Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri

Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri
Bab 8


__ADS_3

Dae merasa bimbang untuk melangkah masuk ke dalam ruangan CEO nya.


"Masuk tidak, masuk tidak. Ah masuk aja kali ya," Dae berbicara sendiri di depan pintu.


Lalu Dae mengetuk pintu ruangannya dengan sangat hati-hati.


"Tok tok tok, permisi Tuan...!" sapa Dae dengan sedikit gugup.


"Masuk," terdengar suara perintah menyuruhnya masuk dari dalam ruangan.


Lalu Dae membuka pintu ruangan itu dan dia melangkah masuk. Saat kakinya yang ramping menginjakkan lantai bagian dalam, Dae terpaku terdiam menatap dua orang yang sedang menatapnya juga dengan tajam dan berbeda.


"Silahkan masuk Bu Dae," perintah atasannya.


Ilyas yang melihat kehadiran wanita yang sudah membuatnya darahnya berdesir dan juniornya berdiri tegak, dia menatap lekat ke arah Dae tanpa berkedip.


Dae menjadi salah tingkah dilihat seperti itu.


"Kenapa dia itu. Tatapannya sungguh membuat jantungku berdebar saja. Oh Dae...! Fokus ke depan, jangan tergoda dengan tatapannya yang menggetarkan hatimu," gumam Meka dalam hatinya.


"Tuan memanggil saya?" tanya Dae dengan sikap profesionalnya.


"Bu Dae, anda bisa membuat perencanaan untuk Promosi produk. Dan Pak Ilyas ingin Bu Dae yang membantunya dalam hal ini."


"Tapi Tuan, bukannya sudah ditangani oleh Asisstent Li?" tanya Dae.


"Tidak, saya mengalihkannya ke anda," jawab Tuannya dengan tatapan berbeda.


"Kenapa si Bos ngelihatin gw seperti itu? Perasaan gak ada yang salah dengan penampilan gw hari ini. CEO itu juga menatap gw seperti mau menerkam, sekarang Bos gw seperti itu. Kayaknya gw harus bercermin nanti," bathin Dae yang masih berdiri dihadapan meja Bosnya.


"Bu Dae...!" panggil Tuan Edy.


"Ah, iya Tuan. Maaf saya tadi lagi melamun," jawab Dae jujur.


Tuan Edy menatap Dae dengan tajam, dan bisa-bisanya dia melamun saat saya berbicara.


"Anda dengar tidak apa yang saya sampaikan!" ucap Tuan Edy sedikit sinis.


"Maaf, Tuan tadi bilang apa ya, saya benar-benar tidak mendengarnya," balas Dae putus asa.


"Saya sudah mengalihkan tugas itu ke anda. Jadi anda yang bertanggung jawab atas kebutuhan dan yang diperlukan oleh Perusahaan Pak Ilyas."


"Mmm, baik Tuan. Saya akan berusaha memberikan yang terbaik untuk Perusahaan Pak Ilyas," Dae menoleh kearah CEO Ilyas.


Saat Dae melihat kearahnya, tatapan mata mereka beradu, Dae menjadi salah tingkah dan sedikit canggung. Lalu dia mengalihkan pandangannya ke arah atasannya kembali.

__ADS_1


"Baik, anda boleh keluar," perintah atasannya.


"Permisi Tuan Edy," Dae melangkah keluar dari ruangan yang membuatnya sesak dan senam jantung.


Dae berhenti sejenak di depan pintu ruangan itu sambil memegang dadanya. Jantungnya jelas-jelas belum bisa netral. Iya seperti orang yang baru saja menyelesaikan lari maraton.


"Bu Dae, anda kenapa?" Sekretaris Lu tiba-tiba menghampiri Dae.


Dae terlonjak kaget melihat kehadiran Sekretaris Lu.


"Eh ini Pak, saya baru saja keluar dari ruangan Tuan Edy," jawab Dae konyol.


"Tentu saja dia baru keluar dari ruangan atasannya, dia saja masih berdiri di depan ruangan Tuan Edy," gumam Sekretaris Lu.


"Maaf, Pak Lu ngomong sesuatu?" Dae bertanya dengan ekspresi polosnya.


"Ah nggak Bu Dae. Kalau begitu saya mau masuk ke dalam. Apa Bu Dae masih betah berdiri di depan ruangan ini dan menghalangi saya masuk?" tanya Sekretaris Lu.


"Oh iya Pak silahkan. Saya permisi dulu," Dae berjalan dengan cepat menuju lift.


Namun saat Sekretaris Lu masuk ke dalam ruangan itu, CEO Ilyas keluar dari ruangan itu. Dia berjalan menuju lift juga.


Dae tidak mengetahui kalau CEO itu keluar dari ruangan itu. Saat ini posisi CEO itu sedang berdiri dibelakang Dae. Sehingga dia bisa mencium aroma tubuh Dae yang sangat disukainya. Kemudian pintu lift terbuka, Dae masuk ke dalam. Saat dia berbalik dia menabrak CEO itu.


"Haduh Pak, kenapa suka banget nabrak-nabrak orang sih!" bentak Dae sambil mengusap jidatnya.


Dae terpaku ditempat saat melihat tubuh laki-laki itu. Dan dia mendongak keatas dan terkejut. Dae bisa merasakan udara di dalam lift itu menjadi dingin dan mencekam. Lalu CEO itu mendekat kearah Dae dan memojokkannya ke dinding lift. Sehingga tubuh mereka dekat tak berjarak.


CEO itu menatap mata Dae yang indah. Dengan bulu mata panjang dan tebal. Dia tertarik dengan bibir sensual Dae yang memikat dirinya untuk mencicipinya. Perlahan-lahan CEO itu mendekatkan bibirnya dan melu*** bibir sensual Dae.


Dae kaget dan terpaku dengan perlakuan CEO itu. Dia diam, bingung bercampur marah dan senang. Dae tidak membalas ciuman CEO itu, dia masih merasa syok dengan sentuhan yang mendadak.


Lalu setelah kesadarannya pulih, Dae langsung mendorong CEO itu.


"Apa-apaan ini Pak, seenaknya mencuri ciuman pertama saya," bentak Dae keceplosan. Dae langsung menutup mulutnya karena mengakui bahwa itu ciuman pertamanya.


CEO itu kembali berdiri di samping Dae. Dia tersenyum menyungging, dan berkata, "Seksi," gumamnya.


"Sialan, juniorku berdiri tegak. Wanita ini benar-benar membuatku gila. Bisa-bisanya hanya dengan ciumannya membua hasratku membuncah. Ini benar-benar tidak mungkin," bathin CEO itu.


Sedangkan Dae merasa malu dan canggung. Dia kesal karena CEO itu tidak merespon amarahnya. Lalu Dae maju kehadapan CEO itu.


"Anda dengar gak Pak! Anda sudah berlaku tidak sopan terhadap saya. Anda bisa saya laporkan dengan atasan saya sekarang juga!" bentak Dae tanpa rasa takut.


Ilyas terus memandangnya dengan sedikit tersenyum. Dia merasa terhibur dengan omelan wanita dihadapannya. Namun dia tidak merubah ekspresinya yang datar dan sikap arogannya.

__ADS_1


"Kenapa, anda mau saya mengulanginya lagi?" tanya CEO itu tanpa tersenyum.


"Dasar CEO gila, mesum!" umpat Dae yang tidak ada takut sama sekali.


Kemudian pintu lift terbuka, Dae keluar dari lift itu tanpa menoleh kearah CEO itu.


Sedangkan Ilyas, dia tersenyum mendengar umpatan Dae.


"Baru kali ini ada wanita yang berani mengataiku mesum dan gila. Benar-benar menarik!" bathin Ilyas.


Dia keluar dari Perusaahan itu dengan Asisstent yang sudah menunggunya di bawah.


"Kita jalan sekarang," perintah Ilyas.


"Baik Tuan," jawab Asisstentnya.


Di ruangan lain, dimana Dae sedang marah-marah seorang diri. Dia mengumpat habis-habisan CEO kelakuannya.


Hingga energi Dae berkurang karena meluapkan amarahnya.


Sesaat kemudian, Ani sahabatnya masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Ani mengerutkan keningnya melihat Dae yang marah-marah.


"Hei, Lo kenapa ngomel-ngomel sendiri gitu? Ada apa?" tanya Ani penasaran. Dia duduk di hadapan Dae dengan menopang dagunya diatas meja kerja Dae.


"Gw lagi kesal tau!"


"Ya mana gw tau kalau Lo lagi kesal. Kan belom cerita," ucap Ani sehingga membuat Dae semakin emosi.


"Lo bisa gak sih jangan jahilin gw saat hati gw kesal. Lagian kalau Lo gak ada keperluan lebih keluar dari ruangan ini!"


Ani yang mendengar ucapan ketus sahabatnya, bukannya marah. Dia justru tertawa terbahak-bahak, merasa lucu dengan tingkahnya.


"Wkkkkkkk, Lo ini ya Dae....Kalau ada masalah cerita dong sama pakarnya. Gw bantu buat memecahkannya," Ani mencoba meredamkan emosi Dae.


"Gw kesal sama tuh CEO." ucap Dae singkat.


"Maksud Lo CEO mana? Apa sama atasan kita?" tanya Ani bingung.


"Bukan, tapi sama CEO Perusahaan yang kemaren mengundang Perusahaan kita. Tadi lagi ada pertemuan kerja sama dengan Perusahaan mereka, dan gw ikut dalam pertemuan itu," jelas Dae.


"Lantas apa yang terjadi?"


Dae pun menceritakan kejadian saat di lift tadi. Pipinya merona saat menceritakan kejadian tadi. Dae tidak canggung memberitahukan apa yang terjadi dengannya terhadap sahabatnya.


Ani tertawa dan senyum-senyum mendengar cerita dari Dae.

__ADS_1


"Itu artinya ciuman pertama Lo sudah diambil sama dia? Wah bibir Lo udah gak perawan lagi Dae!" seru Ani yang menjahilin sahabatnya.


__ADS_2