
Edy dan Ilyas sampai di depan toilet wanita. Lalu Edy bergegas menerobos masuk ke dalam. Dia memanggil-manggil nama Dae.
"Dae....! Dae....!" teriak Edy.
Ilyas pun melakukan hal sama, dia mengecek ke sekeliling area dekat toilet, namun tak menemukan Dae. Lalu Ilyas mencoba menghubungi Dae, beberapa kali deringan tak diangkat oleh Dae. Ilyas pun frustasi.
"Dae....., kamu mengerjain aku..., awas kamu. Akan aku beri hukuman buatmu," geram Ilyas.
Lalu dia meninggalkan Edy begitu saja tanpa permisi. Ilyas keluar dari Perusahaan itu mengendarai mobilnya dengan penuh kekesalan. Dia melajukan mobilnya melewati jalanan yang sepi menuju rumah Dae.
Sedangkan Edy, masih berada di kantornya. Dia marah karena dikerjain oleh Dae begitu saja. Kekesalan pun terlihat jelas diwajah dinginnya.
"Dae....., kamu akan lihat besok apa yang akan aku lakukan terhadapmu. Bersiap-siaplah Dae..., aku gak akan memberimu ampun atas perbuatanmu hari ini," geram Edy di dalam kantor.
Sedangkan di tempat lain, Dae bisa bernafas lega saat ini. Dia membaringkan tubuhnya yang lelah karena harus bermain kucing-kucingan dengan mereka berdua.
"Hah....syukur gw bisa lolos hari ini. Tapi..gimana besok ya. Ah sudahlah, yang penting hari ini gw bebas dari si arogan dan si kulkas," gumam Dae sambil menatap langit-langit atap kamarnya.
Hingga tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan ada notifikasi. Dae tersentak dan langsung melompat dari tempat tidurnya. Dia melihat ada pesan dari Ilyas.
"Kalau kamu gak turun juga sekarang, maka jangan salahkan aku akan menculikmu dari kamarmu itu," isi pesan Ilyas.
Dae terkejut melihat isi pesan Ilyas. Dia bergegas mengintip dari jendela kamarnya melihat kearah luar rumahnya.
"Oh ya ampuuun.....! Dia benar-benar berada di depan sana. Gimana ini?" gumam Dae yang mondar mandir di depan jendelanya.
Saat Dae sibuk dengan pikirannya yang berkecamuk, ponselnya berdering menandakan panggilan tlp. Dae buru-buru melihatnya dan itu dari Ilyas.
"Angkat gak ya. Angkat, nggak, angkat, nggak, angkat, duh....gimana ini...!" Dae berbicara sendiri karena bingung.
Dengan tangan gemetar, Dae mencoba memberanikan dirinya mengangkat tlpnya. Dia mendekatkan ponselnya ketelinganya.
"Dae...., aku akan hitung sampai tiga, kalau kamu gak turun juga, jangan salahkan aku akan membuat onar disini," ucap Ilyas mengancam.
"I...ini sudah malam Yas. Besok aja ya, kamu pulang aja, aku gak enak sama tetangga," balas Dae berusaha bernegosiasi.
"Kamu gak enak sama tetangga karena gak mau menemuiku atau gak enak sama tetangga kalau aku membuat onar. Aku tunggu sekarang!" bentak Ilyas memerintah.
Lalu tlp pun langsung mati tanpa mendengar apapun dari bibir sexy Dae.
Dae mengalah untuk menemui Ilyas. Dia takut Ilyas akan mengabulkan ucapannya sendiri. Dia laki-laki yang sangat arogan. Dae berlari cepat kearah pintu dan membukanya. Dia berjalan santai seolah-olah tak ada kejadian apapun yang terjadi.
"Hai Yas...!" sapa Dae berusaha tak gugup.
Ilyas tak menjawabnya, dia menunggu Dae menghampirinya yang sedang berdiri di depan mobilnya. Wajah yang arogan, tangannya berada dikedua sakunya menatap Dae dengan tajam.
"Yas, aku minta maaf," akhirnya Dae mengucapkan kata-kata itu.
__ADS_1
"Maaf buat apa?" tanya Ilyas berpura-pura tak mengerti.
"Ya maaf karena sudah pulang tanpa permisi sama kamu," jawab Dae seenaknya.
Ilyas berjalan menghampiri Dae dan berdiri dihadapannya.
"Kamu tau apa kesalahan kamu Dae?" tanya Ilyas.
Dae menggeleng-gelengkan kepalanya dengan polosnya.
"Kamu sudah berbuat, tapi tidak mengetahui apa kesalahanmu?" tanya Ilyas dengan meninggikan suaranya.
"Hussssst....., jangan kencang-kencang Yas suaranya. Nanti tetangga pada bangun lagi. Lagian kamu ngapain malam-malam banget begini kesini?" tanya Dae yang mencoba mengalihkan topik.
"Biar, biarin tetangga kamu bangun. Toh mereka akan merasa senang melihat si Dae diantar kekasihnya pulang," jawab Ilyas seenaknya.
"Terus kamu mau apa Yas...?" tanya Dae pura-pura galak.
"Aku mau kamu, aku ingin memakanmu dan menghabiskanmu seumur hidupku," balas Ilyas dengan tatapan misteriusnya.
"Kamu kanibal....! Masa aku mau dimakan! Serem ih kamu Yas...!" gerutu Dae.
Tanpa aba-aba Ilyas langsung membopong Dae masuk ke dalam mobilnya. Dan dia membawa Dae kabur dari rumahnya. Dae yang masih menggunakan pakaian tidur tipis, membuat Ilyas bisa menyentuh tubuh Dae dengan debaran jantung tak karuan.
"Ilyas....! Kamu lihat gak aku masih berpakaian tidur begini!" bentak Dae tak terima.
"Dasar arogan mesum...!" teriak Dae lalu menyembunyikan wajahnya yang memerah.
Ilyas membawa Dae ke Apartementnya. Dia menggendong Dae masuk ke dalam tanpa memperdulikan tatapan orang lain.
"Yas, ngapain kamu bawa aku kesini? Aku mau pulang! Nanti Mama ku mencari ku. Turunkan aku...!" ucap Dae sedikit kencang.
Ilyas tidak memperdulikan omelan Dae. Dia terus membopong Dae seperti karung beras menuju kamarnya. Sesekali dia memukul bokong Dae karena terlalu berisik. Dae terus melancarkan aksinya memukul-mukul punggung Ilyas.
Sesampainya di dalam kamar, Ilyas meletakkan Dae di atas tempat tidurnya yang besar.
Dae menatap takjub dengan interior ruangan itu. Ruangan yang dipadukan dengan warna biru laut dan gading emas.
Dae langsung bangkit dari tempat tidurnya dan berkeliling mengeksplore isi ruangan itu.
"Wah....Yas, ruangannya bagus banget...!" ucap Dae takjub.
Lalu dia berjalan kearah balkon melihat langit yang dipenuhi dengan bintang-bintang cantik hingga memantulkan cahaya di langit.
"Indah, aku suka tempat ini," gumam Dae memuji.
Tanpa di sadari Dae, Ilyas berjalan kearah Dae dengan menggunakan kaos, karena bajunya sudah langsung dibukanya. Dia menghampiri Dae dari belakang dan melingkarkan tangannya ke pinggang Dae, serta meletakkan dagunya di bahu Dae.
__ADS_1
Dae tersentak karena perlakuan ikyas yang tiba-tiba.
"Yas, jangan begini, gak enak dilihat orang," ucap Dae yang gugup.
"Orang mana Dae....? Disini gak ada orang, yang ada bintang-bintang di langit sedang menatap kita berdua yang sedang bermesraan," balas Ilyas sambil merekatkan pelukannya.
Ilyas bisa merasakan tubuh Dae menyentuh area terlarangnya karena pakaian Dae yang sangat tipis.
"Yas, geli tau...!" Dae memberontak.
"Jangan bergerak Dae, kamu sudah membuatnya menegang dibawah sana," ucap Ilyas dengan nafas tersengal.
"A...apa yang menegang Yas?" tanya Dae gugup karena dia juga merasakan milik Ilyas di bokongnya.
"Dae....!" Ilyas menyebut nama Dae dengan suara seraknya.
"Yas...., ka...kamu mau ap...apa?" tanya Dae dengan jantung berdebar.
Ilyas membalikkan tubuh Dae mengahadapnya dan menatap Dae dengan tatapan menginginkannya.
"Yas, ka...kamu masih waras kan?" Dae terus bertanya.
Ilyas tak mendengarkan pertanyaan Dae. Dia justru memiringkan kepalanya dan langsung melu*** bibir sexy Dae.
Dae melotot menatap Ilyas yang sudah memejamkan matanya menikmati ******* bibir mereka.
Dae membalas ciuman itu hingga mereka saling memagut dan bertukar salivanya. Mereka terus melakukannya hingga Dae melepaskan pagutan itu. Nafasnya ngos-ngosan dan menatap Ilyas dengan malu-malu.
"Kamu menyukainya yanx?" tanya Ilyas sambil membelai lembut bibir sexy Dae.
"Kenapa kamu menanyakan itu? Aku malu menjawabnya Yas..
Ilyas terkekeh mendengar jawaban polos Dae. Dia mencubit hidung mancung Dae.
"Berarti kamu menyukainya kan yanx?" tanya Ilyas lagi.
Dae hanya bisa menganggukkan kepalanya. Dia tak berani menatap Ilyas karena malu.
"Kamu menggemaskan yanx. Aku tidak akan melakukan hal lebih sebelum kita menikah," ucap Ilyas sambil memeluk pinggang ramping Dae.
"Yas, aku minta maaf atas kejadian tadi. Aku gak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya menjalankan tugasku saja. Tapi aku bersyukur kamu datang, jadi aku bisa kabur dari dia dan kamu, hehehe," jelas Dae cengengesan.
"Siapa yang menyuruhmu kabur Dae...," ucap Ilyas dengan wajah tampannya.
"Gak ada, ya itu kemauan ku sendiri. Dari pada aku bingung harus berbuat apa, lebih baik solusinya ya kabur kan," balas Dae sesuka hatinya.
"Pinter kamu ya. Tapi kamu buat aku cemas yanx. Aku takut terjadi apa-apa denganmu," ucap Ilyas perhatian.
__ADS_1
"Aku baik-baik aja Yas. Kalau ada apa-apa, aku akan menghubungimu," balas Dae tersenyum manis.