
Dae menyadari perubahan sikap Edy. Ntah kenapa Dae ikut terluka di dalam hatinya. Tapi dia buru-buru menepisnya. Perasaan cintanya hanya untuk Ilyas. Walaupun saat ini mereka belum bisa bersama. Tapi Dae juga tak memungkiri bahwa dia merasa senang ketika bersama Edy.
"Jangan bilang kamu cemburu Ed," tuduh Dae.
Edy langsung meminggirkan mobilnya mendadak ketika mereka sudah berada di dalam komplek perumahan Dae.
"Loh kenapa malah berhenti Ed?" tanya Dae bingung.
Dae merasa udara dingin menyelimuti tubuhnya hingga dia merasa kedinginan. Tatapan Edy yang dingin mengarah ke arah Dae.
"Ada apa Ed?" tanya Dae lagi dengan bingung.
"Kamu tanya apa aku cemburu!? Jawabannya ya, aku cemburu Dae...!" bentak Edy dengan tegas.
Dae seketika memucat, wajahnya terlihat tak berdaya, sorot matanyanya memperlihatkan ketidak berdayaannya.
"E--ed, maafkan aku. Aku gak bermaksud membuatmu cemburu. Dari awal aku sudah mengatakan kalau aku sudah memiliki kekasih. Tapi kamu bersikeras untuk memperjuangkan cintaku. Ke--kenapa sekarang kamu marah?" tanya Dae dengan gugupnya.
Edy membuang nafas beratnya, dia tau tidak seharusnya dia memperlakukan Dae seperti ini. Tapi bagaimanapun, dia juga punya perasaan sensitif yang bisa cemburu.
"Maaf, aku tau seharusnya, aku gak marah
Karena ini semua keinginanku yang membuat situasi seperti sekarang," balas Edy tak berdaya.
Lalu dia mulai menjalankan mobilnya kembali ke arah rumah Dae. Dan jarak dari mobil mereka berhenti ke rumah Dae sangat dekat. Hingga tak membutuhkan waktu lama, mereka sudah sampai di rumah Dae.
"Kita sudah sampai. Aku langsung aja pulang. Aku gak mau mengganggu waktu kalian berdua," ucap Edy datar.
"Makasih untuk hari ini Ed," balas Dae.
Lalu Dae pun keluar dari mobil. Dia tidak berani menoleh kebelakang melihat Edy kembali. Dae langsung masuk ke dalam rumah yang memang sedang ada si bibi yang bersih-bersih rumah di teras rumah.
Sementara Edy, memukul setirnya dengan rasa kesal dan berteriak.
"Sialan......kenapa harus menjalani keadaan rumit ini.....!?" teriak Edy sambil membentur-benturkan jidatnya ke setir mobilnya.
Edy terdiam sejenak sambil memejamkan matanya merenungi semuanya.
"Apa aku harus mundur dan kembali ke luar negeri aja melanjutkan Perusahaan yang disana? Hahh, kalau aku disini, aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak terus melihatnya dan mencintainya. Mungkin lebih baik aku menjauh darinya," bathin Edy.
Lalu Edy mendongakkan kepalanya ke depan dan melihat ke arah pintu rumah Dae. Dae sudah tak terlihat lagi disana.
__ADS_1
"Selamat tinggal Dae. Kita gak akan ketemu lagi. Aku akan mundur sekarang juga. Aku gak mau kamu kesulitan dan menderita," gumam Edy yang masih berada di depan rumah Dae.
Kemudian mobil Edy meninggalkan rumah Dae dengan rasa sedihnya.
Sementara di dalam rumah, Dae sedang bersiap-siap untuk pergi dengan Ilyas. Namun tiba-tiba Dae teringat dengan Edy.
"Apa dia tadi benaran marah ya? Ah sudahlah, biarkan saja, toh itu kemauan dia," gumam Dae.
Namun kaki Dae justru melangkah ke arah jendela dan mengintip dari balik tirai ke arah luar sana. Ternyata mobil Edy sudah tak terlihat. Ketika Dae ingin menutup tirai jendela ya, suara mobil terdengar memasuki pekarangan rumah Dae. Dia melihat mobil Ilyas yang datang. Dae buru-buru bersiap untuk pergi dengan Ilyas.
Dae pun melangkah ke depan meja riasnya untuk bermake-up. Dia tampil sangat cantik dan anggun dengan gaun yang elegan dan rambut di gulung ke atas hingga memperlihatkan leher putih mulusnya.
"Tok tok tok, non Dae..., ada Tuan Ilyas di depan!" seru si bibi memberitahukan Dae.
"Iya bi, suruh tunggu ya," sahut Dae dari dalam kamarnya.
Setelah selesai bersiap-siap, Dae keluar dari dalam kamarnya. Dia menuju ruang tamu, dimana Ilyas sudah ada disana bersama orang tua Dae.
Dae berhenti sejenak melihat mereka di ruang tamu, lalu dia berjalan santai menunjukkan wajah cantiknya dengan senyumnya.
"Pa, Ma," sapa Dae.
Lalu Dae duduk di samping Mamanya sambil memandang Ilyas.
"I--iya Ma, maaf Dae belum ngasih tau Mama dan Papa tadi," balas Dae merasa salah.
"Ya udah gak apa-apa. Kalau mau pergi jangan lama-lama pulangnya ya sayang," ucap Mamanya.
"Iya Ma, Dae gak akan lama kok," balas Dae.
"Om, Tante, saya izin mau ngajak Dae dulu ya keluar makan malam. Saya gak akan bawa Dae lama-lama diluar," pamit Ilyas dengan ramah.
"Iya nak Ilyas, silahkan. Tante ngizinin kok, kalian hati-hati di jalan ya," ucap Mamanya Dae.
"Iya Tante," balas Ilyas.
"Pa, Dae pergi dulu ya," pamit Dae yang merasakan aura tak nyaman dari Papanya.
"Heum, hati-hati di jalan kamu ya," balas Papanya tanpa senyum.
"Om, saya pamit dulu ya," ucap Ilyas sambil menyalami tangan Papanya Dae.
__ADS_1
"Heum," hanya itu yang di jawab Papanya Dae.
Lalu Dae dan Ilyas keluar dari rumah dan berjalan ke mobil. Ilyas merasa senang bisa mengajak Dae keluar untuk makan malam yang sudah di persiapkannya. Ilyas ingin memberikan kejutan buat kekasih tercintanya.
"Sayang, kamu terlihat sangat cantik sekali. Aku jadi gak mau kehilangan kamu," puji Ilyas saat mereka sudah di dalam mobil.
"Hmmmm, gombal. Bukankah biasanya aku juga terlihat cantik Yas?" tanya Dae yang mencoba menyembunyikan wajah malu-malunya.
"Serius loh sayang, aku gak gombal. Aku kangen banget sama kamu. Tadi pas ke kantor kamu, aku sempat kecewa karena gak ketemu kamu. Tapi ternyata yang diatas memberikan jalan buat kita bisa bertemu hari ini," jelas Ilyas yang merasa bahagia.
Ilyas mengambil tangan Dae dan menggenggamnya sambil meletakkannya di atas pahanya.
Dae tersipu malu dengan perlakuan Ilyas. Dia menatap Ilyas dengan lekat.
"Kita mau kemana Yas?" tanya Dae.
"Aku ingin ngajak kamu makan malam yang sudah aku persiapkan. Kamu pasti seneng melihatnya," jawab Ilyas.
"Apakah ini kejutan buatku Yas?" tanya Dae lagi.
"Tenti sayamg, aku ingin memberikan kejutan untukmu. Dan oleh-oleh dari Jogja kemaren," jawab Ilyas dengan senyum maknanya.
Selama perjalanan, Ilyas tak henti-hentinya menebar senyuman. Dia sudah tak sabar ingin mengungkapkan keinginannya yang sudah lama di pendam dan di tahannya.
Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah hotel berbintang lima. Dimana Ilyas sudah menyewa Restaurant untuk makan malam yang romantis dengan Dae.
"Ayo sayang, kita keluar. Kita sudah sampai," ajak Ilyas.
"Kenapa kita ke hotel Yas?" tanya Dae bingung.
"Kamu tenang aja, aku ingin memberikan kejutan untukmu," jawab Ilyas.
Dae hanya mengikuti kemauan Ilyas. Dia keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam hotel.
"Selamat malam Tuan Ilyas," sapa karyawan yang berdiri di depan pintu hotel.
"Malam," balas Ilyas singkat.
"Mari Tuan, saya antar ke tempat yang sudah di siapkan untuk Tuan," ajak karyawan hotel itu.
Lalu Ilyas dan Dae berjalan mengikutinya hingga mereka sampai di Restaurant. Dae tidak bisa melihat dengan jelas, karena ruangan itu terlihat gelap dan lampu belum dinyalakan. Hingga ketika mereka sudah berada di dalam ruangan itu, tiba-tiba lampu menyala dan memperlihatkan suasana Restaurant yang sangat romantis.
__ADS_1
Dae terkesiap melihat pemandangan yang sangat indah di hadapannya.