
Dae menarik Rion ke atas tempat tidur dan dia menolak Rion hingga jatuh ke atas tempat tidur.
"Dae hentikan! Aku kemari hanya untuk mengecek keadaan kamu. Lebih baik sekarang kamu mandi," ucap Rion tegas.
Dae tak memperdulikan ucapan Rion. Dia seperti orang kesurupan, tidak mendengar ocehan Rion. Dae langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas tubuh Rion. Dia mulai mendaratkan ciuman ke bibirnya Rion.
Rion mencoba tidak terpancing dengan gerakan yang dilakukan Dae. Akan tetapi naluri laki-lakinya yang memiliki hasrat tidak bisa ditahannya. Rion pun membalas ciuman Dae. Dae yang mendapat respon, gairahnya semakin membara. Dia kehilangan akalnya untuk berhenti. Hingga akhirnya pergulatan panas terjadi. Rion melepas keperjakaannya untuk Dae. Rion terus menghentakkan miliknya ke dalam milik Dae. Desa*** dari bibir Dae terdengar merdu di telinga Rion.
"Yon.....," bibir Dae mengucapkan nama Rion dengan begitu lembut dan merdu di telinga Rion. Sehingga membuat Rion semakin beringas menggagahi Dae.
Rion daxzzn Dae terus bergulat di atas tempat tidur dengan berbagai macam gaya. Ini merupakan pengalaman pertama buat Rion.
"Oh Dae....., ini benar-benar nikmat..!" seru Rion di sela hentakkannya.
"Yon...," balas Dae.
Rion dan Dae masih terus berbagi kenikmatan. Hingga akhirnya mereka menumpahkan sesuatu yang membuat keduanya mengerang dahsyat.
"Rion.....!" Dae mencapai puncaknya sampai dia menjambak rambut Rion karena nikmatnya.
Begitupun dengan Rion, dia memanggil nama Dae dan mengerang karena mencapai puncaknya. Rion menyemburkan lahar putih ke dalam milik Dae.
Setelah itu keduanya terkulai lemas. Rion menjatuhkan dirinya ke samping Dae dan menarik selimut menutupi tubuh Dae. Dia menatap wajah Dae yang begitu cantik dan lembut. Kemudian Rion menggendong Dae pindah ke kamar depan yang sudah di pesan Rion.
Lalu Rion dan Dae pindah ke kamar depan. Rion segera membaringkan Dae di atas tempat tidur. Kemudian Rion mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Lakukan sekarang!" perintah Rion.
"Baik Bos," balas pengawalnya.
Rion meminta pengawalnya memberikan obat perangsang kepada laki-laki yang sudah di bayar Ani dan meletakkannya ke dalam kamar yang Ani pesan.
Sementara Ani yang sengaja kembali ke meja mereka, menunggu dengan rasa bahagia. Ani berpikir kalau laki-laki yang di bayarnya sudah melakukannya dengan Dae. Ani pun penasaran bagaimana keadaan Dae. Dia berinisiatif untuk mengecek keadaan Dae.
"Den, gw ke toilet dulu ya," pamit Ani.
__ADS_1
"Aku temani ya," pinta Denny.
"Ah tidak usah Den, aku bisa sendiri kok. Kamu gak perlu khawatir. Lagian nanti Rion kembali ke sini, kamunya malah gak ada. Kasihan kan dianya," ucap Ani yang berusaha menghindar dari Denny.
"Baiklah kalau kamu bisa sendirian. Tapi hati-hati ya. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku," balas Denny.
"Pasti," Ani pun tersenyum palsu.
Lalu dia beranjak dari tempat duduknya. Ani berjalan perlahan ke arah kamar yang dipesannya buat menjebak Dae. Ani menoleh ke kanan dan kiri saat dia sudah berdiri di depan pintu kamar itu. Ani menempelkan telinganya untuk mendengarkan sesuatu. Namun Ani justru tak mendengar apapun dari dalam kamar.
"Huh, mungkin mereka sudah selesai melakukannya. Baguslah, gw akan mengambil foto mereka dan membuat Dae malu. Hahahaha, lihat saja Dae, berakhir hidup Lo," gumam Ani dengan seringai jahatnya.
Lalu dia membuka pintu kamar itu dengan menggunakan kunci yang di tangannya. Perlahan pintu itu sudah terbuka dan lampu dalam keadaan tidak menyala. Ani mengendap-endap masuk ke dalam. Tiba-tiba sebuah tangan menariknya dan langsung menggendong Ani serta menghempaskannya ke atas tempat tidur.
Ani terkejut dan berteriak.
"Apa yang kamu lakukan bodoh!" bentak Ani yang berusaha turun dari tempat tidur.
Tapi laki-laki itu tak menjawab, dia justru naik ke atas tempat tidur dan menimpa tubuh Ani.
Ani gemetaran, karena tangannya merasakan kulit laki-laki itu secara langsung.
"Jangan mendekat! Aku bukan wanita itu! Aku yang membayar kamu, lepaskan...!" teriak Ani yang memberontak.
"Ayo sayang, layani aku. Aku akan membuatmu melayang merasakan kejantananku yang sangat nikmat," ucap laki-laki itu dengan suara seraknya.
"Tidak, kumohon jangan lakukan itu denganku. Bukan aku wanitanya," Ani mulai menangis dan ketakutan.
"Hussst jangan menangis sayang, ini akan enak. Aku akan membuatmu melayang. Ayo sayang," balas laki-laki itu yang sudah dalam keadaan merangsang akibat obat perangsang yang diberikan anak buah Rion.
"Tidak, aku gak mau. Lepas...! Tolong aku....!" teriak Ani.
Namun laki-laki itu sudah tidak sabaran, dia langsung menarik paksa baju Ani hingga robek dan menyisakan pakaian dalamnya.
Ani terus memberontak, menendang laki-laki itu serta memukul-mukul tubuhnya. Namun itu semua tak ada artinya bagi si laki-laki karena dia hanya menginginkan hasratnya terpuaskan.
__ADS_1
Ani terus melawan hingga sebuah tamparan mendarat di pipinya.
"Plak..," heh ******, aku sudah berusaha lembut terhadapmu, tapi kau tetap melawan. Jadi sekarang rasakan keganasanku yang tak akan memberimu ampun," ucap laki-laki itu yang tersulut emosi bercampur gairah.
Ani menangis, tenaganya sudah tidak ada karena tamparan itu membuatnya kesakitan. Lalu laki-laki itu memaksa Ani membuka kedua pahanya.
"Tidak jangan lakukan itu, aku gak mau....!" Ani terus melawan hingga tenaganya sudah tidak ada.
Laki-laki itu terus menampar wajah Ani karena melawan, hingga Ani terdiam pingsan. Tanpa membuang waktu laki-laki yang sudah dikuasai dengan gairah memuncak, akhirnya dia membobol gawang Ani yang ternyata sudah tidak perawan. Laki-laki itu terus menggempur Ani, menghujamnya terus menerus dan dia melakukannya berulang kali hingga akhirnya laki-laki itu menyelesaikan hentakkan terakhirnya dengan menyemburkan benihnya ke dalam milik Ani.
Keesokan paginya, di dalam kamar Rion dan dae masih terlelap dalam posisi saling berpelukan. Hingga sinar matahari yang menembus tirai jendela membuat Dae terbangun. Perlahan Dae membuka kelopak matanya dan dia merasakan ada sesuatu yang terasa berat di bagian perutnya. Dae menoleh meraba-raba perutnya dan memegang tangan Rion. Dae terkejut dan langsung bangkit terduduk.
"Ahhhhh," Rion....!" teriak Dae. "Apa yang kamu lakukan...!" Dae terus berteriak.
"Dae, kenapa suara kamu kencang banget. Ada apa?" tanya Rion yang masih belum sadar sepenuhnya.
"Kamu bilang kenapa? Kurang ajar kamu Rion.....! Hiks hiks hiks," Dae tersedu-sedu menangis dengan posisi duduk dan dibalut selimut.
Rion mendengar suara Isak tangis Dae, dia langsung membuka matanya dan duduk menghadap Dae.
"Apa kamu lupa Sweety, kita melakukannya tadi malam dengan keinginan kamu? Dan kamu sudah merenggut keperjakaanku Sweety," ucap Rion dengan menundukkan wajahnya seperti seorang gadis yang sedang malu-malu.
"Apa, aku memperkosa kamu? Mengambil keperjakaanmu?" tanya Dae sambil tangannya menunjuk ke arah wajahnya.
Rion pun mengangguk ringan. Dia menoleh ke arah Dae dengan wajah polosnya. Membuat Dae kesal dan marah.
"Gak mungkin aku melakukannya!" bentak Dae tak terima.
"Sweety lihat perbuatanmu, cakaran ini bahkan bibirku terasa bengkak akibat ulahnya," Rion sengaja menunjuk ke bagian tangan dan bibirnya.
"Hahaha, aku tidak mungkin melakukannya," Dae masih tak percaya.
"Coba kamu ingat apa yang sudah kamu lakukan kepadaku. Kamu yang memintaku untuk memuaskanmu dan melayanimu," ucap Rion dengan berpura-pura polos dan lugu.
Dae terdiam, dia mencoba memutar memorinya untuk mengingat kejadian tadi malam.
__ADS_1