Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri

Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri
Bab 59


__ADS_3

Edy menatap Dae dengan berdiri di depan pintu kamarnya. Dia menyenderkan punggungnya di pintu sambil tangannya di silangkan di depan dada.


Dae merasa salah tingkah melihat ekspresi Edy seperti itu.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Itu bukan kemauanku Ed!" ucap Dae yang nyelonong masuk ke dalam.


Lalu Edy pun mengikuti Dae dan menutup pintu kamarnya.


"Ayo Ed, kita turun ke bawah. Dia menungguku di lobby. Aku tidak mau dia tau tentang kita yang satu kamar," ucap Dae ketus.


Edy berjalan mendekati Dae. Dia langsung memeluk tubuh Dae dari belakang. Edy melingkarkan tangannya di pinggangnya. Dan meletakkan dagunya di samping leher Dae.


"Kamu tau Daeku, aku cemburu. Rasanya aku ingin menghajarnya saat itu juga," balas Edy yang ternyata memendam kekesalannya.


"Tidak perlu berpikir seperti itu Ed. Kita memang salah, terutama aku yang sudah berselingkuh darinya," ketus Dae.


"Kamu tidak bersalah Daeku, aku yang menginginkan semua ini. Aku minta maaf karena sudah membuat kamu berada dalam situasi yang tidak nyaman. Tapi percayalah, suatu saat nanti kamu akan mengerti," jelas Edy yang masih memeluk erat pinggang Dae.


"Baiklah, kalau begitu, sekarang kita harus turun ke bawah. Please Ed, jangan buat situasi semakin rumit," balas Dae.


"Ok kita turun sekarang. Biarkan pelayan yang membawakan barang-barang kita ke bawah," ucap Edy.


Lalu Edy melepaskan pelukannya dan berjalan mengambil barang-barang berharganya di atas meja.


Setelah menghubungi Reseptionist meminta pelayan naik ke lantai atas untuk membawakan barang-barang mereka, tak berapa lama datanglah pelayan tersebut.


"Permisi Tuan, mana barang yang akan saya bawa," ucap pelayan tersebut.


"Ini Mas, bawakan semuanya ini ke bawah," pinta Dae.


"Baik Nona," balas pelayan itu.


Dae dan Edy terlebih dahulu keluar dari dalam kamar itu. Mereka menuruni tangga dan sampai di depan Reseptionist.


"Dae, kamu ke lobby aja, biar aku yang mengurusnya," suruh Edy.


"Baik Ed, aku akan menemui Ilyas," balas Dae.


Dae pun meninggalkan Edy yang berurusan dengan Reseptionist. Dia berjalan ke lobby menghampiri Ilyas.


"Udah beres semua sayang?" tanya Ilyas yang melihat kedatangan Dae.


"Udah Yas, Bosku lagi mengurus semuanya. Kamu tidak ada pertemuan hari ini?" tanya Dae.


"Ada sebentar lagi. Kami akan bertemu di lobby. Kamu berangkat sama Presdirmu?" tanya Ilyas balik.


"Iya Yas, kami akan kebandara bersama. Dan ada beberapa karyawan yang sudah menunggu disana," bohong Dae.

__ADS_1


"Baiklah, kamu hati-hati ya sayang. Ingat jangan dekat-dekat sama dia. Aku cemburu," terang Ilyas.


Dae merasa gak enak dengan situasi yang terjadi. Dia memandang Ilyas dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


"Iya Yas. Aku tau itu," balas Dae yang tak berani menatap Ilyas.


Setelah Edy selesai dengan urusannya, dia menghampiri Dae dan Ilyas.


"Gimana Dae, sudah selesai dengan acara temu kangennya?" tanya Edy


Dae melotot melihat ke arah Edy. Dia mencoba menyibukkan dirinya dengan barang-barang bawaannya.


"Baiklah Presdir Ed, saya minta jaga Dae. Dia orang yang sangat berharga buat saya," tekan Ilyas tanpa ekspresi.


"Tentu, anda tidak perlu mengkhawatirkannya," balas Edy.


"Sudah siap semuanya Bu Dae?" tanya Edy.


"Sudah Presdir, ayo kita berangkat," jawab Dae.


Dae pun berpamitan dengan Ilyas. Dia merasa sedih ketika melihat wajah Ilyas yang sendu.


"Kita akan bertemu lagi di Jakarta, segeralah kembali," ucap Dae yang memberikan semangatnya.


"Tentu sayang, aku akan segera kembali ke Jakarta," balas Ilyas.


Edy melihat adegan itu, darahnya mendidih ingin menghajar laki-laki di hadapannya itu. Giginya menggretek karena menahan emosi. Matanya menyalang menatap ke arah Ilyas.


Edy tak tahan dengan kemesraan yang di perlihatkan Ilyas. Dia memilih berjalan duluan keluar dari hotel.


Sementara Dae melihat kepergian Edy, dia pun melepaskan pelukannya.


"Yas, aku harus berangkat. Takut ketinggalan pesawat," ucap Dae.


"Iya sayang, kamu hati-hati ya di jalan," balas Ilyas.


Dae pun pergi meninggalkan Ilyas dan menyusul Edy ke dalam mobil.


Ilyas menatap nanar punggung kekasihnya yang dicintainya. Dia menghela nafasnya dengan berat. Karena harus membiarkan kekasih berlalu dari hadapannya.


Sementara Dae masuk ke dalam mobil. Selama di mobil, Dae tak bersuara. Begitupun dengan Edy. Mereka hanya diam menikmati pemandangan jalan raya yang ramai saat itu. Hingga mereka sampai di bandara tempat pesawat pribadi Edy menunggu.


Edy turun dari mobilnya tanpa menunggu Dae. Dia berjalan duluan, sementara Dae mengikutinya dari belakang. Dae paham dengan sikap Edy seperti itu.


"Presdir tinggi...!" panggil Dae.


Edy tak menggubris teriakan Dae. Dia terus berjalan dan masuk ke dalam pesawatnya.

__ADS_1


Asistent Edy hanya tersenyum melihat tingkah bosnya dan Dae yang lucu. Dan Dae yang mengejar Presdirnya masuk ke dalam pesawat.


Setelah mereka berada di dalam pesawat, Edy sengaja beristirahat memejamkan matanya. Sedangkan Dae bingung mau berbuat apa.


Asistent Li menawarkan Dae minuman dan cemilan.


"Bu Dae, apa anda ingin memesan minuman dan cemilan?" tanya Li yang sengaja memecahkan suasana.


"Iya Asistent Li, saya haus banget dari tadi lari terus," kesal Dae.


"Baiklah kalau gitu tunggu sebentar," balas Li.


Li menghubungi pelayan agar membawakan minuman yang di inginkan Dae.


Setelah beberapa menit berlalu, pelayan datang membawakan minuman dan cemilan ringan.


Tanpa membuang waktu, Dae langsung menghabiskan minumannya tanpa tersisa. Dahaganya langsung merasa legah. Dae tak memperdulikan pandangan Asistent Li yang melotot melihat tingkah Dae.


"Terima kasih Asistent Li atas perhatiannya," ucap Dae yang sengaja membuat Edy membuka matanya.


"Ah sama-sama Bu Dae," balas Li.


Dan apa yang di inginkan Dae, akhirnya Edy menegakkan punggungnya dan menatap tajam ke arah Asistent Li. Dia beralih menatap ke arah Dae.


"Keluar!" teriak Edy.


Dae dan Asistent Li bengong dan bingung. Mereka tidak tau ucapan itu untuk siapa ditujukan.


"Siapa yang keluar Presdir?" tanya keduanya bersamaan.


"Kalian berdua!"


"Ah, kami?"


"Saya bilang keluar..!" tekan Edy lagi.


Lalu Dae dan Asistent Li langsung berdiri dan keluar dari ruangan itu. Mereka berjalan menuju ruangan yang satunya lagi.


"Ada apa dengan Presdir Edy, Bu Dae?" tanya Asistent Li.


"Mana saya tau Asistent Li," jawab Dae seenaknya.


"Kenapa sikapnya seperti itu?" tanya Asistent Li lagi.


"Mungkin dia kelelahan dan tdak ingin diganggu," jawab Dae lagi.


Dae dan Asistent Li hanya diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Dae menghabiskan waktunya dengan bermain ponsel. Sementara Asistent Li bekerja menggunakan leptop. Hingga akhirnya mereka sampai di Jakarta dengan selamat.

__ADS_1


Dae merasa senang dan legah karena akhirnya bisa bertemu dengan keluarganya lagi.


__ADS_2