Bukan Wanita Simpanan

Bukan Wanita Simpanan
Kehidupan baru Ainaya


__ADS_3

''Kamu lihatin apa, kok sampai gak berkedip,'' tegur Bu De mengejutkan Didin. 


Lelaki yang berumur hampir dua puluh tujuh tahun itu terkekeh, wajahnya merona. Mencoba mengalihkan pandangannya ke arah lain. 


''Gak kok Bu De, aku cuma lihatin orang lewat,'' ucap Didin berbohong. 


Bu De menatap ke arah luar. Di mana ada Ainaya sibuk membantu pegawainya menjemur padi di halaman. Sesekali bercanda dengan para gadis yang datang.


''Alasan, bilang saja kalau kamu dari tadi memperhatikan Ainaya. Cantik ya?''


''Apaan sih,'' elak Didin meninggalkan bu De. Ia memilih duduk di depan televisi melanjutkan menonton acara drama, ku menangis. 


Bu De menyusul dan duduk di samping Didin. Keduanya menatap ke arah yang sama namun dengan pikiran masing-masing.


''Kamu suka dengan Ainaya?'' tanya bu De serius. 


Tak diragukan lagi, bahwa hubungan Ainaya dan Didin memang semakin dekat, bahkan Lelaki itu mampu mengubah Ainaya yang sering diam dan melamun kembali ceria, kini tak terlihat sedih lagi. 


Hari-hari mereka lalui bersama bagaikan pasangan kekasih. Semenjak kehadiran wanita itu, Didin pun tak pernah pulang ke rumah dengan banyak alasan.


''Dia masih punya suami, Bu De,'' ucap Didin tanpa menatap. Kesal dengan bu De yang terus mendesaknya untuk segera menikah. 


Itu memang benar, namun mereka sudah tahu jelas bahwa pernikahan Ainaya dan suaminya hanya sebatas balas budi. Artinya tidak ada cinta di antara keduanya. Bahkan, Ainaya sendiri sempat mengatakan ingin berpisah. 


''Tapi sepertinya Ainaya itu juga suka sama kamu, lho. Buktinya dia sering meminta bantuanmu.''


Suara tawa menghentikan Didin yang hampir mengucap, ia menoleh ke arah sumber suara. Ternyata Ainaya dan Luluk yang datang. 


Bu De berdiri dan menghampiri kedua wanita itu. Mereka tampak berseri-seri meski dipenuhi dengan keringat. Sementara Didin tetap di tempat pura-pura fokus dengan tv yang menyala.

__ADS_1


''Aku pamit dulu ya, Nay. Sampai ketemu,'' pamit Luluk sembari melambiakan tangannya.


Ainaya mengangguk dan membalas lambaian tangan itu.


''Kamu jangan suka di bawah terik, Nay. Nanti kulitmu hitam.'' Mengusap tangan Ainaya yang sedikit berubah kecoklatan. 


Ainaya tersenyum. Ia tak peduli dengan kulitnya, yang penting saat ini happy bergaul dengan para gadis desa. Mereka lebih ramah dibandingkan anak kota yang cuek dan pilih-pilih.


''Gak papa, Bu De. Lagipula aku bahagia dengan suasana di sini. Kulit hitam tidak masalah, yang penting hati kita bersih,'' ungkap Ainaya menjelaskan dan itu membuat Didin semakin jatuh hati.


Ya, kini ia lebih bahagia, bahkan seolah masalah yang menerpa itu lenyap seketika. Apalagi sudah hampir dua minggu ia tak membuka ponsel karena kesibukannya membantu Bu De yang menjemur padi. Berharap semua sudah benar-benar hilang dari hidupnya.


''Betah di sini, Nduk?'' tanya Bu De memastikan. ''Gak pingin ke kota lagi?''


Seketika senyum yang menghiasi bibir Ainaya redup. Dari relung hati terdalam ingin sekali pulang dan memeluk putranya, namun itu tak mungkin ia lakukan dan hanya bisa menahan rasa rindu yang semakin menggebu.


''Kalau kamu pingin pulang aku bisa anterin,'' tawar Didin sambil tersenyum.


''Gak usah, Mas. Aku betah kok di sini. Maaf, aku ke kamar dulu ya.'' Ainaya meninggalkan bu De dan Didin setelah mendapat anggukan.


Ia masuk ke kamar dan menatap foto Bilal yang dipajang di atas tempat tidur. Tak terasa buliran bening menetes begitu saja membasahi pipinya. 


''Kamu boleh menganggap mama ini ibu yang paling kejam, Nak. Tapi asal kamu tahu, mama melakukan ini karena terpaksa. Mama gak bisa berada di dekatmu sementara papa tidak menginginkannya. Mama kangen.'' Mengusap pipinya yang dipenuhi air mata. Kembali, mengutarakan hatinya yang sedikit rapuh jika mengingat sang putra. 


Tangannya mengulur membuka laci. Mengambil ponsel yang sudah lama terbengkalai. Meski sudah mengganti semua akun dan sim card. Ia tetap takut Haris  mengetahuinya. 


Membaca beberapa pesan masuk dari Ajeng dan Lidya, karena hanya mereka yang tahu nomornya saat ini. Iseng membuka akun sosmed milik Haris yang sengaja ia follow dengan akun baru. Bukan kangen dengan pria itu, melainkan ingin melihat perkembangan Bilal secara langsung.


Bibirnya melukis senyum saat melihat postingan yang diunggah tadi pagi. Ia juga membaca caption yang ditulis Haris. 

__ADS_1


''Lucu sekali kamu, Nak. Jangan nakal ya, jangan ngerepotin papa saat kerja. Mama janji kapan-kapan akan pulang nengokin kamu.'' 


Baru saja meletakkan ponsel, terdengar ketukan pintu dari luar. Ainaya merapikan penampilannya lalu membuka pintu. Ternyata Didin yang datang. Seperti biasa, lelaki itu nampak malu-malu. 


''Ada apa, Mas?'' tanya Ainaya menyelidik.


Hening sejenak


''Nanti malam aku mau ajak kamu jalan,'' ucap Didin ragu. ''Kalau gak mau juga gak papa,'' imbuhnya. 


Ainaya mengetuk-ngetuk dagunya. Seperti memikirkan sesuatu. Entah itu apa, membuat jantung Didin berdebar, apalagi ini pertama kalinya ia mengajak Ainaya keluar. 


''Tadinya aku sudah janjian sama Luluk, mau makan juga, tapi kalau mas Didin ajakin juga gak papa, kita kan bisa bertiga.''


Yes Yes yes


Didin bernapas lega, meski tak bisa berdua, setidaknya mereka akan keluar bersama seperti yang ia inginkan selama ini. Sungguh, baru kali ini ia merasa grogi saat di dekat seorang wanita, bahkan terkadang salah tingkah yang membuatnya malu sendiri. 


''Ya sudah, aku istirahat dulu ya, Mas,'' pamit Ainaya. 


Didin mengangguk cepat, mempersilahkan Ainaya untuk masuk. 


Setelah pintu tertutup rapat, ia melayangkan tangannya ke atas hingga membuat  bu De tertawa di balik meja makan. 


''Awas, Din! Dia masih istri orang jangan sampai kamu jatuh cinta.'' Menirukan ucapan Didin setiap kali membahas tentang Ainaya. 


Didin memilih pergi ke kamar daripada mendengar ejekan dari bu De yang pasti akan menyudutkannya. Ia membuka lemari dan menyingkap baju yang menggantung rapi. Mencari-cari kemeja paling bagus dan mahal supaya terlihat tampan seperti impian setiap wanita. 


''Pantasnya pakai yang mana ya?'' Mengambil kemeja pendek berwarna hitam dan putih lalu memasang di badannya bergantian. 

__ADS_1


Ah, kehidupannya yang berada di kampung memang membuatnya ketinggalan trend masa kini. Terlebih, Didin disibukkan dengan pekerjaannya sebagai petani dan tidak pernah mengurus penampilannya. Apalagi saat musim panen seperti ini, ia pasti jarang sekali di rumah karena harus mengawasi mereka yang bekerja di sawah.


Bu De memang memiliki beberapa hektar sawah dan mempekerjakan beberapa orang untuk mengelolanya, namun sebagai pemilik, Didin juga ikut membantu mereka. Itulah yang membuat bu De melarangnya untuk bekerja di kota seperti Ajeng. 


__ADS_2