
Dae yang masih berada dalam perjalanan memikirkan kalau dia akan menerima hukuman dari Edy. Apalagi dia tidak menjawab tlp dari Edy.
Dae sudah siap akan situasi yang tak menguntungkan baginya hari ini. Hari pertama Dae memulai pekerjaannya lagi. Sungguh membuat Dae ingin menangis hari ini.
Akhirnya mobil yang Dae kendarai sampai juga di kantornya. Dia datang terlambat hingga satu jam. Dae ingin kembali ke rumah, tapi tidak mungkin melakukannya.
Dae berjalan dengan sedikit ogah-ogahan ke dalam kantor. Dia berhenti sejenak melihat meja Resepsionis, lalu dia berjalan cepat ke arah lift.
Sementara Edy tidak mengetahui kedatangan Dae, karena saat ini dia sedang menerima tamu di ruangannya. Sehingga tidak bisa memantau CCTV yang berada di lantai pertama.
Akhirnya Dae masuk ke dalam ruangannya. Dia menghempaskan bokongnya ke kursi kebesarannya yang nyaman.
"Hah...kalau tau terlambat begini, mendingan aku ke Butik Mama aja ya tadi. Shopping sama Mama, cuci mata ke Mall, sapa tau ada yang nyantol barang-barang disana," pikir Dae sambil menyenderkan punggungnya ke belakang.
Tiba-tiba pintu ruangan Dae di buka begitu saja. Dae terkejut dan membenarkan posisi duduknya.
"Dae.......!" sahabat Dae masuk nyelonong ke dalam.
"Isshhh kirain si kulkas yang datang," kesal Dae.
"Ihhhh ngarep ya dia yang datang," goda Ani.
"Sapa juga yang ngarep. Gw malah takut kalau dia yang datang," balas Dae.
"Beneran nih takuuuut. Nanti malah emang nungguin dia," Ani sengaja menggoda Dae.
"Lo kemari tuh mau ngapain sih? Ini masih jam kerja loh Ani....!" tekan Dae.
"Gw mau dengar cerita tentang Lo. Eits tunggu dulu. Mana oleh-oleh buat gw?" tanya Ani menagih oleh-olehnya.
"Giliran oleh-oleh cepat banget nagihnya. Tapi nanyain khabar gw gak mau," ketus Dae.
"Hehehe, lupa. Gimana khabar Lo Dae....?" tanya Ani dengan senyum menyeringai.
"Terlambat, udah basi tau...," kesal Dae.
"Eleh eleh.....gitu aja ngambek. Dae sahabatku yang cantik, gw gak nanya khabar Lo karena saat ini gw lihat Lo sehat dan tidak kurang sedikitpun. Kecuali wajah Lo yang jutek," ucap Ani menjelaskan.
"Gw gak ngambek. Lo emang lagi gak banyak kerjaan. Sehingga pagi-pagi gini udah nongkring disini?" tanya Dae.
Dae mengambil bingkisan oleh-oleh buat Ani dari bawah mejanya.
__ADS_1
"Gw lagi males ngerjain. Ntar aja, lagian diminta sore kok laporannya," jawab Ani.
"Nih oleh-olehnya. Mudah-mudahan Lo suka dengan yang gw bawakan," ucap Dae sambil menyerahkan bingkisannya.
"Wuihhh...., makasih sayangku...., ternyata kamu emang sahabat terbaikku. Aku lihat ya isinya," puji Ani sambil mengecek isi bingkisannya.
"Iya lihat aja. Tapi tar jangan Lo bawa ke ruangan Lo. Bisa di tagih gw sama yang lainnya," pesan Dae.
"Siiip, tenang aja."
Ani melihat isi bingkisannya. Ternyata Dae membelikannya baju batik yang sangat bagus dan bakpia beberapa kotak. Serta khas Jogja lainnya.
"Dae....ini bagus banget bajunya....! Aku suka banget dengan warnanya. Wah...makasih ya sayangku...., aku akan memakainya pas hari menggunakan batik," Ani memeluk Dae yang masih duduk di kursinya.
"Iya, Lo letak aja dulu bingkisannya di ruangan gw. Gak di bawa kesana," ucap Dae.
"Ok Dae."
"Oh ya gimana ke Jogja nya, seru gak?" tanya Ani penasaran.
"Apanya yang seru, gw harus standby berada di dekat si kulkas," jawab Dae.
"Tuh kan, tebakan gw benar deh, kalau Presdir kita tertarik sama Lo," ucap Ani.
"Ya biarkan lah. Gw gak mau menggubrisnya," balas Dae.
Dae juga tidak memberitahukan kepada Ani bahwa mereka sudah sangat dekat bahkan sudah tidur bareng.
"Oh ya, tuh si Raffi buat gosip di kantor. Dia bilang kalau Lo terlihat dekat sama Presdir. Dan kalian pergi ke Jogja dan pulang dari Jogja berdua," ucap Ani memberitahu.
"Gw udah duga itu An. Dia sering melihat gw bareng Presdir. Saat sarapan pagi, siang dan gak tau, apakah malam dia pernah melihat gw jalan bareng Presdir," balas Dae.
"Pantes aja dia buat gosip tentang Lo yang jual mahal terhadapnya. Dan dia mengatakan karena Lo udah dapat mangsa besar," lagi-lagi Ani memberi info.
"What....si Raffi ngomong gitu?" Dae terkejut mendengar info dari Ani.
"Iya Dae...., dia udah nyebar gosip begitu. Emang tuh laki mulutnya ember benar. Bagusnya diapain ya?" tanya Ani yang juga ikutan kesal.
"Biarkan aja, nanti juga dia kena masalah," balas Dae santai.
Dae tau, bahwa berita ini akan tersebar ke Edy. Dan Edy tidak akan membiarkan siapapun menjelekkan dirinya.
__ADS_1
"Kok Lo ngomong gitu? Emang Lo gak marah di bilang gitu?" tanya Ani heran.
"Buat apa gw marah. Kan gw gak ngerasa seperti yang dikatakannya," jawab Dae tenang.
"Iya juga ya. Emang dianya aja yang pengen fitnah Lo. Hah....gimana kalau berita itu sampai ke telinga Presdir kita. Bisa bahaya dia," pikir Ani bersuara.
Dae hanya tersenyum dalam hatinya. Apa yang di ucapkan Ani, itulah yang akan menjadi kenyataan. Bahwa Edy akan mengetahui gosip itu, maka tamatlah Raffi.
"Terus kalian jalan kemana aja berdua sama Presdir kita?" Ani semakin kepengen tau tentang perjalanan Dae.
"Kami hanya jalan nyari oleh-oleh. Sama nyari makan malam saja," jawab Dae.
"Seandainya kalian sepasang kekasih, pasti sangat romantis ketika berdua di Jogja," Ani lagi-lagi menggoda Dae.
"Oh ya gimana dengan kekasih Lo?" Dae sengaja mengalihkan pembahasan.
"Lo gak usah cerita dia lagi. Gw udah muak dengan permintaan maafnya. Lo tau, dia datang dan berpura-pura menangis di hadapan gw atas kekhilafannya," jawab Ani menggebu-gebu.
"Terus Lo maafin dia?" tanya Dae lagi.
"Ya nggaklah. Mana mungkin gw maafin laki-laki yang udah nyelingkuhin gw. Belum nikah aja udah selingkuh, gimana kalau udah nikah, bisa-bisa gw di madu, ihhhhh serem deh," jawab Ani sambil bergidik.
"Hahahaha, kalau Lo di madu, ya Lo cari daun muda aja buat ngebalasnya," saran Dae ngasal.
"Mmmm, kayaknya boleh juga tuh saran Lo Dae. Mulai sekarang gw akan cari daun muda. Brondong gitu SMA, seru kayaknya ya," pikir Ani.
"Wah udah koslet nih otak Lo An. Gini nih kalau di khianati kekasihnya, jadi setress."
"Kan Lo yang ngasih gw saran Dae. Ya gw pikir gak ada salahnya main sama anak SMA, sapa tau lebih cocok," balas Ani.
"Terserah Lo deh. Sekarang mending Lo balik gih ke ruangan Lo. Gw mau ngelanjutin kerjaan gw. Udah numpuk nih," usir Dae.
"Nanti siang gw bakal datang lagi kesini, buat ngajak Lo makan siang di luar kantor. Karena kalau di kantor, Lo pasti gak tahan dengar cibiran dari karyawan ember," ucap Ani sambil cekikikan.
"Hahaha, iya deh, gw ngikut aja," balas Dae.
"Ya udah gw balik dulu ke ruangan. Nih titip oleh-oleh gw. Jangan Lo kurangin ya oleh-olehnya," canda Ani.
Ani langsung kabur dari hadapan Dae. Dia meninggalkan Dae yang pastinya kesal banget dengan ucapannya.
Tentu saja itu membuat Dae melotot kearahnya. Tapi sayangnya, orangnya keburu kabur dari hadapannya.
__ADS_1