
Dae mengikuti Presdirnya ke kamar. Sedangkan Asistent Li mengikuti mereka. Dia mengetahui kalau Presdirnya itu jatuh cinta dengan Dae. Ini suatu hal yang langka. Karena Presdirnya sangat dingin dan tidak ingin berdekatan dengan perempuan manapun. Dia akan merasa jijik jika melihat perempuan yang terlalu mengharapkannya. Berbeda dengan Dae, dia selalu menolak Edy, dan berani menegur Edy di hadapan Asisstentnya.
Kemudian Edy membuka pintu kamarnya dan mengajak Dae masuk ke dalam kamar itu.
"Ayo Dae masuk, apa kamu ingin dilihat sama karyawan lain kalau kamu satu kamar denganku?" tanya Edy dengan senyum menawannya.
"Ini semua karena Presdir. Seharusnya kita tidak bisa satu kamar, tapi Presdir sudah mengaturnya terlebih dahulu, jadi saya harus mengikutinya," jawab Dae yang menyalahkan Edy.
"Lebih baik sekarang kamu membersihkan tubuhmu dan beristirahat bersamaku," suruh Edy.
Dae tak menghiraukan ucapan Edy, dia memilih diam dan langsung membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Dae menikmati aromatherapy yang di bawanya untuk keperluannya selama di Jogja. Setelah berendam lama di dalam kamar mandi, Dae pun keluar dari dalam dengan aroma yang segar.
Edy melihat Dae yang tampak segar dengan rambut basah membuat jakunnya naik turun.
"Matanya dijaga Presdir, jangan sampai air liur kamu terjun bebas dari tuh bibir," ledek Dae dengan menyunggingkan senyumnya.
"Oh kamu sudah pinter ngeledek saya ya Dae. Apa kamu ingin saya hukum?" tanya Edy menyeringai sambil mendekat ke arah Dae.
"Bukankah kamu sering memberikan hukuman buaku?" tanya Dae tak suka.
"Ya aku akan menghukummu, jika kamu berani menggodaku," jawab Edy sambil melingkarkan tangannya di pinggang Dae.
Edy mengendus ke leher Dae dan dia sangat menyukai harus tubuh dan Dae yang menenangkan.
"Aku suka harus tubuhmu Dae," bisik Edy tersenyum.
"Bisakah kamu mandi, karena aku tidak ingin berdekatan dengan laki-laki yang belum bersih," sarkas Dae tanpa rasa takut.
"Baiklah Dae ku, aku akan mandi. Setelah itu temani aku tidur ya," ucap Edy seenaknya.
Dae mendengkus melihat kepergian Edy. Lalu dia memilih duduk di sofa sambil menonton TV. Dae teringat akan Mama dan Papanya. Kemudian dia mengambil ponselnya dan menghubungi Papanya.
Dae lebih suka berbicara dengan Papanya, karena tidak banyak yang di tanyakan. Namun berbeda dengan Mamanya yang selalu memberikan banyak pertanyaan.
Tlp pun berdering, Dae menunggu panggilannya di jawab.
"Assalamualaikum nak!" sapa Papanya dari sana.
"Wa'alaikumussalam Pa!" sahut Dae.
"Gimana Dae, apa kamu udah sampai di Jogja nak?" tanya Papanya.
"Iya Pa, Dae baru aja sampai di Jogja. Ini baru selesai beres-beres Pa," jawab Dae.
"Oh.., Papa senang kamu selamat sampai di Jogja. Dimana Presdir mu sayang?" tanya Papanya.
"Dia di kamarnya Pa, aku gak tau dia lagi apa," bohong Dae.
Ya Dae terpaksa tidak memberitahukan kepada Papanya tentang dirinya yang satu kamar dengan Presdirnya. Dae tidak ingin Papanya marah karena keadaannya.
"Oh...,salam sama Presdir kamu. Katakan sama dia, jangan lupa membawamu pulang dengan keadaan selamat," ucap Papanya yang memberi pesan.
"Baik Pa, nanti Dae sampaikan. Kalau gitu udah dulu ya Pa, Dae mau istirahat, nanti Dae akan menghubungi Mama, katakan sama Mama, Dae merindukannya," ucap Dae.
"Tentu akan Papa sampaikan," balas Papanya.
__ADS_1
Lalu tlp dimatikan setelah Dae mengucapkan salam. Obrolan pun berakhir. Tepat pada saat itu, Edy keluar dari dalam kamar mandi, dia melihat Dae sedang santai di depan TV.
"Dae, kamu kenapa tidak istirahat?" tanya Edy.
"Aku mau melihat siaran TV, bosen istirahat terus," balas Dae ketus.
"Aku akan menemanimu," Edy segera menggunakan pakaiannya dan menghampiri Dae di sofa.
"Kenapa kamu tidak istirahat?" tanya Dae balik.
"Ya, aku juga bosen istirahat terus. Kita sama kan?" Edy terusan menggoda Dae.
Edy merebahkan kepalanya di pangkuan Dae hingga membuat mata Dae membelalak. Edy memperlihatkan senyuman menawannya.
"Jangan marah Dae, aku ingin istirahat di atas paha kamu, sebentar saja," pinta Edy dengan wajah memohon.
"Emang kamu pikir ini bantal yang seenaknya kamu gunakan," marah Dae.
"Ayolah Dae, sebentar saja ya," Edy memohon lagi.
Dae hanya bisa menghela nafasnya, dia pun membiarkan Edy tidur di atas pahanya.
Dae memperhatikan wajah tampan Edy yang sangat jelas. Selama ini Dae cuek bahkan tak perduli dengan ketampanan Edy.
Namun saat ini dia bisa dengan jelas dan puas memperhatikan wajah tampan Edy. Perlahan-lahan Dae mengulurkan tangannya dan mulai membelai wajah Edy. Dia melihat Edy sudah terlelap hingga dia merasa Edy tidak akan menyadarinya kalau dia sedang membelai wajahnya.
Dae membelai wajah Edy, memegang hidung mancungnya, menelusuri bibir kecil Edy dan alis matanya yang tebal teratur serta bulu mata yang lentik hingga membuat wajahnya sempurna.
"Sangat tampan, kamu benar-benar tampan, tapi dingin dan gak ada lembutnya, aku tak menyukainya," gumam Dae yang terus memegang bibir Edy.
Edy ternyata tidak tidur, dia hanya memejamkan matanya sejenak. Dia bisa mendengar semua yang di ucapkan Dae. Bahkan dia merasakan sentuhan yang di berikan Dae melalui wajahnya. Edy tersenyum melihat sikap Dae. Dia ingin menggoda Dae.
Dae tersentak dan langsung menarik tangannya dan menyembunyikannya di belakang tubuhnya.
"A--aku tidak sengaja memegangnya," jawab Dae gugup.
"Apakah itu jawaban jujur Dae?" tanya Edy lagi.
"I--iya, itu jujur. Aku gak sengaja memegangnya," jawab Dae sambil memalingkan wajahnya karena malu kepergok sama Edy saat dia membelai wajahnya.
"Hmmmm, tapi aku sangat menyukainya, walaupun kau mengatakan tak sengaja, tapi aku sangat menyukainya," goda Edy.
"Aku pikir kamu sudah tertidur lelap," ucap Dae.
"Sehingga kamu bebas melakukannya, membelai wajahku sepuasnya, begitulah Dae ku?" balas Edy tersenyum.
"Kamu membuatku malu, suaminya menggoda, dasar kulkas," kesal Dae.
Ternyata dia baru sadar kalau Edy tidak benar-benar tidur, dia hanya memejamkan matanya saja. Dae merasa sudah dikerjain sama Edy.
"Apakah tadi ucapanku juga kamu dengar?" tanya Dae cemas.
"Tentu aku mendengarnya sayang, terima kasih karena kamu memuji ketampananku."
"Oh ya ampuuun ternyata kamu tidak tidur sungguhan, dasar kulkas hidup," gerutu Dae kesal.
__ADS_1
"Hahahaha, kamu selalu mengatakan aku kulkas, tapi si kulkas ini mampu membakarnya sehingga kamu terus menerus mendesah di bawahku Daeku sayang," ucap Edy yang membuat wajah Dae merah merona karena malu.
"Kau selalu saja menggodaku, kapan kau akan berhenti menggodaku Edy...!" kesal Dae cemberut.
"Sampai kamu mengatakan, "Edy, aku sangat mencintaimu, sungguh" baru aku akan berhenti menggodamu," Edy menaik-naikkan alisnya sambil tersenyum.
Dae tak menanggapinya, dia membuang muka tak ingin menatap Edy.
Lalu Edy bangkit dari rebahannya, dia duduk di samping Dae dan memeluk Dae dari samping.
"Dae ku, aku serius mengatakannya, aku mencintaimu. Jadilah bagian dari hidupku," ucap Edy tegas.
"Aku sudah mengatakan, aku tidak bisa karena ada orang lain yang pertama kali aku cintai," balas Dae tanpa peduli perasaan Edy.
"Baiklah, aku akan tetap menunggumu Dae ku. Aku yakin, kelak kamu yang akan datang ke hadapanku," ucap Edy percaya diri sambil tersenyum penuh arti.
Edy sebenarnya kecewa, tapi dia tidak ingin menyerah. Dia akan mendapatkan Dae bagaimanapun caranya selagi itu jalan yang benar.
"Ayo kita cari makan, apakah kamu tidak lapar Dae?" tanya Edy dengan kelembutan.
"Iya, aku lapar sih. Kita cari makan di luar aja ya. Aku pengen jalan-jalan diluar sana," jawab Dae.
"Ayolah, bersiap-siap, aku akan mengajakmu jalan-jalan menikmati Kota Jogja."
"Sungguh Ed!"
"Iya sungguh."
"Kalau begitu, aku akan bersiap-siap, tunggu sebentar ya," Dae langsung berdiri dan mulai memakai pakaiannya dan merias dirinya dengan tampilan natural.
Setelah selesai, Dae menghampiri Edy dan berdiri dihadapannya.
Edy terpukau melihat penampilan Dae tanpa pakaian kantornya. Dia menggunakan celana jeans dan kaos serta rambut yang digerai tapi di atur seperti mie keriting sebagiannya, membuat Dae tampak cantik.
"Kamu cantik banget Dae," puji Edy.
Dae tersipu malu, jantungnya berdegup kencang saat mereka saling berhadapan dan sangat dekat.
"Ayo kita berangkat, kita cari makan diluar," ajak Dae.
"Baiklah Dae ku, kita berangkat sekarang," balas Edy.
Mereka keluar dari Hotel, mencari makan siang. Edy memberi pesan ke Asistent Li untuk mengatur karyawan lainnya.
Edy mengajak Dae jalan-jalan naik becak berdua. Mereka mengelilingi Malioboro dan mencari tempat tongkrongan untuk makan siang.
"Kamu mau pesan apa Dae?" tanya Edy.
Edy menyerahkan buku menunya kepada Dae. Lalu Dae pun melihat-lihat menu yang ada di cafe itu.
Setelah pesanan di pesan, Dae dan Edy ngobrol sambil menunggu makanan datang.
"Dae, setelah kita kembali dari Jogja, mungkin aku akan pergi ke Luar Negeri. Aku harus kesana menemui Papa ku," ucap Edy memberitahu.
"Maksud kamu, orang tua kamu di sana?" tanya Dae tak percaya.
__ADS_1
"Ya, mereka tinggal di sana. Hanya aku dan tanteku yang ada di Indonesia. Tanteku adik dari Mamaku, dia tinggal di Indonesia," jelas Edy
Ada rasa yang tak bisa Dae katakan. Apakah dia senang ataukah bersedih. Tapi dia berusaha menekannya agar tidak terlihat di hadapan Edy.