
Saat pintu lift terbuka, Asistent Edy melihat Dae dan Pak Raffi sedang berdua di dalam lift. Namun dia menangkap wajah amarah yang dipancarkan Dae.
"Ada apa Bu Dae?" tanya Asistent itu langsung.
"Ah tidak ada apa-apa Asistent Presdir. Kami hanya membahas tentang pekerjaan saja, benarkan Bu Dae?" ucap Pak Raffi yang meminta dukungan Dae.
"Tidak, kamu tidak sedang membahas pekerjaan. Kami sedang berdebat," balas Dae jujur.
Lalu Dae keluar dari lift itu dan meninggalkan Pak Raffi bersama Asistent Li.
Asistent Li langsung masuk dan curiga dengan sikap Dae yang tidak menyukai Pak Raffi.
"Ah silahkan Asistent Li," ucap Pak Raffi dengan hormat.
"Heum," balasnya acuh.
"Syukur dia tidak mendengar apa yang aku ucapkan sama si Dae itu," bathin Pak Raffi sambil mengusap-usap dadanya merasa legah.
Dae langsung masuk ke dalam ruangannya. Dia melirik ke jam yang berada diatas meja kerjanya. Lalu dia melihat tanggal di kalender yang ada di atas mejanya juga.
"Hah, ternyata sudah lama tidak berkomunikasi dengan Ilyas. Bagaimana khabarnya ya?" bathin Dae yang mengingat Ilyas.
Setelah puas dengan memikirkan Ilyas, Dae kembali fokus bekerja. Hingga jam pun menunjukkan pukul 16.30. Dae menyudahi pekerjaannya. Dia mulai merapikan barang-barangnya diatas mejanya.
"Akhirnya gw bisa pulang sekarang. Kayaknya jalan sendiri ke Mall boleh juga," gumam Dae yang semangat untuk pergi sendirian ke Mall.
Dae keluar dari ruangannya dan di menuju lift yang ternyata langsung terbuka. Dae pun buru-buru masuk ke dalam lift. Dae tidak ingi bertemu dengan yang lainnya terutama Ani dan Pak Raffi. Setelah lift sampai di lantai bawah dan terbuka, Dae keluar dan memperhatikan sekeliling ruangan lantai bawah.
Dae mempercepat langkahnya hingga dia bisa keluar dari perusahaan itu tanpa bertemu yang lainnya. Keadaan kantor memang sudah mulai sepi karena para karyawan sudah banyak yang pulang dari kantor.
Dae merasa legah, dia berjalan sedikit menjauh dari kantornya. Namun dia tidak memperhatikan kalau ternyata ada seseorang yang sedang mengikutinya.
Hingga Dae berjala hampir mencapai halte, mobil itu berhenti menghadangnya. Lalu dari pintu belakang keluar sosok pria tampan yang sangat dikenal Dae dan dirindukannya. Tak dipungkiri, walaupun kata-kata Ilyas sangat menyakiti Dae, namun perasaan Dae terhadapnya tidak bisa bilang begitu saja.
"Ilyas," Dae terkejut melihat kehadiran Ilyas.
Ilyas tersenyum berjalan menghampiri Dae yang diam terpaku.
__ADS_1
"Apa khabar Dae?" tanya Ilyas yang sudah berdiri dihadapan Dae.
Dae masih diam terpaku menatap Ilyas dengan penuh kerinduan. Ingin rasanya Dae melompat ke dalam pelukan Ilyas, namun itu tidak mungkin karena Ilyas sudah memutuskan hubungan mereka.
"Dae, kamu baik-baik aja kan?" tanya Ilyas sambil memegang bahu Dae.
"Ah iya, aku baik-baik aja kok. Maaf, aku sedikit syok melihat kehadiranmu," balas Dae dengan jujur.
"Kamu mau pulang? Aku antar ya," tawar Ilyas.
"Ah tidak usah Yas, aku bisa pulang sendiri," jawab Dae merasa canggung.
"Aku ingin bicara sama kamu Dae. Mau ya aku antar pulang. Tapi kita makan malam dulu, mau ya," bujuk Ilyas dengan wajah manjanya.
Ilyas tidak berubah, dia bisa bersikap dingin dan kejam, tapi dihadapan Dae dia sangat manja dan lembut.
Dae masih mempertimbangkan ajakan Ilyas. Dia masih takut kalau Ilyas marah terhadapnya.
Ilyas bisa melihat ketakutan di mata Dae. Lalu dia mengambil tangan Dae dan menggenggamnya. "Maafkan aku Dae," ucap Ilyas dengan tulus.
Lagi-lagi Dae terkejut sampai mulutnya menganga terpelongo mendengar permintaan maaf Ilyas.
"Untuk semua kesalahanku dan kata-kata ku yang kurang enak di dengar," jawab Ilyas yang terus menatap Dae. "Ayo sebaiknya kita bicara di dal mobil saja," ajak Ilyas.
"Baiklah," Dae pun menyetujui ajakan Ilyas. Mereka berjalan dan masuk ke dalam mobil Ilyas. Dae dan Ilyas duduk di bangku belakang.
"Kita makan dulu ya Dae, kamu pasti sudah laper," ajak Ilyas.
Ilyas mengajak Dae makan ke tempat favorite mereka. Tempat yang sering dikunjungi Dae dan Ilyas.
"Iya, tapi jangan lama-lama pulangnya. Aku takut Mama dan Papa mencari ku," balas Dae.
"Iya, aku hanya ingin kita ngobrol banyak Dae. Sudah lama aku tidak melihat senyummu," ucap Ilyas.
"Maaf, karena aku sudah berbuat tidak baik terhadapmu," sesal Dae sambil menundukkan kepalanya yang tak berani menatap Ilyas.
"Aku sudah memaafkan mu Dae. Sungguh aku gak bisa melupakanmu. Jujur aku sangat sakit hati sekali karena hubunganmu dengan dia. Aku mencoba fokus bekerja dan melupakanmu serta mencoba membuat diriku membencimu. Namun aku tidak bisa Dae. Aku sangat mencintaimu," ungkap Ilyas semuanya dengan jujur.
__ADS_1
Dae menatap manik mata Ilyas dan mencari kejujuran dalam matanya atas ucapannya barusan. Dan Dae melihat tidak ada kebohongan dalam ucapannya.
Dae langsung memeluk Ilyas dan menangis dalam pelukannya. Rasa bersalah karena pengkhianatan membuat Dae terus menangis.
"Aku tau kamu masih mencintaiku. Maafkan aku yang telah membiarkanmu menjalani hidup dalam keadaan putus asa kemaren. Aku tidak akan mengulanginya lagi dan akan tetap menerima apapun itu," ungkap Ilyas yang membalas pelukan Dae. Ilyas mengecup pucuk kepala Dae dan mengusap lembut rambut Dae dengan penuh kerinduan.
Tiba-tiba Dae teringat akan Edy yang sudah melamarnya dan akan mengadakan pertunangan Minggu ini.
"Maaf Yas, kamu terlambat," Dae langsung melepaskan dirinya dari pelukan Ilyas.
"Maksud kamu terlambat?" tanya Ilyas cemas.
Ilyas takut akan kenyataan kalau Dae dan Edy menjalin hubungan serius.
"Jangan bilang kamu dan dia sudah resmi menjalin hubungan?" tanya Ilyas menebak.
Dae menggelengkan kepalanya sambil terisak. Dia tak berani menatap Ilyas yang pastinya lebih terluka dengan kejujuran dan kenyataan yang ada.
"Jadi apanya yang terlambat Dae?" tanya Ilyas lagi.
"Aku akan bertunangan Minggu ini. Dan dia datang melamarku tanpa sepengetahuanku. Dan orang tuaku setuju kami bertunangan dan akan segera menikah," jawab Dae dengan wajah sedih.
Seketika jantung Ilyas berdetak kencang. Rasanya dunia akan berakhir baginya. Ilyas tak percaya mendengar pengakuan Dae kekasihnya.
"Kamu bohong kan Dae?" tanya nya gak percaya.
"Itu kebenarannya Yas. Kamu terlambat, seandainya kamu datang menemuiku saat itu sebelum dia datang, pasti aku akan menolaknya," jawab Dae jujur. Perasaan Dae terhadap Edy masih bimbang. Hatinya dan cintanya memang sudah berlabuh untuk Ilyas.
Namun setelah Edy melamarnya, dia pun memutuskan untuk membuka hatinya selebar-lebarnya dan membuka lembaran baru. Namun Dae tak menyangka kalau Ilyas akan datang menemuinya dan memintanya kembali. Dae menjadi bimbang kembali.
"Hahaha, aku tidak percaya Dae. Itu pasti bohong kan?" Ilyas mencoba meyakini dirinya kembali.
"Tidak Yas, itu benar," Dae menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pasrah atas keadaannya.
"Maaf Yas, apa yang harus aku perbuat?" tanya Dae. "Semua sudah terjadi dan tidak mungkin dibatalin," jelasnya.
"Dae lihat aku, kamu masih bertunangan dan belum menikah. Biarkan aku mencoba membuktikan kepada orang tua kamu kalau aku lebih baik dari dia," Ilyas merendahkan dirinya memohon agar Dae tidak melupakannya dan menggantikan dengan orang lain.
__ADS_1
Dae menangis dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Baginya ini sungguh membingungkan. Di satu sisi dia harus bertunangan
Dan disisi lain ada kekasih yang sangat dicintainya mengharapkannya kembali. Dae bingung harus melakukan apa.