
"Aniiii...! Jangan kencang-kencang suara Lo! Nanti ada yang nguping tau," kesal Dae.
"Ekhem, gimana Dae rasanya dicium sama CEO? Nikmat gak...? Atau Lo mau nyoba lagi saat nanti bertemu dengan CEO itu?" tanya Ani yang terus saja menggoda Dae.
"Oh ya ampuuun Ani...., pikiran Lo ini benar-benar sudah kelewat mesum ya. Gw curiga nih jangan-jangan Lo sudah sering ya melakukannya, ngaku!?" Dae justru balik menyerang Ani.
Ani terdiam mendengar ucapan Dae, dia mendekatinya dan memasang wajah datarnya, lalu berbisik,
"Horeeeee gw masih perawan Dae......! Wkkkkkk" teriak Ani tepat ditelinga Dae sambil tertawa mengejek sahabatnya. Lalu di kembali ke kursi dihadapan Dae dengan santai.
"Ani, Lo gak makan siang dikantin gitu? Ini sudah jam makan siang loh!" Meka mengusir Ani secara halus.
"Apa Lo mau ngusir gw Dae?" tanya Ani dengan ekspresi tanpa senyum.
"Hehehe, gw gak maksud ngusir Lo, gw juga pengen makan siang dikantin Lo An!" ucap Dae cengengesan.
"Oh..., kalau gitu ayo kita ke kantin sekarang, sebelum ada yang mencari Lo nanti," ajak Ani.
"Heum, emang siapa yang akan mencari gw?"
"Ya mana gw tau," Ani mengedikkan bahunya.
Dae berjalan keluar dari ruangannya dan Ani mengikutinya.
"Dae tunggu, jangan cepat-cepat jalannya!" seru Ani.
"Kelamaan, gw udah kelaparan. Buruan jalannya!" bentak Dae sambil terus berjalan.
"Isssssh Lo ini ya, kelewatan banget sih sama sahabat sendiri. Lapar sih lapar, tapi gak buru-buru gini juga jalannya," gerutu Ani.
Mereka berjalan memasuki kantin kantor. Sesampainya dikantin, Dae mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan kantin, dan akhirnya dia menemukan tempat duduk yang pas buat menikmati makan siangnya.
"Ayo duduk disitu An," ajak Dae sambil menunjuk tempat duduk itu.
Ani melihat temoat yang ditunjuk Dae sangat pas buat nyantai dan dekat dengan tempat memesan makanan, sehingga mereka tidak perlu berjalan jauh.
Akhirnya mereka duduk di tempat itu dan memesan makan siangnya. Dae dan Ani mengobrol santai. Mereka tidak menyadari kalau ada sosok yang menyunggingkan senyumnya kearah Dae.
Dia adalah Pak Raffi yang duduk dipojok bersama yang lainnya. Dia terus menatap Dae seperti mangsa yang hendak diburunya, namun belum pas kena sasaran.
__ADS_1
Sedangkan dimeja Dae dan Ani sudah terhidang pesanan mereka. Dae dengan santainya menikmati makan siangnya dengan rasa nikmat.
"Dae, kapan kita jalan ke Mall? Gw udah pengen ganti tas? Apa Lo gak pengen cuci mata Dae?" tanya Ani antusias.
"Lo tau sendiri kan, gimana Nyokap gw yang cerewet. Dia pasti heboh bakalan nyuruh gw cepat pulang."
"Nanti biar gw yang minta izin sama Nyokap Lo. Dasar anak Mama banget sih Lo," ketus Ani.
"Ya terserah deh, kalau Lo bisa minta izin, gw seneng banget. Kapan mau ke Mall nya?" tanya Dae yang gak sabaran.
"Gimana kalau hari ini, kebetulan pacar gw gak jemput. Kita bisa menghabiskan waktu buat bersenang-senang, gimana?" tanya Ani yang sangat berssmangat.
"Ok lah, gw setuju tapi, Lo harus minta izin sama Nyokap gw ya."
"Siiip, tenang. Serahkan semua ke pakarnya," Ani menepuk-nepuk dadanya pelan membanggakan dirinya.
"Hehehe, ayo balik keruangan. Sudah waktunya kita kembali bekerja," ajak Dae.
"Bentar dong Mek...! Kita baru selesai makan loh. Nasinya juga belum turun nih. Kata orang tua gw, kalau habis makan jangan langsung berjalan. Tapi tunggu sebentar," ungkap Ani.
"Iya-iya gw tunggu bentar 5 menit, tanpa menawar," ucap Dae yang merasa lucu mendengar ucapan sahabatnya ini.
"Dae, Lo ngerasa gak kalau kita sedang diperhatikan?" tanya Ani yang terus mengikuti langkah Dae.
"Ah nggak tuh. Kenapa, emang Lo ngerasa seperti ada yang memperhatikan kita?" tanya Dae balik yang tampak acuh.
"Iya, gw seperti dilihatin gitu. Tapi gak mungkin kan Manager Raffi yang memperhatikan kita?"
Seketika Dae menghentikan langkahnya saat mendengar Ani menyebutkan nama Pak Raffi. Dan dia langsung menoleh kearah Ani.
"Siapa Lo bilang tadi? Pak Raffi?" tanya Dae mengulanginya.
"Iya tadi gak sengaja pas kita berjalan keluar dari ruangan, gw melihat keberadaan Pak Raffi. Terus setelah itu gw ngerasa dia sepertinya memperhatikan kita," jelas Ani.
Kemudian Dae melanjutkan langkahnya menuju ruangannya, hingga tanpa sengaja dia menabrak seseorang.
"Ya ampuuun ini siapa sih yang pakai nabrak-nabrak gw!" teriak Dae.
Dae yang terjatuh tak menyadari bahwa yang menabraknya adalah CEO nya sendiri. Lalu dia berdiri tegak lurus dan mendongakkan kepalanya kedepan. Seketika tubuhnya bergetar, saat melihat sosok yang tinggi besar berdiri dihadapannya.
__ADS_1
"Kamu berani teriak-teriak dihadapan saya?" ucap Pak Edy tanpa ekspresi.
Ani sahabat Dae, sudah gemetaran melihat CEO nya yang menatap tajam mereka. Mereka seperti ingin dikuliti hidup-hidup oleh tatapan CEO nya.
"Maaf Pak, saya tidak tau kalau bapak yang nabrak saya," ucap Dae yang berusaha tenang.
"Kamu malah menyalahkan saya yang menabrak kamu!"
"Bukan maksud saya Pak seperti itu. Maaf Pak, saya gak ada niat menyalahkan bapak. Sekali lagi saya minta maaf," Dae menundukkan sedikit kepalanya tanda dia menyadari kesalahannya.
Tanpa sepatah kata pun, CEO itu berlalu dari hadapan Dae dan Ani. Diikuti oleh Asisstent Li yang berjalan dibelakang CEO itu.
Setelah mereka berlalu dari hadapan Dae dan Ani, keduanya kembali menegakkan kepalanya kembali tegak. Keduanya saling berpandangan dengan ekspresi membingungkan.
"An, Lo lihat gak tadi ekspresi Bos kita, serem banget ya." ucap Dae sambil menatap kearah CEO nya.
"Iya ya Dae, gw takut banget loh waktu CEO kita ngelihatin Lo. Kayaknya gimana gitu," balas Ani.
"Yuk ah balik keruangan, ngapain kita membahasnya disini. Nanti kita lanjut nanti saat kita ke Mall," ajak Dae.
Ani hanya mengikuti langkah Dae. Dia pun berjalan masuk ke dalam ruangan Dae.
"Loh, kenapa ngikutin gw kesini? Ruangan Lo kan gak disini! Ini waktunya kerja An...!"
"Oh udah selesai ya jam istirahat kita. Kirain masih lama lagi, hehehe," Ani masih ingin ngobrol banyak sama Dae.
Ani merasa hari ini dia sangat malas untuk bekerja. Dia hanya ingin ngobrol santai bersama Dae selama berjam-jam. Tapi tidak buat Dae. Dae merasa dia bertanggung jawab dengan tugas yang sudah diberikan kepadanya oleh atasan. Dan tidak ada alasan untuk bermalas-malasan bekerja.
"Udah Lo kembali ke ruangan sana. Nanti Manager Lo nyariin. Bisa-bisa dikira gw yang minta Lo buat ngegosip terus," celetuk Dae yang mengusir Ani terang-terangan.
"Iya-iya Dae, nih gw mau keruangan. Sabar dong, masih ada waktu istirahat 10 menit lagi loh...," Ani menunjuk jam dinding Dae yang memang masih ada waktu istirahat 10 menit lagi.
Dae pun mengikuti arah yang ditunjuk Ani. Dae hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya yang memperhitungkan waktu istirahat.
"Serah Lo deh," ucap Dae.
"Ya udah gw balik ke ruangan nih, tapi nanti jadi ya kita jalan-jalan ke Mall nya?" tanya Ani berharap.
"Iya nanti kita jalan, ingat Lo harus izin nyokap gw," Dae mengingatkan Ani.
__ADS_1