
Dae tak bergerak sama sekali, dia berdiri seperti patung cantik yang membuat Edy menjadi bucin.
Sedangkan Edy menikmati harumnya tubuh Dae. Dia enggan melepaskan pelukannya.
"Dae, kamu tau, aku dari tadi tidak konsen saat ada pertemuan. Semua gara-gara kamu. Kamu membuatku semakin menggila Dae," tuduh Edy.
"Loh, enak aja bilang gara-gara aku. Kan kamu yang memikirkan ku, sapa suruh tertarik denganku," protes Dae tak terima.
"Emang kamu gak mikirin aku Dae?" tanya Edy yang masih menempel seperti cicak.
"Aku gak pernah merindukanmu," elak Dae.
"Bohong! Kamu gak pernah berbicara jujur. Bibir sexy mu terlalu pinter untuk berkilah," ledek Edy dengan menyeringai.
"Terus kamu mau apa?" tanya Dae putus asa.
"Aku menginginkanmu Dae," bisik Edy dengan suara beratnya.
"Jangan gila kamu Edy. Ini di ruanganku. Lebih baik kamu balik ke ruangan kamu," usir Dae dengan beraninya.
"Hahaha, Dae ku, kamu berani mengusirku?"
Edy membalikkan tubuh Dae menghadapnya hingga mereka saling bertatapan. Dae melihat mata biru yang sangat teduh dan menenangkan.
Dengan sigap Edy memagut bibir sexy Dae dengan kelembutan, Dae yang hatinya berontak namun tidak dengan tubuhnya yang merespon dan ikut membalas serangan dari Edy. Edy tersenyum di sela kegiatan mereka.
Edy mendorong tubuh Meka hingga membentur meja kerja Meka. Lalu Edy mulai melancarkan aksinya, tangannya sudah menjalar kemana-mana hingga membuat roknya tersingkap ke atas. Mereka terus berburu satu sama lain. Edy membuka kancing baju Meka hingga memperlihatkan bahu putih mulusnya. Tak hanya itu dia mengangkat Dae duduk di atas meja itu dan mulai melancarkan aksinya.
Edy memaju mundurkan miliknya ke dalam milik Dae. Dia membuat Dae bersuara merdu hingga menggema di dalam ruangan. Suara-suara indah yang keluar dari mulut Dae, membuat Edy lupa akan segalanya.
"Owh.....Dae...ku!" desah Edy.
"E....d, kamu Presdir gila..!" umpat Dae dalam desahannya.
"Tapi kamu suka kan sayang," Edy tersenyum mendengar umpatan Dae.
Dia semakin menggila menghentakkan miliknya ke dalam milik Dae. Hingga akhirnya Edy mengerang hendak mencapai puncaknya, dia mencabut miliknya dan mengeluarkan cairan kental di area milik Dae.
Dae yang dari tadi sudah duluan mencapainya, menjadi ngos-ngosan nafasnya.
Lalu Edy membantu Dae duduk dan membenahi pakaian Dae. Dia pun menatap Dae dengan senyum mengembang. Kemudian Edy mengecup sekilas bibir sexy Dae.
"Kamu benar-benar nikmat Dae. Kamu hanya milikku, tidak ada yang boleh memilikimu," ucap Edy yang menghak patenkan Dae sebagai miliknya.
"Ini benar-benar tidak benar. Kamu membuatku melakukan hal begini di ruanganku sendiri, benar-benar mesum kamu Edy," berang Dae.
"Tapi kamu meresponnya Dae ku dan mendesah di bawahku. Berarti kamu juga menyukainya kan sayang," ucap Edy ditelinga Dae.
Wajah Dae seketika menjadi merah Semerah tomat matang. Dia mendorong Edy jauh darinya. Namun Edy tak bergerak sedikitpun. Dia malah melingkarkan tangannya di pinggang Dae.
"Sayang, nanti aku akan mengantar kamu pulang. Karena aku ingin bertemu dengan Papa kamu untuk meminta izin buat besok kita berangkat," ucap Edy.
__ADS_1
"Terserah kamu. Lagian kalau aku membantahnya, kamu akan tetap melakukannya. Jadi gak ada guna aku menghentikan mu," ketus Dae.
"Yup, aku suka sikap kamu seperti itu. Menurut sama aku ya," pinta Edy dengan senyum nakalnya.
"Ya udah, sekarang kamu keluar dari ruanganku, aku mau kerja lagi. Kamu membuatku membuang-buang waktuku saja," gerutu Dae.
"Baiklah, aku akan kembali ke ruanganku, sampai ketemu nanti Dae ku sayang, emmmuach," Edy mengecup bibir sexy Dae sekilas.
Lalu dia pergi meninggalkan Dae dengan senyum bahagia dan kemenangan. Edy keluar dari ruangan Dae dan di ikuti oleh Asistennya Li.
Sedangkan Dae, masih duduk di atas mejanya. Dia bertambah bingung dengan keadaan yang di alaminya.
"Kemana Ilyas? Ada apa dengan dia?" gumam Dae yang masih duduk di atas meja.
Kemudian, tanpa di duga, Ani sahabat Dae masuk nyelonong ke dalam ruangan Dae dan terkejut melihat Dae duduk di atas mejanya dengan rambut yang acak-acakan dan penampilan yang berantakan.
"Oh Dae......ada apa denganmu?! teriak Ani yang langsung mendekati Dae.
Dae terbengong melihat kedatangan Ani yang tiba-tiba.
"Ada apa Lo datang ke ruangan gw?" tanya Dae santai.
"Dae....kenapa dengan rambut Lo...., terus nih baju Lo kenapa kusut begini? Apa yang terjadi denganmu Dae? Perasaan tidak ada gempa deh," ucap Ani khawatir melihat penampilan Dae.
"Gw lagi stres dan prustasi," elak Dae.
Dae pun turun dari mejanya dan kembali ke kursinya. Sambil Dae membenahi penampilannya.
"Dae, Lo benaran kan gak kenapa-napa?" tanya Ani yang masih curiga.
"Hah, gw mau curhat nih Dae."
"Kenapa? Apa yang mau diceritakan?" tanya Dae dengan menatap Ani serius.
"Pacar gw, kayaknya dia selingkuh deh Dae."
"Dari mana Lo tau?" tanya Dae dengan nada datar.
"Gw dikasih tau sama sepupu gw. Kalau dia melihat pacar gw sedang bergandengan tangan dengan seorang perempuan sexy di dalam Mall," jawab Ani dengan sedih.
"Emang ada buktinya?" tanya Dae.
"Nih, dia mengirim foto pacar gw dengan perempuan itu," Ani menyerahkan ponselnya ke Dae.
Dae melihat laki-laki dan perempuan sedang bergandengan. Terlihat kalau perempuan itu sangat dekat dengan pacar Ani. Dengan menggandeng tangan laki-laki itu, perempuan itu terlihat bahagia.
"Terus Lo udah nanya langsung ke orangnya?" tanya Dae.
"Belom," Ani menggelengkan kepalanya.
"Lebih baik Lo tanya langsung ke orangnya dari pada melihat tanpa mendengar penjelasannya. Lo harus tau apa jawaban pacar Lo. Ya Lo harus bisa mencerna apa yang di ucapkannya dengan apa yang Lo lihat," saran Dae dengan bijak.
__ADS_1
"Lo benar juga Dae. Kalau gitu besok gw akan ke kantor pacar gw buat minta penjelasannya," balas Ani yang setuju dengan saran Dae.
"Udah, ada lagi yang mau Lo curhatin?" tanya Dae.
"Isssh Lo ini. Emang kenapa kalau gw disini? Kan gak masalah?"
"Masalah karena gw harus mengerjakan kerjaan gw. Supaya gw gak pulang kelamaan," ketus Dae.
"Iya, iya, gw balik nih ke ruangan gw. Makasih ya atas saran Lo. Lo emang sahabat gw yang terbaik Dae," ucap Ani.
Kemudian Ani berlalu dari hadapan Dae dan meninggalkan ruangan Dae dengan rasa puas di matanya.
Sedangkan Dae hanya geleng-geleng kepala melihat sahabatnya yang lagi bermasalah. Dia menyandarkan kepalanya kbelakang senderan kursinya. Dae mencoba memejamkan matanya untuk menenangkan pikirannya yang bercabang. Dae memikirkan Ilyas yang tak kunjung menghubunginya ataupun memberi khabar.
Lalu Dae membuka matanya dan langsung duduk tegak.
"Apa gw kirim pesan aja ya ke dia?" gumam Dae.
Lalu Dae mengambil ponselnya dan mengirim sebuah pesan dengan Ilyas. Dae menunggu balasan dari Ilyas, namun tak ada juga balasan. Dae mengehela nafasnya dengan berat.
Waktu pun terus berjalan, Dae masih setia di depan leptopnya. Dia enggan untuk beranjak dari kursinya.
Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka dan memperlihatkan sosok Edy yang berdiri dengan tampang mesumnya. Dia berjalan menghampiri Dae. Dengan santai dia berjalan mendekati Dae.
"Dae, sudah waktunya kita pulang. Ayo aku antar kamu pulang," ajak Edy dengan senyumnya.
"Aku masih ada kerjaan. Kamu pulang aja duluan," ketus Dae.
Edy tak mau mendengar penolakan dari Dae, dia langsung mendekati Dae dan langsung menggendong Dae tanpa memperdulikan protes Dae.
"Lepaskan aku Edy!" teriak Dae.
"Kamu yang minta aku melakukan ini bukan."
"Ok ok, sekarang turunkan aku," perintah Dae.
"Aku akan menurunkanmu, kalau kamu menurut," tekan Edy.
"Iya iya, aku akan menurut," kesal Dae.
"Bagus, jadilah penurut Dae," ucap Edy yang langsung menurunkan Dae.
"Sekarang kamu mau apa lagi?" tanya Dae ketus.
"Aku hanya ingin mengantar kamu pulang Dae ku," jawab Edy sambil menoel hidung mungil Dae.
"Baik, kita akan pulang sekarang," pasrah Dae.
"Gitu dong sayang dari tadi. Kamu itu galak-galak tapi menggemaskan," goda Edy.
Dae males menanggapi ucapan Edy. Namun di hatinya dia merasa senang, hatinya berbunga-bunga dengan pujian Edy.
__ADS_1
Lalu Dae dan Edy keluar dari ruangan Dae. Mereka masuk ke dalam lift dan menunggu sampai lift berada di lantai bawah.
Sesampainya di bawah, Dae dan Edy keluar dari lift. Banyak mata yang memandang ke arah mereka. Namun Dae tak memperdulikannya. Dia terus berjalan berdampingan dengan Edy hingga ke parkiran. Mereka berdua masuk ke dalam mobil. Edy melajukan mobilnya ke arah rumah Dae. Jalanan yang macet membuat mereka berlama-lama di dalam mobil. Dae dan Edy tak ada yang bersuara. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.