Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Perjanjian yang tersembunyi


__ADS_3

Ainaya membuka mata. Ia merasa sudah terlalu lama tenggelam dalam mimpi. Matanya menyusuri ruangan yang berbeda. Rasa sakit yang masih terasa nyata itu membuatnya kesusahan untuk bergerak hingga harus memanggil suster yang berjaga. 


''Paman dan bibi di mana, Sus?'' tanya Ainaya dengan suara lemah.


''Tadi mereka pergi, Nona. Katanya sebentar, tapi sampai sekarang belum kembali,'' ucap sang suster menatap ke arah pintu yang tertutup rapat. 


Ainaya duduk dengan kaki menjulur rapat. Meskipun kondisinya mulai membaik, di bagian bawah itu terasa perih. Bahkan, untuk bergerak pun sangat sulit.


''Nona mau makan?'' tanya suster mengambil sepiring makanan yang sudah disiapkan. 


''Boleh,'' jawab Ainaya mengambil piring yang ada di tangan suster. Matanya menoleh ke arah boks bayi yang kosong. 


''Anak saya di mana, Sus?'' tanya Ainaya pada suster yang sibuk merapikan obat-obatan di atas meja. 


''Dua jam yang lalu dibawa ke ruangan bayi untuk melakukan pemeriksaan, Nona,'' ujar suster menjelaskan. 


Ainaya tersenyum mengingat statusnya yang saat ini adalah seorang ibu. Tak dapat dipungkiri jika ia sangat bahagia dan tak sabar menjalani perannya.


Mas Haris sudah datang apa belum ya?


Ainaya melihat jam yang menggantung di dinding. Memelankan kunyahannya mengingat sang suami yang tak memberi kabar padanya. 


Ia memanggil suster yang hampir pergi. 


''Apa tadi ada laki-laki yang datang ke sini, Sus?'' tanya Ainaya antusias.


Suster langsung menggeleng. Sebab, selama ia menjalankan tugas tidak ada satupun seseorang yang menjenguknya. 


''Apa mungkin mas Haris belum sampai?'' Ainaya melanjutkan makannya hingga habis.


Tak berselang lama Haris dan Andik datang. 


Ainaya yang ada di atas pembaringan pun tersenyum melihat sang suami yang nampak berseri-seri. 


''Kamu sudah datang, Mas?'' Ainaya meletakkan piring yang ada di tangannya lalu meneguk segelas air putih. 

__ADS_1


Tidak ada jawaban, Ainaya pikir setelah melahirkan sikap Haris akan berubah manis dan ramah. Namun ia salah, Pria itu tetap terlihat kaku dan dingin seperti biasanya. 


''Maaf aku gak bisa turun.'' Seolah perkatan itu menunjukkan bahwa keadaan Ainaya terlalu lemah usai melahirkan. 


''Gak papa,'' jawab Haris singkat.


''Bagaimana keadaan mu? Apa kamu sudah melihat anak kita?'' tanya Ainaya diiringi dengan senyuman. 


Haris menarik napas dalam-dalam. Memasukan kedua tangannya ke saku celana. 


''Sudah, dan sekarang dia ada di ruangan Jihan.'' 


Mendengar nama itu, Ainaya teringat dengan sesuatu yang menjanggal. 


''Kenapa ada di ruangan mbak Jihan. Bukankah dia ada di ruang bayi?'' Ainaya sedikit bingung dengan ucapan Haris dan suster yang berbeda. 


''Mungkin ada satu hal yang harus kamu tahu tentang tujuan pernikahan kita.''


Ainaya mulai menerka-nerka. Ya, ia ingat betul tentang perjanjian di atas pernikahan mereka. Yaitu Ainaya akan menjadi istri kedua dan memberikan nya keturunan, lalu apalagi yang dimaksud dengan Haris?


Andik menautkan kedua tangannya. Seandainya bisa, maka ia memilih untuk lenyap daripada melihat ekspresi Ainaya saat Haris mengingatkan tentang tujuannya yang terpendam. Namun, ia hanya seorang asisten yang akan melakukan setiap perintah bosnya. 


''Maaf, Nay. Itu memang benar, tapi ada yang belum aku jelaskan padamu.'' 


Dada Ainaya bergemuruh. Ingatannya kembali saat jihan pura-pura hamil. Dan juga perkataan wanita itu saat di rumah sakit.


Apakah itu yang dimaksud Haris? Jika benar kenapa harus sekarang dia mengatakannya?


''Anakku akan tinggal bersamaku dan Jihan,'' ucap Haris menjelaskan. 


Bak tersambar petir. Sekujur tubuh Ainaya lemas dan kaget setengah mati. Ia menggeleng cepat. Ucapan itu seperti sebuah mimpi. Bagaimana bisa Haris berkata seperti itu? Sedangkan ia yang melahirkan putranya. 


''Tidak, sampai kapanpun anakku akan tinggal bersamaku,'' ucap Ainaya dengan mata yang sudah digenangi cairan bening. ''Dia tidak boleh tinggal dengan siapa pun kecuali denganku,'' imbuhnya.


Akhirnya air mata yang dari tadi ditahan itu lolos juga. Ainaya berusaha meraih tangan Haris namun pria itu sengaja mundur menghindar. 

__ADS_1


''Maaf, Nay. Itu tidak mungkin terjadi. Karena semua sudah masuk dalam perjanjian.'' 


Ainaya masih bingung. Ia merasa tidak membaca apa yang diucapkan Haris, bahkan dalam perjanjian kala itu hanya tertulis jika Ainaya akan menjadi istri kedua dan memberikan anak, itu saja. 


''Jangan bohong, Mas! Aku tidak melihat kata-kata itu.'' Suara Ainaya semakin pelan. Hatinya terlalu sakit menerima kenyataan itu. 


Andik maju satu langkah dan memberikan sebuah lampiran yang dari tadi digulungnya. 


''Nona bisa membacanya sekali lagi.'' Membantu Ainaya membukanya tanpa menatap wajah wanita itu. 


Ainaya membaca dari awal hingga beberapa larik ia membaca tulisan seperti yang diucapkan sang suami. 


Semua itu terpampang dengan jelas sehingga membuat hati Ainaya hancur berkeping-keping. Sakit tak berdarah, namun menjalar ke seluruh orang tubuhnya. Seakan ia adalah manusia yang paling bodoh di muka bumi ini sudah tertipu oleh Haris. 


Kini ia tak biaa mengelak lagi karena tanda tangannya pun sudah ada di sana, itu artinya ia yang kurang teliti saat membaca. 


''Tapi aku gak mau berpisah dengan anakku. Sampai kapanpun dia akan menjadi milikku?'' Ainaya merobek kertas itu hingga tak berbentuk lalu melemparkan tepat di wajah Haris.


Andik memilih untuk keluar lebih dulu memberi ruang pada Haris dan Ainaya berbicara. Ia tak sanggup melihat penderitaan Ainaya yang bertubi-tubi.


Haris tersenyum menyeringai. ''Perjanjian itu tidak bisa diubah. Artinya anakku akan tetap menjadi milikku dan Jihan. Dia akan tinggal bersamaku dan istri pertama ku. Jangan berani macam-macam atau aku akan lebih menghancurkan hidupmu lagi,'' ancam Haris menunjuk wajah Ainaya. 


Bibi dan paman masuk tanpa permisi. Mereka langsung menghampiri Ainaya yang nampak terisak. 


''Urus dia! Aku gak mau dia buka mulut pada mama dan papa atau keluarga kalian akan hancur.'' Haris merapikan jas nya lalu pergi meninggalkan ruangan itu. 


Bibi merengkuh tubuh Ainaya yang bergetar hebat. Sebagai seorang wanita ia pun bisa merasakan apa yang saat ini menyelimuti sang keponakan. Namun apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Semua sudah terlanjur dan tak bisa dikembalikan lagi. 


''Bi, kenapa jadi begini? Aku gak mau berpisah dengan anakku?'' ucap Ainaya di sela-sela tangisnya. 


Bibi terdiam. Ia pun tak bisa menjelaskan apapun tentang rencana yang memang tersembunyi itu. 


''Kamu yang sabar, Nay. Anggap saja kamu tidak pernah melahirkan," dengan entengnya paman mengucap. Bahkan seolah pria itu tak peduli dengan perasaannya. 


Bibi mengusap punggung Ainaya yang berada di pelukannya. Merasa bersalah karena sudah menciptakan penderitaan pada wanita itu. 

__ADS_1


__ADS_2