
Dae bergegas menutup pekerjaannya dan turun ke lantai bawah. Dia tidak ingin membuat kantornya gempar karena kehadiran sosok Presdir dari klien mereka.
"Hah, apa kata dunia, jika melihat gw jalan sama Presdir arogan itu. Bisa pingsan seluruh perempuan di kantor ini. Apalagi si Presdir kulkas. Bisa banyak pertanyaan dia nanti kalau lihat gw," bathin Dae yang menunggu lift terbuka.
Saat pintu lift terbuka, Dae yang tak memperhatikan ke depan karena buru-buru, akhirnya dia menabrak seseorang yang tak lain adalah Presdirnya.
"Awwww, jalan pakai mata dong....!" bentak Dae yang tidak mengetahui siapa yang ditabraknya.
"Hmmm, kamu sepertinya cinta banget sama saya ya hingga dengan suka rela menabrakkan tubuhmu ke pelukanku," ucap Edy dengan suara baritonnya.
Dae terkejut mendengar suara yang familiar ditelinga nya. Dia mendongak dan menatap wajah Presdirnya yang kulkas nan mesum itu. Dae ingin berlari sekencang mungkin demi menghindari masalah dari Presdirnya. Namun kakinya terasa berat seperti ditimpa tumpukan batu hingga tak bisa bergerak.
"Presdir," Dae menelan ludahnya dengan berat.
"Heum."
"Ma..maaf, saya tidak sengaja Presdir. Sekali lagi saya minta maaf karena tidak berhati-hati," ucap Dae dengan membungkukkan kepalanya sedikit.
"Sepertinya kamu terburu-buru, apa ada yang lebih penting, sehingga kamu tak memperhatikan saya," celetuk Presdirnya.
"Duh....nih orang cerewet banget. Perasaan kalau di kantor gw jarang denger dia banyak ngomong. Kenapa sama gw seperti emak gw yang suka ngerep ya," bathin Dae.
"Kamu kalau diajak ngomong, suka banget melamun. Apa kamu sedang membayangkan saya memelukmu dengan mesra," ucap Edy menggoda dengan mendekatkan wajahnya ke arah Dae.
Sedangkan di luar sana, Ilyas menunggu dengan gelisah. Dia tidak betah berlama-lama menunggu, apalagi di dalam mobil. Akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke dalam Perusahaan itu menemui Dae.
Ilyas berjalan ke arah Perusahaan itu dan memasukinya. Receptionist terkejut melihat kehadiran Presdir Ilyas. Lalu Ilyas melangkah terus kearah lift yang ternyata ada pemandangan yang tak menyenangkan di hati Ilyas. Dia berjalan menghampiri Edy dan Dae yang masih setia berdiri.
Edy tak menyadari kehadiran Ilyas karena posisinya yang membelakangi. Namun berbeda dengan Dae, dia terkejut dan wajahnya pucat seperti orang yang sedang melihat hantu.
"Kenapa tiba-tiba wajahmu pucat begitu Dae? Kamu sakit ya?" tanya Edy yang mencoba memegang pipinya.
Namun saat tangan Edy hendak menyentuh pipi Dae, mereka mendengar deheman seseorang.
"Ekhem ekhem," Ilyas sengaja berdehem karena gak tahan melihat kekasihnya yang digoda seorang laki-laki.
Edy terdiam dan mengembalikan tangannya di sakunya. Lalu dia menoleh kebelakang melihat siapa yang berani mengganggu kesenangannya. Dia berbalik dan berhadapan dengan Ilyas. Mereka saling melempar tatapan tajam dan tanpa ekspresi.
__ADS_1
"Presdir Edy, saya akan mengajak Dae keluar. Bisakah anda tidak menghalangi jalannya?" ucap Ilyas datar.
"Jangan bilang anda kesini hanya untuk Dae?" tanya Edy tak kalah sengit.
"Tepat sekali, saya menjemput kekasih saya dan ingin mengajaknya makan siang bersama," tegas Ilyas.
Sontak Edy terkejut mendengar kata kekasih yang diucapkan Presdir Ilyas. Sedangkan Ilyas langsung menarik tangan Dae dari hadapan Edy. Mereka bergegas berjalan keluar dari kantor hingga membuat banyak mata memandang penuh curiga.
Edy yang terkejut, belom sadar dan dia masih setia berdiri di depan lift. Hingga Asisstentnya keluar dari lift dan menegur Presdir Edy.
"Presdir, kenapa anda melamun?" tanya Asisstentnya yang bingung dengan keadaan Presdirnya.
"Heum," hanya itu jawabannya.
Lalu Edy masuk ke dalam lift dengan berbagai pertanyaan yang menari-nari di kepalanya.
"Kamu selidiki Dae dan Ilyas. Apa hubungan mereka, sekarang!" perintah Edy dengan Asisstentnya.
"Baik Tuan," jawab Li.
Sementara di dalam mobil, Ilyas menatap tajam Dae meminta pembelaan dari Dae.
"Ya sudah kita berangkat sekarang. Aku udah laper. Aku harap kamu tidak memberi peluang terhadapnya," ucap Ilyas tanpa menoleh kearah Dae.
"Apa kamu cemburu Yas?" tanya Dae tersenyum.
"Aku tidak ingin mengakuinya, tapi kamu saja yang mengartikannya sendiri," jawab Ilyas yang tidak mengakuinya.
"Hemmm, dasar cowok arogan. Kalau cemburu, bilang aja kenapa. Pakai gengsi segala mengakuinya," bathin Dae sambil melihat ke jalanan.
Sepanjang perjalanan tidak ada yang bersuara. Semua hening, sibuk dengan pikiran masing-masing. Dae menatap jalanan melalui kaca jendela di sampingnya. Dan Ilyas fokus menyetir. Hingga akhirnya mereka sampai di cafe yang diinginkan Dae.
"Ayo, kita keluar. Aku ingin membawa kamu makan disini," ajak Ilyas.
"Aku suka banget tempat ini. Dari dulu aku ingin makan bersama kekasihku kelak, dan sekarang keinginanku terwujud!" pekik Dae kesenangan.
"Aku tau, makanya aku bawa kamu kesini," ucap Ilyas.
__ADS_1
"Tunggu, dari mana kamu tau aku ingin makan disini? Jangan bilang kamu menyelidiki tentangku," Dae menatap Ilyas penuh selidik.
"Kamu gak perlu tau, kamu kekasihku sekarang. Wajar aku ingin mencari tau kesukaan kamu dan semua tentang kamu," balas Ilyas.
"Ya, ya, ya. Kamu bisa melakukan apapun."
"Ayo masuk ke dalam. Aku sudah memesan tempat buat kita berdua," Ilyas merangkul pinggang Dae dan berjalan memasuki cafe tersebut.
Dae tersipu malu dengan perlakuan Ilyas yang mesra seperti itu. Dia tak menyangka Ilyas bisa romantis begitu.
Mereka masuk ke dalam cafe dan langsung diarahkan ke tempat yang sudah di pesan. Dae melihat takjub ruangan yang khusus di sediakan untuk mereka berdua. Ruangan yang sudah di dekorasi indah dengan bunga tulip warna warni serta alunan musik yang romantis. Dae menoleh kearah Ilyas dan tersenyum senang.
"Kamu suka dengan kejutan ini sayang?" tanya Ilyas tanpa menoleh ke Dae.
Dae menganggukkan kepalanya sambil mengedarkan pandangannya kesegala arah.
"Aku suka banget Yas. Ini benar-benar indah. Aku gak nyangka kamu bisa romantis juga ya," ucap Dae memuji sekaligus menyusutkan senyum dibibir Ilyas.
"Apa ku suka kalau aku menjadi orang yang romantis?" tanya Ilyas lagi.
"Aku suka kamu seperti biasa, agar tidak ada perempuan lain yang mencoba mendekatiku," jawab Dae malu-malu.
Ilyas mengusap kepala Dae dan berkata," kamu lucu, terlalu jujur. Tapi aku suka dengan semua yang ada di diri kamu," ucap Ilyas.
Mereka berjalan menuju meja yang sudah di pesan. Ilyas mempersilahkan Dae duduk, lalu dia duduk di tempatnya. Setelah itu makanan yang sudah di pesan Ilyas, langsung di hidangkan di hadapan mereka.
Dae menatap laper kearah hidangan itu. Dia tak menyangka, Ilyas benar-benar mempersiapkan semuanya untuk makan siang mereka.
"Wah....Yas, bolehkah aku menghabiskan semuanya? Ini benar-benar menggugah seleraku," ucap Dae yang hampir meneteskan air liurnya.
"Hahaha, apa kamu tidak takut gemuk yanx?" tanya Ilyas yang memanggil Dae dengan sebutan baru.
"Ah...Yas, aku sangat menyukai makanan itu. Kau harap kamu mengizinkanku menghabiskannya," ucap Dae sambil memainkan matanya dengan imut.
"Heum, baiklah. Aku izinkan kamu menghabiskannya. Asal kamu kuat memakannya," balas Ilyas.
"Kamu tenang aja Yas, aku pasti kuat memakannya."
__ADS_1
Lalu mereka menikmati makan siang yang romantis. Dae benar-benar kelaparan. Dia tak memperdulikan pandangan Ilyas terhadapnya. Baginya memakan semua hidangan itu hal yang menyenangkan.