
Terdengar suara bisik-bisik dari arah ruang tamu. Sesekali tawa kecil yang membuat Ajeng penasaran dengan apa yang diperbincangkan mereka para lelaki. Ia yang sibuk membuat makanan di dapur pun mendekati Ainaya yang juga sibuk memeras jeruk untuk jus.
''Kira-kira apa yang diomongin mereka ya, Nay?'' tanya Ajeng pelan.
Ainaya tersenyum. Menatap ke arah Haris yang ikut nimbrung dengan sang asisten dan juga Didin. Bahkan, mengabaikan Bilal di pangkuannya.
''Mungkin kerjaan,'' jawab Ainaya asal.
Ajeng mendengus kesal. ''Gak mungkin, aku yakin mereka membicarakan perempuan. Biasa, laki-laki kalau sudah ngumpul pasti membahas yang seksi-seksi. Kebiasaannya memang seperti itu, sok sibuk sendiri,'' cibir Ajeng ketus.
Gak mungkin. Ainaya hanya menjawab dalam hati. Yakin jika suaminya itu tidak mungkin membahas wanita lain di belakangnya.
Ajeng keluar dari dapur dan berjalan menuju meja makan. Ia meletakkan beberapa piring dan sendok di sana sambil berdehem.
Sontak itu membuat Andik menoleh ke arah sumber suara. Bibirnya tertarik berbentuk senyum. Senyuman yang jarang dilihat seorang wanita, hanya orang-orang tertentu yang bisa menyaksikan nya.
"Makanan sudah siap," ucap Ajeng tanpa mendekat.
Andik mengangguk tanpa suara. Menatap punggung Ajeng yang kembali ke dapur.
"Mas.'' Andik menepuk lengan Didin yang duduk di sampingnya.
"Ada apa!" tanya Didin serius.
"Aku menyukai Ajeng, menurut Mas bagaimana?" tanya Andik malu-malu.
Tidak sepantasnya ia melalui jalan pintas sebelum pendekatan, namun juga butuh dukungan dari keluarga terdekat untuk memperlancar misinya. Entahlah, meskipun sudah dewasa dan memiliki pekerjaan yang mumpuni, ia masih belum berani untuk mendekati wanita. Apalagi yang galak seperti Ajeng, sungguh membuatnya menciut.
Didin mengerutkan alis seolah tak percaya dengan ucapan Andik barusan. Sangat aneh.
''Kamu suka sama Ajeng?'' Didin balik tanya sembari menahan tawa.
Adik mengangguk cepat. Itulah yang dirasakan Andik pada gadis yang beberapa waktu lalu tak sengaja membantunya menemukan Ainaya. Bahkan, dari situ tumbuh benih-benih cinta yang tak disangka.
__ADS_1
''Memangnya kenapa? Apa Mas tidak setuju?" tanya Andik dengan pelan, takut didengar sang pemilik nama. Hancur lah reputasinya nanti jika ketahuan meminta bantuan Didin.
''Kamu sanggup menghadapi dia? Selain cerewet, Ajeng juga ketus. Suka menang sendiri. Aku saja kalah kalau bertengkar, apalagi kamu yang lembek gini.'' Didin mencibir Andik juga mengolok-olok keburukan sang Andik.
Bukankah itu lebih baik supaya tidak ada penyesalan nantinya?
Akan tetapi, juga terdengar laknat. Bukan memberi dukungan justru malah membuka aib yang seharusnya ditutup rapat.
"Tidak masalah, itu urusanku," jawab Andik yakin.
Setiap orang pasti punya kekurangan. Tak ubahnya Ajeng, dia hanya gadis biasa yang memiliki keburukan. Itu bukan lagi hal yang tabu, dan sudah tugasnya bagi setiap pasangan untuk membimbing dan saling belajar dengan yang lain.
''Kalau aku sih setuju saja, asalkan dia bahagia. Aku sudah janji pada ayah dan ibu untuk selalu menjaganya, tapi Ajeng gak mau hidup di kampung, sedangkan bu De membutuhkanku di sana, terpaksa aku biarin dia ke kota untuk bekerja seperti keinginannya. Dia sudah dewasa dan bisa memilih jalan hidupnya sendiri. Aku tidak bisa melarangnya berhubungan dengan siapapun, asalkan orang itu serius padanya,'' kata Didin panjang lebar.
Sebagai saudara satu-satunya, ia pun harus memastikan bahwa laki-laki yang akan menikahinya adalah orang baik dan juga jelas. Tidak ingin sang adik salah pilih dan kecewa.
"Tenang saja, Mas. Aku siap menjaga Ajeng. Aku janji tidak akan menyakiti dia. Tapi aku butuh bantuan Mas untuk meluluhkan hati dia."
Andik berdiri dari duduknya. Menatap Haris yang sibuk memberi susu Bilal.
Bagaimapun juga lelaki itu harus ikut andil dengan pilihannya kali ini.
''Iya,'' jawab Haris singkat.
Ia tak mau banyak komentar pedas dan julid. Cukup di iyakan saja agar mereka secepatnya menikah.
Ainaya keluar menghampiri Haris lalu duduk di samping nya. Mengambil alih sang buah hati yang mulai menguap.
''Kamu makan aja dulu, Mas. Nanti aku nyusul, kita gantian,'' suruh Ainaya.
Bukan beranjak, Haris justru merapatkan duduknya. Malas jika harus makan tanpa ditemani sang istri tercinta. Apalagi hanya ada Didin dan Andik. Ah, itu sungguh menjadi pemandangan yang tak enak dipandang.
''Biar mereka saja yang duluan, nanti aku belakangan,'' ucap Haris menyandarkan punggungnya yang terlalu pegal. Mempersilahkan Didin dan Andik terlebih dulu.
__ADS_1
Kedua lelaki tampan itu masuk ke ruang makan lalu mencari tempat duduk masing-masing.
''Pak Haris gak ikut makan?'' tanya Ajeng menatap ke arah Ainaya dan Haris di ruang tamu.
''Tidak, katanya nanti saja.'' Andik yang menjawab. Matanya menatap beberapa menu makanan sederhana yang tersaji di atas meja.
''Duduk dulu, ada yang ingin aku bicarakan.'' Didin menarik kursi dan mempersilakan sang adik duduk. Kemudian mengambilkan nasi untuk gadis di sebelahnya tersebut.
Sedangkan Andik, lelaki itu duduk di depannya terhalang meja. Mengatur irama jantungnya yang mulai berlarian ke sana ke mari.
''Apaan sih, serius banget? Jangan bilang kalau bu De menyuruhku pulang dan dijodohkan dengan anaknya pak Mamat, aku gak mau," tolak Ajeng terang-terangan.
''Meskipun dia itu juragan kaya raya seperti kita, ogah. Anaknya ingusan juga katrok,'' imbuhnya bergidik ngeri.
Membayangkan jika ia menikah dengan lelaki yang bukan kriterianya, pasti yang ada bukan kebahagiaan, melainkan kesedihan yang tak berujung.
Andik pura-pura cuek dan mulai menyuap makanan ke dalam mulutnya. Keringat dingin mulai bercucuran menembus pori-pori. Entah kenapa, ia sedikit gugup, takut Ajeng menolaknya.
''Bukan itu, tapi tentang kamu dan Andik.''
Seketika Ajeng terbatuk. Terkejut luar biasa mendengar nama yang disebut sang kakak. Matanya beralih menatap sang asisten yang melahap makanannya.
''Maksudnya apa?'' tanya Ajeng lirih.
Otaknya sudah berkelana menerka-nerka apa yang akan dikatakan Didin. Melihat perubahan lelaki datar itu, membuat Ajeng semakin terpesona dengannya, namun siapa dia hingga tak berani lebih dekat lagi.
''Apa kamu mau menjadi istriku?" tanya Andik dengam lugas.
Satu tangannya memegang sendok, sedang yang lainnya membuka kotak cincin berwarna putih dan menyodorkannya di depan Ajeng.
Ajeng membisu. Matanya tak berhenti berkedip seolah itu seperti mimpi. Tidak percaya ia dilamar secepat ini di depan saudaranya. Sungguh, itu membuat nya terharu dan menangis. Ia meremas ujung bajunya dengan air mata yang mulai menetes.
''Sekarang pilihan ada di tangan kamu, aku tidak mau memaksa dan juga tidak melarang. Pikirkan baik-baik. Pernikahan bukan untuk main main, aku harap kamu tidak salah memilih.'' Mengusap lembut lengan Ajeng yang nampak ragu.
__ADS_1
Andik meneguk air putih yang ada di depannya untuk mengusir kegugupannya. Ia menunggu jawaban dari Ajeng yang membuatnya harap-harap cemas.