
Ainaya duduk termenung. Tatapannya kosong, seolah tak ada harapan untuk menjalani hidupnya. Hampir seharian penuh ia tenggelam dalam duka yang mendalam. Haris tidak hanya menghancurkan masa depannya, namun juga mengabaikan perasaannya.
''Kamu makan dulu, Nay.'' Bibi membawa sepiring nasi dan meletakkan di meja.
Ainaya menoleh dan melempar makanan itu ke sembarang arah. Suara piring menghantam tembok terdengar nyaring. Makanan yang di susun rapi kini berantakan di lantai.
''Kalau aku makan, apa Bibi bisa mengembalikan anakku?'' pekik Ainaya dengan mata yang berkaca-kaca. Meluapkan kekesalannya yang dari tadi menyesakkan dada. Seolah masalah tak puas dan terus menghampirinya.
Bibi membisu. Menautkan sepuluh jari-jarinya. Ia tidak mungkin bisa mengabulkan permintaan Ainaya kali ini.
''Ikhlaskan dia, Nay. Paman yakin suatu saat nanti kamu akan mempunyai anak lagi. Kasihan bu Jihan yang tidak bisa anak.'' Paman ikut mendekat.
Ainaya kembali menumpahkan sisa air mata. Hatinya terlalu lemah untuk menerima kenyataan itu.
''Bibi tahu ini berat untuk kamu, tapi kita tidak bisa mundur lagi, Nay. Mereka bukan orang sembarangan yang bisa kita sepelekan.'' Bibi mencoba untuk menenangkan dan berharap Ainaya bisa menerimanya.
''Tapi ini gak adil, Bi. Mas Haris sudah merebut anakku,'' ucap Ainaya terputus-putus.
Paman menarik napas dalam-dalam. Kemudian duduk di sofa. Sebagai orang tua, ia pun tak bisa melakukan apa-apa selain menerimanya. Terlebih keluarga Haris sudah banyak memberikan pada mereka kehidupan yang layak.
Di kamar lain
Bilal yang baru membuka mata terus menjulurkan lidahnya. Tangannya yang menggenggam sempurna terus digesekkan ke arah bibir mungilnya.
''Anak papa sudah bangun.'' Haris yang dari tadi sibuk dengan ponsel terpaksa mendekati bayinya yang nampak tak tenang.
''Bagaimana cara menggendongnya, Sus?" tanya Haris yang masih kikuk.
Suster mengangkat tubuh bayi yang masih lemah itu dan memberikannya pada Haris, sedangkan Jihan menatap mereka berdua dari arah brankar.
''Sepertinya bayinya haus, Tuan.'' Suster mengambil botol yang sudah berisi susu hangat lalu menempelkan di mulut Bilal.
Bukan nya menerima, justru bayi itu menangis kencang. Seolah tak merespon benda yang ada di mulutnya.
''Dia kenapa, Sus? Apa mungkin susu nya terlalu panas?" Haris merebut botol dari tangan suster dan menempelkan di pipi, memastikan nya.
Ini tidak panas, tapi kenapa Bilal tidak mau meminumnya.
Haris panik saat putranya itu terus menangis tanpa mau menerima susu yang sudah di masukkan ke mulutnya.
''Mungkin dia mau asi dari ibunya, Tuan,'' ucap suster seperti yang sering terjadi pada bayi lain.
Jihan terdiam dan sesekali melirik Haris yang nampak panik.
__ADS_1
''Kasih aja ke ibu nya dulu, Mas. Kasihan dia, nanti kalau sudah diam baru bawa ke sini,'' saran Jihan yang langsung disetujui suster.
Berat hati Haris menerima saran itu dan membawa bayinya keluar.
Haris masuk ke ruangan Ainaya tanpa mengetuk. Tidak ada siapapun di sana, namun suara gemericik air terdengar menandakan bahwa saat ini Ainaya ada di kamar mandi.
''Kita duduk dulu ya,'' ajak Haris membawa Bilal ke sofa.
Tak berselang lama Ainaya keluar. Sekujur tubuhnya membeku saat melihat Haris yang sibuk mendiamkan putranya menangis.
Hingga beberapa menit suasana terasa hening membuat Haris membuka suara.
''Cepetan ke sini, anakmu haus!'' bentak nya dengan tatapan tajam.
Sedikitpun tak ada rasa iba dan belas pada Ainaya yang masih pucat.
Ainaya berjalan pelan menghampiri Haris. Lidahnya terlalu kelu hingga ia hanya memenuhi panggilan pria itu tanpa protes. Membuka satu kancingnya dengan ragu, kemudian menoleh ke arah Haris.
''Kenapa?'' tanya Haris curiga.
''Keluarlah sebentar! Aku mau menyusui anakku,'' ucap Ainaya malu-malu.
Haris beranjak dari duduknya.
Ainaya bergegas membuka kancing selanjutnya setelah mencium setiap jengkal wajah bayinya bergantian.
''Mama pasti akan merindukanmu, Nak.''
Buliran bening menetes begitu saja, mengingat apa yang akan terjadi.
Haris melihat jam yang melingkar di tangannya, sudah hampir lima belas menit ia berdiri di sana. Namun, belum ada tanda-tanda Ainaya memanggilnya, terpaksa Haris membuka pintu memastikan apa yang terjadi di dalam.
Nampak Ainaya sedang menenangkan putranya dengan nyanyian lirih. Haris mendekat lalu kembali duduk di tempat semula.
''Sebentar, Mas. Aku masih ingin bersama bayiku,'' ucap Ainaya tanpa menatap.
Haris menghela napas panjang. Mencoba untuk memberi waktu pada Ainaya yang nampak bahagia. Padahal, dalam hatinya sudah tak sabar dan ingin pergi, namun diurungkan.
''Anak mama baik-baik ya.'' Ainaya mengusap lembut pipi Bilal yang mulai terlelap.
***
''Cepetan, Pa! Kasihan Jihan.'' Bu Ida menarik tangan pak Indrawan. Mereka buru-buru keluar dari bandara setelah sebelumnya mendapat kabar dari Haris bahwa Jihan melahirkan.
__ADS_1
"Tenang saja. Anak Jihan sudah lahir kok." Pak indrawan menunjukkan sebuah foto bayi mungil yang dikirim Haris beberapa menit lalu.
Mereka menghentikan langkahnya kemudian menetap gambar itu dengan intens.
Mata bu Ida berkaca-kaca. Setelah sekian lama menanti, akhirnya ia bisa memiliki seorang cucu yang sangat tampan.
"Mirip Haris ya, Pa." Bu ida membelai lembut pipi bayi itu lewat layar ponsel.
"Iya iya, sekarang kita langsung ke rumah sakit saja."
Pak indrawan dan Bu Ida bergegas ke mobil. Mereka menyuruh sang sopir melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena tak sabar ingin segera bertemu dengan cucu tercinta.
"Ruangan pasien yang bernama Jihan di mana, Sus?" tanya Bu Ida pada resepsionis yang berjaga.
Suster mengantar bu Ida dan pak Indrawan menuju ruang rawat Jihan. Sebab, Haris sudah memberitahunya terlebih dulu sebelum mereka salah paham.
Sepanjang perjalanan menuju ruangan Jihan, tak henti-hentinya bu Ida mengucapkan syukur meluapkan kebahagian yang tiada tara.
"Ini ruangannya, Bu." Suster menunjuk pintu ruangan Jihan yang tertutup rapat.
"Baiklah terima kasih," ucap bu Ida dan pak Indrawan serempak. Kemudian membuka pintu perlahan.
Jihan sedang terlelap di atas pembaringan. Terdapat juga boks bayi kosong dipastikan bahwa itu adalah milik cucu mereka.
''Dimana cucu kita, Pa?'' tanya Bu Ida pada suaminya dengan wajah takut.
Meletakkan tasnya lalu memeriksa setiap sudut ruangan hingga ke balkon.
''Mungkin saja di ruangan bayi, Ma. Haris juga tidak ada, kan?''
Bu Ida langsung keluar menghampiri suster yang melintas untuk menanyakan ruang bayi.
''Ada di ujung sana, Bu.'' Menunjuk ke arah lorong yang lumayan memanjang.
Bu Ida tersenyum dan melanjutkan langkahnya. Di tengah perjalanannya tiba-tiba saja ia berhenti saat melihat Haris keluar dari salah satu ruangan dengan bayi di gendongan nya.
''Haris,'' teriak bu Ida dari arah kejauhan.
Haris terdiam, ia bingung antara maju atau tetap berhenti di tempat.
Gawat, bagaimana kalau mama bertemu dengan Ainaya. Pasti dia akan curiga.
Ainaya yang ada di dalam pun berjalan ke arah pintu saat mendengar nama suaminya di panggil.
__ADS_1
.