Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri

Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri
Bab 37


__ADS_3

Ibu Ilyas mengangguk tersenyum mendengar penjelasan Dae.


"Sama sama Ilyas ya. Dia juga anak tunggal tak punya adik. Ilyas hanya hidup bersama Ibu berdua," balas Ibunya Ilyas.


"Mmmm, iya Ilyas sudah menceritakan sama saya Bu kalau Ayahnya sudah lama meninggal saat Ilyas masih bayi," ucap Dae yang mengejutkan Ibunya Ilyas.


"Maksudnya nak Dae?" tanya Ibunya Ilyas.


"Iya Bu, Ilyas bilang kalau Ayah sudah lama meninggalkan kita sejak aku masih bayi," sambung Ilyas yang mencoba mengalihkan ucapan Dae.


Ibunya Ilyas terdiam. Dia menyimpan kesedihan bertahun-tahun lamanya. Kesedihan yang membuatnya terluka dan hampir mengalami hidup tragis.


Dahulu kala, di sebuah perkampungan di Sukabumi, hidup sepasang suami istri. Mereka hidup apa adanya. Seorang wanita yang cantik sedang mengandung anak pertama mereka. Si suami saat itu tidak berkerja. Walaupun dia memiliki Ijazah kuliah, namun sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Hidup yang di lalui mereka berdua sangat sulit, si suami hanya berkerja sebagai ojek motor online.


Hingga suatu hari, si suami memutuskan untuk merantau ke Kota Jakarta mengadu nasib, meninggalkan istrinya yang sedang mengandung. Si suami melakukan itu untuk mendapatkan biaya kelahiran istrinya.


"Ak, apa gak sebaiknya kamu bekerja disini saja. Kita berusaha mencari rezeki disini?" tanya istrinya.


"Sayang, Akang gak mungkin atuh tinggal diam disini. Sedangkan kamu mau melahirkan. Gimana biaya persalinan kamu nanti?" tanya suaminya balik.


"Tapi kang, Eneng takut sendirian disini. Eneng gak berani tinggal disini. Apa Eneng ikut sama Akang saja ya," ucap istrinya.


"Jangan atuh Neng, kamu itu sedang hamil. Nanti Akang minta Bi Maryam menemani kamu disini, gimana?" tanya suaminya minta pendapat istrinya.


"Ya sudah kalau Akang maunya seperti itu. Eneng mah do'ain semoga Akang bisa membawakan rezeki buat kami disini," jawab istrinya.


"Kalau begitu besok pagi Akang akan berangkat. Lebih cepat lebih baik," ucap suaminya.


Lalu suaminya pergi keluar rumah menemui Bi Maryam yang hidup sebatang kara. Dia meminta Bi Maryam mau tinggal bersama istrinya berdua selama dia ke Jakarta.


Keesokan harinya, si suami bersiap-siap untuk berangkat ke Jakarta pagi-pagi.


"Eneng, Akang pamit ya. Do'akan Akang supaya bisa membawa uang yang banyak buat Eneng dan anak kita. Akang pasti kembali," ucap suaminya meyakinkan istrinya.


"Hiks hiks hiks, iya kang, Eneng akan selalu berdo'a untuk Akang disana. Akang harus janji kembali ke sini ya saat aku melahirkan. Ingat kang, jangan berbuat yang aneh-aneh disana," balas istrinya mengingatkan suaminya.


"Pasti neng. Akang tidak akan macem-macem disana. Akang hanya ingin mendapatkan uang agar bisa menyenagkan Eneng dan anak kita," ucap suaminya yang sangat meyakinkan.


"Bi, aku titip istriku ya. Nanti Bibi makan disini saja. Masak disini, biar aku yang kirim uang belanja untuk kalian disini," ucap suaminya ke Bi Maryam.


"Iya nak, Bibi akan menjaga istrimu dan merawat mereka," balas Bi Maryam.


Lalu suaminya pergi meninggalkan istrinya dan Bi Maryam. Ada kesedihan yang dalam dirasakannya karena meninggalkan istri yang sedang hamil 5 bulan. Tapi dia tidak punya pilihan. Langkahnya sudah mantep untuk mengadu nasib ke Jakarta dengan harapan bisa mendapatkan pekerjaan yang baik.


Sepanjang perjalanan menuju Jakarta, laki-laki itu melamun terus, dia tak henti-hentinya memikirkan istrinya yang ditinggalkannya.


"Aku harus berhasil, apapun caranya. Aku akan membahagiakan anak dan istriku. Aku gak mau hidup susah terus," bathin laki-laki itu sambil menatap keluar jendela.

__ADS_1


Hingga beberapa jam kemudian, dia sampai di Ibu kota Jakarta. Laki-laki itu bingung hendak kemana. Dia berjalan keluar dari terminal yang ada di Jakarta. Saat laki-laki itu hendak menyebrang, dia melihat seorang perempuan yang sedang diganggu sama segerombolan preman di terminal. Tidak ada yang berani menolongnya karena preman itu terkenal seram.


"Lepaskan, jangan ganggu aku!" teriak perempuan itu.


"Hahahaha, jangan takut sayang, kami hanya ingin kamu ikut bersenang-senang bersama kami sebentar saja. Ayo sayang," salah satu preman itu hendak menarik lengan perempuan itu.


Namun si laki-laki menghempaskan tangan itu dan menatap preman itu tanpa rasa takut.


"Owh..., ada jagoan kesiangan disini," ucap preman itu.


"Mau cari mati dia Ron," ucap temannya.


"Hajar aja Ron. Kasih pelajaran biar gak sok jadi jagoan disini," sambung temannya yang lain.


Preman itu berjumlah tiga orang. Mereka bertato dan wajahnya sangar. Ketiganya memiliki badan kekar dan beringas. Namun laki-laki itu tak takut karena dia jago beladiri.


"Maju!" tantang laki-laki itu.


"Hehehe, nantang dia Lex," ucap Broncus


"Kasih Lex!" teriak Rongi.


Lalu Lex yang ternyata ketua premannya segera menyerang laki-laki itu. Tanpa mereka ketahui ternyata dengan gesitnya laki-laki itu menghajar dan melumpuhkan mereka bertiga.


"Ampun bang, ampun. Jangan hajar kami lagi, kami gak akan ganggu perempuan itu," ucap mereka bertiga.


"Mbak mau kemana?" tanya laki-laki itu.


"Saya mau jemput teman saya dari Jogja. Tapi ternyata gak jadi berangkat. Aku hubungi katanya lowbet, padahal aku udah dari tadi nungguin," jelas perempuan itu yang bernama Anggita.


"Oh ya perkenalkan nama saya Chandra, saya dari Sukabumi mau mencari pekerjaan disini," ucap laki-laki yang bernama Chandra.


Anggita tersenyum melihat wajah tampan laki-laki itu. Dia terpesona pada pandangan pertama.


"Ayo aku anter. Kamu mau kemana nih?" tanya Anggita.


"Saya gak tau kemana, mau nyari kost-kostan bingung di mana," jawab Chandra.


"Oh...gimana kalau kamu ngekost di tempat teman aku. Kebetulan disana ada kamar kosong satu. Ayo biar aku anter," ajak Anggita.


Lalu Chandra mengikuti Anggita Sari belakang. Dia gak menyangka kalau Anggita naik mobil.


"Ternyata anak orang kaya perempuan ini. Cantik juga, kulitnya bersih, putih. Apa dia sudah punya pacar ya," pikir Chandra.


"Ayo duduk di depan aja Mas," ucap Anggita.


"Ah iya Gita," balas Chandra.

__ADS_1


Lalu Anggita membawa Chandra ke kostan teman kuliahnya. Sesampainya disana, Chandra melihat kostan nya bagus dan banyak mobil terparkir.


"Berapa ya uang sewa disini?" gumam Chandra.


Anggita menoleh ke arah Chandra. Dia melihat kekhawatiran diwajah Chandra.


"Kenapa Mas?" tanya Anggita.


"Ah itu, maaf kalau boleh tau uang kostnya berapa ya perbulannya. Karena saya gak punya banyak uang kalau terlalu mahal," jawab Chandra polos.


"Tenang aja Mas, masalah bayaran, gak usah dipikirkan. Yang penting Mas nyaman," balas Anggita.


"Tapi saya gak enak, kalau mahal bayarannya, saya mau pake apa bayarnya?" tanya Chandra polos.


"Udah Mas tenang aja. Aku yang akan mengurusnya. Sebagai balas budiku, aku akan membayar uang kost Masnya selama setahun. Nanti kalau Mas sudah bekerja, Mas bisa membayarnya sendiri," ucap Anggita yang mencoba mengikat Chandra.


"Ah Mbak gak usah dibalas seperti itu. Saya ikhlas menolong kok, benaran," balas Chandra.


"Saya juga benaran loh Mas. Ini juga ikhlas kok membalasnya," ucap Anggita tersenyum manis.


Lalu mereka saling bertatapan. Keduanya terpesona dalam pandangan pertama. Chandra tak menyangka jika dia bisa terpesona dengan perempuan lain selain istrinya.


"Ayo Mas," ajak Anggita.


Mereka masuk ke dalam kost-kostan. Anggita mencari temannya. Dan ternyata ketemu juga.


"Eh Boy, nih temanku ngekost disini ya mulai sekarang. Gw titip dia ya, dia lagi nyari kerjaan katanya," ucap Anggita sama Boy.


"Cakep banget Git, nemu dimana Lo?" tanya Boy.


"Enak aja nemu, emang barang. Udah gw mau ketemu sama yang punya kost. Lo gak Kampus?" tanya Anggita.


"Nih mau berangkat, mau konsultasi Skripsi. Ditolak mulu judulnya, bosen gw," gerutu Boy.


"Hahahaha, sabar Boy, namanya perjuangan untuk nulis Skripsi ya harus kuat mental, semangat!" dukung Anggita.


Setelah perbincangan keduanya, Anggita menemui yang punya kost. Dan akhirnya Chandra bisa negkost di tempat itu.


"Kalau gitu saya pulang dulu ya Mas. Mau ke Kampus nih. Nanti saya kemari lagi," ucap Anggita.


"Makasih ya Gita, saya gak tau harus bagaimana membalasnya," balas Chandra.


"Gampang, Mas nemani aku makan malam ntar malam, gimana?" tanya Anggita yang memiliki rencana.


"Baiklah, Mas akan temani kamu," jawab Chandra.


Akhirnya mereka sepakat untuk kencan malam nanti. Setelah itu Anggita pergi meninggalkan Chandra di kost itu.

__ADS_1


__ADS_2