Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Perhatian


__ADS_3

Di tengah menikmati makanannya, Haris teringat dengan Ainaya yang tak kunjung keluar. Sejak bu Ida dan pak Indrawan pulang, wanita itu terus berada di kamar nya setelah menyusui Bilal. 


"Ada apa, Mas?" tanya Jihan menyelidik. 


Haris menggeleng. Mengunyah makanannya dengan pelan. 


Apa mungkin Ainaya ketiduran? 


Menatap menu makanan yang masih banyak, sedangkan mereka hanya makan berdua. Kemudian menoleh ke arah belakang. Masih sama, tidak ada tanda-tanda Ainaya keluar membuat Haris sedikit cemas. 


"Aku panggil Ainaya dulu ya, Mas. Kasihan dia  belum makan." Jihan berdiri dari duduknya. 


Haris mengangguk kecil pertanda mempersilahkan sang istri untuk pergi. 


Jihan mengetuk kamar seraya memanggil nama sang penghuni. 


Tak lama kemudian Ainaya membuka pintu. Wanita itu tampak pucat dan lemas. 


"Kamu gak papa, Nay?" Jihan memegang tangan Ainaya yang terasa dingin. 


"Saya gak papa, Bu, mungkin karena capek saja," jawab Ainaya lirih. 


Jihan menggiring Ainaya menuju ranjang. Menatap pembalut yang berukuran banyak. 


Sepertinya tadi Ainaya cuma membawa tas. Lalu kapan dia membeli pembalut itu. 


Jihan menatap Ainaya dengan tatapan curiga. Pasalnya, di rumah itu tidak ada orang lain selain mereka bertiga. Dan tidak ada siapapun yang datang. 


"Kapan kamu membeli pembalut, Nay?" tanya Jihan menyelidik. 


Ainaya tersenyum lirih. "Online, Bu. Tadi yang membuka pintu pak Haris." Ainaya menjawabnya dengan lugas. Sebab, itu sudah dipikirkan sebelumnya. 


Jihan manggut-manggut mengerti. Rasa curiga itu lenyap dan yakin Ainaya tidak berbohong. 


"Oh iya, aku memanggilmu untuk makan malam. Kamu bisa ke ruang makan atau aku ambilin." 


Ainaya menggeleng seketika. Tidak mungkin ia merepotkan Jihan yang saat ini berstatus majikannya. 

__ADS_1


"Nanti saya makan sendiri. Sekarang ibu makan saja dengan Tuan Haris." Ainaya memegang perutnya yang mulai terasa keram. Namun, ia mencoba untuk memasang wajah biasa saja. 


"Baiklah kalau gitu, aku pergi dulu. Nanti kalau kamu lapar makan saja, nanti malam kamu juga boleh tidur di kamar Bilal." Jihan menepuk pelan pundak Ainaya lalu keluar. 


Tidak ada kata-kata yang terucap dari bibir Ainaya. Ia berusaha untuk menerima keadaan, juga berharap yang terbaik untuk masa depannya. Diceraikan ataupun tidak, Ainaya pasrah. 


Usai istirahat sejenak Ainaya keluar dari kamarnya. Ia duduk di ruang makan. Lampu ruangan depan sudah diganti dengan lampu remang, itu artinya Jihan dan Haris sudah tertidur.


Aku pernah mendengar pepatah, bahwa serapat apapun menyembunyikan bangkai pasti baunya akan tercium juga. Apa sandiwara ini akan terbongkar tanpa aku mengatakan pada orang tua mas Haris? atau malah akan tersimpan rapi sampai kapanpun. 


Ainaya mulai bertanya-tanya. Sedikit pun tak ingin membongkarnya, namun suatu saat pasti kedok itu akan mengelupas dengan sendirinya, karena kebohongan tidak akan selamanya kekal. 


Baru beberapa suap, Ainaya mendengar suara tangisan bayi, sudah dipastikan itu adalah Bilal. Terpaksa ia menghentikan makannya. Lalu melihat keadaan sang buah hati. 


"Cup cup cup" 


Benar saja, ternyata Bilal menangis di gendongan Jihan, sedangkan Haris pun ikut kebingungan dengan tangisan Bilal yang semakin menggema. 


"Mungkin dia lapar, Bu." Ainaya menghampiri Jihan, mengambil alih Bilal dari tangan wanita itu


"Padahal ini tadi juga asi yang aku simpan di kulkas, kenapa dia masih tidak mau ya?" tanya Jihan menunjukkan botol susu yang ada di tangannya. 


Ainaya mengusap kening Bilal saat bayi itu mulai menyedot makanannya. 


"Mungkin putingnya terlalu besar jadi dia gak nyaman," ujar Ainaya. 


Jihan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Benar apa kata Ainaya, mungkin itu yang menjadi kendala. 


Bilal kembali tenang saat berada di dekapan Ainaya. Bocah itu terlihat nyaman mendengar nyanyian sang ibu. Meskipun Jihan sering melakukan hal yang sama, namun tetap saja tidak berpengaruh. 


Apa mungkin karena Aniaya adalah ibu kandungnya? Bagaimana jika Bilal terus nyaman bersamanya. 


Jihan keluar dari kamar itu diikuti Haris dari belakang. Mereka berdiri di sudut tangga, kembali menoleh ke arah pintu kamar Bilal yang sedikit terbuka. 


"Ada apa?" tanya Haris merangkul pundak Jihan. 


Jihan menggeleng tanpa suara. "Aku ngantuk," ucapanya kemudian. 

__ADS_1


Haris mengusap lembut pucuk kepala sang istri. "Kamu tidur aja dulu, aku masih ada pekerjaan kantor," pamit Haris mengecup kening sang istri lalu masuk ke ruang kerja. 


Hampir setengah jam bergelut dengan laptop. Haris merasa haus, sedangkan di tempat itu tak ada air minum. Terpaksa ia ke belakang untuk mengambil minum. Namun, ditengah perjalanan ia melihat piring yang berisi nasi itu terdampar tanpa sang pemilik. 


Apa itu bekas makan Ainaya? Kenapa gak dihabiskan, jorok sekali. 


Haris geleng-geleng. Melanjutkan langkahnya menuju belakang. Ia mengambil segelas air putih lalu meneguknya di tempat. Lantas, beralih ke kamar Bilal. 


''Kamu tahu kan, kalau di rumah ini gak ada pembantu? Itu artinya gak boleh jorok, setelah makan harus di cuci. Makan secukupnya saja. Gak baik makanan gak dihabiskan," tegur Haris bertubi-tubi. 


"Saya belum selesai makan, Tuan. Nanti akan saya habiskan kok, dan saya juga tahu diri. Tenang saja," jawab Ainaya menjelaskan. 


Haris langsung pergi dan kembali ke ruangannya. 


Sementara Ainaya beranjak dari duduknya. Ia membawa Bilal keluar dari kamarnya. Tak tega jika membiarkan bayi itu sendirian di kedinginan malam yang menusuk tulang. 


"Yang anteng ya, Nak. Mama makan dulu." Ainaya menarik kursinya ke belakang. Meletakkan piring di kursi lain untuk memudahkan nya saat makan. 


Sebegitu beratnya menjadi seorang ibu, namun Ainaya tak merasa terbebani sedikitpun. 


Haris yang ada di ruangannya nampak termenung memikirkan langkah selanjutnya. Di satu sisi ia ingin segera terlepas dari pernikahan siri nya dengan Ainaya dan hidup normal seperti sebelumnya. Akan tetapi, disisi lain tidak mungkin memisahkan Bilal dan Ainaya saat ini. Pada dasarnya bayi itu masih membutuhkan asi dari ibunya.


Selama Ainaya tutup mulut, pasti semuanya akan baik-baik saja, dan Jihan tidak akan tahu tentang pernikahanku dengan dia. 


Haris menutup laptopnya lalu keluar. Ia menatap ke arah Ainaya yang makan sambil memangku Bilal.


Hatinya tergugah dan menghampiri wanita itu.


"Lain kali kalau mau makan panggil aku, supaya kamu gak kerepotan," cetus Haris dengan nada datar. 


Diperhatikan sedemikian rupa saja membuat dada Ainaya berdebar-debar. Ia tersenyum lalu memberikan Bilal pada pria tersebut. 


"Jangan terlalu ge er, aku hanya gak mau Bilal terkena kotoran makanan," imbuhnya. 


Ainaya melanjutkan makannya tanpa menjawab. Enggan untuk berbicara dengan Haris yang pasti banyak kilah nya. 


Gak papa, setidaknya kamu masih peduli dengan anak kita. Aku sadar diri dan tidak pantas menjadi istrimu.

__ADS_1


__ADS_2