
Sesampainya mereka di alun-alun, Dae dan Edy turun dari delman. Edy membantu Dae untuk turun dari delman.
"Pak, makasih banyak ya," ucap Edy seraya memberikan uang buat kusir delman itu.
"Iya Mas sama-sama. Lain kali kalau Mas dan Mbaknya mau jalan-jalan lagi di Malioboro, bisa nyari saya dekat Beringhardjo, saya selalu ngetem di situ," ucap kusir itu memberitahu.
"Iya Pak, makasih ya," balas Dae.
Lalu kusir itu pergi meninggalkan Dae dan Edy. Kemudian Edy dan Dae berjalan menyusuri alun-alun sambil mencari tempat duduk yang nyaman buat bersantai.
Mereka berdua terus menyusuri alun-alun itu. Keramaian disana membuat Dae merasa senang. Banyak muda-mudi yang nongkrong di alun-alun itu. Mereka berkumpul berkelompok saling tawa.
Akhirnya Dae dan Edy memilih tempat untuk bersantai di lesehan. Mereka menikmati wedang jahe anget.
"Ed, ramai banget ya disini," Dae membuka suaranya.
"Iya Dae, disini memang setiap malam ramai, apalagi kalau semakin larut, muda-mudinya bertambah ramai," balas Edy.
"Ed, besok terakhir kita di Jogja kan? Sebelum kembali ke Jakarta, aku ingin membeli oleh-oleh buat teman-teman kantor. Dan Mama juga nitip sesuatu di belikan disini."
"Besok setelah peninjauan lokasi untuk event nanti di Jogja, aku akan ajak kamu jalan-jalan. Dan malamnya kita akan ke Bukit Bintang," Edy menyenangkan Dae.
"Wah boleh juga itu. Aku jadi gak sabar menunggu hari esok," balas Dae.
"Heum," Edy hanya menanggapinya dengan senyuman.
Lalu mereka berdua berjalan berkeliling di alun-alun itu. Setelah Dae merasa puas, dia meminta Edy untuk kembali ke hotel.
"Ed, ayo kita kembali, kakiku sudah pegal," ajak Dae.
"Aku kira kamu masih betah lama-lama di luar sini. Ternyata, baru sebentar, kamu sudah tidak sanggup," sindir Edy.
"Bukan tidak sanggup Ed, tapi aku harus istirahat. Kalau tidak besok aku bisa telat bangun," kilah Dae.
"Baiklah, kita kembali ke hotel. Kita naik mobil online saja.
Kemudian Edy memesan mobil online untuk kembali ke hotel. Dia menoleh ke arah Dae yang sedang duduk di sepanjang trotoar, merasa lucu melihat tingkah Dae.
__ADS_1
Tak lama kemudian, mobil online mereka tiba. Edy mengajak Dae untuk segera masuk ke dalam mobil.
"Ayo Dae itu mobilnya sudah datang," tunjuk Edy ke arah mobil yang terparkir di seberang mereka.
"Oh sudah tiba ya mobilnya," Dae melihat ke arah yang ditunjuk Edy.
Kemudian mereka bergegas menyebrangi jalan untuk menuju mobil itu. Edy membukakan pintu mobil untuk Dae segera masuk ke dalamnya dan di ikuti oleh Edy.
Di dalam mobil, sepanjang jalan, Dae masih terhibur dengan pemandangan muda-mudi yang berkumpul berkelompok. Hingga dia tak menyadari kalau Edy sudah merebahkan kepalanya di bahu Dae sambil memeluk pinggangnya.
Dae terkejut mendapatkan perlakuan seperti itu dari Edy. Dia langsung menoleh ke arah Edy yang tersenyum melihatnya.
"Apa yang Presdir lakukan," ucap Dae dengan merapatkan giginya.
"Jangan berisik sayang," balas Edy dengan suara pelan di telinga Dae.
Bulu kuduk Dae meremang, bukan karena ketakutan ada mahluk halus di sekitar mereka. Melainkan karena sentuhan Edy yang semakin menjadi.
Edy bukan hanya sekedar memeluk pinggang Dae, tapi dia juga mengusap-usap perut Dae. Tangan Edy sengaja dia masukkan ke dalam kaos pendek longgar milik Dae. Hingga mempermudah Edy menelusuri isi dari kaos tersebut.
Nafas Dae tercekat kala tangan Edy menyentuh perut ratanya. Dia mencoba menahan tangan Edy yang berada di dalamnya, namun tak bisa membuat Edy berhenti.
Semakin lama, tangan Edy terus menyusuri isi dalam baju Dae. Dae semakin meremang, dia menahan rasa geli dan panas yang menyerang dirinya.
"Presdir tolong hentikan," ucap Dae dengan menggeretekkan giginya sambil tersenyum.
"Aku suka melakukannya Dae. Biarkan seperti ini," balas Edy tanpa bersalah.
"Tapi aku geli Ed...!"
"Baiklah, kita akan lanjutkan di kamar nanti," ucap Edy seenaknya.
Dae pun memelototi Edy yang dengan santainya menjauh dari dirinya.
"Apa apaan dia bilang, nanti kita lanjutkan di kamar?" bathin Dae yang bertanya-tanya maksud ucapan Edy.
"Jangan di pikirkan sayang, nanti juga kamu akan tau," Edy seperti bisa membaca pikiran Dae.
__ADS_1
Dia pun tersenyum sepanjang jalan, puas menggoda Dae dan membuatnya seperti orang bodoh yang berpikir keras mencerna kata-kata Edy. Edy pun menyunggingkan senyumnya.
Jalan yang mereka lalui tidak begitu ramai. Hingga tak memakan waktu yang lama hingga mereka sampai di hotel. Edy segera membayar nominal uang yang tercantum untuk perjalanan mereka.
Setelah itu, Edy dan Dae keluar dari mobil. Mereka masuk ke hotel dimana, Edy menyuruh Dae menunggu selagi dia meminta kunci kamar.
Kemudian mereka naik ke lantai atas, kamar Edy dan Dae berada di tengah-tengah, hingga tak membuat Dae lama berjalan menuju kamarnya.
Sesampainya di dalam kamar, Dae meletakkan jajanan yang tadi sempat di belinya di luar. Lalu dia terkejut saat mendapati Edy yang berada di belakangnya sambil tersenyum.
"Presdir, kamu buat aku kaget aja. Kirain hantu," ledek Dae sambil meninggalkan Edy.
Namun ketika Dae hendak melangkah, Edy menarik tangan Dae hingga tubuhnya berada dalam dekapan Edy, dan tatapan mata mereka bertemu sangat dekat. Dae bisa merasakan hembusan nafas Edy di wajahnya yang sudah berkabut.
Dae hendak melepaskan dirinya dan memalingkan wajahnya dari tatapan Edy. Namun Edy menahan tengkuknya dan menariknya untuk mendekat. Edy memiringkan kepalanya dan mencium bibir Dae.
Dae ingin menolak tapi tubuhnya langsung merespon tindakan Edy. Hingga dia mengutuk dirinya yang terlalu mudah jatuh dalam pelukan Presdirnya.
Dae ikut membalas ciuman yang diberikan Edy. Dia melingkarkan tangannya di leher Edy. Edy pun terkejut dan membuka matanya hingga mereka saling menatap. Dia tak menyangka Dae tidak menolaknya, dan justru menerimanya.
Edy pun tersenyum dalam hati melihat Dae tak menolak. Lalu Edy memperdalam ciuman mereka. Dia menyesap dan menggigit serta membelit yang ada di dalam mulut Dae. Suara-suara berisik terdengar akibat decapan yang dilakukan mereka. Ciuman itu semakin liar dan panas. Membuat keduanya tak bisa mengendalikan gairahnya.
Edy menuntun Dae ke arah tempat tidur. Dia mendudukkan Dae di atas pangkuannya. Mereka terus memberikan kenikmatan yang membuat mereka semakin panas. Edy membual baju Dae perlahan tanpa melepaskan pagutan mereka. Hingga mereka berdua sama-sama polos tanpa sehelai benang pun. Edy terus memberikan kenikmatan, dia mulai menyusuri leher putih Dae dan membuat tanda-tanda cinta di sekitarnya.
Dae pun mengeluarkan suara merdu yang indah membuat Edy semakin bergairah.
"Ed.....!" panggil Dae dengan suara seraknya dan terdengar sexy di telinga Edy.
"Dae...!" bisik Edy membuat Dae semakin menggila.
Hingga akhirnya mereka melakukan penyatuan dengan posisi Dae di atas pangkuan Edy. Mereka terus melakukannya tanpa henti. Keringat mulai membasahi tubuh mereka. Dae terus menerus berkicau indah di telinga Edy. Dia menarik rambut Edy karena kenikmatan yang di berikan Edy.
Hentakkan demi hentakkan terus di lakukan Edy. Dae membenamkan bibirnya di bibir Edy. Mereka terus berpagutan sambil Edy menghentak-hentakkan miliknya. Hingga akhirnya Edy dan Dae mendapatkan pelepasan mereka.
"Oh....Dae.....!" erang Edy sambil menekan miliknya lebih dalam dan menyemburkan calon anaknya.
Dae dan Edy terkulai lemas, namun posisi Dae masih berada di atasnya Edy. Lalu Edy menggendong Dae ke dalam kamar mandi. Mereka melakukannya kembali di dalam kamar mandi. Suara-suara merdu masih terdengar di dalam ruangan kamar mandi.
__ADS_1
Setelah pertempuran mereka di kamar mandi, Edy menggendong Dae ke atas tempat tidur. Lalu dia membaringkan Dae. Edy pun naik ke atas tempat tidur, mereka berdua tidur terlelap. Edy memeluk Dae dengan erat sambil memejamkan matanya hingga dia pun terlelap. Lah dan letih itu yang di rasakan keduanya hingga mereka tidur sangat lelap.