
Ainaya mengikat rambutnya dengan asal saat mendengar ketukan pintu dari luar.
Entah itu yang ke berapa, ia lupa menghitungnya.
''Sebentar,'' teriaknya sembari merapikan liptsiknya yang sedikit lebih tebal, kemudian keluar.
Matanya menoleh ke arah ruang tengah, di mana ada tumpukan kotak kado dan juga hadiah lainnya.
''Apa mungkin ini suruhan mas Haris lagi,'' terka nya.
Jika benar, maka Ainaya enggan untuk membukanya. Namun, ia pun tak mau membuat gerangan yang saat ini ada di depan pintu menunggu terlalu lama.
Ainaya membuka pintu lebar-lebar. Melipat kedua tangannya melihat sosok yang tak asing di matanya. Dia adalah Haris, suami atau entahlah, Ainaya mulai bingung menyebutnya apa.
Ainaya tersenyum manis, namun penuh dengan kecaman.
''Apa kabar, Nay?'' tanya Haris tanpa rasa bersalah sudah mengganggu aktivitas Ainaya.
Ainaya membisu. Menatap buket bunga yang ada di tangan pria itu.
''Kurang baik,'' jawabnya setelah beberapa menit kemudian.
"Kamu sakit?" Haris panik. Ia masuk, meletakkan bunga yang dibawa itu di atas meja. Menempelkan punggung tangannya di kening sang istri yang tampak baik-baik saja.
"Gak panas, Nay? Apa mungkin perut mu yang kurang baik?" tanya Haris bodoh.
''Hatiku yang kurang baik,'' jawab Ainaya ketus. Berjalan menuju ruang tamu.
''Apa ada sesuatu yang ingin kamu beli? Apa uang yang aku kasih kemarin sudah habis?'' tanya Haris bertubuh-tubi.
Ainaya menggeleng cepat. Menghentikan Haris yang hampir mengambil ponselnya.
''Sebenarnya apa yang Tuan mau dati saya?'' tanya Ainaya ke pokok.
Tak ingin berbasa-basi lagi, dan berharap semuanya jelas.
Haris menunduk. Menata hatinya yang kini terombang-ambing ke sama ke mari.
''Saya hanya ingin hidup tenang dan melupakan semuanya yang pernah terjadi. Kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi. Saya sudah menepati janji. Dan saya rasa semuanya sudah cukup, jadi lepaskan saya. Biarkan saya memilih hidup jalan yang lebih baik,'' ujar Ainaya mengiba.
Haris menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan.
''Sekarang katakan! Apa yang kamu inginkan dari saya?'' tanya Ainaya mencengkram kedua lengan Haris. ''Katakan!'' pekik nya menekankan.
Haris memejamkan matanya, tak sanggup melihat air mata yang jatuh di pipi Ainaya. Sudah cukup selama ini ia membuat wanita itu menderita dan saatnya membuat dia bahagia.
"Aku __" ucapan Haris berhenti. Bibirnya masih terlalu kelu untuk mengungkap isi hatinya.
__ADS_1
Ainaya berjalan menuju ruang tengah, menunjuk kotak kado yang dikirim Haris seharian ini.
''Bawa pulang! Saya tidak butuh barang-barang ini,'' ucapnya serius.
Haris mendekat dan meraih tubuh mungil sang istri lalu mendekapnya.
''Maafkan aku, Nay,'' ucapnya mengiringi.
Ainaya memberontak, berusaha mendorong tubuh kekar sang suami. Namun apa daya, tenaganya yang terlalu kecil tak mampu melepas pelukan erat itu.
''Lepaskan, Tuan! Saya mohon lepaskan!'' pinta Ainaya membentak.
Tidak bagi Haris yang justru mengeratkan pelukannya. Menganggap suara itu hanyalah candaan semata.
Percuma melawan, sekeras apapun Ainaya mengerahkan tenaga. Ia tetap kalah, dan akhirnya memilih diam.
Hingga beberapa menit kemudian mereka berpelukan dengan erat. Bukan, tepatnya Haris yang menikmati pelukan itu.
''Sekarang pergilah!'' ucap Ainaya pelan.
Haris melepaskan pelukannya. Menangkup kedua pipi Ainaya. Bingung, dengan cara apalagi harus minta maaf pada wanita tersebut.
''Aku tahu kamu marah dan kecewa dengan apa yang aku lakukan selama ini. Tapi aku mohon izinkan aku untuk menemuimu. Kita masih suami istri, dan kamu tanggung jawab ku,'' terang Haris mengingatkan.
Ainaya bingung, di satu sisi ada secuil kebahagiaan disaat Haris mengakuinya sebagai istri, namun ada sakit yang begitu berat membuatnya tak mampu menerima itu.
Haris mengangguk tanda setuju. Mengantar Ainaya ke kamar lalu membantunya berbaring.
''Aku pergi dulu,'' pamit Haris memutar tubuh. Tanpa disadari buliran bening menetes begitu saja hingga ia cepat-cepat mengusapnya, takut Ainaya melihat itu.
Ponsel berdering menghentikan langkah Haris yang sudah tiba di ambang pintu kamar.
''Apa? Bilal demam.'' Haris terkejut saat mendapat telepon dari orang rumah.
Ainaya bergegas bangun dan turun dari ranjang. Menghampiri Haris yang masih sibuk berbicara dengan benda pipihnya.
''Ada apa, Tuan?'' tanya Ainaya ikut panik.
''Bilal demam, aku akan membawanya ke rumah sakit.''
''Saya ikut,'' sahut Ainaya buru-buru. Mana mungkin ia tidur dengan tenang sementara anaknya sakit.
Haris dan Ainaya tiba di rumah. Mereka langsung ke kamar Bilal dan memastikannya. Mengambil alih Bilal dari tangan pengasuh. Mencium pipinya berulang kali.
''Mama ada di sini, Nak. Mama datang,'' bisik Ainaya.
Bilal yang tadinya merintih mendadak diam dan tersenyum. Seolah menemukan separuh jiwanya.
__ADS_1
''Jihan di mana, Mbak?'' tanya Haris pada Mimin, yaitu pengasuh baru Bilal.
''Bu Jihan pergi, Tuan. Baru sekitar lima belas menit yang lalu,'' jawabnya jujur.
''Mbak keluar saja, biar Ainaya yang menjaga Bilal,'' suruh Haris lalu menutup pintu.
Apa hubungan mereka? Kenapa Tuan kecil langsung diam saat berada di gendongan perempuan tadi. Apa jangan jangan __"
Mimin ke belakang. Tak ingin berprasangka buruk pada majikannya.
''Bilal kangen sama mama ya? Ini mama sudah datang.'' Haris menoel pipi sang buah hati bergantian.
''Bagaimana, Nay? Apa gak sebaiknya kita bawa ke rumah sakit saja?'' tanya Haris masih bernada cemas. Takut terjadi sesuatu pada bayinya.
Ainaya memastikannya lagi lalu menggeleng. ''Biar saya yang merawatnya.''
Yes yes yes
Hati Haris bersorak kegirangan mendengar keputusan Ainaya. Setidaknya ia bisa melihat wanita itu lebih lama lagi.
Suara gemuruh dari arah luar membuat Ainaya dan Haris saling pandang.
''Sepertinya mama datang.'' Haris membuka pintu.
Benar, ternyata bu Ida dan pak Indrawan yang datang.
Seperti biasa, mereka langsung ke kamar Bilal.
''Loh, Nay, bukannya kamu sudah pergi kenapa masih di sini?'' tanya Bu Ida kaget.
''Tadi kebetulan saya bertemu dengan Tuan Haris, Tante. Dia mengajak saya untuk menjenguk Bilal, jadi saya ikut,'' ucap Ainaya berbohong.
Haris mengangguk meyakinkan bu Ida supaya tidak curiga.
''Jihan ke mana?'' tanya Bu Ida celingukan.
''Jihan pergi, Ma. Mungkin ada janji dengan temannya,'' jawab Haris santai.
Bu Ida menatap Haris dengan tatapan amarah. ''Kenapa kamu membiarkan dia pergi, Ris. Dia itu baru pulih, seharusnya kamu melarangnya.
Haris Menatap Ainaya yang pura-pura sibuk bermain dengan Bilal. Padahal, ia tahu hati wanita itu pasti perih mendengar bu Ida lebih mengkhawatirkan Jihan yang sebenarnya tidak apa-apa daripada dirinya.
Mungkin bukan sekarang aku menjelaskan pada mama. Nay, tapiaku janji, semua ini akan secepatnya terbongkar.
''Dia sendiri yang ngotot ingin pergi, Ma. Jadi biarkan saja. Lagipula Jihan sudah sehat kok.'' Haris mendekati Ainaya dan berbisik,
''Maafkan aku yang belum bisa mengatakan sejujurnya.
__ADS_1