Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri

Calon Suamiku Ternyata Kakakku Sendiri
Bab 65


__ADS_3

Setelah kepergian Ani sahabatnya dari ruangannya, Dae masih menatap ke arah pintu. Dae masih kesal dengan kelakuan sahabatnya itu yang sukanya menggoda dirinya di saat yang tidak tepat.


Dae lanjut melakukan pekerjaannya. Dia mencoba menyibukkan dirinya dalam mengerjakan tugasnya yang kemaren.


Disaat Dae sedang fokus dengan leptopnya, tiba-tiba Edy masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu ruangannya.


"Kenapa kamu datang terlambat?" tanya Edy yang tiba-tiba nyelonong masuk.


"Apa-apaan nih Presdir, main masuk aja. Gak tau dia gw lagi kesal karena kejebak macet tadi," bathin Dae sambil menatap ke Edy.


"Silahkan duduk Presdir. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Dae santai.


Edy menggeram mendengar ucapan Dae. Dia berjalan menghampiri Dae ke samping tempat duduknya.


Dae sontak berdiri dari tempat duduk nyamannya, dan mereka saling berhadapan.


"Kamu kenapa terlambat hari ini Dae? Kamu tau, kamu seharusnya tadi hadir dalam rapat kerja sama kita dengan Perusahaan yang baru pertama kali mencoba produk kita?!" bentak Edy dengan tatapan tajamnya.


Dae menghela nafasnya dengan teratur, mencoba mengatur emosinya agar tidak meluap menyembur ke arah Edy seperti Mbah dukun.


"Maaf Presdir, saya kejebak macet tadi," jawab Dae santai dan tenang.


Ekspresi wajah Dae memperlihatkan wajah tak berdosanya. Karena Dae merasa dia tidak bersalah. Ini murni karena jalanan yang macet.


"Kamu tidak bisa seperti itu. Kalau semua karyawan seperti kamu, bisa bahaya Perusahaan ini!" sentak Edy yang sudah sangat geram.


"Jadi aku harus gimana Ed....! Ini murni karena jalanan yang macet. Tau begini dimarahin, mending balik pulang. Tidur dengan damai di kamar gak ada yang ganggu," ucap Dae melongos.


"Apa kamu bilang, lebih baik pulang kerumah dan tidur?" tanya Edy yang mengulangi perkataan Dae.


"Heum, pulang kerumah dan tidur dengan nyenyak. Rasanya nyaman banget," Dae berusaha membuat Edy semakin kesal.


"Kalau begitu temani saya. Kita akan tidur dengan puas di dalam kamar tanpa ada yang mengganggu. Aku juga ingin nyaman berdua dengan kamu," Edy menggoda Dae dengan menaik-naikkan alisnya.


Dae melotot menatap horor ke arah Edy yang tersenyum menyeringai.

__ADS_1


"Dasar kulkas mesum," gerutu Dae.


Dae pun tak memperdulikan keberadaannya. Dia memilih duduk di kursinya dan kembali ke leptopnya.


Edy menatapnya tajam dan menyeringai. Lalu dia duduk di meja kerja Dae dan membungkukkan tubuhnya hingga wajahnya berdekatan dengan wajah Dae.


Dae sontak terkejut dengan tingkah Edy yang seperti itu. Dia memundurkan kursinya ke belakang.


"Apa yang kamu lakukan Ed?" tanya Dae.


"Aku hanya ingin melihat wajah kekasihku di pagi ini. Wajah kamu terlihat jutek dan tidak cantik," ledek Edy.


"Apa urusanmu dengan wajahku yang jutek. Lebih baik kamu kembali keruanganmu sekarang sebelum ada yang melihat kita," usir Dae terang-terangan.


"Sekarang yang atasan saya atau kamu?" tanya Edy tak suka.


"Tentu saja kamu. Tapi saat ini kamu berada di ruanganku dan menggangguku bekerja. Aku ingin menyelesaikan pekerjaanku sebelum atasanku marah," balas Dae yang tak kalah sengit.


Dae benar-benar tidak takut berhadapan dengan Edy yang notabene adalah atasannya. Dia bersikap seakan-akan dialah atasannya. Dengan beraninya Dae mengusir Edy dan menganggap Edy pengganggu yang datang keruangannya tanpa di undang.


Edy sedikit kesal dengan sikap arogannya Dae. Baru kali ini Edy di perlakukan seperti ini. Kalau tidak karena rasa sayang dan cintanya Edy terhadap Dae, mungkin saat ini juga Dae sudah kehilangan pekerjaannya.


"Hah, kamu mengusir atasan kamu yang memberi kamu gaji?" tanya Edy menyeringai kejam


"Bu--bukan gitu Ed, a--aku tidak mengusir. Tapi aku lagi ingin fokus dengan pekerjaanku. Kamu kan yang menyuruhku untuk menyelesaikan pekerjaanku yang tertunda di Jogja kemaren?" tanya Dae yang berusaha lembut.


"Hari ini kamu temani aku, masalah kerjaan kamu bisa di handle dengan yang lain. Ayo sekarang temani aku keluar," Edy mengajak Dae untuk jalan-jalan.


Dia ingin mengajak Dae untuk ngobrol berdua. Edy ingin menyelesaikan masalah hubungannya dengan Dae. Dia sudah memikirkan matang-matang tentang hubungan yang saat ini di jalaninya.


"Tapi aku gak enak sama karyawan lainnya. Kamu tau kan saat ini gosip tentangku sedang beredar di Perusahaan ini," jelas Dae.


"Hah," Edy menaikkan alisnya sebelah.


"Gosip tentang apa?" tanya Edy.

__ADS_1


Edy memang belum mengetahui gosip tentang Dae di kantornya. Dari pagi Edy sudah sibuk dengan pertemuannya dengan Perusahaan lain. Sehingga berita receh tentang Dae tak sampai di telinga Edy.


"Apa kamu belum mengetahuinya?" tanya Dae dengan wajah polosnya.


"Katakan saja berita apa yang beredar di kantorku?" tanya Edy balik dengan wajah seriusnya.


"Berita tentang aku sama kamu. Kalau aku sengaja mendekatkan diriku karena menginginkan kekayaanmu," jawab Dae dengan wajah tak enak.


"Aku dan kamu? Hanya itu?" Edy masih bertanya.


"Iya aku gak begitu mengetahuinya yang jelas. Tapi tadi aku mendengarnya dari Ani karyawan dari keuangan," jawab Dae acuh tak acuh.


"Biarkan gosip itu beredar. Toh tidak pengaruh untukku. Dan aku rasa kamu juga tidak memperdulikannya," ucap Edy.


Edy yakin kalau Dae tidak perduli dengan gosip itu. Sehingga dia bisa melihat wajah biasa saja yang di perlihatkan Dae terhadapnya.


"Terserah, aku hanya tidak ingin semua semakin tidak baik. Mereka akan terus menggosipkan ku jika melihat kita berdua jalan," balas Dae.


"Kenapa kalau mereka melihat. Bukankah itu lebih baik. Dan aku akan membuat pengumuman tentang hubungan kita," ucap Edy menyeringai.


"Tidak.....!" protes Dae.


"Apanya yang tidak. Kenapa kamu berteriak seperti itu?" tanya Edy yang semakin puas membaut Dae kesal.


"Jangan berbuat yang aneh-aneh. Aku tidak ingin mereka tau kalau kita ada sesuatu. Jangan lakukan hal yang memalukan," tegas Dae.


"Itu bukan hal yang memalukan Dae. Itu justru sesuatu yang menggembirakan. Dan kamu akan mendapatkan ucapan selamat dari karyawan di Perusahaan ini. Tidak ada yang berani mengganggu kamu," jelas Edy dengan puas.


"Ayo kita keluar. Aku ingin hiburan, dan aku juga ingin minum capuccino susu diluar sana," tiba-tiba Dae mengajak Edy luar kantor.


Dae sengaja mengajak Edy agar Dae bisa berpikir dengan jernih. Karena saat ini Dae memiliki pikiran yang kusut. Pikiran yang tak bisa berjalan sempurna. Hingga dia nekat mengajak Edy luar kantor.


"Heum baiklah, kita jalan sekarang. Persiapkan mental kamu ketika banyak mata karyawan yang melihat kita jalan berdua," ucap Edy tersenyum penuh arti.


"Aku tidak perduli. Yang penting aku ingin refreshing hati ini. Kamu harus menemaniku," paksa Dae.

__ADS_1


"Tentu dengan senang hati aku akan menemanimu kemanapun," balas Edy dengan senyumannya.


Edy merasa senang karena akhirnya dia berhasil membuat Dae mengambil keputusan untuk jalan bareng dia keluar kantor.


__ADS_2