
Ainaya memeluk kedua orang tua Haris bergantian. Ia memutuskan untuk pamit pulang karena merasa tak nyaman dengan suasana di rumah itu. Terlebih saat melihat kemesraan suaminya dan Jihan membuat matanya sakit.
"Kenapa buru-buru?" tanya Bu Ida mengusap lembut rambut Ainaya.
"Aku capek, Tante. Mau istirahat," ucap Ainaya lirih. Melirik ke arah Haris yang nampak memeluk istri pertamanya.
"Mau tante antar?" tawar bu Ida antusias.
Ainaya menggeleng cepat meraih tangan sang mertua dan menggenggamnya. "Terima kasih atas kebaikan, Tante. Sampai kapanpun aku tidak akan melupakannya," ucap Ainaya dari hati.
Ia keluar dari rumah itu diantar bu Ida dan suami hingga ke teras. Lambaian tangan menjadi saksi perpisahan mereka.
"Kapan-kapan aku main lagi," teriak Ainaya yang sudah tiba di depan gerbang.
Bu Ida mengangguk dan tersenyum melihat punggung Ainaya yang mulai menghilang.
"Kasihan ya, Pa. Dia lagi hamil tapi selalu keluar sendirian. Berbeda dengan Jihan yang selalu ditemani Haris," ucap bu Ida pada suaminya.
"Mungkin suaminya sibuk," jawab pak Indrawan singkat.
Ainaya berhenti di pangkal ojek. Hatinya terlalu sakit menerima kenyataan ini. Ia memang belum mencintai Haris. Namun, ada rasa iri saat melihat perlakuan lembut Haris terhadap Jihan.
"Aku memang bukan perempuan yang kamu cintai, tapi setidaknya kamu menghargai keberadaanku dan anakmu, Mas." Mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit. Menguatkan diri sendiri dan berharap akan segera lepas dari belenggu masalah yang menimpa.
Setibanya di rumah, Ainaya langsung menghempaskan tubuhnya di kursi ruang tamu. Mengurai rasa lelah yang menyelimuti. Otaknya kembali mengingat kejadian yang menurutnya sangat aneh.
"Aku harus bertanya pada mas Haris." Ainaya mengambil ponselnya dari tas lalu menghubungi Haris.
Tersambung
Haris mengangkat teleponnya dan menyapa Ainaya dengan suara pelan.
"Aku ingin bicara denganmu sekarang juga," ucap Ainaya mendesak.
Haris tak menjawab, ia memutus sambungannya. Takut kedua orang tuanya dan Jihan tahu tentang pembicaraan itu.
"Ma, Pa, aku pergi sebentar. Ada urusan penting," pamit Haris sembari melihat jam yang melingkar di tangannya.
__ADS_1
Bu Ida dan suami hanya mengangguk mengizinkan, sedangkan Jihan malah bergelayut manja seolah tak mengizinkan sang suami untuk pergi.
"Cuma sebentar kok. Aku janji akan cepat pulang." Mencium pucuk kepala Jihan dengan lembut.
"Beneran ya? Nanti jemput aku di sini," pintanya manja.
Haris mengangguk setuju melepas pelukan sang istri.
"Sebenarnya apa sih maunya dia, mengganggu saja," gerutu Haris.
Segera melajukan mobilnya menuju rumah Ainaya. Tak butuh waktu lama, Haris sudah tiba di rumah istri keduanya. Seperti biasa, ia masuk tanpa mengetuk pintu.
Tidak ada siapapun di ruang depan. Suara gemericik air dari arah kamar mandi membuktikan bahwa Ainaya sedang ada di dalam.
Terpaksa Haris duduk sembari menatap barang belanjaan yang masih utuh di atas meja.
"Memangnya tadi dia belanja apa saja. Tangan Haris mengulur memeriksa isi kantong kresek. Ia mengambil sebotol minuman dan meneguknya.
Pintu kamar mandi terbuka membuat Haris menoleh. Kedua bola matanya membulat sempurna melihat Ainaya yang hanya memakai handuk. Kulitnya yang putih dan dihiasi butiran air pun nampak menggoda. Jiwa kelelakian Haris bangkit seketika, ia mencoba menahannya dan bersikap biasa saja.
Ainaya yang tak sadar keberadaan sang suami pun terus berjalan menuju kamar. Langkah nya berhenti saat mendengar deheman dari arah ruang tamu.
Ainaya bersandar di dinding, matanya tak teralihkan dari Haris yang juga menatapnya.
"Cepat ganti baju! Apa kau mau seperti itu terus?" tegur Haris ketus seraya memalingkan pandangannya.
Ainaya mengangguk cepat. Ia segera masuk ke kamar untuk memakai baju.
"Untung aku gak telanjang, ada-ada saja mas Haris. Masuk rumah orang gak izin dulu." Ainaya memakai daster rumahan panjang dan membiarkan rambutnya terurai lalu keluar menemui Haris.
"Kamu mau bicara apa? Cepat katakan! Aku gak punya banyak waktu." Haris menggeser duduknya memberi ruang pada Ainaya.
"Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan dariku. Kenapa mbak Jihan pura-pura hamil. Bukankah dia itu mandul?"
Haris melempar botol minuman ke arah dinding hingga sisa nya tumpah ke sembarang arah.
Wajahnya tampak merah padam dengan tatapan tajam yang mengarah pada Ainaya. "Kamu gak berhak ikut campur urusanku. Jadi jangan banyak tanya," ucap Haris mengingatkan.
__ADS_1
Ainaya menghela napas panjang. Ia pikir Haris akan menanggapi pertanyaan nya dengan lembut layaknya berbicara dengan Jihan. Namun ia salah, justru sebaliknya dan bersikap kasar.
"Aku istri kamu, jadi berhak tahu apa yang terjadi di antara kamu, aku dan mbak Jihan." Ainaya memberanikan diri untuk menuntut.
Meskipun kemungkinan mendapat jawaban sangat kecil, ia tetap membuka suara.
Haris berdecak kesal, direlung hati terdalam kasihan melihat Ainaya. Akan tetapi, pertanyaan itu seolah menyudutkan nya dan membuat darahnya mendidih.
"Itu bukan urusanmu, Nay. Kamu cukup menjaga anakmu, jangan mencampuri urusan orang lain," tegas Haris menekankan.
Ainaya menundukkan kepala. Ia sadar bahwa kedudukannya saat ini tidak ada artinya di mata seorang Haris, dan dia pun enggan untuk bertanya lagi.
"Baiklah, aku minta maaf jika pertanyaanku membuatmu bingung." Beranjak dari duduknya lalu ke belakang.
Ainaya merebus air lalu mengambil cangkir, kopi dan gula. Sebenci apapun ia tak bisa mengabaikan Haris yang statusnya masih sah menjadi suaminya.
Ainaya keluar membawa secangkir kopi panas dan meletakkan di depan Haris.
"Diminum kopinya! Kalau kamu mau pulang, pulang saja. Aku ngantuk." Ainaya kembali ke kamar. Enggan berbicara dengan Haris yang tak pernah memperdulikannya.
Haris menyandarkan punggungnya dan menjambak rambutnya. Terkadang ia merasa jahat dengan Aniaya. Namun, juga tak bisa lepas dari pernikahan yang sudah terlewati bertahun-tahun. Ia tak bisa berpisah dari wanita yang dicintainya.
"Aku berharap ini akan segera berakhir, Nay. Semoga ada laki-laki yang mau menerimamu apa adanya. Semoga kamu cepat melahirkan."
Tanpa disadari Haris memikirkan nasib Ainaya selanjutnya setelah berpisah darinya. Ia juga tak boleh egois dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya.
Mentari sudah hampir terbenam, namun Haris enggan untuk pergi. Terlebih semenjak perdebatan tadi Ainaya tak juga keluar dari kamarnya.
"Apa Ainaya sudah tidur?" tanya Haris sembari menatap pintu kamar yang tertutup rapat.
Ia menghabiskan kopinya lalu mengetuk pintu kamar sang istri.
"Kamu lagi apa, Nay?" teriak Haris.
Pintu terbuka lebar. Nampak kedua mata Ainaya memerah dan sembab, sudah dipastikan wanita itu menangis.
"Kenapa kamu belum pulang?Pulanglah aku gak papa." Ainaya mendorong tubuh kekar Haris.
__ADS_1
"Untuk malam ini aku akan tidur di sini," ucap Haris sembari menempelkan benda pipih di telinga.
"Maaf, Ji. Malam ini aku ada kerjaan di luar kota. Kamu tidur saja di rumah mama. Besok aku jemput," ucap Haris pada Jihan lewat sambungan telepon.