Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri

Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri
Bab 82


__ADS_3

Dae sangat menikmati kegiatannya saat ini. Dia berjalan bersama laki-laki itu. Namun siapa sangka, kebersamaan mereka terpantau oleh seseorang yang dikirim Tuannya.


"Dae, bolehkah aku meminta nomer mu?" tanya Rion sambil menoleh ke samping dimana Dae berjalan bersamanya.


"Maaf, saya gak bisa. Kita hanya bertemu di sini dan saya tidak ingin berlanjut," jawab Dae santai.


"Owhhhh begitu ya. Itu artinya kita tidak bisa bertemu lagi?" tanya Rion lagi.


"Tidak, saya tidak menginginkannya." Dae memang tidak ingin pertemuan berlanjut ke tahap berikutnya. Dia ingin tenang dan menjauh dari pendekatan laki-laki lain.


"Hmmm, baiklah kalau kamu tidak menginginkannya. Tapi aku berharap dan berdo'a kita akan bertemu kembali," balas Rion dengan senyum di wajahnya.


Rion merasa tertarik dengan sikap Dae yang tidak menginginkan pertemuan kembali.


"Perempuan ini cuek banget. Boleh juga, aku jadi semakin penasaran dengannya," bathin Rion senyum-senyum.


Mereka berdua berjalan menjauh dari rombongan. Setelah itu mereka kembali ke pondok menemui teman-teman lainnya.


"Wah asyik banget ya jalan berdua aja," ledek Ani yang memperlihatkan wajah juteknya.


"Kenapa nih anak, gw baru dateng, udah di sembur kayak Mbah dukun aja. Wajahnya kok jutek gitu? Kesambet kali nih ya anak," bathin Dae yang bingung dengan sikap Ani.


"Ah gak juga. Biasa aja kali An. Udah yuk balik. Dah mau sore nih," ajak Dae yang tidak mengerti dari sikap jutek Ani.


Ani merasa kesal karena Dae tidak mengajaknya jalan-jalan. Padahal dari awal Ani tertarik dengam Rion yang dingin. Namun ketika Ani melihat Rion mendekati Dae, ada rasa kesal dan cemburu karena Dae selalu bisa menarik perhatian laki-laki tampan.


Selama ini Ani tidak pernah mempermasalahkan dengan laki-laki yang tertarik dengan Dae. Mulai dari Presdir mereka bahkan sampai Presdir Perusahaan lain pun tertarik dengam Dae.


"Hah menyebalkan. Kenapa selalu Dae yang mendapatkan perhatian laki-laki tampan. Apa gw gak bisa mendapatkan seperti yang Dae dapati?" bathin Ani bertanya-tanya.


"Kalian mau balik? Kalau boleh tau balik kemana ya?" tanya Denny salah satu laki-laki yang tertarik dengan Ani.


"Iya nih, kami mau balik. Ya baliknya ke Jogja," jawab Ani ketus.


Dae menoleh ke arah Ani. Dia mengerutkan keningnya dengan sikap Ani yang sepertinya tidak senang dengan pertanyaan laki-laki itu.

__ADS_1


"Boleh kita barengan? Dan kita makan malam bersama. Biar kami yang traktir. Anggap aja salam perkenalan dari kami," ajak Rion yang memang ingin selalu bersama Dae.


Ani merasa senang karena dia masih punya kesempatan untuk mendekati Rion.


"Wah boleh juga tuh. Ayo Dae, biar saja mereka ikut. Ya lumayan kan makan gratis," ucap Ani yang tak malu.


Dae melototkan matanya melihat Ani. Dia tak suka jika mereka terus bersama dengan rombongan laki-laki itu.


"An, kita harus kembali. Lain kali aja," protes Dae.


"Sorry ya, kami duluan," Dae menarik tangan Ani yang tidak ingin beranjak dari sana. Dia memperlihatkan wajah memohon agar Dae memberinya waktu untuk bisa lanjut bersama mereka.


"Dae, ayolah, jangan menolak ajakan mereka. Lagian kan enak juga ada mereka. Jadi kita tidak perlu takut kalau ada laki-laki yang tidak baik.


"Terserah Lo deh. Tapi kali ini aja. Gw gak mau ada kelanjutan terhadap mereka. Lo ngerti kan?" tegas Dae yang tak suka kompromi dalam hal seperti itu.


"Ok Dae gw janji. Thanks ya. Lo emang sahabat gw yang paling ngertiin," ucap Ani bersemangat.


Dae tidak mengerti kenapa Ani begitu antusias untuk tetap bersama laki-laki itu. Tapi dia tidak ingin membuat sahabatnya itu merasa sedih. Akhirnya Dae menyetujui keinginan Ani untuk pergi bersama mereka.


"Rion ayo, katanya mau pulang barengkan?" tanya Ani dengan memperlihatkan senyum manisnya.


"Wah serius nih An?" Denny merasa senang akhirnya dia bisa berlama-lama dengan Ani.


"Eh iya. Yuk kita jalan," ajak Ani lagi.


Denny tidak tau kalau Ani mengincar Rion. Dia tertarik dengan Rion, makanya dia mau berlama-lama dengan mereka.


"Baiklah, kita jalan sekarang," balas Denny.


Teman-teman yang lainnya mengangguk semangat mereka punya kesempatan untuk ngobrol lebih lama lagi dengan Ani dan terutama Dae.


Dae dan Ani berjalan duluan di depan. Sedangkan Rion dan temannya berjalan di belakang mereka.


Selama mereka jalan ke arah parkiran mobil, Rion terus memandang punggung dan rambut Dae yang sangat indah. Rion tak henti-hentinya tersenyum memandang Dae walaupun hanya dari belakang. Seketika dia teringat dengan kejadian singkat yang sangat mengesankan bagi Rion. Dia bisa memeluk Dae dan mereka saling memandang. Kejadian itu sangat membekas di ingatan Rion. Karena baru Dae perempuan yang dia sentuh. Tentu saja itu berkesan bagi Rion.

__ADS_1


Sesampainya di parkiran, Ani malah meninggalkan Dae. Dia menghampiri keempat laki-laki itu.


"Bisakah kami bergabung dengan kalian saja. Kami rasa tidak enak kalau kita jalan berpisah," ucap Ani yang membuat Dae terkejut.


"An, Lo ngapain ngomong gitu! Maksudnya apa?" tanya Dae yang merasa geram dengan tingkah Ani yang kegenitan menurutnya.


"Ayolah Dae, biarkan kita menikmati hari ini dengan mereka. Kapan lagi coba," jawab Ani santai.


Kemudian Dae menoleh ke arah Rion dan yang lainnya. Dia tidak mungkin meninggalkan Ani bersama keempat laki-laki itu. Dae tidak mempercayainya.


"Tapi gimana dengan mobil gw?" tanya Dae bingung.


"Biarkan mobil itu akan di bawa sama suruhan aku," Rion menjawabnya.


"Hah, baiklah," balas Dae pasrah.


"Kalau begitu ayo kita jalan," Denny mengajak mereka semua.


Kedua laki-laki duduk di bagian depan. Sedangkan Denny dan Rion duduk di belakang. Ani masuk duluan ke dalam mobil. Dia mengira Rion akan duduk di sampingnya. Ternyata Dae yang duduk di sebelahnya. Dan Ani berharap di sebelahnya lagi Rion yang akan menempati tempat duduknya. Ternyata harapan Ani tak menjadi kenyataan. Rion langsung masuk dan duduk di sebelah Dae. Lalu Denny memilih duduk di samping Ani.


Ketika semua sudah masuk ke dalam mobil, wajah Ani langsung berubah tak menyenangkan. Di dalam mobil, Ani jengkel dengan Dae.


Sedangkan Dae merasa tak nyaman karena harus berdempetan dengan Rion. Aroma tubuh Rion sangat jelas tercium oleh penciumannya. Dae pun meliriknya sekilas. Namun Rion justru fokus melihat ke depan.


"Kita kemana sekarang? Apakah kalian keberatan kalau kita jalan ke Bukit Bintang?" tanya Denny dengan memiringkan tubuhnya menghadap Ani.


"Dimana itu?" tanya Ani penasaran. Ani melupakan kekesalannya. Dia memiliki keinginan untuk mendapatkan perhatian Rion. Dia pun menyetujui ajakan Denny.


"Kalian berdua pasti suka. Apalagi saat malam hari nanti. Cahaya lampu akan sangat indah di lihat dari atas bukit," jelas Agus yang menyetir mobil.


"Wah boleh juga tuh. Aku mau kesana," balas Ani yang tidak menyadari kebohongan mereka.


"Loh, emang kamu belum pernah kesana? Bukannya kalian dari Jogja, kenapa belum pernah ke sana dan tidak tau tempat apa itu?" tanya Denny yang mengingatkan Ani atas ucapannya saat di pantai.


Ani dan Dae terdiam. Ani bingung mau ngomong apa, tapi secepat kilat dia bisa menguasai keadaan dan berkilah.

__ADS_1


__ADS_2