
Dae mengerjakan tugasnya sebelum jam kerjanya berakhir. Tiba-tiba tlp diatas mejanya berbunyi dan terdengar suara seseorang yang menyuruhnya keruangan Presdir nya diatas.
"Bu Dae, anda diminta keruangan Tuan Edy sekarang," begitulah perintahnya.
Sebelum sempat Dae menjawab, tlp itu sudah ditutup.
"Hah, apalagi nih yang terjadi. Gw gak bisa hidup tenang kalau begini," gumam Dae kesal
Jika urusannya dengan si Tuan Ilyas, dia pasrah dan mengikuti kemauan Tuan Edy.
Dae dengan malas-malasan keluar dari ruangannya menuju kelantai atas. Kemudian Dae masuk ke dalam lift dan menunggu hingga lift itu terbuka. Dae berjalan kearah ruangan Presdir, dimana Sekretarisnya duduk dengan siaga di depan ruangan Presdirnya.
"Apakah saya boleh masuk Pak Lu?" tanya Dae sebelum membuka pintu ruangan itu.
"Silahkan Bu Dae, anda sudah ditunggu di dalam," jawab Sekretaris Lu.
Dae menenangkan jantungnya sebelum masuk ke dalam. Lalu dia mengetuk sebentar dan masuk ke dalam ruangan itu. Dae melihat Tuan Edy sedang duduk membelakanginya. Dan hanya dia seorang yang berada diruangan itu.
"Ekhem, Tuan memanggil saya?" tanya Dae yang sengaja menegur Tuan Edy.
Edy memutar kursinya dan menghadap kearah Dae.
"Wanita ini benar-benar membuatku penasaran. Cantik dan energik, sangat menarik," bathin Edy
"Maaf Tuan, apakah anda memanggil saya?" tanya Dae kembali.
Dia heran melihat Presdir nya hanya diam memandangnya. Hingga membuat Dae salah tingkah.
Edy bangkit dari kursi kebesarannya dan berdiri dihadapan Dae. Dia memperhatikan penampilan Dae dari atas sampai bawah. Lalu mengitari Dae hingga dia kembali berdiri dihadapan Dae.
"Sudah berapa lama anda bekerja disini Bu Dae?" itu adalah pertanyaan pertama yang keluar dari bibir mungil Presdir nya.
"Saya baru setengah tahun Tuan bergabung di Perusahaan ini," jawab Dae singkat.
"Heum, ternyata karyawan baru. Kalau begitu saya akan memberikan tugas tambahan," ucap Edy tanpa ekspresi.
"Maksud Tuan, tugas apa?" Dae mengerutkan keningnya menatap curiga kearah Presdir nya.
"Anda akan ikut bersama saya hari ini diluar," Edy mencoba mendekati Dae dengan cara mengajaknya keluar walaupun tidak dalam urusan pekerjaan.
"Maaf Tuan, tapi tugas apa yang harus saya lakukan?" Dae semakin curiga.
"Kamu hanya menemani saya diluar sampai jam yang sudah saya tentukan," jawab Edy dengan santainya.
"Maksud Tuan saya lembur? Tapi kenapa harus mengikuti Tuan keluar?" Dae semakin cerewet. Dia tidak habis pikir dengan sikap atasannya ini.
__ADS_1
"Jangan banyak bantah, ikuti perintah saya! Sekarang kamu boleh keluar dari ruangan ini!" Edy tanpa perduli dengan pandangan Dae, dia berjalan kembali ke kursinya.
Sedangkan Dae masih diam mematung ditempatnya dengan wajah yang menahan kesal, amarah bercampur aduk.
"Kalau gak karena dia atasan gw, udah gw cincang-cincang wajahnya yang terlihat tampan itu, menyebalkan sekali atasan gw ini," bathin Dae.
"Saya permisi Tuan," Dae meninggalkan ruangan yang menyesakkan nafasnya. Dia keluar dari ruangan itu dan melihat Sekretaris Lu. Dae menghampirinya dan berkata.
"Terima kasih Pak," lalu dia melangkah masuk ke dalam lift.
Sekretaris Lu menatap Dae dengan dahi mengkerut. "Terima kasih buat apa?" gumam Sekretaris Lu yang bingung dengan kata Dae.
Di dalam lift Dae menggerutu kesal karena Sekretaris Lu menghubunginya hanya untuk menemui Presdir yang memberinya tugas gak jelas. Dae ingin memberontak, tapi ini adalah pekerjaan yang disukai Dae.
Tak berapa lama dia sampai di dalam ruangannya dan segera menghubungi Ani sahabatnya diruangannya.
"An, sorry ya hari ini gw gak jadi keluar bareng Lo," ucap Dae merasa prustasi.
"Loh, emang kenapa Dae? Apa Lo ada kerjaan tambahan?" tanya Ani.
"Ya, Presdir menyuruh gw untuk menemaninya diluar. Gw gak ngerti pekerjaan apa itu yang mengharuskan mengikuti Presdir. Bukannya dia punya Asisstent," Dae mengomel-ngomel di tlpnya.
"Apa...!" Ani gak percaya mendengarnya.
"Lo serius Dae?! Waowww...kemajuan Presdir kita menginginkan Manager Produktion menemaninya diluar. Atau jangan-jangan ini kencan pertama Dae?" Ani lagi-lagi menggoda sahabatnya.
"Jangan kesal dong say, gw kan ngomong realita. Coba Lo pikir, masa Presdir meminta Lo bertugas menemaninya kalau tidak ada sesuatu?" Ani semakin mengompori Dae.
Mendengar ucapan Ani, Dae merasa dia sedang dipermainkan oleh Presdirnya. Dia memutar otaknya untuk bisa membatalkan tugasnya itu. Namun pikirannya buntu.
"Dae..Lo masih hidupkan?" tanya Ani ngasal.
"Masih lah," ketus Dae.
"Hehehe, terus mau Lo gimana Dae cantiiik!? Lo kan tau gak ada yang bisa membantah perintah Presdir kita. Kali ini Lo emang gak bisa menghindar Dae. Lo harus ikutin tugas darinya," Ani mencuci pikiran Dae agar dia mau menerima tugas itu dan lebih dekat dengan Presdir mereka.
Ani menginginkan Dae mendekati atasan mereka supaya terhindar dari gangguan Manager Raffi. Sebagai sahabat, Ani ingin yang terbaik untuk Dae. Sehingga dia senang saat mendengar Presdir menyuruhnya ikut keluar dari jam kantor. Ani bisa menyimpulkan bahwa Presdir mereka memiliki ketertarikan terhadap Dae.
"Jadi maksud Lo, gw terima gitu tugas tambahan dari Presdir kita?" tanya Dae lesu.
"Yup, Lo benar. Gw rasa, Mama Lo pasti setuju kalau Lo dapat tugas tambahan menemani Presdir diluar jam kantor. Dan gw yakin 100% pasti Mama Lo mengizinkannya," balas Ani yang memberi dukungannya.
"Ah Lo pinter banget menghasut gw untuk menjalankan perintah Presdir. Apa Lo gak mikir gimana nanti gw satu mobil sama dia. Gw pasti merasa seperti di dalam kulkas frizer membeku," ucap Dae.
Ani langsung tertawa terbahak-bahak mendengar lelucon Dae. Hingga teman satu ruangannya melihat Ani dan menyuruhnya untuk jangan berisik.
__ADS_1
"An, ingat ini masih jam kantor loh. Jangan berisik," tegur salah satu staf yang ada disamping Ani.
Ani hanya mengerucutkan mulutnya dan kembali mendengar suara kesal sahabatnya.
"Ya gw akan membayangkannya Dae. Pasti sangat seru dan menyenangkan," ucap Ani menggoda Dae.
"Udah ah, kalau ngomong sama Lo, gak akan pernah berhenti. Pasti lanjut sampai akhir zaman. Gw mau lanjut kerja lagi," Dae langsung mematikan sambungan tlp nya tanpa menunggu jawaban Ani.
Dae memijit keningnya yang sedikit pusing. Dia harus segera menghubungi Mamanya dan memberitahukan tentang tugas tambahannya itu.
"Hallo Ma, Assalamu'alaikum," sapa Dae.
"Hallo sayang..., Wa'alaikumussalam," sahut Mamanya.
"Ma, Dae mau kasih tau kalau hari ini Dae pulang telat."
"Emang kenapa bisa begitu sayang?"
"Iya Ma, Presdir Dae meminta Dae untuk tugas tambahan," jelas Dae. Dae tidak mau mengatakan sama Mamanya kalau tugas tambahannya itu menemani Presdirnya di luar dari jam kantor.
"Apa?! Presdir kamu memberikan tugas tambahan? Hmmmm itu artinya kamu lembur sayang?" tanya Mamanya Dae.
"Iya Ma, hari ini Dae terpaksa lembur. Dan belum tau jam berapa pulangnya," ucap Dae sedikit takut.
"Wah Presdir kamu itu pasti orangnya kejam, menyuruh karyawannya lembur tanpa tau jam berapa harus selesai. Emang berapa kamu dibayar untuk lembur?" tanya Mamanya yang perhitungan. Dia gak mau anaknya dipaksa lembur tapi dibayar minim.
"Ah Mama, kalau masalah itu, Dae gak tau Ma. Lagian Mama ngapain menanyakan uang lemburnya?" protes Dae.
"Iya dong Dae....! Masa anak Mama yang cantik menghabiskan waktunya di kantor hanya untuk tugas tambahan tapi dibayar minim sama Perusahaan. Padahal, kalau kamu pulang kerumah bisa istirahat, ketemu Mama dan bisa nyantai. Semua itu harus dibayar setimpal dong sayang!" ucap Mamanya yang sangat perduli dengan Dae.
"Do'ain aja ya Ma, bayarannya setimpal sesuai keinginan Mama," balas Dae yang males membantah ucapan Mamanya.
"Heum, ya sudah kalau begitu kamu hati-hati nanti pulangnya. Ingat jangan telat makan ya sayang," pinta Mamanya.
"Iya Ma, Dae akan ingat pesan Mama. Dae lanjut lagi ya Ma kerjanya, Assalamu'alaikum," ucap Dae.
"Wa'alaikumussalam sayang," balas Mamanya.
Obrolan pun selesai. Dae membuang nafasnya dengan tenang. Mamanya memberinya izin untuk lembur.
"Maafin Dae Ma, Dae gak jujur kalau tugas itu menemani Presdir diluar kantor," gumam Dae yang merasa bersalah.
Dae melanjutkan pekerjaannya. Waktu berlalu hingga sore. Jam pulang kantor sudah tiba. Dan waktunya Dae menemui Presdirnya di lantai atas. Namun sebelum ke lantai atas, dia ingin memastikan apakah tugas itu akan dilaksanakan? Dia mencoba menghubungi Sekretaris Lu dan bertanya kepadanya.
"Sekretaris Lu, apakah tugas saya yang diberikan Presdir akan dilakukan sekarang?" tanya Dae hati-hati.
__ADS_1
"Ya Bu Dae, anda silahkan ke Lantai atas, karena Presdir sudah menunggu anda diruangannya," balas Sekretaris Lu.