
Meski sudah baikan, pagi ini Haris menyiapkan baju kantornya sendiri seperti sebelumnya. Semalam ia juga sengaja tidur di kamar lantai dua, sedangkan Ainaya tetap bersama Bilal. Saling terpisah untuk sementara waktu. Mungkin itu yang akan menjadi tugas selanjutnya. Menyembuhkan trauma pada sang istri akibat kejadian di masa lalu.
''Dimana sih dasinya, perasaan aku taruh di sini.'' Membuka laci bagian atas. Lalu beralih yang tengah dan bawah, namun Haris tak menemukan dasi yang dicarinya.
''Jangan-jangan belum dicuci,'' gumamnya kecil.
Terpaksa ia keluar dan turun. Memanggil bibi yang sibuk menyiapkan makanan di meja makan. Bertepatan saat bibi datang, Ainaya pun keluar dari kamar Bilal sambil menggendong sang putra.
''Apa Bibi lihat dasi navy yang bergaris?'' tanya Haris menjelaskan.
Bibi terdiam, mengingat-ingat semua baju Haris yang kemarin disetrika.
''Kayaknya gak ada, Den. Semua baju sudah dibawa ke atas,'' terang bibi yakin.
Ainaya mendekat. ''Biar aku yang cari.'' Ia berjalan ke arah tangga. Tetap dengan Bilal di dekapannya, sedangkan Haris mengikuti dari belakang.
Haris masuk ke kamar kemudian menutup pintu dan mengambil alih Bilal.
Ainaya melangkah menuju lemari. Matanya mengabsen ruangan yang dominan dengan warna putih seperti kesukaannya.
Ternyata mas Haris juga menyukai warna putih.
Membuka lemari dan mulai mencarinya di sela-sela baju yang menggantung.
Sedangkan Haris, ia sibuk dengan Bilal di atas ranjang.
''Biasanya di mana, Mas?'' tanya Ainaya berjalan ke arah meja rias.
Haris menunjuk laci yang ada di samping ranjang. Segera Ainaya membukanya dan mencari di atas tumpukan dasi lainnya.
''Ini kan masih banyak pilihannya, kenapa harus yang itu?" Ainaya mengangkat beberapa dasi dengan warna yang serupa. ''Apa ada yang spesial?'' imbuhnya menyelidik.
Haris terkekeh. Mendudukkan Bilal di atas perutnya seperti yang sering ia lakukan setiap pagi.
__ADS_1
''Kalau gak ada juga gak papa, aku hanya sering pakai yang itu saja.'' Haris menarik tangan Ainaya hingga wanita itu terhuyung dan jatuh di sampingnya.
''Sekarang kamu tebak, dari mana mama tahu tentang hubungan kita?'' ucap Haris basa-basi.
''Dari kamu lah, dari siapa lagi?'' jawab Ainaya yakin, tangannya menyentuh tangan Bilal yang mencengkram erat lengan sang papa.
''Awalnya bukan dari aku, tapi dari wajah Bilal. Dia curiga dengan wajahnya yang mirip dengan kamu, bukan Jihan. Disaat itulah aku jujur pada mama dan papa bahwa kamu istriku,'' kata Haris jujur.
''Lalu, apa tanggapan mama?'' Ainaya mulai mengikuti alur cerita Haris. Ingin mendengar apa yang terjadi di rumah sebelum lelaki itu menyusulnya ke kampung.
''Mama marah besar. Dia menyuruhku mencarimu. Kalau gak ketemu, maka dia akan mencoret namaku dari keluarga Mahendra. Mengasingkan aku di pulau terpencil di antah berantah belahan dunia. Dia juga mengutukku menjadi monyet supaya tidak berulah lagi.''
Akhirnya, Haris bisa melihat kebahagiaan di wajah sang istri. Wanita yang terbaring di sampingnya itu tertawa lepas mendengar ucapannya yang sangat konyol dan penuh dengan tipuan.
Tidak masalah berbohong, yang penting pagi ini bisa membuka suasana baru untuk istri dan anaknya.
''Kalau itu beneran terjadi, apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan hidup di hutan dan berteman dengan binatang lainnya? Atau tetap berkeliaran mencariku?'' goda Ainaya melanjutkan.
''Aku akan tetap mencarimu. Meski resikonya sangat besar dan menjadi buronan warga, aku tak akan lelah mencari tulang rusukku.''
Ainaya tersipu. Apakah benar ia adalah tulang rusuk Haris. Apakah ia siap menjadi pelabuhan hati suami yang pernah menyakitinya.
Haris melihat jam yang melingkar di tangannya.
Ternyata sudah jam tujuh lebih tiga puluh menit. Itu artinya Andik sudah menunggu di depan, namun ia belum siap-siap. Jangankan jas, dasi saja belum terpasang di leher. Masih nyaman menikmati kebersamaannya dengan sang istri.
Suara ketukan pintu mengejutkan Ainaya yang nampak melamun. Ia bergegas bangun dan merapikan rambutnya. Takut orang menganggapnya berbuat macam-macam di kamar suaminya.
''Mungkin bibi,'' ucap Haris santai.
Ainaya membuka pintu selebar tubuhnya, memastikan siapa yang datang.
''O, ternyata kamu di sini. Pantesan mama cari ke mana-mana gak ketemu. Mama pikir kamu membawa Bilal pergi.'' Bu Ida mengusap dadanya pelan. Setelah tadi sempat panik dengan keberadaan Ainaya, kini ia lega melihat menantu kesayangan ada di kamar putranya.
__ADS_1
''Maaf, Ma. Tadi mas Haris minta di cariin dasi, jadi aku ke mari,'' jawab Ainaya malu-malu. Membuka pintu lebar-lebar. Menampakkan Haris dan Bilal yang ada di atas ranjang. Takut dikira berbuat hal yang aneh-aneh.
Bu Ida tersenyum lebay lalu pergi dan melambaikan tangannya. Tak ingin mengganggu mereka yang sedang menghabiskan waktu bersama.
''Kok mama aneh ya, Mas?'' tanya Ainaya kembali ke atas ranjang.
Haris menahan tawa. Menepuk kasur kosong yang ada di samping nya. Memberi kode Ainaya untuk lebih dekat lagi.
''Mama memang seperti itu, biarin saja.''
Kembali bercakap sejenak dengan durasi lima belas menit yang tersisa. Dari relung hati terdalam, Haris enggan meninggalkan Ainaya dan Bilal, namun hari ini juga tak bisa meninggalkan pekerjaan yang sangat penting. Terpaksa ia bangkit dari ranjang dan mengambil dasi.
Ainaya pun membantu Haris memakai dasinya. Mengawali tugas menjadi istri yang baik dan juga patuh terhadap sang suami. Menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan lelaki itu.
Disaat keduanya keluar, tiba-tiba saja Bilal yang ada di gendongan Ainaya menangis sembari maranggeh sang ayah yang ada di sampingnya. Itu memang sering dilakukannya sebelum kerja.
''Mau ikut lagi?'' Terpaksa Haris mengajaknya, daripada harus mendengarkan tangisannya yang sangat merdu, namun menyebalkan.
''Ikut ke mana?'' tanya Ainaya yang tak tahu-menahu tentang keseharian Bilal.
''Hampir setiap hari aku ajak dia ke kantor karena seperti ini. Sepertinya anak kita memang suka drama kalau papanya mau berangkat.''
''Seperti foto yang kamu unggah waktu itu?'' tanya Ainaya teringat dengan unggahan foto Haris sebelum mereka bertemu.
''Kamu lihat?'' Di tengah tangga Haris menghentikan langkah Ainaya yang hampir tiba di bawah.
''Iya,'' jawab Ainaya singkat. ''Aku juga like kok,'' imbuhnya membuat Haris penasaran. Ia duduk di ruang tengah dan memeriksa postingan saat ia ke kantor dengan Bilal. Berdecak kesal. Tak mungkin ia memeriksa jutaan akun yang nge-like itu satu persatu.
Baru saja keduanya bercanda tentang postingan, Andik masuk menghampiri mereka. Karena ia sudah tak tahan jika harus menunggu di luar tanpa kepastian.
''Maaf, Ndik. Salahkan saja majikan baru mu ini. Gara-gara dia aku terlambat.'' Haris menyerahkan Bilal pada Ainaya.
''Bohong, Pak. Ini gara-gara dasi kesayangannya yang gak ketemu, makanya terlambat,'' elak Ainaya lalu membawa Bilal pergi. Menghindari sesuatu yang mungkin akan terjadi di depan sang asisten.
__ADS_1