bilal rewel?'' Haris mengangkat bayi mungil itu dan membawanya di samping Ainaya yang sedang membersihkan box. 


''Nggak sih, Bilal cuma bangun sebentar. Setelah minum susu dia tidur lagi.'' Aianya mengucap tanpa menoleh. Menghindari tatapan Haris yang akhir-akhir ini tak bisa diartikan. 


Mimin yang hampir saja masuk mengurungkan niatnya melihat sang majikan yang tampak akrab berbicara dengan Ainaya. Ia bersandar di dinding. Menguping pembicaraan mereka.

__ADS_1


Apa bu Jihan tahu kedekatan Ainaya dan pak Haris? Atau jangan-jangan __


Mimin langsung ke atas untuk melaporkan berita langka tersebut pada Jihan. 


Mengetuk pintu dengan pelan. Sesekali menatap ke arah bawah, takut Haris ke atas dan melihatnya. 


Tak lama kemudian Jihan membuka pintu. Mengerutkan alisnya melihat Mimin yang nampak gugup. 


''Kamu kenapa?'' tanya Jihan antusias. 


Mimin mendaratkan jarinya di bibir memberi kode pada Jihan untuk tidak bersuara keras.


''Pak Haris ada di kamar Bilal bersama dengan Ainaya. Mereka terlihat akrab,'' ucap Mimin berbisik. 


Dada Jihan merasa sesak mendengar ucapan itu, meskipun saat ini ia tidak melihatnya secara langsung, namun bisa merasakan perubahan Haris semenjak wanita itu berada di rumahnya. 


''Apalagi yang kamu lihat?'' tanya Jihan penasaran. 


''Gak banyak sih, Bu.'' Saya takut ketahuan sama pak Haris, itu saja.'' dengan nada berbisik.


''Baiklah, nanti kalau kamu melihat sesuatu yang aneh kasih tahu aku.'' Jihan kembali masuk dan menutup pintu. 


Dasar perempuan murahan, apa dia sengaja menggunakan Bilal sebagai umpan. Akan kupastikan secepatnya kamu pergi dari sini. 


Jihan segera turun untuk memastikannya sendiri. Tanpa mengetuk ia masuk ke kamar Bilal. Benar saja, Haris masih ada di sana dengan sang buah hati di pangkuannya. Sedangkan Ainaya, wanita itu tidak ada. 


''Ainaya di mana, Mas?'' tanya Jihan menyusuri ruangan yang pekat dengan mainan anak. 


''Dia ke kamar mandi. Katanya mau pulang pagi ini. Makanya aku mau anterin dia.''


''Kenapa harus kamu?'' sahut Jihan ketus. 


''Bukankah di rumah ini ada sopir?'' lanjutnya. 


Haris membisu, bingung mau menjawab apa, yang pasti saat ini ingin selalu mengawasi Ainaya dengan mata kepalanya sendiri. 


''Sekalian aku mau beli susu untuk Bilal,'' ucapnya asal. 


Meskipun alasannya begitu meyakinkan, tak menyurutkan rasa curiga yang mulai memenuhi dada Jihan. 


Mungkin sekarang aku belum bisa mendapatkan bukti apa-apa. Tapi sebentar lagi aku akan tahu semuanya.


Jihan pura-pura tenang. Padahal, dalam hati sudah tak karuan dengan sikap lembut suaminya terhadap wanita lain, dan itu bertentangan dengan sikapnya selama ini.

__ADS_1


Sebentar lagi aku akan membongkar semuanya, semoga Jihan bisa menerima Ainaya dengan baik.


__ADS_2