Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri

Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri
Bab 39


__ADS_3

Dae masih males-malesan untuk bangun. Hari ini dia ingin berlibur. Rasanya ingin menjauh dari kedua laki-laki itu. Namun itu takkan terjadi, karena Edy pasti menghubunginya dan mencari keberadaannya. Begitu juga dengan Ilyas. Mereka sama-sama bucin terhadap Dae.


Dae segera mandi dan berpakaian. Dia pun keluar dari dalam kamarnya. Dae berjalan menuju meja makan. Dia melihat Papa dan Mamanya sudah ada di meja makan.


"Pagi Pa, Ma," sapa Dae. Dia mengambil tempat duduk di hadapan Mamanya.


"Pagi sayang!" sahut Mamanya.


"Gimana tadi malam Dae? Kamu pulang jam berapa semalam?" tanya Papanya yang menginterogasinya.


"Dae gak lihat jam Pa, tapi teman Dae berpamitan sama Mama. Ya tidak terlalu malam sih Pa," jawab Dae sekenanya.


"Siapa nama teman kamu itu Dae? Kok gak dikenalkan ke Papa?" tanya Papanya.


"Namanya Ilyas, Pa. Dia Presdir salah satu Perusahaan otomotif terkenal di Jakarta," jelas Dae.


"Wah...bagus itu sudah mapan. Papa suka sama orang yang sudah mapan, supaya hidup kamu terjamin," ucap Papanya yang ternyata materialistis.


"Ih Papa, apaan sih!" balas Dae tak suka.


"Apa yang dikatakan Papa kamu itu benar Dae. Seseorang jika ingin bersama kamu haruslah mapan dan bertanggung jawab. Karena kalau tidak mapan, kalian mau makan apa, coba?" tanya Mamanya.


"Iya semua itu benar sih Ma, tapi kok Papa kelihatan matre gitu sih," ledek Dae.


"Hussst, gak baik bilang seperti itu ke Papa kamu. Kami hanya menginginkan yang terbaik Dae," marah Mamanya.


"Iya Ma, Pa," Dae malas membahasnya lagi.


Lalu dia berpamitan sama Papa dan Mamanya berangkat ke kantor.


"Ma, Pa, Dae bermagkat dulu ya, Assalamu'alaikum," ucap Dae sambil menyalami kedua orang tuanya.


"Wa'alaikumussalam," sahut Mama dan Papanya.


"Anak kamu itu sudah besar sekarang Ma. Dia sudah berani mengatai Papanya," ucap Papanya yang merasa lucu.


"Iya Mas, dia keras seperti kamu," balas istrinya.


"Ya udah, aku berangkat dulu ya sayang ke kantor. Mungkin pulangnya agak sorean," ucap suaminya yang bernama Chandra.


"Iya Mas, aku juga mau ke Butik. Nih ada pesanan orang buat baju pengantin," balas istrinya.


Mereka pun pergi dengan masing-masing membawa mobil. Papanya Dae berangkat ke kantornya. Sedangkan Mamanya berangkat ke Butik.


Sepanjang jalan, Dae masih memikirkan ucapan Papanya.


"Apakah seorang ayah tidak tega melihat anaknya tidak maka ? Apakah Papa takut atas pilihanku? Memang sih, hidup itu membutuhkan uang, kalau gak ada uang, ya gak hidup," gumam Dae sambil menyetir.


Tak berselang lama menempuh perjalanan. Dae sampai di kantornya. Dae keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam gedung itu.

__ADS_1


Saat Dae hendak masuk ke dalam lift, Dae mendengar teriakan sahabatnya dari belakang.


"Dae....., tungguin dong!" ucap Ani ngos-ngosan.


"Ngapain pake lari segala."


"Aku pengen ngobrol sama kamu Dae. Ini sesuatu yang sangat penting," ucap Ani.


"Masa sih?! Emang masalah apa?" tanya Dae penasaran.


"Lo tau gak, kemaren istrinya Pak Raffi datang ke kantor. Dia menemui seseorang. Katanya pacar Pak Raffi," jawab Ani.


"Pacar?!" ulang Dae.


"Iya, pacarnya Pak Raffi. Istrinya bilang, kalau Pak Raffi itu selalu ngigau saat tidur dan mendesah serta memanggil nama perempuan itu," jelas Ani.


"Emang siapa nama perempuan itu?" tanya Dae semakin penasaran.


"Katanya namanya itu honey," jawab Ani.


"Emang siapa di kantor kita yang bernama honey?" tanya Dae lagi.


"Nah itu dia gak ada yang mengenal honey. Disini memang tidak ada yang bernama honey," jawab Ani.


"Kalau Ani ada kan?" goda Dae.


"Ihhhh, Lo apaan sih Dae. Gak lucu tau. Mana mau gw sama tuh laki-laki mesum," sewot Ani.


"Dae, nanti gw mau keruangan Lo. Gw mau dengar gosip tentang kemaren. Lo hutang penjelasan," ucap Ani mengingatkan.


"Ya datang aja, gak ada tulisan larangan menemui Manager Promotion," balas Dae.


"Bagus kalau gitu."


Dae maupun Ani langsung masuk ke dalam ruangan masing-masing. Dae memulai pekerjaannya. Dia membuka buku agendanya yang sudah ada catatan untuk tugas hari ini.


Kemudian, saat itu ponsel Dae berdering. Dae buru-buru mengambilnya dari dalam tasnya dan melihat nama yang tertera dilayarnya.


"Assalamu'alaikum Yas!" sapa Dae.


"Wa'alaikumussalam Dae!"


"Maaf Yas, aku berangkat duluan. Kamu dimana sekarang?" tanya Dae.


"Aku juga udah di kantor Dae. Kamu udah sarapan?" tanya Ilyas yang perhatian


"Udah tadi sama Mama dan Papa dirumah. Kalau kamu udah sarapan belom?" tanya Dae balik.


"Tadi aku udah sarapan juga. Dibuatkan nasi goreng sama Ibu," jawab Ilyas.

__ADS_1


"Oh..., kalau gitu, aku lanjut kerja lagi ya Yas," ucap Dae.


"Iya Dae, Assalamu'alaikum," ucap Ilyas.


"Wa'alaikumussalam," sahut Dae.


Dae kembali melanjutkan mengerjakan tugasnya. Dia ingin fokus dengan pekerjaannya hari ini. Lagi-lagi Dae diganggu dengan suara dering. Kali ini suara dering terdengar dari tlp diatas mejanya. Dae pun mengangkatnya.


"Iya Pak, ada apa?" tanya Dae kepada orang yang menghubunginya.


"Dae, kamu disuruh keruangan Presdir Edy sekarang," perintah Sekretaris Lu.


"Baik Pak, saya akan segera kesana," balas Dae.


"Ada apa lagi ini...! Kenapa si kulkas memanggil gw? Perasaan gw gak ada salah deh. Apa si kulkas merindukan gw ya? Atau dia kepo dengan kejadian kemaren malam?" gumam Dae.


Lalu Dae pun pergi keruangan Prssdirnya yang berada dilantai atas.


Sesampainya dilantai atas, Dae berjalan menuju ruangan Presdirnya.


Dae terus berjalan dan mengetuk pintu ruangan itu.


"Tok tok tok, permisi Pak..!"


"Masuk saja Dae, tak dikunci!" sahut suara dari dalam.


Dae membuka pintu ruangan itu perlahan. Dia melihat Presdirnya sedang duduk sambil memandang ke arahnya.


"Presdir memanggil saya?" tanya Dae setelah masuk.


"Ya, duduklah," suruh Presdirnya.


"Ada apa ya Presdir memanggil saya?" tanya Dae penasaran.


"Dae, besok saya akan keluar kota. Dan tidak hanya saya yang berangkat. Ada beberapa manager yang ikut dalam perjalanan besok. Dan kamu salah satu yang akan ikut," jelas Edy.


"Apa Presdir, saya?" tanya Dae sambil menunjuk ke arahnya sendiri.


"Iya benar kamu, kenapa Dae?" tanya Presdirnya.


"Tapi saya tidak pernah ikut keluar kota. Dan tentu Mama saya tidak mengizinkannya."


"Nanti saya yang akan mengurusnya. Yang penting kamu bersiap-siap saja."


"Emangnya jam berapa kita besok berangkat Presdir?" tanya Dae.


"Pagi semua harus kumpul disini, setelah itu kita berangkat ke Bandara," jelas Edy.


"Emangnya kita akan kemana?" tanya Dae lagi.

__ADS_1


"Kita akan ke Jogja Dae!"


Dae terdiam mendengar kata Jogja. Itu adalah tempat kesukaannya kalau berlibur.


__ADS_2