
Ainaya tidak berharap penuh dengan ucapan Haris. Baginya itu hanya akan membuatnya melayang namun akan menjatuhkannya lagi. Bahkan mungkin lebih sakit daripada sebelumnya.
Diizinkan merawat Bilal sudah cukup dan tidak akan menginginkan lebih.
''Memangnya suami kamu bekerja dimana, Nay?'' tanya pak Indrawan dengan suara berat.
Ainaya tersenyum kikuk. Bingung dengan jawaban atas pertanyaan sang mertua. Berbohong, hanya itu jalan satu-satunya yang harus diluncurkan demi menutupi pernikahannya.
''Suami saya bekerja di luar negeri, Pak. Dia gak pernah pulang, mungkin saja lupa dengan keluarga. Dan bisa jadi sudah memiliki perempuan yang lebih baik dari saya.'' Matanya tak teralihkan dari Haris yang berdiri tak jauh darinya. Seolah itu adalah sindiran keras untuk pria tersebut.
Haris menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia duduk di samping bu Ida yang nampak sibuk memainkan ponselnya.
''Kok hp Jihan gak aktif sih, Ris? Dia ke mana?'' tanya Bu Ida cemas.
Haris menyandarkan punggungnya. Menatap Ainaya yang tampak bahagia bermain dengan Bilal.
''Gak tahu, biarin saja deh, Ma. Aku yakin sebentar lagi dia pulang,'' jawab Haris cuek.
Tak berselang lama suara mobil terdengar di depan rumah.
Haris tersenyum. ''Itu pasti Jihan.''
Bu Ida bergegas keluar dari kamar Bilal untuk menyambut sang menantu, sedangkan Haris mendekati Ainaya.
''Kamu tidur di sini saja, biar nanti aku yang bilang ke Jihan,'' pinta nya lirih.
Ainaya hanya melirik sekilas tanpa menjawab. Kemudian kembali fokus pada sang putra yang hampir menangis.
Pintu dibuka dari dalam. Betapa terkejutnya Jihan saat melihat bu Ida berdiri di sana. Wajahnya mendadak panik. Jantungnya hampir lepas. Keringat dingin bercucuran menembus pori-pori. Memutar otaknya mencari alasan yang tepat.
Bagaimana ini? Kenapa mama kesini gak bilang dulu.
''Kenapa kamu diam di situ, Ji. Panas,'' teriak bu Ida.
Jihan berjalan pelan menghampiri wanita itu. Lalu bersalaman dengan hormat.
''Kamu dari mana saja? Mama khawatir, lain kali kamu bisa kan minta diantar Haris.'' Bu Ida menggiring Jihan masuk.
''Aku minta maaf, Ma. Ini mendadak, jadi saudaraku ada yang memintaku datang,'' ujar Jihan asal.
''Gak papa, lain kali kamu gak boleh seperti itu lagi,'' tutur Bu Ida.
Untung mama percaya, kalau gak matilah riwayatku.
__ADS_1
Haris yang ada di sudut tangga hanya bisa diam. Banyak yang ia pikirkan hingga tak bisa untuk mengambil langkah.
''Untung ada Ainaya yang merawat Bilal,'' imbuh pak Indrawan.
''Ainaya?'' tanya Jihan ulang.
Bu Ida mengangguk. ''Dia ke sini. Memangnya kamu gak tau?'' tanya bu Ida menyelidik.
Jihan ikut tersenyum. ''Aku tahu sih, Ma. Cuma, dia datanganya pas aku sudah berangkat. Jadi gak sempat bertemu.''
Kenapa mas Haris gak bilang kalau Ainaya mau ke sini?
Ada apa dengan Jihan, sepertinya dia __"
Pak Indrawan menepis rasa curiga yang tiba-tiba muncul.
Setelah seharian penuh berada di dekapan sang ibu kandung. Kini badan Bilal sudah membaik. Demamnya pun mulai turun dan bisa terlelap dengan tenang.
Haris menghampiri Jihan yang sibuk tersenyum dengan benda pipihnya.
''Mau sampai kapan kamu seperti ini? Bilal membutuhkanmu.'' Mematikan ponselnya lalu meletakkan di atas nakas.
''Apa sih, Mas? Bilal baik-baik saja kan?'' Jihan mencoba mengambil benda pipihnya. Namun, pergerakan Haris lebih cepat dan menyembunyikan benda itu.
''Kamu ini ibu macam apa? Tadi badan Bilal demam dan kamu malah keluyuran,'' pekik Haris serius.
''Tapi kamu harus tahu situasi juga, Ji. Kalau lama-lama kamu kayak gini kau jadi ilfil tau gak.''
Melempar ponsel itu ke atas ranjang kalau keluar. Menghindari untuk tidak berdebat dengan Jihan yang terus membantah.
Haris menutup pintu dengan keras menandakan jika ia sedang marah, namun sedikitpun tak membuat Jihan kaget.
Bertepatan saat Haris berada di ujung tangga, Ainaya pun berjalan dari bawah.
''Maaf, Tuan. Saya hanya mau pamit,'' ucap Ainaya menundukkan kepala.
Dari relung hati yang paling dalam ia pun masih ingin bersama Bilal, namun takut jatuh cinta dan tak rela meninggalkan bayi itu hingga memutuskan untuk pulang.
''Kenapa sekarang, Nay? Ini sudah hampir malam,'' cegah Haris.
Ia turun lebih mendekat lagi. Meyakinkan sang istri untuk tidak kembali saat ini.
''Aku mohon untuk malam ini saja kamu menginap di sini, aku janji besok akan mengantarkan mu pulang.'' Mengangkat kedua tangannya.
__ADS_1
Ainaya melihat keseriusan di mata Haris. Kemudian mengangguk setuju. Terlebih ia pun belum puas melepas rindu dengan sang putra.
Makasih, Nay. Kamu sudah banyak berkorban untukku dan mama. Aku memang tidak bisa menceraikan Jihan, tapi aku akan memberikanmu tempat yang nyaman.
Haris mengantar Ainaya ke kamar Bilal. Memastikan bahwa wanita itu benar-benar memenuhi permintaannya.
''Kalau begitu saya ganti baju dulu, kayaknya masih ada yang tertinggal di kamar belakang.''
Haris merentangkan tangannya. Menghalangi Ainaya yang hampir keluar.
Ia merogoh ponselnya dan berbicara dengan seseorang.
''Kamu bawakan tiga baju perempuan ke rumah sekarang juga. Sepertinya ukuran dia sama kayak kamu.'' Menatap Ainaya dari atas hingga bawah.
''Baik, Tuan. Saya akan segera datang membawa pesanan, Tuan.'' Suara lembut membalas lalu menutup sambungannya.
Sebenarnya banyak baju Jihan yang tak terpakai, namun Haris tidak ingin membuat Ainaya tersinggung, bahkan ingin menghargainya yang selama ini sudah membantu.
Tidak hanya membelikan baju. Haris juga memesan makan malam untuk wanita itu.
Apa aku tanyakan saja tentang perkenalan Ainaya dan Adam.
''Nay, apa kamu dan Adam sudah berteman lama?''
Ainaya duduk di dekat box. Menjauhi Haris yang semakin terlihat aneh.
''Memangnya kenapa? Itu bukan urusan, Tuan. Saya harap Tuan tidak ikut campur masalah pribadi saya. Bukankah Tuan sendiri yang mengatakan itu pada saya,'' jawab Ainaya menohok.
Haris terdiam.
Ternyata kamu punya nyali untuk marah padaku, Nay. Tapi gak papa, itu artinya kamu bukan perempuan lemah.
Tak lama kemudian, Mimin datang membawa totebag di tangannya dan memberikan pada Haris.
''Ini dari Mbak Silvi, Tuan.'' Matanya menatap Ainaya yang ada di sofa kamar Bilal. Semakin curiga dengan status wanita tersebut.
Sebenarnya siapa dia? Kenapa tuan Haris memperhatikannya?
Membungkuk pura-pura ramah. Padahal, sedikit jengkel karena seolah Ainaya merebut posisinya.
''Aku gak tahu apa warna kesukaan mu, tapi aku yakin kamu cantik memakai itu.''
Ainaya tersenyum miring. Lagi-lagi ia memiliki kesempatan untuk membuat Haris tersinggung.
__ADS_1
''Maaf, Tuan. Bukankah Anda memang tidak tahu apapun tentang saya. Saya rasa tidak perlu berlebihan. Terima kasih.'' Mengambil salah satu baju yang berwarna peach dan membawanya ke kamar mandi.
Kamu sangat menantang, Nay. Entah kenapa dengan sikap kamu yang seperti ini aku semakin tidak ingin meninggalkanmu.