
''Pak Andik dan Ajeng akan pulang kampung besok, aku mau ikut.'' Ainaya menunjukkan pesan yang dikirim Ajeng beberapa menit yang lalu.
Haris membaca pesan itu dan tersenyum. Dari raut wajahnya seperti memendam sesuatu, belum tentu setuju.
''Tapi besok aku ada rapat penting. Karena Andik sudaj pergi, jadi aku harus ke kantor,'' ucap Haris ragu, takut Ainaya merasa tersinggung.
Telepon diserahkan kepada sang suami lalu menutup sekujur tubuhnya dengan selimut tebal, ngambek. Layaknya anak kecil yang tidak dibelikan mainan.
''Bagaimana kalau kita nyusul saja,'' bujuk Haris akhirnya. Dirinya pun ingin sekali ikut ke kampung. Namun apa daya, pekerjaan juga menuntut. Terlebih tangan kanannya tidak masuk.
Nampak Ainaya mengangguk di balik selimut. Lalu mengeluarkan satu tangannya dan mengangkat jempol tanda setuju.
''Gak papa, 'kan?'' tanya Haris memastikan.
Ainaya menggeleng. ''Tidak, Mas. Aku gak marah. Seorang istri akan selalu ada di sisi suaminya dalam suka maupun duka, bukan begitu?
Sebuah ciuman mendarat di pipi Ainaya bertubi-tubi. Kemudian beralih ke bibir ranumnya. Tak lama kemudian, terjadi sesuatu yang memang ditunggu dari seminggu yang lalu. Sebab, Haris harus libur selama kulit Ainaya bintik, ditambah kasus lobster itu.
Kini ia kembali bisa menyalurkan hasrat yang terpendam selama berhari-hari.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Rasanya begitu indah. Bayangan masa depan cerah terasa nyata didepan mata seolah siap menyambutnya, seperti mentari yang baru saja terbit dari ufuk timur saat ini.
''Aih, ngapain bengong sendiri?'' tegur Didin mengejutkan Ajeng yang dari tadi melamun menerawang jauh ke depan.
''Ini, teh hangatnya diminum dulu.'' Meletakan segelas teh hangat di depan sang adik yang dari tadi duduk di teras belakang.
Ajeng segera mengambil teh itu dan menyeruput nya. Manis, tapi lebih manis apa yang diberikan Andik semalam. Bahkan tidak ada yang mampu menandinginya.
''Sepertinya kamu sudah kena pelet sekretaris itu,'' sungut Didin melirik ke arah Ajeng yang terus tersenyum.
''Iya, tepatnya dia sudah menyihirku, Mas. Aku jatuh cinta sama dia,'' ucapanya malu-malu.
Sebagai lelaki normal, Didin juga mendambakan seorang wanita seperti yang Andik, namun ia belum berani karena belum memiliki pekerjaan yang mapan.
__ADS_1
Rumah dan mobil pun semua harta warisan dari kedua orang tuanya, dan semua itu nanti akan dibagi dengan Ajeng.
''Pakai jurus apa dia? Aku pingin menganutnya?'' tanya Didin konyol.
''Jurus cinta plus rumah mewah untuk masa depan kami berdua,'' jawab Ajeng bangga.
Di kampung juga sering kali ada yang menawarkan mahar sawah satu hektar, Ajeng menolak dengan berbagai alasan dan lebih memilih orang kota.
''Mas sendiri kapan nikah? Masa aku harus nungguin kamu sih?''
Ajeng berdecak kesal mengingat sang abang yang belum juga memiliki kekasih.
Didin menyangga dagunya dengan kedua tangan. Tatapannya kosong seolah masa depan yang diharapkan memang masih terasa semu dan suram.
''Aku takut, Ajeng. Menikah itu butuh banyak persiapan. Bukan hanya fisik, tapi juga harta. Aku gak mau ada penyesalan nantinya. Jarang sekali ada perempuan yang mau menikah dengan laki-laki kere sepertiku. Kerja saja baru beberapa hari belum punya apa-apa, aku takut gak bisa memenuhi permintaan istriku nanti,'' curhat Didin panjang lebar.
''Iya juga, aku juga gak nyangka, ternyata mas Andik sudah punya segalanya termasuk rumah dan mobil. Dia juga punya perkebunan teh di luar kota. Katanya dikelola warga sekitar dan juga ayah amgkatnya.'' Ajeng menghitung satu-persatu harta sang tunangan dengan jarinya.
Didin semakin menciut. Jika dibandingkan dengan Haris dan Andik, dia tak ada apa-apanya. Mungkin juga tidak bisa memilih wanita seperti mereka yang kaya.
''Kira-kira Lidya mau gak berjuang denganku?" Menerka-nerka jawaban Lidya jika ditanya seperti itu.
Eh, bukan. Memperbaiki diri lagi agar lebih maju.
''Nah itu, aku juga gak tahu, tapi yang aku lihat dia itu tipikal cewek sederhana seperti Ainaya, beda sekali denganku. Dulu dia pernah punya pacar malah hampir menikah, tapi batal karena pacarnya menghilang. Setelah dihubungi katanya sudah menikah dengan perempuan lain. Sejak saat itu dia tak lagi memiliki pacar.
Didin menjadi pendengar setia. Dilihat dari wajah gadis itu sangat cantik, begitu juga dengan kemandiriannya, hanya saja Didin takut ditolak.
''Daripada mikirin Lidya, lebih baik sana kerja cari uang yang banyak biar ada cewek yang mau,'' suruh Ajeng mengejek.
Didin terdiam. Ia masih memikirkan bagaimana caranya untuk mendekati Lidya, saat ini hanya gadis itu yang menjadi incarannya. Selain teman dari sang adik, juga sedikit banyak tahu tentangnya.
Ponsel berdering membuyarkan lamunan Didin yang hampir ke angkasa. Ia segera meraih benda pipih dan melihat.
Seperti sebuah mimpi di pagi hari, ia mendapat telepon dari gadis yang beberapa menit yang lalu diperbincangkan.
__ADS_1
''Ngapain Lidya menelponku?" Dada Didin berdebar-debar. Seolah akan bicara dengan presiden atau orang penting.
Ah, semoga ini pertanda baik.
Mengatur nafas dan suaranya, kemudian menggeser lencana hijau tanda menerima.
''Maaf, Mas. Aku ganggu. Ajeng di mana ya? Kenapa hp nya gak aktif?'' tanya Lidya bertubi-tubi.
Didin menatap punggung Ajeng yang ada di dapur lalu tersenyum. Menarik napas dalam-dalam agar suaranya tak terdengar gugup. Sungguh memalukan jika itu harus terjadi saat berbicara dengan Lidya.
''Ada di rumah, hari ini kita mau ke kampung. Masalah hp nya, semalam mati, mungkin dia lupa,'' jawab Didin sekenanya.
Terdengar decakan dari bibir Lidya, sepertinya gadis itu kecewa. Entah, pada kalimat yang mana Didin pun tak tahu.
''Di kampung lama gak, Mas?'' tanya Lidya merengut.
''Kurang tahu, tergantung urusannya sudah beres apa belum. Masalahnya ini mau ngurus pernikahan Ajeng juga. Jadi belum bisa di tentukan, pulangnya kapan.''
Apa kamu mau ikut?
Nyatanya, Didin hanya bisa melanjutkan dalam hati. Takut dianggap kurang sopan.
Hening
Keduanya saling berpikir keras untuk kembali bercakap, namun tidak ada pembahasan lagi, cukup garing dan membosankan bagi Lidya.
''Kamu gak pingin nawarin aku gitu?'' Lidya kembali membuka suara
''Pingin sih, tapi aku malu, takutnya kamu gak betah tinggal di rumah Bu De yang kampungan.'' Didin merendah.
Tut Tut Tut
Sambungan terputus, kini Lidya beralih mengirim pesan untuk Didin. Dalam pesan yang dikirim, ia mengatakan akan ikut ke kampung bersama dengan Ajeng dan juga dia, pastinya.
Didin membaca pesan dari Lidya dan membalasnya.
__ADS_1
Ikut saja, sekalian kita minta restu pada bu De seperti Ajeng dan Andik, maaf bercanda, jangan di masukin hati.
Emoji senyum tak lupa.