
Haris mengulum senyum teringat detik-detik Bilal pipis di pangkuannya. Ia benar-benar merasakan menjadi seorang ayah yang sesungguhnya. Dan itu tak luput dari tatapan Andik yang saat ini sibuk melajukan mobilnya.
"Ada apa, Tuan? Sepertinya pagi ini Anda bahagia?" tanya Andik menatap Haris dari pantulan spion.
"Gak ada papa,'' bohong Haris lalu menyandarkan punggungnya di jok belakang.
Otaknya masih membayang kan betapa lucunya Bilal saat mencengkeram bajunya seolah melarangnya untuk pergi.
"Apa tadi Anda mengajak Tuan muda?" tanya Andik menyelidik.
Terus mengendus-endus kan hidung saat mencium sesuatu yang mencolok.
"Iya. Memangnya kenapa?" tanya Haris balik dengan nada ketus.
"Gak papa, pantas saja aroma nya belum hilang."
Haris mencium bajunya sendiri. Meskipun ia sudah ganti, namun sempat menggendong Bilal untuk yang kedua kali saat Ainaya mengambil minum. Alhasil aroma minyak bayi itu menempel di bajunya.
"Apa ini sangat buruk jika di cium klien?" tanya Haris memastikan.
Andik menggeleng tanpa suara. Menghentikan mobilnya tepat di depan restoran mewah. Sebab, pagi ini ia akan bertemu dengan salah satu petinggi perusahan luar kota. Mereka akan membicarakan tentang perencanaan proyek baru.
"Apa yang akan Anda lakukan selanjutnya? Gak mungkin kan kalau Nona Ainaya akan tetap menjadi istri kedua Tuan tanpa sepengetahuan nyonya Jihan. Itu pasti akan menimbulkan masalah di kemudian hari, atau Anda akan menceraikannya sebelum nyonya Jihan tahu tentang ini?" tanya Andik antusias.
Sebagai seorang asisten yang baik ia akan mengingatkan tentang apa yang berhubungan dengan Haris, terlebih itu adalah masalah yang rumit.
"Kita lihat saja nanti. Karena saat ini aku masih membutuhkan Ainaya untuk menyusui Bilal."
Haris merapikan jasnya lalu turun. Ia mengikuti langkah Andik menuju ruangan khusus yang ada di lantai dua.
Tampak dua orang pria tampan sedang berbincang dan belum menyadari kedatangan Haris dan sang asisten.
"Ternyata Tuan Gunawan sudah sampai." Andik mengawali pembicaraan.
Mereka saling berjabat tangan. Tatapan Andik berhenti pada wajah seorang pria yang menurutnya sangat tidak asing, namun ia tidak tahu siapa gerangan yang saat ini juga menatapnya tersebut.
Bukankah dia Haris, suaminya Ainaya? terka pria itu dalam hati.
__ADS_1
"Perkenalkan, ini adalah Adam dia keponakan saya yang akan membantu kita,'' ucap Tuan Gunawan membuyarkan lamunan Andik dan juga adam. Lalu, mereka bersalaman dan menyebut nama layaknya baru mengenal.
"Ada proyek pembangunan jembatan yang menghubungkan antar kota. Saya yakin Anda adalah orang yang tepat untuk mengerjakan misi ini,'' ucap pak Gunawan memperlihatkan beberapa catatan yang ia rencanakan.
Haris mengambil map dari tangan Tuan Gunawan kemudian membacanya secara teliti. Ia tidak ingin sedikitpun meleset saat menjalankan pekerjaannya. Harus memastikan semua baik-baik dan tidak ada kekurangan sedikitpun.
Masih fokus dengan map di tangannya. Sementara Andik pun ikut memberi saran pada sang bos.
Adam terdiam. Ia masih menerka-nerka tentang keadaan Ainaya saat ini.
Apa mungkin dia sudah melahirkan, itu artinya ini aroma parfum bayi.
Adam menarik kursinya ke depan hingga mengikis jarak antara dia dan Haris. Memastikan bahwa aroma yang melekat di tubuh pria itu adalah parfum dan minyak bayi yang bercampur.
"Baiklah saya setuju." Haris menutup map itu. "Kira-kira kapan kita akan mensurvei lokasi?" tanya Haris menatap Tuan Gunawan dan Adam bergantian.
"Secepatnya," jawab Adam cepat. ''Tapi untuk sementara waktu saya akan mencari tempat tinggal lebih dulu,'' lanjutnya.
"Baiklah, terima kasih atas kerjasamanya. Semoga diberi kelancaran." Mereka kembali berjabat tangan kemudian berhamburan pergi ke arah yang berbeda.
"Maaf, Om. Aku gak bisa ikut balik, ada urusan penting," pamit Adam menatap ekor mobil Haris yang sudah melewati gerbang.
Adam bergegas naik mobilnya. Ia terus mencari mobil Haris yang bercampur dengan kendaraan lain di jalan raya.
"Aku harus pastikan bahwa itu adalah Haris, suami Ainaya. Dan aku benar-benar gak salah lihat."
Adam yakin bahwa orang yang bersamanya tadi adalah suami Ainaya. Wanita yang membuat jantungnya berdebar-debar saat pertama kali bertemu.
Hampir setengah perjalanan, Adam memukul setirnya saat ia kehilangan jejak. Meskipun masih ada banyak waktu untuk melakukan penyelidikan, namun saat ini ia sudah tak sabar dan ingin segera menemukan titik terang.
"Eh, aku kan punya nomor Ainaya."
Adam memarkirkan mobilnya di dekat taman lalu menelpon Ainaya. Namun nihil, ternyata nomor wanita itu tak bisa dihubungi yang membuat Adam sedikit kesal.
"Semoga saja dia baik-baik saja dan tidak seperti kebanyakan yang dialami istri kedua di luaran sana."
Adam berdoa demi kebaikan Ainaya sebelum ia kembali ke kantor.
__ADS_1
Sementara itu, Jihan yang baru pulang dari mall segera mengobati lukanya. Memasukkan barang-barang belanjaan nya karena siang ini bu Ida akan datang menjenguknya.
Ada-ada aja sih, Mama kenapa datangnya siang?
Sesekali Jihan meringis saat ia mengoles obat di atas luka nya dan berharap itu bisa membantu.
Ainaya yang ada di kamar Bilal terpaksa keluar saat mendengar jeritan Jihan dari ruang tamu.
"Ada apa, Bu?" tanya Ainaya halus.
Jihan menarik napas dalam-dalam sebelum menjelaskan pada Ainaya apa yang terjadi di mall.
"Tadi aku waktu di mall tidak sengaja menabrak orang dan jatuh." Menunjuk lututnya yang memar.
Ainaya duduk di samping Jihan lalu membantu wanita itu untuk mengobatinya.
"Lain kali hati-hati, Bu. Untung saja ini orang, kalau mobil pasti Ibu sudah dibawa ke rumah sakit."
Keduanya bergelak tawa.
"Makasih ya, Nay. Kamu baik banget," puji Jihan pada Ainaya yang perhatian padanya.
Ainaya mengangguk kecil sambil tersenyum.
Status kita memang sama-sama istri mas Haris, tapi dia sangat mencintaimu. Hanya kamu yang membuatnya bahagia. Pasti dia akan khawatir jika melihat ini. Aku akan ikhlas dengan apapun yang terjadi. Yang penting kalian menyayangi anakku dengan tulus.
Ainaya beranjak dari duduknya saat mendengar suara mobil berhenti di depan rumah.
''Pasti itu mama. Kamu buka pintunya, Nay," suruh Jihan yang masih meniup-niup lukanya yang mulai terasa perih.
Ainaya membuka pintu depan. Ternyata benar, bu Ida yang datang. Wanita itu membawa banyak barang di tangannya.
"Jihan di mana, Nay?" tanya Bu Ida pada Ainaya yang berdiri di samping pintu.
''Ada di ruang tengah, Bu,'' jawab Ainaya dengan lirih.
Bu Ida langsung masuk dan memberikan barang bawaannya pada sang menantu. Ia menyisihkan satu paper bag untuk Ainaya yang saat ini menjadi pahlawannya.
__ADS_1
''Makasih, Bu,'' jawab Ainaya lalu membawanya ke belakang.