
Di apartemen, Ainaya masih memikirkan rencananya. Apakah itu hanya emosi sesaat atau memang sudah yakin, ia pun masih sedikit bingung dengan hatinya saat ini. Seolah begitu berat untuk pergi, namun tak ingin menyakiti orang lain, terutama Jihan. Redup nya lampu mengalahkan jiwanya yang teramat hampa. Masa depan terlihat suram tanpa arah hingga tak mampu untuk memejamkan mata.
Ainaya meriah ponsel dan mencari-cari foto Bilal yang sengaja ia ambil sebanyak mungkin untuk mengurai rasa rindu saat mereka berjauhan.
''Suatu saat kamu akan mengerti kenapa mama pergi.'' Mengusap pipi gembul Bilal dengan lembut.
''Tugas seorang ibu seharusnya mendekapmu disaat dingin, tapi apa yang mama lakukan, bahkan mama malah meninggalkanmu, Nak." Buliran bening kembali luruh membasahi pipi. Ainaya tak sanggup untuk terus berada dalam keadaan seperti ini.
''Aku harus tetap pergi.'' Meyakinkan hatinya lagi dengan pilihan yang diambil.
Ia terbangun dan meletakkan ponsel di tempat semula. Mengambil koper dan membuka lemari. Mengeluarkan beberapa baju yang akan dibawa pergi.
''Aku tidak akan pergi dengan mas Adam. Ini hanya akan membuat masalah semakin rumit.''
Hampir semua baju Ainaya masukkan ke dalam koper. Menyisakan beberapa baju yang memang sudah tak terpakai. Merapikan penampilannya lalu menghubungi Ajeng.
''Halo, Nay? Ada apa malam-malam telepon?'' tanya Ajeng antusias.
''Ehm, itu Jeng.'' Ainaya ragu untuk mengucap, namun tidak ada pilihan lain selain meminta bantuan wanita itu.
''Apa kamu tahu tempat pedesaan yang terpencil? Pokoknya jauh dari kota, terutama jakarta. Aku ingin hidup tenang dan menjadi Ainaya baru. Jauh dari orang-orang yang pernah menyakitiku,'' tanya Ainaya dengan bibir bergetar.
Terdengar helaan napas panjang. Sebagai sahabat, Ajeng pun ikut merasakan kesedihan yang mendalam dengan nasib Ainaya, namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Seolah tercekat oleh kedudukan Haris yang lebih berkuasa.
''Aku punya kerabat di Jawa, kalau kamu mau nanti aku kasih alamatnya,'' ucap Ajeng memberi rekomendasi.
Ainaya terdiam. Berpikir ulang dengan pilihannya yang memang sangat sulit. Setelah ia pergi. Itu artinya tak hanya meninggalkan kenangan pahit, namun juga putranya yang saat ini masih membutuhkan dirinya.
''Baiklah, aku mau. Kamu kirim saja alamatnya. Jangan beritahu siapapun tentang keberadaanku,'' pinta Ainaya bersungguh-sungguh.
__ADS_1
Ajeng memutus sambungannya lalu mengirim alamat pada Aianya melalui WA.
''Semoga kamu betah di sana dan mendapatkan laki-laki yang tulus mencintaimu,'' doa Ajeng dari hati.
Ainaya pun mengirim pesan pada Wisnu bahwa ia batal kerja serta meminta maaf pada lelaki itu. Hanya mengatakan akan pergi, dan itu mungkin sudah disampaikan oleh Adam supaya mereka tidak curiga.
''Aku harus yakin dengan keputusanku. Keberadaanku ini tak hanya menyakiti bu Jihan, tapi juga mama dan papa.''
Mencoba memejamkan mata di tengah kesunyian malam yang sangat dingin menusuk. Melupakan sejenak masalah yang membelit. Berharap saat membuka mata akan ada pintu masa depan yang cerah terbuka.
Pagi sekali, Ainaya dikejutkan dengan dering ponsel. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Tangannya mengulur mengambil benda pipih yang terus berdering.
''Mas Adam, ngapain dia telpon se pagi ini?'' Duduk bersandar di headboard. Mengumpulkan nyawanya yang tercecer sebelum menerima panggilan itu.
''Halo, Mas. Ada apa?'' tanya Ainaya dengan suara serak.
Terdengar suara tawa dari balik telepon membuat Ainaya malu.
Seketika Ainaya terbelalak dan melihat jam yang ada di nakas.
''Ba--baik, Mas.'' Ainaya turun dari ranjang. Bergegas mematikan ponselnya lalu ke kamar mandi.
''Lama sekali sih, ngapain Ainaya? Bukankah tadi dia sudah bangun?'' Adam mulai jenuh. Sudah hampir lima belas menit sejak mematikan telponnya, namun belum ada tanda-tanda Ainaya keluar.
''Aku harus sabar, mungkin saja dia sedang mandi.'' Menyandarkan punggungnya di pintu, bertepatan dengan itu pintu pun terbuka membuat Adam terhuyung. Beruntung tubuhnya masih seimbang hingga ia tak terjatuh.
''Mas Adam, maaf Mas aku lama ya?'' ucap Ainaya gugup.
Adam menggeleng tanpa suara. Menatap penampilan Ainaya yang sedikit berbeda. Wanita itu cantik dengan balutan kaos santai berwarna putih dan juga rok pendek berwarna hitam. Serta make up tipis serta rambut dikuncir kuda.
__ADS_1
''Aku gak disuruh masuk?'' ucap Adam memecahkan keheningan.
Ainaya tersenyum. Ia masuk lebih dulu. Menyiapkan dua piring dan gelas lalu kembali ke ruang makan. Suasana tak terlalu canggung seperti hari yang lalu, terlebih Adam terus berbicara dengan candaan-candaan konyol nya .
''Seharusnya aku yang memasak untuk mas Adam, tapi kenapa sebaliknya?'' ucap Ainaya yang membuat Adam terkekeh.
''Gal papa, sekali-kali melayani calon istri.''
Keduanya bergelak tawa. Meski belum diterima, Adam memang sudah menunjukkan perhatiannya yang berlebih untuk wanita itu.
''Makanlah, ini aku beli di depan apartemen. Kata orang sini enak kok.''
Ainaya segera menyantap bubur ayam pemberian Adam. Mengalihkan pandangannya saat mata hazel pria itu terus menatap ke arahnya.
''Kapan kamu siap pergi? Nanti aku akan bilang pada om Gunawan,'' ucap Adam dan sela-sela makannya.
Ainaya meletakkan sendok dan tersenyum kecut.
''Aku akan menunggu mas Haris menalakku. Aku gak mungkin pergi dalam keadaan seperti ini. Karena aku gak hanya ingin jauh dari dia, tapi juga kebebasan sebagai seorang perempuan.'' Ainaya kembali melahap makanannya.
Berusaha mengusir rasa cemas yang membelenggu. Mungkin tak semudah membalikkan telapak tangan, namun ia akan tetap berusaha walaupun sulit.
''Aku akan bantu kamu. Sebaiknya jangan datang ke rumah dia, tapi ke kantornya mungkin akan lebih leluasa,'' saran Adam yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Ainaya.
Usai sarapan bersama, Adam kembali ke tempatnya untuk bersiap, sementara Ainaya pun ke kamar. Ia mengganti bajunya dengan baju yang lebih sopan. Terlebih, pasti nanti akan bertemu dengan karyawan dan pegawai di kantor sang suami. Bukan sebagai istri namun sebagai tamu.
''Kira-kira mas Haris bakalan memenuhi permintaanku gak ya? Jika dia gak mau, itu artinya aku akan pergi dengan status masih istrinya. Dan aku gak bisa menikah lagi. Lalu aku harus menunggu sampai kapan?'' Ainaya mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, bingung atas jalan hidupnya yang sedikit rumit.
Bahkan, semua tak berjalan sesuai dengan perjanjian, dia sudah menepati justru Haris yang ingkar dan mengikatnya begitu erat.
__ADS_1
Ainaya mengetuk pintu hunian Adam. Ia sudah siap untuk berhadapan dengan Haris dan meminta pada lelaki itu untuk melepas nya. Siap menjadi janda dari seorang Haris Mahendra.
Adam membuka pintu dengan wajah yang semringah. Entah apa penyebabnya, Ainaya pun tak ingin bertanya. Ia lebih memilih diam dan memikirkan kehidupannya sendiri. Mungkin menyendiri akan lebih baik daripada harus dipusingkan dengan urusan pria.