
Edy melihat Dae yang ternyata sedang bersantai menikmati cemilan.
"Apa kamu tidak melihatku Ed sedang makan cemilan?" tanya Dae balik.
"Iya, aku melihatnya. Tapi kenapa kamu menungguku di sini? Kenapa tidak di kamar" Edy malah balik bertanya.
Dae jadi kesal karena pertanyaannya tidak dijawab dan justru malah melempar pertanyaan balik.
"Aku lagi ingin ngemil Ed. Kamu udah siap kan? Sekarang antar aku balik ke rumahku. Aku gak mau Mamaku khawatir dengan ku," jawab Dae.
Edy melirik jam dinding yang ada di samping Dae. Ternyata waktu sudah menunjukkan sore hari. Dan memang waktunya Dae pulang dari kantor.
"Baiklah, aku akan mengantarmu pulang. Bersiap-siaplah. Aku akan mengambil kunci mobil di kamar," ucap Edy.
Edy pun bergegas ke kamar untuk mengambil kunci mobilnya. Setelah itu dia keluar dari kamar dan menghampiri Dae yang ternyata sudah menunggu berdiri di dekat sofa.
"Udah ketemu kuncinya?" tanya Dae.
"Nih, ayo aku antar kamu pulang," ajak Edy.
Dae senang karena Edy tidak berusaha menahannya di Apartemennya. Dia pun mengangguk, mengiyakan ucapan Edy.
Lalu keduanya keluar dari Apartement itu menuju parkiran. Dae dan Edy masuk ke dalam mobil. Kemudian Edy pun melajukan mobilnya ke arah rumah Dae.
Di dalam mobil, Edy menyalakan music melow. Dia bingung mau ngobrol apa, sehingga dengan menyalakan lagu melow sudah menjadi perantara suara hatinya ke Dae.
"Kenapa dia menyalakan music melow begitu? Ah iya dia sedang jatuh cinta, makanya lagunya melow-melow," bathin Dae.
Edy melirik ke Dae, dia ingin melihat ekspresi Dae saat mendengar lagu yang diputar kan Edy yang berjudul My Love yang di nyanyikan Westlife.
An empty street, an empty house
A hole inside my heart
I'm all alone, the rooms are getting smaller
I wonder how, I wonder why
I wonder where they are
The days we had, the songs we sang together
Oh, yeah
And oh, my love
I'm holding on forever
Reaching for the love that seems so far
So, I say a little prayer
Where the skies are blue
__ADS_1
To see you once again, my love
Overseas, from coast to coast
To find a place I love the most
Where the fields are green
To see you once again
My love
I try to read, I go to work
I'm laughing with my friends
But I can't stop to keep myself from thinking, oh no
I wonder how, I wonder why
I wonder where they are
The days we had, the songs we sang together, oh, yeah
And oh, my love
I'm holding on forever
Reaching for the love that seems so far
So, I say a little prayer
Where the skies are blue
To see you l once again, my love
Overseas, from coast to coast
To find a place I love the most
Where the fields are green
To see you once again
To hold you in my arms
To promise you my love
To tell you from the heart
You're all I'm thinking of
I'm reaching for the love that seems so far
__ADS_1
Begitulah lirik yang mereka berdua dengarkan. Dae menyadari kalau lagu yang diputarkan Edy adalah suatu perasaan yang diungkapkan Edy.
Dae pun melirik sekilas ke arah Edy. Dalam hatinya ada perasaan senang ketika lagu itu di dengarnya. Dalam hati Dae senyum-senyum lucu, mengingat seorang Presdir bisa menjadi bucin terhadapnya.
Di saat keheningan yang dialami mereka berdua di dalam mobil, ponsel Dae bergetar hingga menyadarkannya. Dae pun spontan mengambil ponselnya di dalam tas. Dae pun melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Dia melirik ke arah Edy, karena bingung mau menjawab tlp atau tidak.
Sedangkan Edy yang menyadari sikap diam Dae, dia tau bahwa yang menghubungi Dae adalah Ilyas.
"Apa Ilyas yang menghubungimu? Mendingan kamu mengangkat tlpnya sekarang," tebak Edy.
"Bagaimana dia bisa tau kalau yang menghubungi aku, Ilyas? Apa dia punya indera ke enam ya, gak mungkin," Dae bermonolog sendiri dalam hatinya.
"Udah cepatan angkat, keburu selesai deringnya," Edy mengingatkan Dae.
Dae menatap layar ponselnya dan langsung mengangkat tlpnya.
"Assalamu'alaikum Yas!" sapa Dae yang berusaha tenang.
"Wa'alaikumussalam Dae. Kamu dimana? Tadi aku datang ke kantormu ingin pulang bareng. Tapi kata orang kantormu, kalau kamu sudah keluar dari tadi pagi dengan si Edy. Benarkah itu Dae?" tanya Ilyas dengan suara tegasnya.
Dae terkejut mendengar Ilyas yang datang ke kantornya untuk menjemput. Dae harus jujur dan tidak ingin menyembunyikan hal ini dari Ilyas.
"Iya Yas, tadi aku keluar dari kantor bersama Presdirku. Kamu tumben jemput aku, apa lagi gak banyak kerjaan ya?" tanya Dae yang sengaja mengalihkan pembahasan.
"Iya, aku kangen sama kamu Dae. Aku baru balik dari Jogja tadi pagi. Karena urusan kerjaku di sana hanya satu hari. Makanya aku jemput kamu, pengen ngajak makan malam," jawab Ilyas sedih.
Dae menjadi sedih mendengar penjelasan Ilyas. Dia merasa sudah menjadi orang yang jahat dan kejam. Dae tidak ingin membuat Ilyas kecewa, dia meminta Ilyas menjemputnya ke rumah sekarang, karena mereka hampir sampai dirumah orang tua Dae.
"Yas, kamu datang aja, aku tunggu," ucap Dae.
"Baiklah kalau gitu, sekarang aku akan meluncur ke rumahmu ya. Kamu tunggu aku ya sayang," balas Ilyas dengan hati yang gembira.
"Iya, aku tunggu."
Lalu tlp pun dimatikan. Lagi-lagi Dae merasa bersalah karena tidak mengingat Ilyas kekasihnya. Dae pun tidak ingin jika dirinya merasa bersalah sepanjang hidupnya.
Di saat Dae diam , Edy mulai membuka suaranya.
"Udah selesai tlp nya Dae?" tanya Edy yang masih fokus menyetir.
"Udah Ed. Dia tadi datang ke kantor jembuot aku," jawab Dae serba salah.
Loh dia ke kantor ya tadi? Terus apakah dia tau kalau sekarang kamu pulang bareng aku?" tanya Edy.
"Aku juga gak tau Ed. Karena dia akan datang ke rumah menjemputmu," jawab Dae.
"Apa dia akan pergi bersama mu?" tanya Edy lagi yang semakin penasaran.
"Ya sepertinya begitu. Kami akan pergi keluar. Aku tidak ingin menutupi apapun saat ini dengan Ilyas," jawab Dae.
"Itu artinya kalian akan keluar malam ini?" tanya Edy lagi.
"Heum," Dae pun menganggukan kepalanya dengan baik.
__ADS_1
Edy dengan santai tetap membawa mobilnya. Walaupun hanya hatinya yang terluka dengan begitu sakit karena harus mendengar kalau Ilyas akan membawa Dae keluar.