Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Terungkap


__ADS_3

Haris menghempaskan tubuhnya di atas pembaringan. Memejamkan matanya yang terasa lelah akibat berhadapan dengan laptop, juga memikirkan permintaan Ainaya yang begitu sulit. Mencoba untuk mencari celah supaya Jihan bisa menerima kehadiran wanita itu sebagai madunya. 


Memiliki dua istri mungkin akan lebih baik daripada melepaskan salah satunya. Begitu rencananya saat ini. 


''Beri aku waktu seminggu, Nay. Aku akan mengatakan pada semua orang bahwa kamu adalah istriku,'' ucap Haris meyakinkan hatinya. 


Ia bangkit dan berjalan menuju lemari. Membuka laci yang sengaja dikunci untuk mencari surat perjanjian yang waktu itu menjadi saksi bisu pernikahannya dengan Ainaya. 


''Sekarang surat itu sudah tidak berlaku lagi. Aku kalah, Nay. Aku yang membencimu dan ingin kamu pergi, tapi ternyata sekarang aku mencintaimu lebih dulu.''


Mengeluarkan beberapa map dan juga akta-akta penting yang sengaja di simpan di sana. Dari beberapa surat penting itu, ternyata tak menemukannya. 


Mengingat-ingat dimana terakhir kali ia menyimpan surat itu. 


Apa mungkin disimpan Andik? 


Haris memeriksa untuk yang kedua kali sembari merapikannya. Ternyata surat itu benar-benar tidak ada. Terpaksa ia menghubungi sang asisten. 


''Maaf, tapi waktu itu Bapak sendiri yang kenyimpannya. Saya hanya punya fotokopi saja,'' terang Andik dari balik ponsel.


Haris berdecak kesal, semakin pusing saja dengan masalah ini.


''Baiklah.'' Memutus sambungannya. Ia mencari di tempat lain. Namun nihil, usahanya sia-sia, bahkan di rak dan beberapa tempat penting di ruangan kerjanya pun tidak ada. 


Menarik napas dalam-dalam. Berpikir keras untuk mengingatnya kembali. 


''Apa mungkin di lemari Jihan?'' Menatap lemari besar yang ada di sampingnya. Entah, ia merasa ada sesuatu di sana yang membuat hatinya berkesiap mendekat.  


Haris membuka pintu dengan pelan. 


Matanya menatap baju yang ada di bagian atas, sangat rapi dan sedap dipandang. 

__ADS_1


''Suatu saat bajuku pun akan se rapi ini jika kamu yang mengurus, Nay.'' Tersenyum tipis. 


Sekelebat bayangan hidup bersama dengan wanita itu melintas di otaknya, pasti akan bahagia karena setiap hari ditemani dan diurus. Bukan memikirkan dirinya sendiri seperti Jihan. Akan tetapi, Haris pun tak ingin menyalahkan Jihan sepenuhnya yang selama ini sudah menemani hidupnya. 


Apakah cinta Haris untuk Jihan mulai surut? Ataukah ia memang mulai berpaling dan mencari tempat yang lebih nyaman. Ya, tak dapat dipungkiri jika hati Haris mulai goyah dan memikirkan wanita lain selain Jihan.


Tanpa sengaja tangannya menyentuh lampiran yang ada di bagian bawah tumpukan baju. Bibirnya tertarik membentuk senyum. 


''Kenapa aku bisa lupa begini, kira-kira Jihan tahu gak ya? Tapi kalau dia tahu gak mungkin diam saja.''


Bodo amat, untuk saat ini tidak ada yang penting selain merobek surat laknat itu. Haris mengambilnya dan membawa ke arah jendela. Perlahan membuka map nya.


Pertama kali yang ia baca adalah logo rumah sakit yang terpampang di bagian atas. 


''Ini kan salah satu rumah sakit di Paris. Siapa yang pernah periksa ke sana?''


Dari semua keluarga, tidak ada yang memiliki riwayat penyakit serius. Mereka pun hanya dirawat di rumah sakit dalam negeri saat sakit. Begitu pun dengan Jihan, wanita itu hampir tak pernah dirawat semenjak menjadi istri Haris. 


Kontrasepsi permanen atau sterilisasi merupakan pilihan bagi pasangan yang tidak ingin memiliki anak lagi. Pada wanita, teknik yang dapat dilakukan adalah tubektomi, ligasi tuba, implan tuba, dan elektrokoagulasi tuba. Sementara pada pria, sterilisasi atau kontrasepsi permanen bernama vasektomi.


Haris semakin cemas, kemudian mengambil lampiran yang kedua dan membacanya dengan teliti. Seketika itu kertas yang ada di tangan Haris terjatuh ketika tulisan itu menyatakan bahwa Jihan melakukan metode paling efektif dalam mencegah kehamilan secara permanen, yaitu ligasi tuba (operasi). 


Jadi dia tidak bisa hamil bukan karena mandul, tapi memang sengaja. 


Darah Haris mendidih. Kerlingan matanya menunjukkan sebuah kemarahan yang sangat besar. Kertas yang ada di tangannya diremas hingga tak berbentuk. Seolah menjadi pelampiasan amarahnya saat ini. 


Jadi ini balasan mu, Ji. Aku gak nyangka kamu tega membohongi ku setelah semua yang aku berikan padamu. 


Buliran bening menetes begitu saja membasahi pipi kokoh Haris. Rasa  benci karena satu masalah bahkan mampu melenyapkan cinta yang dibangun selama tujuh tahun lamanya. 


Pintu terbuka membuat Haris menoleh. Ia menatap wanita cantik yang baru saja masuk. Wanita yang selama ini ia anggap sempurna dan tulus mencintainya, namun justru memberikan luka yang sangat dalam. 

__ADS_1


''Maaf, Mas. Tadi aku mampir ke salon jadinya lama.'' Jihan meletakkan tiga tote bag di sofa. 


Haris bergeming. Ia mencoba untuk tidak meluapkan amarahnya. Bagaimanapun juga semua harus dibicarakan dengan kepala dingin, bukan dengan kemarahan. 


Jihan mendekat. Matanya melihat kepalan kertas yang ada di tangan Haris dan juga map yang teronggok di lantai. 


''Ini apa, Mas?'' tanya Jihan menyelidik. Mengambil map kosong  yang teronggok di lantai. 


Haris memalingkan pandangannya. menyodorkan kertas itu di depan Jihan. Seolah enggan untuk menatap wanita itu lagi. 


Jihan segera mengambilnya dan melebarkan lampiran itu. Hanya dengan melihat logo rumah sakit saja matanya sudah membulat sempurna.


''Maafkan aku, Mas. Bukan maksudku menutupi ini semua darimu, tapi aku __"


Jihan menghentikan ucapannya saat Haris mengangkat tangan. Ia menundukkan kepalanya menghindari tatapan tajam sang suami. 


''Kenapa kamu lakukan ini padaku, Ji. Apa salahku?'' tanya Haris dengan suara pelan namun menekan.  


''Selama ini aku tidak pernah menuntut apapun dari kamu. Aku menerimamu apa adanya. Tapi apa yang kamu lakukan ini tidak hanya menyakitiku, tapi juga mama dan papa. Selama ini aku mempertahankanmu karena aku pikir kamu tulus mencintaiku. Tapi apa? Mengandung anakku saja kamu tidak mau, lalu kenapa kamu masih bertahan dengan pernikahan ini?" tanya Haris dengan bibir bergetar. Mencoba tetap berdiri meski tubuhnya mulai lemas dengan kenyataan pahit itu. 


''Mas aku akan jelaskan, ini gak seperti yang kamu kira aku __"


''Cukup!" Lagi-lagi Haris menghentikan ucapan Jihan. 


Wanita itu mulai terisak dan bersimpuh di depan Haris. Meminta ampunan atas perbuatannya. Merengkuh kedua kaki sang suami dan terus mengucapkan kata maaf. 


Aku menutupi pernikahan ku dan menyia-nyiakan Ainaya hanya demi menjaga hatimu, Ji. Aku tahu itu salah karena menikah tanpa izinmu. Tapi apa yang aku dapatkan sekarang. Hanya sebuah rasa sakit karena sebuah keegoisan. 


Haris mencoba tetap tenang. Ia mengusap air matanya yang membanjiri pipi lalu ikut duduk. 


''Ini semua bukan sepenuhnya salah kamu, Ji. Aku juga salah, lebih baik sekarang kita intropeksi diri.'' Haris memeluk Jihan dengan erat, namun seolah rasa cinta itu mulai sirna mengingat apa yang dilakukan wanita itu. 

__ADS_1


''Aku akan tinggal di rumah mama untuk sementara waktu, bukan karena menghindar, tapi aku hanya butuh ketenangan,'' pamit Haris melepas pelukannya. Ia keluar dari kamar itu tanpa menghiraukan panggilan Jihan. 


__ADS_2