
Ani dan Dae terperangkap oleh ucapan mereka sendiri saat di pantai.
"Eh itu, maksudnya gw memang belum pernah ke sana. Dae pun begitu, karena kami sibuk bekerja," kilah Ani.
"Oh..., emangnya kalian bekerja di mana?" kali ini Denny yang bertanya.
"Hehehe kami bekerja di sebuah cafe di Jogja. Habisnya gak ada Perusahaan yang mau menerima kami berdua," jawab Ani merendah.
Rion yang duduk di samping Dae hanya menarik sudut bibirnya penuh arti. Sementara Dae mendadak menjadi kaku. Apalagi saat ini dia duduk di sebelah Rion. Bahkan kulit mereka terkadang bersentuhan jika yang membawa mobil mengerem ataupun menyalip mobil di depan.
Teman mereka yang sedang menyetir melirik sekilas melalui kaca spion melihat ke belakang ke arah Dae dan Ani bergantian. Dia tidak percaya kalau keduanya bekerja di cafe. Secara dari penampilan Dae dan Ani berbeda.
Saat Ani ngobrol dengan Denny dan yang lainnya, ponsel Dae berbunyi. Dae tersentak dan mengambil ponselnya dari dalam tasnya. Saat Dae mengecek ponselnya, di layar itu tertera nama Ilyas. Dae terkejut karena melihat nama Ilyas.
"Kenapa dia menghubungiku ya? Apa dia menyesal karena sudah meninggalkan ku?" bathin Dae.
"Kenapa gak diangkat?" tanya Rion tiba-tiba.
"Eh, ah i--ini dari teman. Gak penting juga," jawab Dae gugup. Ntah kenapa tiba-tiba Dae merasa gak enak kalau mengangkat tlp saat berada di dekat Rion.
"Dae, kenapa gak diangkat? Sapa tau penting?" tanya Ani mengerutkan keningnya.
"Gak usah An, lagian gak penting juga. Nanti aku akan menghubunginya balik kok," jawab Dae gugup.
"Emang siapa? Mantan kamu ya?" tanya Ani yang sengaja mengatakan mantan. Ani mengatakan itu supaya Rion merasa ilfeel mendekati Dae. Dia berharap Rion menjauh dan tidak menginginkan Dae lagi saat Ani mengucapkan kata mantan.
Dae kaget karena Ani terang-terangan membahas tentang Ilyas. Dia gak percaya Ani akan berkata seperti itu di hadapan beberapa laki-laki di sekitar mereka.
"Bukan An, ini dari Nyokap gw. Nanti aja gw hubungi balik," jawab Dae santai.
"Apa ya maksud Ani mengumbar kata mantan di hadapan laki-laki ini? Apa dia sengaja ya? Ah....masa sih dia sengaja?" bathin Dae bergejolak.
"Oh...., kirain dia," lagi-lagi Ani mengatakan Ilyas. Namun Dae mencoba tidak memperdulikannya. Dia dengan santai memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya ke arah samping Ani.
"Lo mau tidur Dae? tanya Ani saat menangakap dari sudut ekor matanya Dae menghadap ke arahnya dengan memejamkan mata.
__ADS_1
"Iya An, gw ngantuk. Nanti kalau sudah sampai bangunin ya," pinta Dae.
Dae sudah tak memperdulikan apa yang terjadi dengan Ani dan yang lainnya. Yang terpenting baginya dia beristirahat untuk tidur sejenak.
Rion yang duduk di sebelah Dae hanya meliriknya dari sudut matanya. Dia melihat pundak Dae yang tidak tertutup rambut. Sehingga terlihat leher putih mulus Dae. Membuat Rion menelan salivanya.
Perjalanan ke Bukit Bintang memakan waktu yang lama. Namun saat perjalanan mereka menghabiskan waktu dengan ngobrol dan tertawa. Ani sangat cepat mengakrabkan dirinya terhadap mereka. Sehingga suasana di dalam mobil tidak kaku.
Setelah menempuh perjalanan yang jauh, akhirnya mereka sampai di Bukit Bintang. Di sana mereka memilih cafe yang sangat nyaman untuk bersantai sambil memandang lampu-lampu di bawah sana.
"Akhirnya sampai juga," ucap Denny.
"Loh kita udah sampai ya?" tanya Ani yang memang tidak tau Bukit Bintang.
"Iya An, kita sudah sampai. Yuk turun," ucap teman lainnya.
Ani turun tanpa memperdulikan Dae yang masih tertidur. Lalu Rion membangunkan Dae dengan menggoyangkan bahu Dae pelan. Namun Dae tak kunjung bangun. Rion mencoba mendekatkan wajahnya ke arah leher Dae. Dia bisa menghirup aroma Lux dari tubuh Dae. Kemudian Rion membisikkan sesuatu ke telinga Dae.
"Dae, kita sudah sampai. Ayo bangun," ucap Rion dengan pelan sambil menghembuskan nafasnya di ceruk leher Dae.
Kemudian Rion kembali membisikkan kata-kata lagi. "Sayang, bangun, kita sudah sampai," bisik Rion sambil mengecup leher Dae singkat.
Dae yang setengah sadar merasakan darahnya berdesir, dia merasa lehernya basah akibat sentuhan benda kenyal. Dae pun membuka matanya dan dia menoleh ke arah Rion.
"Cup," tanpa di duga bibir mereka menempel. Mereka saling menatap satu sama lain. Rion menatap Dae dengan intens dan dia mengecup sekilas bibir Dae hingga meninggalkan jejak basah di bibir Dae.
Lalu Rion menjauhkan tubuhnya dari hadapan Dae.
"Kamu mencuri ciuman pertamaku Dae," ucap Rion jujur.
"Hah.., kenapa aku? Ini tidak benar, a--aku tidak sengaja. Lagian kamu ngapain di hadapanku," ucap Dae yang merasa canggung bercampur malu. Wajahnya saat ini sudah seperti kepiting rebus. Dae berusaha menormalkan degup jantungnya saat Rion meninggalkan kecupan di bibir Dae.
"Kamu harus bertanggung jawab Dae," ucap Rion santai. Rion sengaja mengerjai Dae, karena dia pun sejujurnya merasa malu. Karena memang benar ini merupakan ciuman pertama Rion.
"Loh e--enak aja. Tanggung jawab apaan. Kayak aku memperkosa kamu aja," protes Dae yang tidak mau di salahkan.
__ADS_1
"Kalau begitu aku akan mengatakan sama sahabat kamu tentang kejadian ini," ancam Rion dengam kemenangan.
"Eits, kamu ngancam aku?" tanya Dae.
"Ya, karena kamu tidak mau bertanggung jawab," jawab Rion dengan mengedikkan bahunya.
"Tanggung jawab apa, hah!" kesal Dae.
"Ya, kamu harus mau menjadi kekasihku," jawab Rion blak-blakan.
"What....!" pekik Dae yang terkejut dengam ucapan Rion.
"Iya kamu menjadi kekasihku," ulang Rion sambil tersenyum puas.
"Apa-apaan dia, buat gw jengkel aja. Gw kemari buat nyantai dan tenang. Ini malah datang lagi masalah, hadeww pusing gw," bathin Dae dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu kenapa? Gak mau jadi kekasihku?" tanya Rion berpura-pura. "Baik kalau gitu aku akan keluar dan memberitahukan kepada sahabat kamu tentang kejadian tadi," Rion pun bersiap-siap ingin keluar dari mobil. Tapi Dae langsung menahan lengan Rion.
"Tunggu!"
Rion berhenti namun dia tidak langsung membalikkan wajahnya.
"Kasih aku waktu buat menjawabnya. Tidak mungkin saat ini juga aku mengatakan iya," Dae berharap Rion menyetujuinya.
"Baik, berikan nomer ponsel kamu. Aku akan menunggu jawaban kamu secepatnya," balas Rion. "Ayo kita keluar. Mereka sudah menunggu di sana," ajak Rion dengan senyum penuh kemenangan.
Dae pun menghela nafasnya dengan susah, dia akhirnya memberikan nomor handphonenya ke Rion. Setelah mereka bertukar nomor, Rion mengajak Dae keluar dari dalam mobil. Dae berjalan ke arah cafe bersama Rion. Tak ada satupun diantara mereka yang membuka percakapan.
Setelah sampai di dalam cafe, dimana Ani dan yang lainnya sudah menunggu mereka di sebuah meja.
"Kenapa lama banget Dae?" tanya Ani curiga.
"Dia susah banget di bangunin," jawab Rion.
Ani menatap Dae dan Rion secara bergantian. Dia menangkap ada sesuatu diantara keduanya yang tidak di ketahui Ani.
__ADS_1