Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri

Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri
Bab 18


__ADS_3

Dae masih tak percaya dengan apa yang dialaminya saat ini. Dia dan Pak Ilyas berjalan menuju Resto.


Saat sampai di Resto, mereka langsung diarahkan ke ruangan khusus untuk menjamu rekan bisnis.


Dae masuk ke dalam ruangan itu dan semua yang ada di dalamnya memandang Dae dengan tatapan curiga.


"Bu Dae, kenapa anda masih disini? Saya pikir Bu Dae sudah kembali ke Kantor," ucap Sekretaris Lu saat melihat kehadiran Dae.


"Saya yang mengajak Bu Dae untuk ikut bersama kita makan siang, karena bagaimanapun beliau ikut dalam pertemuan tadi," balas Presdir Ilyas tanpa ekspresi.


Mereka tidak ada yang berani menjawab kembali. Sekretaris Lu lebih memilih diam dan mengikuti jalannya keadaan.


Sedangkan Pak Raffi menatap Dae dengan sinis dan jijik. Dia berpikir bahwa Dae pasti telah menjual harga dirinya demi dekat dengan Presdir Ilyas.


"Dasar perempuan munafik. Kalau sama Presdir Ilyas langsung mau. Coba sama gw, nolak. Brengsek juga nih perempuan, milih yang tajir rupanya dia," bathin Pak Raffi dengan menyunggingkan bibirnya.


Lalu Dae duduk di sebelah Presdir Ilyas dengan santai. Dia tidak menyadari ada mata yang memandangnya dengan tatapan mengerikan.


Mereka pun menikmati makan siangnya tanpa ada percakapan. Suasana hening, hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan piring.


Dae merasa tak nyaman dengan suasana yang hening. Namun dia mencoba sebisa mungkin mengikuti keadaan diruangan itu. Hingga akhirnya makan siang pun selesai.


"Baik Pak Presdir, kami sangat berterima kasih atas jamuan makan siang ini. Semoga kerja sama Perusahaan kita bisa berlanjut terus dan menghasilkan keuntungan yang didinginkan kedua belah pihak," ucap Sekretaris Lu.


"Kami harap Perusahaan Presdir Edy bisa memberikan yang terbaik atas kerja sama ini," balas Asisstent Ilyas.


"Pasti Bu," ucap Pak Raffi dengan senyum menggodanya.


"Kalau begitu kami permisi akan kembali ke Perusahaan," Sekretaris Lu minta izin kembali.


Namun saat mereka hendak beranjak dari kursinya, Presdir Ilyas berkata,


"Bu Dae, anda tidak usah kembali. Karena saya ingin membahas untuk event nanti," pinta Presdir Ilyas.


Sekretaris Lu dan Pak Raffi menghentikan gerakan mereka. Keduanya saling menatap dan menoleh kearah Dae dengan tatapan penuh selidik.


"Tapi Pak, saya masih ada yang harus saya selesaikan," tolak Dae.


"Nanti saya akan sampaikan sama Presdir Edy. Atau Sekretaris Lu bisa menyampaikannya?" tanya Ilyas.

__ADS_1


"Bab..baik Presdir. Saya akan memberitahukan Pak Edy tentang hal ini. Kami pamit dulu Presdir," ucap Sekretaris Lu sambil menundukkan kepalanya sedikit.


Begitu juga dengan Pak Raffi, dia ikut menundukkan kepalanya terhadap Presdir Ilyas.


Lalu mereka pergi meninggalkan ruangan itu bersama Asisstent Presdir Ilyas. Sedangkan Dae masih berada diruangan itu bersama Ilyas.


Kemudian Ilyas berdiri menghampiri Dae dan memeluk pinggangnya. Mereka saling berhadapan. Dae merasa jantungnya kembali lari, wajahnya kembali merah seperti tomat matang. Dae tak berani memandang wajah Ilyas yang sangat tampan.


"Pandang aku Dae!" pinta Ilyas.


Dae mendongakkan kepalanya dan menatap mata Ilyas yang sangat teduh.


"Bagaimana, setelah kita jadian, kemana kita harus merayakannya?" tanya Ilyas.


"Maksudnya Pak Ilyas?" tanya Dae balik.


"Jangan panggil Pak saat kita berdua. Kecuali di depan banyak orang," Ilyas merasa kesal mendengar panggilan Pak dari bibir Dae.


"Maaf, aku belum terbiasa Yas," jawab Dae malu-malu.


"Mulai sekarang kamu harus terbiasa memanggil seperti itu, ok!" tegasnya.


"Kamu mau kemana untuk merayakan hari jadian kita?" tanya Ilyas.


"Mmmm, bagaimana kalau kita nonton aja. Aku pengen nonton film horor," pinta Dae.


"Emang kamu berani nonton horor?" tanya Ilyas lagi.


"Ya sedikit berani sih Yas."


"Emang kamu mau nonton horor apa?"


"Aku pengen nonton film horor Aku Ternyata Memiliki Khodam," jawab Dae.


"Film apa itu?" tanya Ilyas.


"Kamu pasti suka nontonnya. Filmnya seru. Walaupun diawal tidak begitu kelihatan horornya, tapi dipertengahannya baru kelihatan horornya," jelas Dae dengan semangat.


"Berarti kamu sudah nonton?"

__ADS_1


"Belum, itu sahabat aku yang ceritain. Ya aku penasaran aja pengen nonton," ucap Dae.


"Kalau gitu ayo kita berangkat. Aku juga pengen tau gimana ceritanya," ajak Ilyas.


Mereka pun keluar dari ruangan itu dan menuju ke parkiran mobil. Ilyas mengajak Dae masuk ke dalam mobilnya dan melaju menuju slaah satu Mall yang besar di Jakarta.


Dia gak hari, jalanan lumayan macet. Matahari yang terik membuat cuaca panas. Namun walaupun begitu, mereka yang berada dijalanan tidak menyurutkan aktifitas masing-masing. Begitu juga dengan Dae dan Ilyas. Mereka terus melaju hingga sampai di sebuah Mall besar.


Ilyas memarkirkan mobilnya dan mereka keluar dari mobil, lalu masuk ke dalam Mall.


"Yas, aku gak enak jalan sama kamu, takut ketahuan sama karyawan kamu ataupun karyawan di kantorku," ucap Dae sambil berjalan.


Ilyas menggandeng lengan Dae dengan mesra. Dia tak perduli dengan tatapan orang terhadapnya.


"Biarkan saja mereka mengetahuinya. Biar mereka sadar untuk tidak mengejarku terus menerus," balas Ilyas dengan percaya diri dan bangga.


"Hahaha, berarti kamu menjadikan aku kekasihmu hanya untuk membuat perempuan lain tidak mengejarmu, gitu?" ucap Dae yang menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Ilyas.


"Ya ampuuun Dae...., aku menjadikanmu kekasihku itu benaran dan serius. Bukan karena hal lain. Kenapa kamu mikir seperti itu?"


"Loh tadi kan kamu bilang banyak perempuan lain yang akan berhenti mengejarmu. Itu artinya aku hanya pelarian saja," marah Dae sambil berkacak pinggang.


"Dae...itu tidak benar. Aku tulus mencintaimu sejak pertemuan kita pertama di Kantormu. Dan aku terus membayangkan kejadian itu. Makanya aku memberanikan diri untuk menyatakannya langsung ke kamu. Kok kamu malah mikir gitu," cemberut Ilyas.


Dae merasa tak enak dan bersalah. Karena sudah berprasangka buruk terhadap Ilyas.


"Maaf ya Yas. Aku takut aja, kamu hanya main-main denganku," jelas Dae.


"Tidak Dae, aku serius. Sekarang ayo kita nonton," Ilyas kembali menggandeng lengan Dae. Mereka berjalan hingga sampai di bioskop.


Dae dan Ilyas akhirnya menonton film horor yang diinginkan Dae yaitu Aku Ternyata Memiliki Khodam.


Waktu terus berjalan hingga tak terasa mereka sudah selesai menonton film layar lebar horor.


"Dae...wajah kamu pucat banget! Ayo kita ke cafe, biar kamu minum dan makan," ucap Ilyas bingung melihat keadaan Dae.


"Saya merasa tegang Yas saat nonton tadi. Filmnya serem banget. Apalagi di dalam bioskop gelap. Takut kalau yang ada di dalam layar keluar dan tiba-tiba berada disampingku, ih.....serem..!" Dae bergidik ngeri.


"Tadi kamu yang minta nonton horor kan. Kenapa kamu malah ketakutan gitu. Lain kali gak usah nonton gituan kalau gak berani. Lebih baik kita nonton yang romantis aja ya," ucap Ilyas yang memarahi Dae karena maksa nonton horor.

__ADS_1


"Iya Yas."


__ADS_2