Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri

Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri
Bab 106


__ADS_3

Setelah Dae mengungkapkan semuanya, dia merasa legah. Sedikit beban di hatinya hilang, hanya saja dia tidak ingin mengungkap kalau dia dan laki-laki itu sudah berhubungan intim. Dae takut hal serupa terjadi jika dia jujur Edy tidak bisa menerimanya dan mengucapkan kata-kata yang tak enak di dengar.


"Apakah ada lagi yang kamu sembunyikan sayang?" tanya Edy.


Dae tidak tau kalau ternyata Edy sudah mengetahuinya dari orang suruhannya yang di suruhnya mencari informasi tentang kepergian Dae ke Jogja kemaren.


"Eh udah ng--nggak ada Ed, semua sudah aku ceritakan kepadamu," jawab Dae dengan gugup.


Lalu Edy menangkup wajah Dae dengan kedua telapak tangannya dan menatap Dae dengan serius.


"Jujurlah sayang, aku tau masih ada yang kamu sembunyikan bukan?" tanya Edy dengan tatapan tajam.


"Ma--aksud kamu?" tanya Dae gugup. Dari wajah Dae sangat terlihat kalau dia masih menyimpan sesuatu dari Edy.


"Kamu harus jujur sayang. Aku bukan Ilyas yang akan membencimu," jawab Edy yang mencoba meyakinkan Dae untuk terbuka.


Lalu Dae melepaskan tangan Edy dari wajahnya. Dia menolak menatap Edy. Dae membuang wajahnya ke arah lain, dia tak berani melihat mata Edy yang sangat tajam.


"Maaf Ed, a--aku sudah berbuat kesalahan," jawab Dae tanpa melihat Edy.


Edy berusaha menahan emosinya karena orang yang di cintai ya harus tidur dengan orang lain karena perbuatan sahabatnya Dae sendiri.


"Hukuman apa yang harus aku berikan atas kesalahan itu?" tanya Edy yang tidak merubah ekspresinya.


Seketika Dae menoleh ke arah Edy. Dia tak percaya kalau Edy akan memberikan hukuman kepadanya. Namun Dae salah menilainya.


"Maksudmu hukuman apa? Te--tetapi aku tidak bersalah Ed. A--aku di jebak saat itu," ucap Dae membela dirinya.


"Lihat aku Dae, Apakah aku akan menghukummu?" tanya Edy sambil tersenyum.


"Loh tadi bukannya kamu akan menghukum ku?" tanya Dae meyakinkannya.


"Hahaha, sapa bilang aku akan menghukummu sayang," jawab Edy sambil menoel hidung Dae.


"Terus kalau bukan aku, sapa yang akan kamu huk...," Dae berhenti dan nalarnya langsung bekerja dengan baik. Dia pun melotot kan matanya menatap takut ke arah Edy.


"Ed jangan lakukan itu. Dia sahabatku," pinta Dae yang tau kemana arah maksud Edy.


"Kau baru menyadarinya? Hahaha, sungguh lambat sekali cara berpikir mu," balas Edy dengan senyum menyungging.

__ADS_1


"Ish....jangan mengejek ku ya. Aku tidak lemot. Aku hanya belum memikirkan nya ke arah sana," kesal Dae dengan cemberut.


"Sudah, jangan marah. Aku hanya kesal terhadap diriku yang tidak bisa menghukum orang yang sudah membuatmu seperti itu," ungkap Edy.


"Kamu tau?!" seru Dae tak percaya.


"Tentu aku mengetahuinya Dae. Aku mencari tau karena kemaren aku bertemu dengan Ani dan dia meminta waktu denganku," jelas Edy lagi.


"Apa...bertemu minta waktu berdua denganmu?" tanya Dae tak percaya akan pendengarannya.


"Ya, aku sengaja tidak mengatakannya denganmu, karena aku ingin mencari buktinya terlebih dahulu," jawab Edy. "Dae, katakan apakah aku harus diam saat mengetahui kamu dicelakai sahabat sendiri?" tanya Edy dengan tatapan menaham amarah.


"Maafkan aku Ed, aku takut kamu akan berbuat hal yang sama dengan Ilyas," ucap Dae yang akhirnya mengakui nya.


Edy langsung mengambil tubuh Dae dan mendekapnya dengan erat. "Aku tidak akan membencimu sayang, percayalah. Aku yang seharusnya minta maaf karena tidak bisa melindungi mu saat itu, maafkan aku Dae," balas Edy yang terus mendekap erat tubuh Dae.


Dae pun menangis karena merasa bersalah untuk yang kedua kalinya. Dia pun membalas pelukan Edy dengan erat.


"Ayo kita buka lembaran baru, mulai sekarang aku akan menutup hati hanya untukmu," ucap Dae bersungguh-sungguh.


"Termasuk Ilyas?" tanya Edy meyakinkan dirinya akan kata-kata Dae.


"Ya walaupun Ilyas. Karena aku hanya akan setia kepadamu Ed. Lusa kita akan mengadakan lamaran. Dan aku mau setelah lamaran, kita harus secepatnya menikah," ucap Dae menegaskannya.


Edy tersenyum melihat Dae, dia mengecup berulang kali pipi dan kening Dae karena rasa bahagia.


Akhirnya mereka sampai di kantor. Mobil di parkirkan di area depan kantor. Dae dan Edy keluar dari mobil secara bersamaan. Saat Dae melangkah bersama Edy memasuki kantor, banyak karyawan yang memandang dengan penuh tanda tanya.


"Lihat itu, kenapa dia bisa barengan sama Presdir?" tanya salah satu karyawan lain.


"Alah paling juga dia sengaja mendekati Presdir biar di taksir sama Presdir kita," sambung yang satunya lagi.


Ada juga di bagian Resepsionis menatap curiga ke arah Dae dan Presdir mereka.


"Eh lihat tuh, Bu Dae bisa dekat sama Presdir kita," ucap karyawan di meja itu.


"Hust gak usah urus urusan mereka. Mau Bu Dae sama siapapun itu seharusnya kita senang," protes temannya yang sedang berada di meja Resepsionis.


"Ih kamu ini kenapa harus mendukungnya sih?" tanya temannya dengan sewot.

__ADS_1


Sementara masih banyak karyawan lain yang


masih melihat kedatangan mereka berdua.


"Ini yang aku tidak suka. Mereka pada ngelihatin ke arah kita," kesal Dae.


"Sudah biarkan saja, itu bukan urusan kita," balas Edy santai.


Edy dan Dae berjalan memasuki lift spesial Presdir. Sementara lift yang khusus karyawan, sedang banyak yang menunggu di depannya.


Beberapa karyawan tidak berani secara langsung melihat ke arah Dae. Mereka hanya berani melirik sekilas saja.


"Nanti siang kita makan bersama di ruangan ku. Kamu harus datang," ucap Edy.


"Tapi kerjaan ku pasti banyak Ed, karena beberapa hari yang lalu aku meliburkan diri," balas Dae.


"Kalau kamu tidak ke ruangan ku, maka aku yang akan datang," ucap Edy memaksa.


"Kamu ini selalu memaksa keinginannya. Nyebelin banget sih," kesal Dae sambil mengerucutkan bibirnya.


"Kamu itu sangat menggemaskan sayang kalau lagi kesal begitu. Aku menyukainya," Edy memeluk Dae dari samping dan mengecup pucuk kening Dae.


"Ed, nanti Sekretaris kamu ngelihatin kita. Aku malu kalau kepergok sama mereka," protes Dae dengan sikap Edy.


"Siapa yang berani protes akan aku keluarkan dari Perusahaan Ku," balas Edy tersenyum.


"Itu namanya tidak profesional. Aku tidak suka," protes Dae lagi.


Ketika Edy sedang ingin mencium Dae, pintu lift itu terbuka. Di depan pintu lift sedang berdiri asistennya dan Sekretarisnya serta dua orang karyawan dengan jabatan Manager. Mereka terpelongo menatap tak percaya melihat keadaan Dae dan Edy di dalam lift. Namun Edy terlihat cuek acuh tak acuh. Sedangkan Dae, wajahnya sudah memerah malu karena kepergok dengan mereka.


Dae yang memang di minta Edy untuk ke ruangannya, ternyata mendapatkan kesialan. Dia harus menahan malu dengan perlakuan Edy yang terlalu intim.


"Maaf Presdir, kami tidak sengaja melihatnya," ucap salah satu Manager.


"Ah iya, kami tidak sengaja," ulang Manager satunya lagi.


Lalu pintu lift karyawan yang bersebelahan dengan lift khusus Presdir akhirnya terbuka. Kedua Manager itu pamit kembali ke ruangannya.


"Maaf Presdir, kami permisi," ucap Manager satu mewakili temannya.

__ADS_1


Edy dengan santai membalasnya dengan senyuman saja. Lalu dia pun berjalan santai menggenggam tangan Dae ke ruangannya tanpa perduli dengan tatapan karyawannya. Sementara asisten dan Sekretarisnya sudah paham dan mengerti kalau Presdir mereka memang sangat mencintai Dae.


__ADS_2