Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Berputar arah


__ADS_3

Pagi ini berbeda dengan sebelumnya. Haris lebih banyak senyum pada beberapa karyawan yang menyapa. Memamerkan giginya yang putih dan rata. Raut wajahnya menunjukkan kebahagiaan yang berlebihan. Bahkan, di setiap langkah memberikan warna tersendiri dalam hidupnya.


''Selamat pagi, Tuan,'' sapa karyawan yang ada di lantai sepuluh. Ia sengaja menyambut kedatangan sang bos di depan lift setelah mendapat kabar dari beberapa rekannya bahwa pagi ini Haris murah senyum.


''Pagi,'' jawab Haris masih diiringi senyum. Sesekali membenarkan dasinya yang sedikit kekencangan.


Ia segera masuk ke ruangan meninggalkan jejak yang sangat mengesankan bagi hampir setiap orang yang bertemu dengannya pagi ini.


''Mungkin semalam beliau baru dapat surprize dari istrinya.'' Karyawan sudah mulai ghibah dengan temannya yang lain.


''Surprize apa? Aku dengar-dengar tuan Haris itu mengajukan perceraian,'' jawab yang lainnya.


''Itu artinya sebentar lagi Tuan Haris duda dong?''


Mereka tertawa menggelitik. Tak membayangkan bagaimana jika bos tampan nya itu duda, pasti akan menjadi perhatian setiap orang. Terlebih mereka yang jomlo.


Baru beberapa menit duduk, ponsel Haris berdering. Ia segera mengambil dan melihat nama yang berkelip di layar.


''Aku kira Ainaya, ternyata mama,'' ucapnya malas, namun tetap menggeser lencana hijau tanda menerima.


''Halo, Ma. Ada apa?'' tanya Haris sembari membuka map yang ada di depannya.


Terdengar suara tangis khas menyambut, juga suara wanita yang nampak mendiamkannya.


''Bilal nangis lagi, Ma?'' tanya Haris memekik.


''Iya, mungkin saja dia mau ikut kamu,'' ucap bu Ida khawatir.


Haris tersenyum nakal. Mungkin ini salah satu cara supaya Ainaya datang ke kantornya. Bukankah itu saat-saat yang ditunggu. Bisa Menghabiskan waktu seharian penuh dengan istri dan anaknya. Ya, meski di kantor setidaknya bisa bersama mereka.


''Kasihan dia, suruh sopir mengantarkan Ainaya ke sini saja.'' Haris berpura-pura memberi pendapat dan berharap akan disetujui sang istri.


Ponsel yang ada di tangan bu Ida diberikan pada Ainaya hingga kini wanita itu yang bicara dengan Haris sendiri.


''Aku malu, Mas. Bagaimana kalau Bilal ke sana dengan mama saja?'' saran Ainaya yang membuat Haris berdecak dan patah semangat.

__ADS_1


Bukan hiburan yang didapat, itu hanya akan memambah masalah saja.


''Jangan dong, kasihan mama sudah terlalu tua. Nanti kalau dia encok gimana, aku juga ikut susah,'' tolak Haris asal.


''Baiklah, aku akan ke sana dengan Bilal.''


Haris mematikan teleponnya. Ucapan Ainaya yang terakhir menjadi penutup yang membuat sekujur tubuhnya sejuk. Ia segera memeriksa laporannya dengan teliti. Ingin disaat Ainaya tiba nanti pekerjaannya sudah beres supaya memiliki banyak waktu untuk mereka berdua.


Menghubungi beberapa cleaning service untuk datang ke ruangannya. Menyuruh mereka membersihkan kamar pribadi Haris yang jarang ditempati. Juga menyuruh menyiapkan makanan saat nanti sang istri datang.


**°


°


°**


Ini yang kedua kali aku menginjakkan kaki di sini, tapi dengan keadaan yang berbeda.


Ainaya turun dari mobil. Ia masuk lalu menghampiri resepsionis yang bertugas. Sedangkan sopir mengantar, mengikuti dari belakang sambil menenteng tas di tangannya.


''Sebentar ya, Bu.'' Petugas melirik bayi yang ada di gendongan Ainaya. Meski wajahnya sudah tak asing lagi, ia tak bisa memberikan izin begitu saja pada wanita di depannya itu.


''Ternyata dia pengasuh anaknya Tuan Haris.''


Ainaya tersenyum mendengar itu. Melarang sang sopir membuka suara. Takut pengakuannya itu salah dan tak diterima oleh Haris. Terlebih untuk saat ini statusnya pun masih mengambang. Tidak ingin membuat suasana menjadi runyam.


Bertepatan saat Ainaya memutar badan, wanita yang sangat familiar masuk dari pintu utama. Wanita cantik dengan penampilan yang anggun dan elegan itu berjalan lenggang ke arahnya.


Mbak Jihan.


Ainaya mundur satu langkah. Mendekap erat Bilal yang mulai merengek. Pak sopir langsung berdiri di depan sang majikan, melindungi.


''Ternyata mas Haris sudah menyiapkan pengawalan untuk wanita simpanannya,'' cetus Jihan tanpa basa-basi.


Menatap Ainaya dengan tatapan tajam lalu beralih menatap wajah mungil Bilal yang nampak tak nyaman.

__ADS_1


Ainaya menggeser tubuhnya dan kembali berhadapan dengan Jihan.


''Apa maksud, Mbak?'' tanya nya dengan lugas. Sedikitpun tak ada rasa takut apalagi berlindung di belakang orang lain seperti yang wanita itu ucapan.


Jihan melambaikan tangannya ke arah orang-orang yang melintas hingga mereka berkumpul di dekatnya.


''Apa kalian tahu dia siapa?'' Menunjuk wajah Ainaya dengan jari telunjuknya.


''Bukankah dia pengasuh Bilal, Bu?'' Sebagian dari mereka menjawab dengan ramah, karena menganggap wanita itu masih istri sah dari bosnya, sedangkan Bilal adalah putranya.


''Kalian salah besar. Dia bukan pengasuh Bilal, tapi ibu kandungnya Bilal, simpanan suamiku," terang Jihan dengan jelas.


Peristiwa itu pun langsung menjadi sorotan publik. Mereka banyak yang mengambil gambar keduanya, namun tak berani mempublish karena masih berada di lingkungan kantor, dan siapa yang berani melakukan itu maka akan terkena sanksi yang berat. Itulah peraturannya.


Seketika itu juga semua karyawan saling berbisik. Ainaya menyerahkan Bilal pada salah satu wanita yang berdiri di belakangnya. Ia bisa terima jika disebut pengasuh Bilal, namun tak akan terima jika disebut sebagai wanita simpanan. Bukan lah itu hal yang sangat rendah dan memalukan.


''Sudah cukup penjelasannya ibu Jihan yang terhormat?'' ucap Ainaya tanpa rasa takut.


Jihan mengerutkan alis. Tak menyangka Ainaya berani melawannya di depan banyak orang.


''Sekarang kalian buka telinga dan dengarkan baik-baik. Saya bukan simpanan mas Haris, tapi saya adalah istri keduanya. Kami menikah secara agama dan disaksikan langsung oleh pak Andik.'' Mengangkat jari manisnya dan menunjukkan cincin kawin yang baru disematkan semalam.


''Dan kalian perlu tahu apa penyebab mas Haris menikah lagi,'' imbuhnya. Menatap mereka bergantian dengan mata yang sudah mengembun.


''Itu karena istrinya sengaja tidak mau hamil. Dia kb permanen supaya tidak memiliki anak dari mas Haris. Apa mas Haris salah jika ingin memiliki anak dari wanita lain, sedangkan dalam pernikahan seorang istri wajib memberikan kebahagiaan untuk suami.''


Mereka menggeleng pelan, salut dengan Ainaya yang nampak tegar. Meski hanya menjadi istri kedua, dia berani mengakuinya di depan banyak orang.


Roda berputar dengan cepat. Aianya yang beralih menguasai perdebatan itu, sedangkan Jihan merasa malu setelah aibnya terbongkar di depan anak buah Haris. Ia merasa terpojok saat cuitan itu mulai terdengar nyaring di telinganya.


''Ada apa ini?'' Suara berat dari arah belakang membuyarkan kerumunan yang terjadi. Mereka berhamburan dan kembali ke tempatnya masing-masing. Sementara Ainaya kembali mengambil Bilal.


''Tanya saja sama istri kamu, apa yang dia lakukan di sini,'' ucap Ainaya ketus.


Memalingkan pandangan ke arah lain. Bagaimanapaun juga lelaki itu juga ikut bersalah dan menjadi akar permasalahan yang timbul.

__ADS_1


__ADS_2