
Jihan menghampiri Ainaya yang sibuk merapikan baju Bilal di lemari. Tidak ada yang salah dari wanita itu, namun ia merasa sikap Haris berlebihan sudah membelikan baju mahal padanya.
''Eh, ibu. Maaf saya gak tahu Ibu datang.'' Ainaya membungkuk ramah.
Jihan mendekati ranjang. Memastikan Bilal sudah terlelap. Melirik totebag yang ada di sofa.
''Mas Haris beliin baju untuk kamu?'' tanya nya sinis.
Ainaya mengangguk tanpa suara.
''Kamu tahu harga baju itu?'' tanya Jihan menyelidik.
Ainaya menatap baju yang melekat di tubuhnya lalu menggeleng. Seumur-umur ini kedua kali memakai baju mewah namun dengan merek yang berbeda.
''Harga baju itu setara dengan gaji asisten rumah tangga selama tiga bulan,'' terang Jihan dengan gamblang.
Ainaya tersenyum tipis. ''Maaf, Bu. Saya tidak pernah meminta tuan Haris untuk membelikan baju, jadi jika Ibu gak setuju bisa berbicara dengan dia,'' bantah Aniaya tanpa rasa takut.
''Bukan begitu maksudku, Nay. Tapi kamu harus tahu posisimu di rumah ini. Kamu berada di sini hanya arena Bilal, bukan yang lain.''
Ainaya terdiam mencerna ucapan yang meluncur dari sudut bibir sang majikan.
''Apa maksud, Ibu?" tanya Ainaya memastikan.
''Maksudku, jangan sok akrab dengan mas Haris. Aku tahu dia perhatian saja kamu, tapi ingat jangan anggap kebaikannya itu dengan maksud lain,'' tegas Jihan lalu pergi tanpa menunggu jawaban dari Ainaya.
''Oh iya, tolong kamu bersihkan lemari ku juga. Aku malas,'' ucapnya saat tiba di ambang pintu.
Ainaya menarik napas dalam-dalam. Jika bukan karena paksaan Haris mungkin saat ini ia sudah pulang dan tidak akan berhadapan dengan Jihan yang nampak cemburu.
''Aku juga gak tahu apa maksud dari semua ini, tapi dari lubuk terdalam aku juga gak mau berada di antara kalian. Sudah cukup selama ini aku mengalah dan tidak akan terperosok ke lubang yang sama.''
Ainaya langsung ke kamar Jihan. Ia menoleh ke arah Haris yang nampak menikmati angin malam di balkon lalu membuka lemari besar.
Sementara Jihan sendiri masih ada bi bawah.
Brak
Haris menoleh ke arah sumber suara. Nampak Ainaya meringis sambil memegang kepalanya. Bergegas masuk mendekati sang istri.
''Kamu gak papa, Nay?'' tanya Haris cemas. Tangannya ikut mengusap pucuk kepala Ainaya dengan lembut.
''Lain kali hati-hati.'' Haris menatap ke arah bawah. Hanya ada buku kamus besar yang teronggok di dekat kaki Ainaya.
__ADS_1
Kok bisa kamus ini ada di sini? Bukankah semua buku ada di rak bawah.
Haris memungut benda itu. Mengingat-ingat kapan ia membawanya ke atas.
''Kamu ngapain ke sini?'' Haris meletakkan kamus itu di atas meja. Lalu menghampiri Ainaya yang masih menutup keningnya dengan telapak tangan.
''Bu Jihan menyuruh saya membereskan lemari, dan saya gak tahu kalau di atas ada buku itu.'' Menyungutkan kepalanya ke arah kamus yang beberapa waktu lalu menimpa nya.
Ngapain Jihan menyuruh Ainaya membereskan lemari, ini kan sudah malam?
Menatap jam yang melingkar di dinding. Sudah hampir jam sepuluh malam itu artinya waktunya tidur, namun dengan teganya wanita itu diperintah untuk membersihkan lemari.
''Lebih baik kamu tidur saja, biar aku yang membereskan nya.'' Haris menutup pintu lemari, mendorong pelan Ainaya ke arah pintu. Namun, tiba-tiba saja Jihan datang.
''Ada apa ini?'' tanya Jihan menyelidik. Menatap Ainaya dan Haris bergantian.
''Gak ada papa, aku hanya menyuruh Ainaya tidur,'' pungkas Haris jujur.
''Gak bisa, Mas. Lemari kita itu terlalu berantakan, lagipula Ainaya belum ngantuk kok.''
''Tapi ini sudah malam, Ji,'' bentak Haris.
''Kamu belain dia?'' Jihan tak terima.
''Sudah, sudah, saya akan membereskan lemari nya.''
Kasihan Ainaya, tadi siang gak tidur dan sekarang tidurnya harus telat lagi. Apa yang harus aku lakukan?
Haris masih bingung keputusan mana yang harus diambil. Semua harus dipikirkan matang-matang sebelum memilih yang terbaik, menurutnya.
Hampir sebagian baju yang ada di dalam lemari itu milik Jihan. Hanya ada beberapa milik Haris, itupun sudah nampak lama.
Di mana lemari mas Haris?
Menoleh ke arah lemari besar yang ada di sudut ruangan.
Mungkin ini khusus bu Jihan dan yang itu mas Haris.
Tanpa sengaja tangan Ainaya menyenggol beberapa kertas yang ada di bagian bawah lipatan baju.
Dilihat dari logo bagian atas itu adalah surat rumah sakit.
Ainya menoleh ke arah Jihan yang nampak terlelap lalu membaca isi lampiran itu dengan teliti.
__ADS_1
Ini kan laporan kontrasepsi permanen, maksudnya apa?
Ainaya terkejut setelah membaca sebagai laporan itu. Kemudian melanjutkan aktivitasnya lagi hingga ke bawah.
Disana terdapat tanda tangan Jihan. Itu artinya laporan itu adalah milik wanita tersebut.
Pantas saja bu Jihan gak hamil. Ternyata dia kb permanen, apa mas Haris tahu tentang ini?
Ainaya segera mengembalikan lampiran itu di tempat semula. Kemudian melanjutkan aktivitasnya. Tak menyangka, Jihan melakukan hal yang sekejam itu.
Tidak hanya jahat pada sang suami, namun juga mertua yang selama ini mengharapkan cucu.
Apa mas Haris tahu tentang ini. Ah, rasanya gak mungkin. Pasti bu Jihan merahasiakannya dari semua orang.
Ainaya menutup pintu lalu menghampiri Haris.
''Saya turun dulu, Tuan. Jika Anda membutuhkan sesuatu bisa panggil saja,'' tawar Ainaya.
''Baiklah, selamat malam,'' ucap Haris dengan lembut.
Ainaya mengangguk lalu memutar tubuh lagi, menatap Jihan yang sudah tak sadarkan diri.
Ia menutup pintu dan bersandar di dinding, tepatnya di ujung tangga.
''Banyak istri yang berlomba-lomba ingin memberikan anak untuk suaminya, tapi mbak Jihan malas sengaja melakukan itu.
Ainaya menyusuri anak tangga dan masuk ke kamar Bilal. Ia menatap sang putr. Bersyukur bisa melahirkan seorang bayi untuk suaminya.
Ya, walaupun harapannya sangat kecil untuk bersatu dengan Haris, ia tetap saja mensyukuri apa yang terjadi. Berharap kedepannya akan mendapatkan kebahagiaan yang nyata.
Baru saja mengambil selimut, ponselnya berdering. Ainaya segera melihatnya
Ternyata Adam yang menelpon.
''Halo, Mas. Ada apa?'' Ainaya duduk di tepi ranjang.
''Ya ampun, Nay. Kamu di mana?'' Suara itu bertanya dengan cemas dan terdengar panik.
''Aku ada di rumah mas Haris, Mas. Tadi siang badan Bilal panas. Terpaksa aku menjaga nya,'' ucap Ainaya seperti apa yang terjadi sekarang.
''Ya sudah gak papa, kapan kamu pulang?'' tanya Adam sedikit lega.
''Kayaknya besok, Mas. Ini Bilal juga sudah membaik. Tadinya aku langsung mau pulang, tapi pekerjaanku belum kelar.''
__ADS_1
Adam paham dengan posisi Ainaya, pasti sangat sulit. Terlebih, Bilal adalah anak pertamanya. Pasti itu sangat berat bagi seorang ibu.
''Ya sudah, sekarang kamu istirahat saja besok aku jemput,'' ujar Adam sebelum mematikan panggilannya.