Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri

Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri
Bab 40


__ADS_3

Ntah kenapa, saat berbicara dengan Edy pagi ini, Dae merasa Edy tak bersahabat saat menatapnya.


"Saya akan memberitahukan kepada orang tua saya terlebih dahulu Presdir," ucap Dae canggung.


"Saya yang akan memberitahukannya Dae. Kamu tinggal bersiap-siap saja, saya kan sudah bilang tadi," tegas Edy yang masih menatap Dae dengan dingin.


"Baik Presdir. Apa ada lagi yang perlu di bahas Presdir? Kalau tidak saya akan kembali keruangan saya," pamit Dae.


"Tidak, silahkan," balas Edy acuh tak acuh.


"Permisi Presdir."


Dae merasa hatinya seperti tertusuk belati tajam, menghunus tepat di jantungnya. Rasanya sakit saat Edy bersikap acuh tak acuh dengannya. Dae keluar dari ruangan dengan rasa kesal dan marah.


"Baru kemaren dia menikmati tubuh gw dan mengatakan cinta yang berlebihan. Sekarang malah dia sudah kembali ke habitatnya, dingin seperti kulkas," Dae pun mendengus.


Lalu dia berjalan ke lift tanpa memperdulikan adanya Asisten Li dan Sekretaris Lu di luar ruangan. Dae terus berdiri menunggu lift terbuka. Setelah lift itu terbuka, Dae masuk dan kembali keruangannya.


Sedangkan diruangan Presdir. Edy masih menatap pintu itu dengan tatapan dinginnya. Saat melihat Dae menemuinya, dia ingin meluapkan kerinduannya terhadap Dae. Namun dia teringat tentang Dae yang kemaren malam pergi bersama Ilyas. Edy tidak mungkin menceritakan siapa Ilyas. Dia hanya ingin, Dae mengetahuinya sendiri kelak.


Edy hanya menginginkan Dae bisa mencintainya, sebesar dia mencintai Dae. Lalu Asisten Li masuk ke dalam ruangannya.


"Presdir, untuk persiapan besok, semua sudah dibereskan. Apa ada hal yang harus saya lakukan" tanya Asisten Li.


"Tidak, pastikan saja semua tidak ada kendala. Saya akan berangkat bersama Dae. Siapkan semuanya," perintah Presdirnya.


"Siap Presdir," balas Asisten Li menunduk. Lalu dia keluar dari ruangan itu.


Edy kembali berkutat di depan laptopnya. Dia memandang layar monitor yang memperlihatkan sosok Dae di dalam ruangannya. Ya Edy sengaja memasang kamera pengintai untuk melihat Dae diruangan itu.


Itu perbuatan yang sangat melanggar, apalagi jika Dae sampai tau kalau Edy memantaunya.


Di ruangan Dae, dia kedatangan tamu yang tak diinginkannya. Siapa lagi kalau bukan Pak Raffi.


Manager Raffi masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu ruangan itu terlebih dulu.


"Pagi Bu Dae!" sapa Pak Raffi saat dia masuk ke dalam.


Dae menatap laki-laki itu dengan wajah datar tanpa menggubrisnya.


"Hmmmm, sepertinya saya tidak disambut diruangan ini. Apa mungkin ada seseorang yang sudah mendahului saya?" tanya Pak Raffi dengan beraninya.

__ADS_1


Dae berdiri dari kursinya sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Ada keperluan apa anda kemari? Kalau tidak ada hal penting, silahkan anda keluar," Dae mengusirnya.


"Ho ho ho, Dae, apa kamu tau. Setiap malam saya selalu merindukanmu. Kenapa kamu tidak mau juga sama saya?" tanya Pak Raffi tanpa tau malu.


"Apa anda tidak punya malu mengatakan hal seperti itu? Anda sudah beristri, tidak pantas mengatakan itu," sarkas Dae.


"Hahahahaha, jangan terlalu naif Dae. Diluar sana bahkan banyak yang lebih buruk dari saya. Kalau hanya punya istri lebih dari satu tapi adil dalam berbagi, kenapa tidak!" ucap Pak Raffi dengan menjijikkan.


Mendengar kata-kata menjijikan itu, rasanya Dae ingin melempar mahluk ini ke lautan yang banyak menyimpan hiu putih ganas.


"Saya masih banyak pekerjaan. Anda silahkan meninggalkan ruangan saya," ucap Dae tegas.


Pak Raffi mendekati Dae, dia mencondongkan tubuhnya, namun tepat pada saat itu pintu ruangan Dae terbuka lebar. Hingga menampilkan sosok yang sangat dingin seperti kulkas.


"Ekhem ekhem," Edy sengaja berdehem.


Pak Raffi terkejut mendengar suara deheman dibelakang punggungnya. Lalu dia menoleh dan melihat Presdir mereka berdiri di depan pintu.


"Eh Presdir, saya baru saja mengunjungi Bu Dae. Sekalian mau menyampaikan untuk pekerjaan kita yang akan berangkat lusa. Saya hanya ingin menanyakan apakah Bu Dae sudah mengetahuinya," jelas Pak Raffi yang terlihat seperti orang bodoh.


"Baik Pak, saya akan kembali ke ruangan saya, permisi," Pak Raffi membungkukkan sedikit kepalanya dan berjalan keluar melewati Presdir Edy.


Setelah kepergiannya, Edy menatap tajam ke arah Dae. Sedangkan Dae acuh tak acuh melihat kehadirannya.


Lalu tanpa berkata-kata, Edy langsung keluar dari ruangan Dae. Tentu saja itu membuat Dae semakin kesal dengan sikap dingin Edy.


"Dasar kulkas, gak punya perasaan," gerutu Dae dengan kesal.


Edy yang masih berada di dekat pintu ruangannya, tersenyum mendengar omelan Dae terhadap dirinya.


"Aku akan membuatmu tersiksa Dae, hingga kamu merasakan cinta yang sebenarnya," bathin Edy sambil menyunggingkan senyumnya.


Dae masih gak habis pikir dengan sikap dingin Edy yang mendadak berubah.


"Apa ada yang salah dengan gw ya? Kenapa dia seperti itu? Hah..., mana lagi lusa harus berangkat ke Jogja bareng dia. Gw semakin tersiksa dengan sikapnya itu. Apa sih maunya dia?" gerutu Dae di dalam ruangannya itu.


Dae tak menyadari kalau gerak-geriknya diruangan itu dapat dilihat sama Edy. Dan apa yang terjadi saat ini dengan Dae, tentu saja Edy mengetahuinya. Hingga dia langsung pergi ke ruangan Dae. Dan omelan kekesalan Dae pun, Edy mengetahuinya.


Ada senyum cerah terbit di mata Edy hingga membuat bibirnya melengkung keatas. Edy tertawa sesekali dan tersenyum. Mungkin kalau ada yang melihatnya, mereka akan beranggapan, kalau Presdir mereka kesurupan.

__ADS_1


Hingga sore pun datang, jam pulang kantor akhirnya tiba. Tepat jam 16.30, beberapa karyawan sudah keluar dari Perusahaan itu. Begitu juga dengan Dae. Dia keluar dari lift bersama sahabatnya Ani.


"An, Lo dijemput ya sama pacar Lo?" tanya Dae.


"Iya Dae, katanya sih udah dijalan. Lo pulang sendiri?" tanya Ani yang sedang duduk di lobby.


"Iya gw pulang sendiri. Ya udah kalau gitu, gw duluan ya," ucap Dae yang langsung berdiri.


"Iya deh, gw nunggu sendirian dong disini," sindir Ani.


"Lo mau ditemani? tanya Dae dengan polosnya.


"Ihhhh, Dae, Lo gitu amat sih jadi sahabat. Tega banget ninggalin gw sendirian di lobby," Ani mengomel.


"Iya deh, gw temani. Gw duduk lagi nih."


"Nah gitu dong. Oh ya emang Lo gak pulang bareng ayang Edy?" tanya Ani menggoda.


"Ayang, ayang apaan. Sejak kapan gw ayangan sama tuh kulkas," jawab Dae.


"Masa sih Presdir kita kulkas?" pancing Ani.


Dae tak menyadari sosok yang sedang dibicarakan mereka sedang berdiri dibelakang Dae.


"Ya emang kayak kulkas, dingin banget dan pelit mengeluarkan kata-kata," jawab Dae.


"Bukannya Lo kemaren dekat sama Presdir ya?"


"Dekat apanya. Dia tuh orangnya aneh, kadang enak tapi bisa kembali dalam sekejap ke habitatnya, jadi kulkas, hihihi," Dae puas mengatasi Presdirnya sambil cekikikan.


Ani yang mendengar Dae mengatai Presdir mereka, wajahnya semakin pucat. Dia ingin kabur dan sembunyi amarah Presdirnya.


Lalu tlp Ani berdering dan itu dari pacarnya. Ani merasa bersyukur telah diselamatkan oleh pacarnya yang sudah ada di depan.


"Dae, gw duluan ya. Pacar gw udah di depan," pamit Ani.


Lalu Ani menundukkan kepalanya ke Presdir mereka dan berkata.


"Maaf Presdir, saya duluan," pamit Ani yang langsung berjalan langkah seribu.


Sepanjang jalan menuju mobil pacarnya, Ani tak henti-hentinya mengusap-usap dadanya yang merasa legah.

__ADS_1


__ADS_2