Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri

Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri
Bab 103


__ADS_3

Ilyas membawa Dae masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan tempat itu. Ilyas tidak ingin ada yang melihat kebersamaan mereka. Sehingga dia meminta Dae masuk ke dalam dan pergi ke tempat yang ingin ditujunya.


"Sudah sayang, kamu jangan bersedih lagi. Kita akan menghadapi semua ini," ucap Ilyas sambil mengusap punggung Dae.


Dae pun mengangguk dan membenamkan wajahnya di dada Ilyas dengan suara isakan.


Dan Dae akhirnya memilih memejamkan matanya dalam dekapan Ilyas hingga dia benar-benar tertidur.


Ilyas menunduk melihat keadaan Dae yang ternyata sudah tidur.


"Maaf kan aku sayang, aku benar-benar menyesal telah meninggalkanmu sehingga kamu putus asa begitu. Sekarang aku tidak akan meninggalkanmu lagi," tekad Ilyas yang menggebu-gebu.


Beberapa menit berlalu, selama dalam perjalanan, keduanya menikmati kebersamaan dengan memejamkan mata dengan saling berpelukan.


"Maaf Tuan, kita sudah sampai," supirnya memberitahu ke Ilyas bahwa mereka sudah sampai di cafe yang dituju.


Ilyas pun membuka matanya dan melihat ke arah cafe itu. Dia tersenyum senang karena bisa kembali ke tempat itu bersama Dae lagi. Lalu Ilyas membangunkan Dae.


"Sayang, kita sudah sampai, ayo kita ke sana. Aku sudah sangat laper," ucap Ilyas dengan suara pelan.


"Oh..kita sudah sampai ya," Dae mengucek-ngucek matanya dan melihat ke arah cafe itu. Hatinya merasa terharu karena dia bisa kembali ke cafe itu lagi bersama Ilyas.


Mereka berdua sama-sama merasakan kebahagiaan yang sangat luar biasa karena mereka kembali menikmati suasana di tempat itu berdua.


"Yas, ini tempat favorite kita. Apa kamu merindukan kebersamaan kita?" tanya Dae menebaknya.


"Ya, aku ingin kita menikmati kebersamaan di cafe itu lagi. Aku tidak bisa melupakannya Dae," jawab Ilyas tersenyum melihat Dae.


"Ayo, aku sudah laper," ajak Dae.


"Ayo kita ke sana," balas Ilyas.


Ilyas dan Dae keluar dari mobil dan berjalan memasuki cafe itu. Sang pelayan segera menyambut kehadiran mereka berdua.


"Silahkan Tuan dan Nona, di sebelah sana," pelayan itu memandu keduanya ke meja yang sudah dipesan Ilyas.


Sesampainya di meja, pelayan itu pamit undur diri dan menyiapkan segala pesanan yang sudah di siapkan atas pilihan Ilyas.


Dae bingung dan penasaran. "Kita mau pesan tapi menunya mana?" tanya Dae bingung.

__ADS_1


"Kamu tenang aja. Duduk santai di sini, pesanan akan segera tiba," balas Ilyas dengan senyum penuh arti.


"Baiklah, aku akan duduk manis dan menunggu makanan datang," Dae pun tertawa mengikuti kemauan Ilyas.


"Bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Ilyas tiba-tiba.


Dan seketika senyum di wajah Dae menghilang. Dia pun teringat akan kejadian yang menimpanya saat itu.


"Ada apa sayang, kenapa wajahmu muram seperti itu? Apa yang terjadi?" Ilyas curiga ada yang tidak beres dengan kekasihnya itu.


Walaupun Ilyas terkenal kejam dan tegas, tapi bila bersama Dae, dia merasa lemah dan menjadi kekasih yang sangat perhatian.


"Lebih baik kita makan dulu. Perutku sudah laper Yas. Nanti aja ya kita bahas," pinta Dae dengan manja sambil mengusap perutnya yang sudah bunyi.


"Ah iya baiklah sayang, kita makan dulu. Sebentar lagi makanan akan datang," Ilyas pun mengikuti kemauan Dae.


Setelah itu makanan yang di pesan Ilyas pun datang. Pelayan membawakan beberapa makanan ke meja mereka dan menghidangkannya.


"Silahkan Tuan dan Nona dinikmati. Kalau ada sesuatu yang di butuhkan, bisa panggil saya kembali," ucap pelayan itu dengan menunduk.


"Terima kasih," balas Dae.


"Wah, kamu yang mesan ini Yas?" tanya Dae tak percaya.


"Ya, aku tau kesukaan kamu, makanya aku pesan menu ini khusus hari ini," jawab Ilyas sambil menatap Dae dengan tatapan lembut.


"Terima kasih karena kamu masih mengingatnya," balas Dae dengan tulus. "Sekarang mari kita makan, sudah laper nih," ajak Dae dengan semangat.


Dae dan Ilyas segera mengambil makanan hidangan di hadapan mereka. Dan mereka mulai menyantapnya.


"Waow ini benar-benar tidak berubah rasanya Yas. Enak banget!" seru Dae sambil mengunyah makanannya.


"Pelan-pelan Dae, nanti kamu keselek kalau makan sambil ngomong," ucap Ilyas mengingatkan.


"Iya, aku akan hati-hati kok Yas, tenang aja," balas Dae yang masih mengunyah makanannya.


Dae sangat laper sehingga dia bersemangat menikmati makanannya. Keduanya pun larut dalam mengunyah makanan.


Sementara di rumah Dae, Edy baru saja datang berkunjung.

__ADS_1


"Wah nak Edy, Dae nya mana?" tanya Papa nya Dae saat melihat Edy sendirian datang.


"Bukannya Dae sudah pulang dari kantor Om?" tanya Edy curiga.


"Tapi Dae belum sampai di sini. Om pikir pergi sama kamu," jawab Papa nya Dae.


Edy pun bingung kenapa Dae belum sampai di rumah. Edy semakin khawatir hingga dia menghubungi Dae. Edy mengambil ponselnya dan menghubungi Dae. Beberapa kali suara panggilan, namun Dae tak juga mengangkatnya.


"Bagaimana nak Edy? Dae tidak mengangkat teleponnya?" tanya Papa nya Dae yang mengerti keadaan Edy.


"Iya Om, Dae tidak mengangkat teleponnya," jawab Edy. Tapi saya akan mencobanya lagi Om, sapa tau Dae menerima panggilan," ucap Edy yang tidak mau menyerah.


"Ayo kita ke ruang tengah saja," ajak Papa nya Dae.


Keduanya berjalan masuk ke dalam rumah menuju ruang tengah rumah itu. Edy masih terus mencoba menghubungi Dae namun tetap tidak di jawab.


Dae yang saat ini sedang berduaan sama Ilyas, sengaja menonaktifkan panggilannya dengan menggunakan silent sehingga tidak mendengar panggilan dari Edy. Mereka sangat menikmati kebersamaannya.


Edy yang sedang menunggu kedatangan Dae, mencoba bertahan menunggu dengan ngobrol bersama Papa dan Mamanya Dae. Mereka membahas lamaran nanti yang diadakan hari Sabtu.


"Pa, kok Dae lama banget ya. Kemana sih tuh anak?" kesal Mamanya.


"Sabar Ma, mungkin Dae pergi sama teman dekatnya di kantor. Kita tunggu aja ya," jawab suaminya.


"Nak Edy mau menunggu Dae atau kembali ke rumah. Besok bisa bertemu dengan Dae pagi-pagi, gimana?" tanya Papa nya Dae yang memberikan pilihan.


"Saya menunggu saja Om. Karena saya ingin memastikan Dae pulang ke rumah dengan selamat," jawab Edy.


"Kalau seperti itu ceritanya, Om ingin agar kalian segera menikah setelah lamaran. Om tidak mau Dae bersikap macam-macam," ucap Papa nya Dae.


"Saya menyerahkan semuanya sama Dae saja Om. Kalau Dae setuju, saya sangat senang. Kalaupun Dae belum siap, ya saya akan menunggu saja," balas Edy yang mencoba tenang.


"Om yang menginginkannya. Kamu tidak usah khawatir, biar Om dan Tante yang akan ngobrol dengan Dae. Om hanya ingin menjaga Dae agar tidak berbuat macam-macam dan mencoreng nama keluarga nantinya," ucap Papa nya Dae lagi.


"Iya Om, terima kasih karena Om dan Tante mau percaya sama saya untuk menjadikan Dae pendamping hidup saya," balas Edy.


Saat mereka ngobrol asyik, terdengar suara mobil dari depan rumah. Edy pun berdiri dan dia berjalan ke depan pintu rumah. Edy melihat kalau Dae keluar dari dalam mobil yang tidak di kenalnya. Dia pun mengernyitkan keningnya sambil memicingkan mata menatap Dae dengan tatapan curiga.


Saat Dae berjalan ke arah rumahnya, dia terkejut melihat kehadiran Edy yang sudah berdiri di teras depan rumahnya. Namun Dae berusaha tenang dan memasang senyum manisnya menatap Edy. Walaupun jantungnya deg-deg an, Dae tetap berusaha tenang menghampiri Edy.

__ADS_1


__ADS_2