
''Aku tunggu di sini atau ikut masuk?'' Adam membuka suara. Sengaja memancing emosi Haris yang menatapnya sinis.
Ia tahu ada percikan api cemburu yang bersembunyi di balik mata hazel pria itu, namun kini ia pun merasa menang karena Ainaya sudah terang-terangan ingin melupakannya.
Ainaya menatap Haris. Meminta izin pada sang suami untuk mengajak Adam masuk ke dalam.
''Boleh, tapi hanya di ruang tamu,'' jawabnya ketus lalu mengikuti langkah Ainaya.
Adam geleng-geleng sambil tesenyum. Ia tahu Haris mulai mencintai Ainaya, namun seolah semua itu hanya akan tinggal angan-angan saja.
Sayang, cinta kamu datang terlambat Tuan Haris, dan siap-siap menyaksikan pernikahan ku dan Ainaya.
Adam begitu yakin bisa diterima oleh wanita itu. Menggantikan posisi Haris dengan segala cinta dan ketulusan yang dulu pernah diberikan pada wanita pujaannya namun harus kandas di tengah jalan. Berharap Ainaya lah wanita yang terakhir akan menjadi pelabuhan hatinya.
Adam duduk di ruang tamu. Ia memainkan ponselnya menunggu Ainaya yang saat ini sudah berada di kamar Bilal. Sementara Haris langsung ke atas.
''Silakan diminum, Tuan!'' Seorang pelayan meletakkan secangkir kopi di depan Adam.
''Makasih, Bi,'' ucap Adam ramah.
Buliran bening kembali luruh membasahi pipi Ainaya. Ia tak mampu membendung setiap kali melihat wajah imut sang putra. Entah, saat ini hati dan pikirannya memang sudah sejalan. Yaitu ia ingin pergi dari kehidupan Haris dan Jihan. Membiarkan mereka merawat anaknya. Terlebih, namanya pun tak tercantum dalam akta kelahiran bayinya.
Tangannya mengelus, mengusap pipi Bilal yang masih memerah lalu menciumnya dengan lembut.
''Maafkan, Mama, Nak. Mama sangat menyayangimu, tapi mama juga tidak bisa mengingkari janji mama. Papa dan mama Jihan pasti akan merawatmu dengan baik.'' Tak henti-hentinya mengusap wajah Bilal dengan pelan. Agar tak mengusik bayi itu.
Ainaya kembali berpikir keras untuk bicara dengan Haris.
Ya, aku harus bicara dengan mas Haris, aku akan pergi dari sini untuk selama-lamanya.
Ainaya membaringkan Bilal lagi di ranjang dan memanggil pengasuh untuk menjaganya.
__ADS_1
''Bu Jihan ada?'' tanya Ainaya ramah.
''Gak ada, nyonya pergi satu jam yang lalu,'' jawab Mimin ketus bahkan tak menatap Ainaya sedikit pun, tidak sopan.
Ainaya keluar dari kamar Bilal. Mendongak ke atas berharap Haris secepatnya turun dan menemuinya. Ia melangkah menghampiri Adam.
''Mas Adam tunggu di luar saja, aku akan bicara dengan mas Haris, ini penting,'' ucapnya lirih.
''Baiklah, aku keluar.'' Adam setuju dan meninggalkan Ainaya yang nampak cemas, namun ia harus tetap menuruti permintaan wanita itu.
Tak lama kemudian, Haris turun dan langsung menemui Ainaya.
''Katanya kamu mau bertemu Bilal, kenapa di sini?'' Haris duduk di depan Ainaya. Menjaga jarak, takut ada yang melihat. Meski Jihan tidak ada, masih ada beberapa orang di rumah.
Ainaya menarik napas dalam-dalam. Meyakinkan hatinya, mengusir semua keraguan yang menyelimuti demi masa depan cerah.
''Saya rasa Tuan masih ingat dengan perjanjian kita.'' Ainaya menatap Haris dengan lekat.
''Itu artinya tugas saya sudah selesai,'' ujar Ainaya tegas.
Haris terdiam, bibirnya terkunci. Tak mampu menjawab pertanyaan Ainaya. Meski ia memang berkuasa, namun rasa yang bergejolak di dada membuatnya lemah. Seakan tak berdaya saat berada di depan wanita itu.
''Sekarang Tuan bisa talak saya. Bebaskan saya dari pernikahan yang menyakitkan ini. Saya juga butuh kebahagiaan bersama orang yang saya cintai dan mencintai saya," ucap Ainaya dengan mata berkaca-kaca.
Jika dulu dengan mudahnya Haris akan menjawab, sekarang justru sebaliknya, begitu sulit dan berat. Seolah ia akan melepaskan separuh jiwanya. Mematahkan sayap cinta yang kini mulai bersemi hampir memenuhi ruang hatinya dan menggeser posisi Jihan, wanita yang sudah menemaninya hampir enam tahun.
''Saya siap menjadi janda dan meninggalkan Bilal. Talak saya, Tuan.'' Ainaya kembali meminta.
Haris menggeleng. ''Aku akan pikirkan lagi. Mungkin kamu bisa datang besok.''
Haris bangkit. Tak sanggup jika terus dipaksa untuk memenuhi permintaan yang sama. Lebih baik menghindar mungkin itu lebih aman.
__ADS_1
Setibanya di ujung tangga, Haris menoleh menatap punggung Ainaya yang masih duduk di sofa ruang tamu.
''Maafkan aku, Nay. Aku belum bisa melepaskan mu. Biarkan aku egois.'' Mengusap Buliran bening yang sempat lolos membasahi pipinya. Kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Haris merutuki dirinya sendiri. Sebelumnya tak pernah seperti ini. Berulang kali ia yang akan menceraikan Ainaya setelah bayi yang dikandungnya lahir, namun saat ini. Ia benar-benar tak bisa melepaskan wanita itu.
Ting tung
Bunyi notif dari ponsel yang ada di nakas. Haris segera mengambil dan membukanya. Ternyata itu pesan dari Ainaya.
Saya akan datang lagi besok. Siapkan jawaban supaya saya bisa segera pergi dari kota ini.
Haris memejamkan mata. Entah kenapa ia merasakan sakit yang luar biasa dahsyatnya. Bahkan dadanya seakan tak sanggup untuk menampungnya.
Pergi dari kota, itu artinya ia dan Ainaya akan pisah jarak jauh. Sanggupkah ia memendam rasa rindu yang mulai membelenggu? Ataukah ia akan benar-benar melepas wanita itu. Menjalani hidupnya bersama Jihan dan Bilal seperti rencana awal.
''Kenapa, bukankah kamu sudah memutuskan akan bekerja di perusahaan Wisnu?'' tanya Adam antusias, setelah mendengar Ainaya berubah pikiran.
''Awalnya sih aku pikir begitu, tapi aku gak akan sanggup melihat anakku dimiliki orang lain. Aku akan pergi jauh dari kota di mana tidak ada orang yang mengenalku, aku akan memulai hidup baru.''
Air mata itu kembali tumpah tanpa dapat ia tahan. Saat ini merasa rapuh dan lemah jika mengingat tentang Haris dan Bilal. Dua lelaki yang kini memporak porandakan hatinya. Sungguh bukan itu yang Ainaya mau, bahkan ia ingin hidup tenang tanpa mereka.
''Aku akan bantu kamu. Apa kamu siap pergi ke Bali bersamaku?'' tawar Adam serius.
Aianya mengangguk. Mungkin itu akan lebih baik dan membuatnya lupa akan rasa sakit yang ditorehkan Haris.
Selamat tinggal, Mas. Aku berharap besok kamu memberi jawaban seperti yang aku inginkan. Aku pergi bukan berarti tidak menyayangi putraku, tapi ini demi kebaikan kamu dan Bu Jihan, aku gak mungkin menyakiti sesama perempuan dan dianggap wanita perebut suami orang.
Haris hanya bisa mentap pilu mobil Adam yang keluar dari gerbang. Merasa menjadi pria terbodoh di muka bumi ini .
''Aku harus bilang apa ke mama dan papa? Pasti mereka marah besar jika tahu kamu istriku, aku juga belum naggup menyakiti Jihan, tapi aku tidak mau kehilanganmu, Ainaya.''
__ADS_1