
Dae yang saat ini sedang berada dalam lift, merasa deg-degan ingin ke ruangan Presdir.
"Bukankah Presdirnya sudah ganti ya? Kenapa gw harus di suruh ke ruangannya?" gumam Dae bingung.
Saat Dae sedang memikirkan sesuatu yang akan terjadi, pintu lift terbuka lebar. Sekretaris yang sedang berdiri di depan pintu lift menatap Dae dengan bingung.
"Ekhem, ekhem," Sekretaris baru itu menegur Dae.
Dae tersentak dan dia terbengong saat melihat Sekretaris cantik itu di hadapannya.
"Eh maaf," ucap Dae salah tingkah.
"Anda mau ke ruangan Presdir?" tanya Sekretaris itu.
"I--iya benar. Saya di panggil menghadap Presdir," jawab Dae.
"Silahkan, Presdir sudah menunggu," balas Sekretaris itu.
Dae mengikuti langkahnya masuk ke dalam ruangan itu. Pintu ruangan itu di ketuk oleh Sekretaris itu.
"Tok tok tok," suara ketukan pintu ruangan itu.
"Masuk," perintah seseorang dari dalam ruangan.
Dae tidak mengetahui jika Sekretaris di Perusahaan itu juga di ganti. Dia mengerutkan keningnya menginginkan info mengenai wanita yang ada di hadapannya.
"Presdir, Mbak Dae sudah tiba," ucapnya memberitahu.
"Tinggalkan kami berdua," perintah Presdir itu.
"Baik," balas Sekretaris itu.
Setelah kepergian Sekretaris itu dari ruangan, Dae berjalan mendekati meja Presdir. Dimana sosok itu sedang berdiri membelakanginya.
Dae yang tidak mengenal bentuk tubuh itu, mengira bahwa yang ada di hadapannya adalah orang lain. Karena Dae mendengar berita bahwa Edy sudah pergi meninggalkan Indonesia sejak Dae ke Jogja. Dan posisi Presdir di gantikan oleh Omnya.
Tiba-tiba sosok itu membalik dan berkata. "Apa khabar Dae," ucap sosok itu yang tak lain adalah Edy.
Dae tersentak dan dia membelalakkan matanya tak percaya dengan sosok yang berdiri di hadapannya.
"Ka--kamu!" seru Dae terkejut.
"Ya, ini aku Edy," balasnya tanpa senyuman.
__ADS_1
"Bukankah kamu sudah tidak lagi di sini dan meninggalkan Indonesia?" tanya Dae kebingungan.
"Ya itu benar," jawab Edy tenang.
"Terus kenapa kamu malah ada di sini?" tanya Dae lagi.
"Ini Perusahaan ku Dae, aku bebas melakukan apa saja," jawab Edy menyombongkan dirinya.
"Bahkan menjadikanmu istriku juga bisa," ucapnya.
Tentu saja ucapan Edy itu membuat Dae lebih syok. Dia sama sekali tidak membayangkan akan datangnya hari ini. Dimana dia mendengar kata-lata Edy dengan tegas.
"Ma--maksud kamu?" tanya Dae sedikit linglung.
"Kemaren Papa kamu menghubungiku dan bertanya tentang keberangkatan mu ke Jogja," ucap Edy memberitahu.
Lagi-lagi Dae di buat syok karena ternyata Papanya mengetahui tentang kebohongannya.
"Jangan bilang kalau Papa ku mengetahuinya?" tanya Dae menebak.
"Tidak, jangan khawatir. Papa kamu tidak mengetahuinya. Dan Papa kamu memintaku untuk bertemu dengannya," jelas Edy.
"Buat apa? Kenapa Papa memintamu menemuinya?" tanya Meka yang semakin penasaran.
"Terus kenapa kamu memanggilku ke sini?" tanya Dae.
"Aku akan mengeluarkan mu dari Perusahaan ini. Jadi mulai besok kamu tidak lagi bekerja di sini," jawab Edy santai.
"Kenapa masalah pribadi dikaitkan dengan kantor. Ini tidak benar! Kamu tidak profesional dalam hal ini!" bentak Dae yang tak terima.
"Ini permintaan Papa kamu. Makanya saya mengatakan lebih baik kamu tanyakan semuanya ke Papa kamu," ucap Edy sambil membalikkan tubuhnya menghadap Dae.
Edy menatap Dae tanpa ekspresi. Sikapnya kali ini terlihat dingin dan tidak ada senyuman di matanya. Edy sangat berbeda dengan dia beberapa hari yang lalu sebelum Dae dan dia berpisah.
"Baiklah, aku akan menanyakan nya dengan Papa ku. Dan aku terima surat pemecatan ku," ucap Dae tegas.
Lalu Dae pergi meninggalkan ruangan Edy dengan rasa kesal. Dan dia sedikit menutup pintunya dengan keras.
"Apa-apaan ini. Kenapa dia berbuat seenaknya saja. Apa dia tidak tau mencari pekerjaan itu bukannya mudah. Dan menyalahkan Papa? Apa hubungan mereka?" gumam Dae sambil menunggu lift terbuka.
Tepat saat pintu lift terbuka, sosok wanita cantik itu keluar dari lift dan tersenyum ke arah Dae.
"Sudah selesai bertemu Presdir Mbak?" tanya Sekretaris itu.
__ADS_1
"Sudah Mbak terima kasih," jawab Dae.
Lalu tanpa basa basi, Dae langsung masuk ke dalam liftnya. Dan dia kembali ke dalam ruangannya. Selama di ruangannya, Dae tidak bisa berpikir jernih. Otaknya terasa mumet memikirkan semuanya.
"Oh.. kepalaku rasanya mau pecah. Kenapa semua ini terjadi dalam bersamaan? Lebih baik aku segera pergi dari sini. Mungkin nongkrong di cafe bisa membuat otakku fresh kembali," gumam Dae yang merasa kesal bercampur sedih.
Dae segera membereskan barang-barangnya dari sana. Hari ini dia tidak ingin berpamitan dengan karyawan lainnya. Dia ingin segera pergi dari kantor ini.
Setelah Dae merapikan semua barangnya, dia pun keluar dari ruangannya. Dae masuk ke dalam lift yang ternyata baru saja terbuka. Dae buru-buru menekan tombol untuk menuju lantai bawah. Dae tidak ingin berpas-pasan dengan karyawan yang berada di lantainya. Dae ingin menghindari mereka semuanya.
Sesampainya Dae di lantai bawah, Dae yang sudah memesan mobil online, langsung keluar perusahaan. Karena mobil itu sudah tiba di depan menunggu Dae. Dae langsung masuk ke dalam mobil dan pergi dari kantor itu.
"Kita ke cafe Lovely ya Bu," ucap si supir memberitahu.
"Iya Pak," balas Dae.
Perjalanan menuju cafe itu cukup jauh. Sekitar sejam menuju lokasi itu. Sepanjang jalan, Dae menatap ke luar jendela. Dia melihat kendaraan yang lalu lalang. Dae terus memikirkan ucapan Edy yang mengatakan menjadikannya istri. Dan menanyakan semuanya ke Papanya.
"Kenapa jadi membingungkan begini? Aku harus bertemu Papa dan meminta penjelasannya," bathin Dae.
Setelah sejam lebih dalam perjalanan, akhirnya mobil sampai di cafe yang mereka tuju.
"Bu, kita sudah sampai," ucap supir itu memberitahu.
"Oh iya terima kasih," Dae memberikan bayarannya dan keluar dari mobil.
Lalu Dae berjalan ke arah cafe dan masuk ke dalamnya. Dae melihat suasana cafe tidak terlalu rame. Itu membuat Dae merasa nyaman karena sepi.
"Selamat datang Mbak!" sapa pelayan yang berdiri di depan pintu.
Dae tersenyum menanggapi sapaan pelayan itu. Lalu dse mnecari tempat duduk yang sedikit menjauh dari yang lainnya, dimana tempat itu tidak terlalu ramai.
"Silahkan Mbak kalau mau pesan makanan," ucap seorang pelayan yang menghampiri Dae di mejanya.
"Baik Mas, saya lihat dulu menunya ya. Nanti akan saya panggil kembali kalau mau mesan," balas Dae dengan senyuman.
Pelayan itu pun pergi meninggalkan meja Dae. Lalu Dae melihat-lihat menu makanan yang banyak ragamnya. Setelah beberapa detik melihat menu-menu itu, akhirnya Dae memanggil pelayan tadi.
"Mas ini pesanan saya," ucap Dae menyerahkan kertas pesanan.
"Baik Mbak, silahkan di tunggu ya," balas Pelayan itu sambil undur diri dari hadapan Dae.
Setelah pelayan itu pergi, Dae mengambil ponselnya dan dia membuka sosmed nya. Saat Dae asyik membuka salah satu sosmed nya, Dae melihat fotonya bersama Rion yang sedang di Pantai. Dae melihat postingan itu berasal dari akun Ani. Dan itu membuat Dae terkejut.
__ADS_1
"Kenapa hari ini gw banyak di beri kejutan. Hah...ini sungguh hari yang mengejutkan buat gw hadapi," gumam Dae yang suaranya tidak terdengar oleh pengunjung lainnya karena mereka sangat berjarak mejanya.