
Tiga puluh menit Ainaya berada di dalam kendaraan umum. Ia belum mengatakan tentang tempat tujuannya hingga membuat sang sopir bertanya-tanya.
"Sebenarnya Anda mau ke mana, Nona?" tanya sopir dengan ramah.
Ainaya kaget, dari tadi ia menikmati indahnya pemandangan luar hingga lupa tempat tujuan.
"Saya mau mencari restoran, Pak," jawab Ainaya polos.
"Baiklah, Nona. Saya akan mengantar Anda ke restoran yang paling terkenal di kota ini."
Sopir menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran ternama.
"Semua wisatawan pasti akan mampir ke sini. Saya yakin Nona pasti suka," ucap Sopir membukakan pintu mobil untuk sang penumpang.
Ainaya turun dan membayar uang yang pas lalu masuk. Seperti biasa, ia duduk di bagian tepi supaya bisa melihat keindahan luar.
Seorang waitress cantik datang dan menanyakan pesanan Ainaya.
Ainaya membuka buku menu. Ia memesan makanan sederhana seperti saat di rumah.
Tak berselang lama seorang pria menghampirinya. Wajahnya memang tak asing, namun Ainaya belum tahu nama dari pria tersebut.
"Maaf, Nona. Apa aku boleh duduk di sini?" tanya pria itu dengan nada lembut.
"Kamu mengikutiku?" tanya Ainaya balik, curiga dengan pria yang memanggilnya di hotel.
Dia menggeleng. "Kita hanya kebetulan saja. Aku di sini hanya mau makan," kilahnya.
Padahal, ia sengaja mengikuti mobil yang ditumpangi Ainaya, namun kebetulan juga pria itu lapar.
Ainaya mengangguk pelan. Tidak Ada alasan untuk menolaknya. Terlebih pria itu nampak baik. Tidak mungkin juga penjahat. Apalagi ada beberapa orang yang menyapanya ramah.
Makan yang dipesan Ainaya datang. Namun, ia tak memakan makanannya dan terus menatap pria yang ada di depan nya.
Mungkin dia bisa membantuku.
''Maaf, Tuan. Apa aku boleh minta tolong?'' tanya Ainaya ragu.
Pria itu tersenyum dan mengangguk. "Kenalkan, namaku Adam Dirgantara. Kamu bisa memanggilku Adam," ucapnya.
Ainaya menangkup kedua tangannya. "Namaku Ainaya," ucapnya singkat.
"Apa yang bisa ku bantu," tanya Adam antusias.
''Aku datang ke sini untuk menjenguk suamiku. Dia kecelakaan, tapi aku gak tahu rumah sakitnya. Mungkin kamu bisa mengantarku ke sana." Ainaya berbicara serius. Meskipun dilarang oleh Haris, ia akan tetap memastikan keadaan sang suami belum pulang.
__ADS_1
"Rumah sakit apa?" tanya Adam ikut serius.
Ainaya mengucapkan nama rumah sakit seperti yang diucapkan Andik.
Adam hanya ber Oh ria kemudian menghubungi seseorang. Begitu juga dengan Ainaya yang langsung menghubungi Lidya, karena tidak mungkin pergi sendiri dengan Adam sebelum memberitahunya.
Tak lama kemudian Lidya datang dengan pacarnya. Mereka menghampiri Ainaya yang mulai akrab dengan Adam.
"Katanya kamu mau istirahat. Kok bisa ada di sini?" tanya Lidya menatap Adam dan Ainaya bergantian.
"Aku lapar." Ainaya mengusap perutnya sambil tersenyum malu.
"Aku akan ke rumah sakit. Setelah menjenguk mas Haris aku langsung pulang." Ainaya berdiri dari duduknya.
Namun, langkahnya tercekat saat Adam menarik ujung bajunya.
"Makan dulu." Menunjuk makanan di atas meja.
Terpaksa Ainaya makan sebelum pergi.
Lydia menekuk wajahnya, pasalnya ia masih belum puas jalan-jalan, tapi Ainaya malah minta pulang.
"Kamu liburan saja, aku bisa pulang sendiri. Jangan khawatir, aku dijemput saudaranya mas Haris kok," bohong Ainaya meyakinkan.
"Beneran?" tanya Lidya cepat-cepat.
Ainaya mengangguk.
"Sekarang kamu pergi aja, aku gak papa."
Sebenarnya juga tak tega membiarkan Ainaya sendiri, namun karena wanita itu terus mendorongnya, akhirnya ia pergi melanjutkan petualangannya di Bali.
Ainaya dan Adam pergi ke rumah sakit di mana Haris dirawat. Meskipun sudah diperingatkan untuk tidak datang, Ainaya tetap ngotot datang secara diam-diam.
"Silahkan turun!" Adam membukakan pintu mobil untuk Ainaya.
Wanita itu menggeleng tanpa suara.
"Kenapa? Katanya mau bertemu dengan suamimu?" tanya Adam antusias.
Entah, Ainaya merasa nyaman saat didekat pria itu hingga membuatnya tak canggung. Ia juga menceritakan tentang rumah tangganya yang hanya sekedar polesan saja.
"Jadi kamu istri kedua?" tanya Adam memastikan. Ia ikut merasa iba pada Ainaya.
Ainaya mengangguk dan tersenyum mengusir semua beban yang membelenggu.
__ADS_1
"Gak papa, kalau begitu aku yang ke dalam. Nanti aku akan memberitahu mu tentang keadaan suamimu." Adam menutup pintu mobil. Membicarakan Ainaya tetap di dalam. Ia menanyakan ruangan Haris pada resepsionis lalu masuk ke dalam setelah mendapat petunjuk.
Teringat beberapa kata-kata Ainaya yang sangat menyentuh hati membuatnya mengagumi wanita tersebut.
Adam berhenti di depan ruangan. Menatap pasien dari arah luar.
O, itu suaminya Ainaya.
Ia mengambil beberapa gambar Haris yang bermesraan dengan Jihan dari balik pintu kaca yang transparan. Kebetulan sekali di tempat itu tidak ada siapapun.
Apa dia sanggup melihat suaminya bermesraan dengan istrinya yang lain.
Dada Adam ikut merasakan sesak. Seandainya ia yang berada di posisi Ainaya pun belum tentu sanggup, namun ia tak mungkin mengingkari janji dan akan tetap mengirim gambar Haris.
Sebelum mengirim foto, Adam mengirim sebuah pesan teks pada Ainaya.
Tetap tersenyum ya. Aku yakin Allah sedang mengujimu supaya menjadi perempuan yang kuat.
Tak lupa dengan emoji ceria. Kemudian mengirimkan foto dengan mata terpejam.
Adam menoleh ke arah kiri kanan memastikan tidak ada yang melihat aksinya lalu pergi.
Haris yang ada di dalam menghentikan makannya saat tak sengaja melihat orang yang melintas.
"Sepertinya di luar ada orang," ucapnya lirih.
Jihan serta kedua orang tua Haris menoleh. "Mana, mungkin cuma perasaan kamu aja."
Setibanya di tengah koridor, seorang pria menabrak Adam hingga ponselnya terjatuh.
"Maaf, Tuan." Adam menangkupkan kedua tangannya lalu mengambil ponselnya yang teronggok.
Pria yang ada di depannya pun sama, meminta maaf atas kecerobohannya.
Adam lalu pergi meninggalkan tempat itu. Ia kembali ke mobil dan duduk di depan setir. Menoleh ke arah Ainaya yang masih fokus melihat gambar di layar ponselnya.
"Kamu gak pa–pa, kan?" tanya Adam sedikit khawatir.
Ainaya menggeleng menahan air matanya yang menumpuk di pelupuk. Tak ingin terlihat lemah. Ternyata menjadi istri kedua sangat menyakitkan, namun ia terlanjur terjun ke dalam dan hanya waktu yang bisa menjawabnya.
"Aku mau pulang sekarang. Untuk apa disini, kehadiranku gak berarti apa-apa untuk suamiku."
Adam terjebak dengan perasaan yang rumit, antara kasihan dan juga ada sesuatu yang lain. Entah, saat melihat Ainaya ia seperti melihat sosok istrinya yang sudah meninggal. Akan tetapi, ia tetap yakin bahwa wanita yang ada di sampingnya itu adalah wanita yang baik dan berhak mendapatkan kebahagiaan.
"Aku akan mengantarmu ke bandara." Adam melajukan mobilnya menuju hotel. Ia juga mengurus semua kepulangan Ainaya. Termasuk perjalanan menuju kota asal.
__ADS_1