Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri

Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri
Bab 43


__ADS_3

Edy masih sibuk dengan pekerjaannya hingga dia tidak ada waktu untuk mengganggu Dae. Dia harus mengesampingkan rasa rindu yang ada dihatinya.


Sedangkan Dae juga larut dalam pekerjaannya. Tidak ada yang mengganggunya pagi ini sampai menjelang siang jam istirahat.


Ani sahabat Dae datang ke dalam ruangan Dae yang tak terkunci.


"Dae, ayo kita makan siang bareng. Gw lagi males nih makan diluar. Pengennya makan di kantin," ajak Ani sahabat Dae.


"Jangan bilang Lo lagi ngidam. What...., Lo lagi hamil...!" teriak Dae sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Ih...., jangan asal ngomong ya Dae..! Gimana kalau ada yang mendengarnya? Mereka pikir gw beneran hamil tau?" marah Ani yang kesal mendengar ucapan Dae.


"Hehehehe, sorry say, habis Lo tumbenan pengen makan di kantin kantor. Emang kekasih Lo kemana?" tanya Dae menaik-naikkan alisnya.


"Dia lagi gak ada waktu buat gw. Katanya sih dia lagi sibuk, jadi gak bisa ngajak makan siang diluar," jawab Ani merasa sedih.


"Ya gak apa-apa dong An, kasih dia waktu untuk dirinya sendiri. Dan Lo bisa makan siang bareng gw," ucap Dae menasehati Ani.


"Emang Lo gak keluar sama si Arogan?" tanya Ani.


"Nggak, dia juga belom ada khabarnya. Gw sih gak mau duluan menghubungi dia, gengsi dong," jawab Dae.


"Kok sama kekasih gengsian gitu sih Dae. Lo keras kepala banget," celetuk Ani.


"Siapa yang kekasih?" tanya Dae pura-pura bodoh.


"Lo sama si Arogan kan udah jadian?" tanya Ani.


"Masa sih, kok gw lupa ya. Emang gw cerita sama Lo kalau kami jadian?" tanya Dae balik.


"Ya ampuuun Dae..., ya udah sekarang kita ke kantin. Gw udah laper nih," ajak Ani merengek.


"Iya, iya, bentar dong Ani...!" seru Dae.


Lalu mereka berdua keluar dari ruangan Dae. Mereka berjalan ke arah kantin. Banyak mata yang memandang sinis ke arah mereka. Terutama melihat sosok Dae.


"An, kok mereka lihatin gw seperti itu ya?" tanya Dae bingung.


"Ah udah gak usah dilihatin. Nanti juga matanya capek kalau kelamaan liatian elo," jawab Ani seenaknya.


"Ya gw kan pengen tau aja kenapa pada lihatin gw begitu. Apa perlu gw samperin aja kali ya," ucap Dae yang merasa geram.


"Udah jangan dihiraukan. Biarkan mereka seperti itu," balas Ani.


Dae pun mencoba tak menghiraukan tatapan karyawan lainnya. Akhirnya mereka memilih tempat duduk yang jauh dari pandangan karyawan lain.


"Dae, Lo mau mesan apa?" tanya Ani.


"Ya biasalah, sama Capuccino susu dingin ya An," jawab Dae.


Lalu Ani beranjak dari meja mereka dan berjalan ke tempat pemesanan untuk memesan makanan.

__ADS_1


Di ujung dekat pintu masuk kantin, ada seseorang yang sedang memperhatikan Dae dan Ani. Dia menyunggingkan senyum sinisnya menatap Dae. Dia adalah Pak Raffi yang sedang makan siang di kantin bersama beberapa karyawan lain.


"Sepertinya anda selalu memperhatikan Bu Dae, Pak Raffi?" tanya salah satu Manager yang juga makan di kantin.


"Hahahaha, ingat Pak Raffi dengan istri di rumah," ledek yang lainnya.


"Dirumah ya diruumah. Di luar lain cerita," balas Pak Raffi.


"Waowww...jadi Pak Raffi beneran kepincut dengan Bu Dae?" tanya Manager itu.


"Gimana gak tertarik. Dia berbeda dengan istri gw yang sukanya menghabiskan uang gw dengan belanja ini itu," jawab Pak Raffi.


"Emang Pak Raffi tau tentang Bu Dae? Atau malah Bu Dae juga seperti itu," ucap yang lainnya.


"Benar, namanya wanita pasti sukanya belanja ini itu menghabiskan uang suaminya. Apalagi kalau lihat tetangga punya yang berlebih, udah pasti rasa kepengennya melambung tinggi," balas Manager itu.


Dan sontak saja perkataan itu membuat ketiganya tertawa terbahak-bahak.


Sedangkan di meja Dae, Ani datang membawa pelayan yang membawakan makanan mereka.


"Ini Mbak pesanannya," ucap pelayan itu sambil meletakkan makanannya.


"Makasih ya Mbak," balas Ani dan Dae bersamaan.


Lalu keduanya menikmati makan siangnya. Dae sesekali mengecek ponselnya. Namun tak ada satupun pesan yang datang ke no nya.


"Kemana dia? Kenapa gak ada khabar ya?" pikir Dae sambil mengunyah makanannya.


Ani terus saja memperhatikan tingkah sahabatnya itu. Dia melihat Dae yang sedang memikirkan sesuatu.


"Ah, siapa yang bengong. Nih gw lagi makan kok," ngeles Dae.


"Kalau makan kenapa Lo seperti orang yang sedang mikir. Emang lagi mikirin apa sih Dae?" tanya Ani lagi.


"Gak ada, benaran An, gw gak ada mikirin apa-apa," jawab Dae berkilah.


"Ya sudah kalau Lo gak mikirin apa-apa. Ngomong-ngomong, besok katanya Presdir dan beberapa Manager disini akan keluar kota," ucap Ani memberitahu.


"Iya gw udah dengar tentang itu," balas Dae.


"Emang Lo gak ikut Dae?" pancing Ani.


"Mana mungkin gw gak ikut. Gw Manager Promotion, ya tentu ikut An," ucap Dae.


"Oh ya...! Wah gw jadi sendirian nih disini. Emang jam berapa berangkatnya?" tanya Ani.


"Katanya sih pagi. Tapi gw juga belom tau pastinya. Kenapa rupanya An?" tanya Dae curiga.


"Ah gak kenapa-napa kok Dae. Yuk habiskan sarapannya," ajak Ani.


Ani berpikir, bahwa posisi Dae sebagai Manager sangatlah nyaman. Hingga muncul rasa cemburu di mata Ani. Dia membayangkan posisi Dae yang menguntungkan bisa dekat dengan beberapa CEO muda.

__ADS_1


"Kenapa gw mikir gitu? Dia kan sahabat gw, masa cemburu sama sahabat sendiri," bathin Ani yang berusaha menghentikan pemikirannya yang salah.


Setelah menghabiskan makan siang, mereka kembali ke ruangan masing-masing.


"Dae, nanti pulang bareng siapa?" tanya Ani sebelum meninggalkan Dae.


"Kayaknya pulang sendiri deh An, kenapa?" tanya Dae.


Mereka ngobrol sebentar di depan ruangan Dae sebelum keduanya kembali keruangan masing-masing.


"Pengen bareng aja, bisakan?" tanya Ani.


"Tentu bisa. Nanti khabari aja kalau mau pulang ya," ucap Dae.


"Ok, gw masuk dulu ya," balas Ani.


Dae pun mengangguk, dan dia pun segera masuk ke ruangannya.


Dae tak menyadari jika seseorang sudah menunggunya dari tadi. Saat Dae masuk, dia berjalan ke arah meja kerjanya. Hingga suara deheman menyadarkannya.


Dae diam di tempat, tak berani membalikkan tubuhnya.


Lalu dari belakang ornag tersebut memeluk pinggang ramping Dae dan mengendus leher putih mulus Dae.


"Presdir, apa yang anda lakukan?" tanyanya.


"Dae, aku merindukanmu dari tadi. Kenapa kamu masih memanggilku dengan sebutan Presdir. Kamu harus memanggilku sayang," ucap Edy memaksa.


"Tapi ini di kantor, bagaimana jika ada yang masuk ke dalam?" tanya Dae deg-degan.


Edy memang sering melakukannya, namun setiap berdekatan dengannya, Dae selalu merasakan jantungnya berdebar.


"Dae, kenapa kamu gak menungguku makan siang?" tanya Edy manja.


"Kalau aku menunggu kamu, ya keburu laper dong," jawab Dae masih dengan posisi dipeluk dari belakang.


"Kenapa kamu gak menghubungiku?" tanya Edy lagi.


"Buat apa?" Dae malah balik bertanya.


"Buat nanya mau makan barengan gak?!" ucap Edy mengajari Dae.


Edy tak memberi kesempatan buat Dae untuk lepas dari pelukannya. Edy semakin melancarkan aksinya. Dia mengendus-endus leher Dae dan sesekali mengecupnya.


Dae merasa geli dan hasratnya hampir terpancing, dia memaksakan diri untuk lepas dari pelukan Dae.


"Sayang, kamu jangan bergerak terus. Nanti gerakan kamu bisa membuat senjataku menuntut," goda Edy.


Dae yang mendengar perkataan Edy, langsung diam tak berani lagi mencoba berusha melepaskan diri.


"Edy, tolong jangan seperti ini. Aku gak enak sama yang lainnya. Bagaimana jika ada yang masuk begitu saja?" tanya Dae kesal.

__ADS_1


"Biarkan mereka tau kalau kau milikku," jawab Edy seenaknya.


Dae semakin kesal namun dia tak bisa berbuat apa-apa. Dia membiarkan Edy melakukan sesuka hatinya.


__ADS_2