
Dae memperhatikan wajah Edy yang terlihat kesal.
"Ed, maaf, aku tidak bermaksud seperti itu. Kamu juga butuh istirahat bukan!" Dae mengingatkannya lagi.
"Ya, kamu benar. Aku pamit dulu," bala Edy tak banyak bicara.
Dia bangkit dari sofa dan berjalan keluar rumah meninggalkan Dae yang diam di sofanya. Dae tau, jika Edy marah dengannya. Marah atau cemburu melihat Dae bersama Ilyas.
Setelah kepergian Edy, Dae beranjak dari tempat duduknya. Dia hendak berjalan ke kamarnya. Tapi sebelum sampai di depan pintu kamarnya, Dae bertemu Papanya.
"Loh Edy nya mana?" tanya Papanya yang heran melihat Dae malah masuk ke kamarnya.
"Udah pulang Pa," jawab Dae enteng.
Kenapa gak pamit sama Papa?" tanya Papanya lagi.
"Udah Dae usir Pa pulang. Dae mau istirahat, capek loh Pa...," kesal Dae.
"Dae..., kamu sudah tidak sopan terhadapnya. Papa gak mau tau, besok kamu harus menemuinya dan meminta maaf kepadanya, titik," ketus Papanya.
"Papa kenapa sih bela dia terus? Emang apa kelebihan dia? Dia cuma seorang Presdir dingin yang nyebelin," protes Dae.
"Bagi Papa dia laki-laki dan calon mantu yang pas buat kamu," balas Papanya dengan tegas.
Papanya hanya mementingkan kelangsungan hidup anaknya yang bergelimang harta. Dia tidak ingin kejadian yang dialaminya terulang kembali dengan Dae. Menikah dengan laki-laki miskin dan akhirnya di tinggal.
Kenangan masa lalu itu berputar kembali di ingatannya, kala dia bertemu dengan Edy yang menawarkan berbagai kekayaan yang tak ternilai. Hingga dia sudah memutuskan untuk menjadikan Edy menantunya.
"Papa belum mengenal Ilyas, dia juga laki-laki yang baik dan seorang pengusaha hebat," Dae malah membahas Ilyas.
"Papa tidak mengenalnya. Dan Papa tidak tau tentang dia. Apa kamu mencintainya?" tanya Papanya dengan memicingkan matanya.
"Iya Pa, Dae mencintai Ilyas," jawab Dae yang mengagetkan Papanya.
"Kalau kamu mencintainya, suruh dia menemui Papa secepatnya. Papa ingin menilai dia dan Edy," tantang Papanya.
Dae terkejut mendengar keinginan Papanya yang mau menemui Ilyas. Dae masih menatap tak percaya dengan pendengarannya.
"Apa Papa serius? Dae tidak salah dengar kan Pa?" tanya Dae.
"Tentu, Papa serius Dae. Lagian kamu juga sudah cukup umur untuk segera menikah. Papa hanya ingin yang terbaik untuk masa depan kamu," tegas Papanya.
__ADS_1
Sebenarnya Dae tidak menginginkan jawaban itu dari Papanya. Dia sengaja mengatakan hal itu. Dae berpikir Papanya tidak menyukai Ilyas dan lebih tertarik dengan Edy.
Sementara perasaan Dae masih bimbang dan bingung. Satu sisi dia mencintai Ilyas, tapi disisi lain hatinya juga sudah mulai mencintai Edy.
"Baik Pa, Dae akan mengatakannya sama Ilyas. Dae masuk dulu Pa. Mau istirahat nih," ucap Dae.
"Heum, beristirahatlah," suruh Papanya.
Dae pun segera masuk ke dalam kamarnya. Dia meninggalkan Papanya yang masih diam di depan pintu kamar Dae.
Papanya Dae masih mengingat masa lalunya yang menyedihkan. Dia masih diselimuti rasa takut akan terulangnya kejadian itu dengan Dae.
"Bagaimana khabar mereka sekarang ya? Apa aku masih bisa menunjukkan wajahku di hadapan mereka, setelah sekian lama meninggalkan mereka?" gumam Papanya.
Tiba-tiba bibi menghampiri Papanya Dae yang diam berdiri di depan kamar Dae.
"Permisi Tuan, saya mau mengantarkan cemilan ini untuk non Dae," ucap bibi dirumah itu yang menyadarkan majikannya.
"Oh iya bi. Tapi Dae lagi mau istirahat," balas Majikannya.
"Non Dae yang minta di buatkan minuman dan cemilan Tuan. Saya hanya ingin mengantarkannya ke kamar non Dae," jelas pembantunya.
"Baiklah, letakkan di dalam kamarnya. Kalau Dae nanti bangun, bilang saya ada urusan di luar dan sekalian mau ke Butik Mamanya Dae," ucap Papanya Dae yang memberikan pesan untuk Dae.
Lalu si bibi masuk ke dalam kamar Dae. Bibinya melihat Dae yang sedang memainkan ponselnya di atas tempat tidur.
"Bi, Papa udah pergi ya?" tanya Dae saat bibinya meletakkan makanan di atas meja.
"Iya non, tadi Tuan berpesan kalau sekarang Tuan mau keluar ada urusan. Sekalian mau ke Butik Mamanya non," jelas si bibi.
"Oh...ya udah bi, makasih ya udah buatin saya cemilannya," ucap Dae tersenyum.
"Iya non, saya kedapur lagi ya non. Mau nyiapkan makan malam dulu," balas si bibi.
"Iya bi." Dae beranjak dari tempat tidurnya mengambil piring cemilannya dan membawanya ke depan TV.
Dae menyalakan TV untuk menghibur dirinya. Dse menikmati waktunya sendiri sambil menyantap cemilan buatan si bibi.
Di tempat lain, Edy sudah sampai di Apartementnya. Dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Edy merasa lelah hari ini. Saat ini Edy tidak ingin banyak berpikir. Dia memilih beristirahat.
Edy masih mencoba memejamkan matanya, namun bayangan Ilyas yang dengan sengaja memeluk Dae di hadapannya, membuatnya menjadi kesal.
__ADS_1
"Hah..., sial! Kenapa gw malah mikirinnya!" geram Edy.
Rasa kesal yang dirasakannya masih terbawa sampai saat ini.
"Awas kamu Dae...., besok aku akan memberimu hukuman..!" geram Edy.
Sementara tiba-tiba Dae bersin-bersin sambil nonton TV. Dia mengerutkan keningnya.
"Apa ada yang sedang memikirkan gw ya?" gumam Dae heran.
Kemudian Dae melanjutkan acara nontonnya sambil mengemil.
Sore menjelang malam, Dae keluar dari dalam kamarnya. Dia melihat ruang makan ada si bibi yang sedang menghidangkan makan malam.
"Bi, Mama dan Papa sudah pulang?" tanya Dae yang melihat keadaan sepi di rumah.
"Sudah non, baru aja pulang. Mungkin lagi di kamar non," jawab bibinya.
"Mama gak bawa makanan bi?" tanya Dae lagi.
"Ada non, Nyonya bawakan keu kesukaan non Dae. Ini saya lagi siapkan. Tadi disuruh Nyonya bawakan ke kamar non," jelas bibinya.
"Ihhhh si Mama, ingat aja kue kesukaan gw," gumam Dae.
"Ini non, apa mau bibi bawakan ke kamar aja non?" tanya bibinya.
"Ah iya bi, bawakan ke kamar ya. Nanti kalau makan malamnya udah selesai, bilang ya Bi," pinta Dae.
"Siap non, pasti bibi panggilkan nanti," balas bibinya.
Dae pun berjalan ke kamarnya bersama si bibi yang membawakan kue kesukaannya yang di belikan Mamanya.
"Kalau gitu saya permisi dulu non, mau lanjut siapkan makan malamnya," ucap si bibi.
"Iya bi, makasih ya bi," balas Dae.
Si bibi pun pergi dari kamar Dae. Di akembali ke dapur menyiapkan masakan yang sempat terhenti.
Sementara Dae, kembali menikmati kue kesukaannya sambil mengecek ponselnya. Dae melihat begitu banyak panggilan masuk dari Ilyas. Dan ada juga beberapa pesan masuk yang datang. Dae membuka pesan-pesan itu. Ternyata dari sahabat Dae di kantor dan ada juga pesan dari Ilyas.
Dae sedikit kesal karena tidak mendapatkan pesan dari Edy.
__ADS_1
"Dasar tuh laki-laki, gak perdulian banget sih! Awas aja besok, gak akan gw perdulikan dia," gumam Dae.
Dae tak merespon pesan dari sahabatnya dan Ilyas. Dia lagi tidak ingin membalas pesan-pesan itu. Sehingga Dae meletakkan ponselnya di tempat tidurnya.